The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#3



Aku benar-benar membersihkan semua yang ada di atas piring. Tidak ada yang tersisa kecuali noda minyak dari sambal. Setelah makan, aku segera meletakkan piring kotor di wastafel-aku mencuci hanya saat sudah menumpuk-lalu mencuci tanganku. Aku suka minum air, kebutuhan airku agak lebih banyak dari orang biasanya. Setelah makan, aku bisa meminum air sampai dua gelas sekaligus. Aku sampai suka heran bagaimana ada orang yang bisa lupa minum air?


"Huh, gerah sekali. Mau mandi tapi harus tunggu setengah jam dulu. Ah, malasnya."


Sembari menunggu waktu, mungkin aku mau menyusun garis plot dan mencari nama untuk tokoh di novelku yang akan datang. Aku tidak terbiasa sembarangan memberi nama, karena nama adalah doa. Sama seperti namaku yang penuh dengan makna baik. Karmina adalah suatu jenis puisi lama, biasanya sejenis pantun kilat. Kama artinya dipuja. Sedangkan indurasmi berarti sinar bulan. Maka, Karmina Kama Indurasmi berarti puisi lama yang dipuja atau disanjung oleh bulan. Namun bisa juga berarti puisi lama yang diberkati oleh sinar bulan.


Nama yang terlalu cantik untuk seseorang seperti diriku. Akan tetapi memang benar adanya. Bulan yang 'cantik' itu memiliki ceruk dan kawah pada permukaannya. Dari jauh memang tidak terlihat, tapi ketika dilihat dari dekat, ada banyak sekali luka yang disembunyikannya. Orang tuaku tanpa sadar mendoakanku untuk terluka. Aku tahu, mereka bermaksud untuk baik dengan memberiku nama yang sangat indah. Pada saat aku besar begini aku terjun pada dunia sastra, sama seperti namaku. Akan tetapi memang tidak ada manusia yang sempurna.


Ah ... Aku mengantuk.


"Aah, bodo amat! Kalau nanti sakit perut pun tinggal buat hajat saja. Daripada nanti ketiduran lalu terbangun di malam hari karena lengket, itu sangat tidak nyaman. ."


Panggilan alam sampai berpuluh-puluh menit bukan hal aneh bagiku. Aku memang tidak suka minum kopi, tapi aku suka makan makanan pedas dengan berlebihan dan tentu saja begadang, meski begitu aku banyak tidur sampai siang. Bagiku, siang itu di atas jam sebelas. Jadi kalau masih jam sembilan atas setengah sepuluh, aku akan lanjut tidur sampai paling tidak setengah sebelas. Tentunya pada waktu itu cuaca sudah panas, begitu bangun badanku sudah berkeringat. Aku langsung mandi setelah bangun tidur.


Penulis memang suka punya kebiasaan aneh. Kebiasaanku ini masih bukan apa-apa, pasti di luar sana ada yang lebih buruk dariku.


"Ck, sabun wajahnya habis. Kenapa paket sabun wajahku belum tiba juga. Padahal cuma di provinsi sebelah, tidak sampai berbeda pulau atau bahkan di ujung pulau seperti ibu. Bahkan paket ibu lebih cepat sampai. Dasar, aku harus ajukan refund nanti."


Badanku mudah berkeringat dan berminyak. Jadi sebanyak apapun aku memakai pewangi badan, pasti akan tercium juga bangkainya. Sungguh, seringkali aku diomeli ibuku gara-gara ini. Aku pribadi juga tidak mau jadi seperti ini, jadi mau bagaimana lagi? Yang penting aku bersihkan tubuhku dengan sabun sampai benar-benar wangi. Rambutku pun sudah lepek, jadi aku keramas dengan shampoo seadanya. Aku ini tak muluk-muluk, asalkan aku suka dengan aromanya pasti aku beli saja.


