The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#13



Lari kuda ini sangat kencang dari kuda yang biasa aku tunggangi. Kuda ini begitu terlatih untuk berlari, dalam hembusan napas saja sudah bisa melintasi aliran sungai yang membentang, tak ada tanda-tanda ia merasa kelelahan. Namun, dengan larinya yang amat kencang begini itu artinya kami masih dikejar. Aku ingin menoleh ke belakang untuk memastikan situasi, tetapi tubuh pria ini sangat kekar ketika dilihat dari dekat, lebar pundaknya dua kali lebih lebar dari tubuhku seakan-akan aku tengah meringkuk dari balik batang pohon.


"Peganglah tali kekang Kenes, Nona. Aku akan coba memukul mundur sihir itu," katanya.


Aku mengikuti instruksinya dan ia mengulurkan tali kekang kudanya padaku, jadi aku mengambil posisi berkuda yang benar. Lalu, dia melompat dari atas kuda, berguling-guling di tanah bersama dengan pedangnya. Sontak aku menghentikan laju kuda itu. Tampaknya orang ini antara memang tipe yang gegabah atau mau jadi sok pahlawan. Kuda yang aku tunggangi terus memaksa untuk pergi, tetapi aku memerintahkannya untuk tetap diam.


"Apa Kau gila?!"


"Kenes akan menuntunmu sampai ke rumahnya, setelah itu Kau panggilkan aku bantuan."


Sumpah, orang ini sudah tidak punya daya tarik untuk menjaga nyawanya sendiri, lantas bagaimana dia akan menyelamatkan nyawaku?


"Dia di luar kemampuanmu untuk bisa Kau hadapi. Lebih baik kita lari bersama-sama!"


"Aku yang sekarang tidak akan menjadi letnan kalau terus melarikan diri seperti ini."


Alokasi sihir penyihir dan ksatria memiliki perbedaan. Sihir penyihir tidak memerlukan adanya perantara apapun, penyihir pada umumnya sanggup untuk mengeluarkan sihir langsung dari telapak tangan, bahkan juga bisa dari tatapan, kuncinya hanya ada pada konsentrasi dan pengendalian. Hati dan pikiran penyihir harus bisa bersinkronisasi bagaikan lintang dan bujur bumi, yang kemudian menciptakan suatu kesatuan yang bisa memicu zat di dalam diri agar bereaksi, suatu senyawa yang bernama sihir.


Sementara itu, alokasi sihir bagi para ksatria adalah menggunakan perantara, yang jelas mereka tidak boleh mengeluarkan sihir dengan cara yang sama seperti halnya penyihir biasanya atau tubuh mereka akan menerima konsekuensinya. Efeknya sebagaimana halnya corak ungu di tubuh Casildo. Namun, untuk masalah Casildo itu karena dia terlahir dari pasangan penyihir dan ksatria. Jadi, ada sedikit kecacatan yang timbul pada tubuhnya.


Ksatria menjadikan senjata mereka sebagai bentuk perantara. Sebagian besarnya memiliki senjata dari warisan keluarga, membayar mahal penempa bagi ksatria kelas bangsawan, dan memiliki pangkat yang tinggi agar bisa mendapatkan antrian prioritas untuk senjata tempaan mereka. Lalu, ada cara lainnya. Mereka tetap bisa mengeluarkan sihir dengan tangan secara langsung, caranya adalah dengan melancarkan serangan dengan bantuan dari banyak orang sekaligus yakni 'membagi' rasa sakit sesuai dengan besaran sihir yang disepakati oleh satu sama lainnya.


Tidak akan kubiarkan kau mati.


"Jangan naif, Cashel."


"Aku tidak naif, tapi optimis."


Ah, ya ampun, aku lelah beradu mulut dengan orang yang keras kepala seperti ini.


Getaran di tanah semakin besar, raungan monster yang membuat bulu kuduk merinding itu semakin keras dan membuat burung-burung di sekitar pohon terbang melarikan diri. Namun, aku tidak akan lari. Aku turun dari punggung Kenes, kubiarkan saja dia lari meninggalkan kami berdua. Sontak saja Cashel memasang ekspresi kebingungan atas tindakanku yang tidak kalau sembrono. Tidak, aku bisa menjadi bantuan sementara sebelum bantuan yang sebenarnya tiba.


"Aku tidak suka berlama-lama berhutang pada orang."


Aku berjalan mendekatinya, dengan tak menghiraukan getaran pada tanah yang kupijak. Aku menarik pedangnya menggunakan sihirku. Cara pedangnya berkilau memantulkan cahaya menandakan ini pedang yang bagus, ditambah sudah ditanam dengan tambahan bijih sihir. Itulah yang membuat ksatria diharuskan membawa-bawa perantara. Aku hanya perlu memberinya sedikit kekuatan karena sudah menolongku. Hanya sedikit.