Rasanya menyenangkan mandi setelah berkeringat. Sangat segar sampai-sampai aku jadi merasa mengantuk. Seperti semua panas yang berenergi negatif di dalam tubuh lenyap setelah didinginkan oleh segarnya air. Andai saja di rumah ada bath tub, aku bisa berendam sambil mengerjakan garis plot novel seperti di film-film. Sayangnya aku agak paranoid. Di waktu paling santai sekalipun selalu ada celah untuk muncul bahaya.


Aku seringkali mencoba untuk menghindari kesalahan karena tahu dan takut untuk menghadapi resiko yang ada. Aku tahu aku salah, tapi tetap saja aku takut dimarahi. Ini juga salah satu alasan kenapa aku pindah rumah. Walau kesepian, setidaknya aku punya waktu yang jauh lebih banyak untuk memberi pengertian pada diriku sendiri. Ibuku bilang aku terlalu individual, aku akui itu. Itu karena aku lelah mencari lingkungan yang cocok untukku. Kalaupun ada, itu hanya teman-teman online saja.


Aku ini pecundang anti sosial yang memalukan.


Karena itulah aku membuat novel fantasi klasik. Sesuatu yang tidak masuk akal, tidak akan bisa terjadi, karena hanya imajinasi dan karangan biasa. Namun, apa yang salah dari itu? Manusia memiliki IQ dan EQ, keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada yang salah antara yang mana yang unggul. Semuanya memiliki arti dan potensi. Karena keyakinan seperti itulah aku belum tega mengakhiri hidupku.


Penulis itu ... kalau tidak stres, depresi, pecandu, ya, bunuh diri.


Namun, tidak semuanya demikian, tapi yang begitu sudah tentu penulis. Untuk diriku sendiri, aku ini penulis yang stres. Aku mulai merasakan bagian duka menjadi seorang penulis novel. Berkutat dengan tenggat waktu, revisi berulang kali, rapat kontrak untuk menentukan royalti yang pantas, dan lain sebagainya. Seperti yang kukatakan sebelumnya, tidak ada pekerjaan yang mudah. Kesan suka hanya didapat dari visualnya saja, tapi di baliknya ada ceruk duka selebar kawah bulan.


"Hm. Rambutku rontok terus, bagaimana menghentikannya?"


Aku sudah selesai mandi. Tubuh basahku masih terbalut oleh handuk. Aku menyisir rambutku yang masih basah, maksudku supaya tidak lebih banyak rambut yang rontok, rupanya masih ada yang rontok juga. Mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha untuk merawat mahkotaku. Shampoo bagus, kondisioner mahal, vitamin untuk akar rambut dan kulit kepala. Aku menyerah merawatnya, toh rambutku tebal, aku harusnya tidak perlu terlalu khawatir. Hanya perlu memberikan perawatan seperti biasanya saja.


Aku teteskan vitamin rambut ke atas kepalaku, aku usap-usap pada kedua telapak tanganku lalu kusapukan ke seluruh helai rambut yang bisa kedua telapak tanganku genggam secara bergantian. Setelah selesai, aku rapikan kembali poniku di depan cermin, kuselipkan ke belakang telinga. Aku bertanya-tanya pada refleksi diriku ini, apa yang selanjutnya harus kulakukan? Aku terlalu mengantuk untuk melanjutkan membuat garis plot, tapi itu sudah jadi kewajibanku.


Aku mengalihkan pandangan pada jam dinding. Jarum pendek menunjukkan angka tujuh sementara jarum panjang menunjukkan perpindahan dari tiga menuju empat. Aku pertimbangkan baik-baik, aku ini orang yang tidak bisa menahan kantuk, padahal aku sedang punya pekerjaan. Kecuali jika aku bisa begadang untuk mengerjakannya. Baiklah, aku akan tidur kurang lebih dua jam saja, lalu begadang sampai jam dua dini hari. Setelah lewat tengah malam, aku akan memanaskan bebeknya, aku rasa itu ide bagus.


"Hanya dua jam, Karmina. Ingat itu. Ukir di kepalamu bahwa Kau hanya tidur dua jam saja, setelah itu membuat novel lagi. Ini impianmu, jadi harus bertanggung jawab!" ucapku pada diriku sendiri.


Karena aku tinggal sendiri, tidak ada yang aku mau dengarkan kecuali dari diriku sendiri. Dari diriku untuk diriku sendiri, betapa terlampau introvert diriku ini.


Aku atur timer yang menunjukkan pukul sembilan malam. Aku atur menggunakan nada dering yang paling menghebohkan lalu volume pun aku tingkatkan sampai maksimal. Aku mempersiapkan semua bantal, guling, selimut, dan kipas angin dengan kekuatan yang maksimal pula. Setelah semua persiapan itu, aku segera merebahkan tubuh ke atas kasur empuk dan nyaman. Aku tarik selimut lembut yang merupakan hadiah ulang tahun dari orang tuaku. Aku meringkukkan tubuhku menyesuaikan dengan guling yang kupeluk.


Oh, aku lupa berdoa.


"Kali ini aku akan mendoakan apa, ya?"


Anehnya, aku takut untuk berdoa. Aku takut aku terlalu banyak meminta, sehingga akhirnya tidak ada satupun dari doa itu yang bisa terkabul. Apa yang aku doakan setiap malam itu sama. Aku hanya mendoakan yang terbaik untuk semua orang yang kusayangi di muka bumi ini, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka padaku, aku ingin mereka tahu bahwa kasih sayangku selalu bersama dengan mereka seperti bayang-bayang pekat mereka di bawah cahaya yang terik.


Itu doaku yang biasanya. Kali ini saja aku meminta sesuatu yang lebih merujuk pada diriku sendiri. Hari ini aku banyak berpikir tentang diriku daripada orang lain. Tentu saja itu karena aku tinggal sendiri, sih, tapi tampaknya aku ini anak yang egois.


"Tuhan, Yang Maha Mendengar dan Maha Pengabul Doa. Selama ini aku selalu mendoakan yang terbaik untuk orang lain. Engkau pun tahu aku benar-benar menginginkannya dan bukan sekadar bualan belaka. Hanya saja kali ini aku ingin sedikit memikirkan diriku sendiri, tapi dengan tidak melupakan orang-orang yang kusayangi pula."


"Pertama-tama, jika Tuhan Yang Maha Mendengar ini menyayangiku, tolong sayangi pula orang-orang tersayangku saat mereka menjalani manis pahit kehidupannya masing-masing. Aku paham, di usia kami ini kami tengah menghadapi beberapa ujian baru. Maka dari itu tolong bantu mereka dan jagalah orang tuaku di mana pun mereka berada."


Mungkin contohnya seperti hiruk-pikuk spektakuler saat penggemar novelku ramai-ramai mengunggah ulasan baik mereka di media sosial sampai menjadi viral, atau sesuatu yang membantuku menemukan ide cemerlang yang tidak pernah diolah oleh penulis manapun yang berpotensi bisa mengangkat namaku sebagai penulis novel pemula.


Pokoknya apapun yang bisa membuat hidupku selama dua tahun terakhir bisa sepadan serta terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Menjadi penulis memang tidak mudah, tetapi aku memohon segala kemudahan meski sedikit saja yang bisa Tuhan berikan padaku.


"Bisakah Engkau memberikan nilai kehidupan yang lebih pada cinta terbesarku di dalam hatiku? Hanya Engkau yang memiliki kehendak, tapi berikanlah aku sedikit saja dorongan. Dengarkanlah doa dari hambamu ini, Tuhan Yang Maha Kuasa." Aku menutup mataku kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya.


Aku menganggap setiap hembusan napasku ini adalah langkah setiap kali doaku semakin dekat dengan-Nya. Setiap napasku adalah kebajikan karena aku mengharapkan ketentraman bagi mereka yang kusayangi. Aku doakan mereka dalam kesunyianku, aku sayangi mereka hingga dalam mimpiku, di atas keyboard pun aku masih terbayang-bayang perlakuan manis atau pahit yang telah aku alami selama lebih dari dua dekade. Pada dasarnya, novel itu bagaikan buku diary penulis, tapi dalam narasi yang lebih implisit karena mengandung identitas dari si penulis itu sendiri.