Pedang yang diasah dengan baik, mata pedang yang tipis dan tajam. Lebih dari cukup untuk mengiris kulit mahkluk hidup, sampai membuat ketakutan sihir-sihir kecil. Aku menyayat tanganku hingga mengeluarkan darah, kuteteskan sendiri darahku ke atas permukaan pedang itu. Pedang yang menjawab panggilan dari darahku membentuk resonansi, warna peraknya berubah menjadi merah seiring dengan semakin banyaknya darah yang kuteteskan.


Cashel tak mengatakan apa-apa. Sorot matanya mengisyaratkan kepahaman tentang jati diriku yang bukanlah orang biasa. Toh, aku ini tiba-tiba saja muncul di danau yang sama, tapi berada di lintas waktu 25 tahun yang lalu. Satu lagi pelengkap adalah melafalkan mantra untuk menyegel bagian diriku di dalam pedang ini.


"Di bawah bibirku aku mengucapkan hal baik. Di dalam pikiranku terpatri Harkat Meraki dan untuk selalu bermurah hati memberi uluran tangan. Di refleksi mataku terpantul nabastala penuh gugusan bintang yang gemerlap. Aku mengkukuhkan keberanian pada candrasa yang menelan jiwa-jiwa anggara."


Mantra yang pertama kali aku dengar ketika pertama kali membukakan mata di dunia ini. Apa yang diucapkan oleh ayah pada waktu itu bukanlah sembarangan kata-kata saja. Yang dia katakan pada waktu itu, bahwa kedatanganku sudah ditakdirkan. Aku bangga menjadi satu dari saksi gerhana matahari yang muncul seratus tahun sekali. Sebenarnya, ada banyak lagi kata-kata yang dikatakannya. Akan tetapi aku tidak bisa mengingatnya, hanya samar-samar saja, begitu aku paksakan untuk mengingat pun kepalaku pusing bukan kepalang.


"Kau penyihir."


"Benar. Aku sedang memberkatimu."


Ketika sinar merah pada pedang itu redup, aku menyerahkannya kembali kepada sang tuan. Ia pun menerima pedang yang sudah aku berkati dengan kehati-hatian dan khidmat. Dengan tenggang rasa pada wajahnya ia isyaratkan dengan menundukkan kepalanya sebagai rasa terima kasih. Bersama dengan raungan menggelegar yang memekakkan telinga, Cashel memasang kuda-kuda tempurnya, mengacungkan pedang yang berkilau itu lurus ke arah ular raksasa yang sudah di depan matanya.


"Candrasa menyiratkan baswara. Geni membilur raga. Aku mempedar kepairan jantungku, tetapi makian menutup jalur napasku. Rudira dan geni ialah bentuk keperkasaanku."


Pedangnya mengeluarkan api yang membara hebat. Api yang tadinya merah, lama-kelamaan berubah menjadi biru. Itu artinya api itu sangat panas, walau begitu pedangnya tidak meleleh. Karena berasal dari bijih sihir maka untuk menempanya membutuhkan suhu yang lebih tinggi daripada api biru biasa. Pedang yang tahan api, bisa bertahan hingga ratusan tahun, dan tidak akan berubah bentuknya sampai diwariskan ke tujuh turunan.


"Ignis obice!"


Sebuah hempasan ekor datang dari arah kanan dengan cepat. Walau begitu Cashel juga tidak kalah cepatnya menghunuskan pedang yang menjaga harkat dan martabatnya. Ia menebas segala sisi ekor tersebut dalam sekali ayunan saja. Bagian yang berhasil terpotong itu pun terpental keras menabrak pohon di belakangku. Cashel langsung maju begitu melihat ada celah untuk menyerang. Tunggu, sihir ini bukanlah sihir biasa. Tubuh yang terpotong itu tidak langsung menjadi abu, tetapi mengeluarkan darah.


Di dunia ini, yang bisa memiliki sekutu tidak hanya manusia saja. Sihir juga memiliki ketertarikan pada hewan, hanya saja tidak sebanyak mereka tertarik pada manusia. Sihir yang tertarik pada hewan, kebanyakan adalah sihir yang tersisih karena tidak menemukan frekuensi yang cocok untuk mengikat kontrak. Kalau ularnya bisa sebesar itu, bayangkan saja sudah berapa banyak sihir yang menjadi sekutunya, dan sudah berapa lama dia tidur di dalam sungai itu.


Kelak, ular raksasa ini akan menjadi sekutunya ayahku. Sebab itulah, dia melempar tubuhku ke tengah danau, agar aku bisa melakukan sesuatu di waktu ini.