"Sekarang aku bisa tidur, kan?"


Aku tarik lagi selimut sampai menutupi pundakku. Aku hembuskan napas kelegaan dan memejamkan mataku pelan-pelan. Biasanya saat tidur begini aku suka membayangkan skenario acak. Entah itu skenario dari novelku saat ini aku aku tengah mencari inspirasi yang pasti akan terbawa sampai ke mimpi. Tergantung apakah aku akan mengingatnya atau tidak. Tidak ada segala sesuatu di dunia ini yang tidak memiliki perannya tersendiri.


Selamat malam, Karmina. Jangan bangun terlambat lagi.


...»»--⍟--««...


Gelap.


Oh, sepertinya aku tidak bermimpi.


Ya sudah, tidak apa-apa. Aku masih ingat dengan skenario yang aku imajinasikan sebelum aku yakin aku terlelap tidur. Namun aku yakin tadi aku bermimpi, hanya saja aku tidak ingat bermimpi apa.


Lalu, kenapa dingin sekali? Kenapa mataku sangat berat? Apakah kipas anginnya terlalu kencang sampai menggigil begini dan kelopak mataku jadi sulit terangkat? Aku harus memaksakannya. Aku harus melakukan kewajibanku karena sudah terikat kontrak untuk beberapa tahun ke depan. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan seperti ini yang tidak banyak didapatkan oleh orang lain. Bangunlah, Karmina!


"... na? No ... na? Nona Domi ..."


Suara siapa itu?


Aku tidak mengenalnya sama sekali. Tidak, tunggu, bahasa apa ini? Kenapa aku paham dengan apa yang suara tersebut katakan. Ayolah, paksakan matamu untuk terbuka, mau atau tidak. Uang, uang adalah motivasi realistis semua orang. Dengan apalagi bertahan hidup kalau bukan karena uang? Aku harus bekerja untuk mendapatkan uang agar bisa mengirimkan uang kepada ibu supaya aku bisa memakan masakannya lagi.


"Nona Muda, apakah Anda sungguh siuman? Nona, bicaralah padaku!"


Suara itu terlalu mengganggu. Padahal tadi rasa-rasanya kedap suara sekali, sekarang justru terdengar jadi jernih. Seperti aku baru saja mengganti gendang telingaku. Mata dan telingaku suka bermasalah karena aku berlebihan menatap layar gadget dan bisa menyumpal kupingku dengan earphone sampai lebih dari tiga jam. Pula cahaya yang amat terang berusaha untuk memaksaku membuka mata. Aku tidak punya pilihan lain, aku harus melihat apa yang terjadi.


Satu kata yang terlintas di kepalaku saat melihat sosok wanita ini ialah seorang pelayan. Pakaiannya sangat khas, yakni seragam berwarna hitam dan putih yang sederhana. Seorang pelayan wanita muda yang memasang raut wajah khawatir dan ... kelegaan?


"A-apa ... ??" Ini bukan suaraku.


"Tuhan m-memberkatimu! Aku akan panggilkan tabib dan orang tua Nona, saya tidak akan lama. Nona Dominique tetaplah tidur di kasur saja." Kemoceng berwarna variasi putih dan cokelat ia lemparkan ke lantai begitu saja, lalu berlari menuju arah yang tidak kuketahui, tetapi kudengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali.


Nona Muda? Dominique? Ini tidak seperti yang aku pikirkan, ya kan?


"Apa-apaan yang sedang terjadi pada diriku? Mungkinkah aku sudah ... mati? Lalu, aku tahu Dominique lebih daripada siapapun, itu tidak mungkin!" Suara yang bukan milikku ini terdengar sangat serak saat aku tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi padaku ini.


Pasti ada penjelasannya, tapi apa? Ini terlalu realistis kalau dikatakan sebagai mimpi. Apakah lucid dream bisa sampai seperti ini?


Aku tidur menyamping ke arah kanan. Aku mencoba berbalik ke arah kiri di mana aku tidak bisa melihat apa-apa di saja, "a-akh, sakit!"


Ini bukan mimpi. Ini kenyataan.