The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#17



Seiring ratusan langkah yang tak terhitung, hujan jutaan tetesan hujan dari awan kelabu itu kini hanya menyisakan ribuan saja. Hujan sudah sedikit mereda, tapi apakah aku akan sakit kalau tidak segera mandi? Sikuku sudah agak gemetaran, sejujurnya telapak tanganku juga mati rasa karena kedinginan. Aku bisa saja menggunakan sihirku, tapi itu tidak terlalu berguna.


"Boleh aku ajukan pertanyaan?"


"Boleh." Beberapa saat yang lalu dia bilang mau menginterogasiku, kan?


"Kau tampak sangat muda, berapa usiamu?"


"19 tahun."


"Asalmu?"


"Privasi."


Pertanyaan klasik, tapi harus aku jaga kerahasiaannya. Mana mungkin aku katakan bahwa aku berasal dari dunia lain atau dari masa depan? Mungkin dia akan percaya karena sudah berteman dengan ayah, dia bisa saja percaya hal seperti itu mungkin dilakukan penyihir, tetapi sekarang aku sudah tidak dianggap sebagai manusia penyihir lagi melainkan sebagai sihir. Itu artinya aku sudah melampaui Tingkatan Eve.


Dikatai 'bukan manusia' oleh hewan purba yang sudah lama berhibernasi lebih nyelekit daripada dikatai oleh manusia yang nyinyir setiap saat. Inilah akibatnya kalau sampai mengacaukan waktu tidur mahkluk.


"Ah, baiklah. Tapi, aku penasaran, bagaimana Kau tahu namaku—"


"Giliranku untuk bertanya."


Lagi, mana mungkin aku bilang kalau aku berasal dari masa depan? Lagipula aku berhak untuk menolak menjawab, tapi Cashel memandangku dengan sorot mata yang mengisyaratkan rasa bersalah karena aku menghindari pertanyaannya begitu cepat. Aku paham, pertanyaannya itu murni rasa penasaran, jadi aku memaafkannya.


"Bagaimana perjalananmu dari anak baru sampai menjadi letnan?"


Sedetik kemudian, senyum sumringah terpasang di wajahnya. "Wah, pertanyaan yang agak berat untuk dijawab. Aku kisahkan singkat saja, ya."


Tangan kanannya terulur pada tali kekang Kenes yang aku genggam. Tangannya begitu dekat dengan tanganku, sampai ada hawa hangat di permukaan tali kekang itu. Meski tangannya tertutupi oleh sarung tangan, tapi aku bisa tahu hawa hangat ini berasal darinya. Bagi ksatria untuk menggunakan sihir tanpa perantara dalam jumlah kecil seperti ini masih aman untuk tubuh mereka. Namun, apakah aku terlihat sangat kedinginan? Tapi, ya, telapak tanganku memang sangat merah, sih.


"Menjadi ksatria berarti tidak boleh berhenti bergerak. Kami sama seperti roda, ada kemiringan sedikit saja pasti akan terjun, mau itu ada rintangan pun pasti diterobos saja. Jadi, ketika aku sibuk mencetak prestasi di atas darah kotor penjahat, aku mendapatkan promosi. Bahkan sekarang aku menjadi kandidat kuat untuk meraih pangkat selanjutnya."


Ia menatap pada telapak tangan kirinya yang terbalut sarung tangan. Tangannya agak bergetar saat ia menegaskan kata-kata 'mencetak prestasi di atas darah kotor'. Benar, Cashel terlalu baik. Meski dia sudah biasa menghadapi orang-orang jahat yang mengancam keselamatan banyak orang, tetapi pikirannya tersugesti bahwa ia merenggut nyawa sesama manusia. Nyatanya itu sudah tugasnya, pun tidak ada pilihan lain lagi, dan ia tidak bisa menyesali jalan yang sudah dipilihkan oleh takdir.


"Berkebalikan dengan penyihir, ya. Kami ini sebenarnya pihak netral. Kami berdiri di atas tanah yang datar. Di sisi kiri ada otoriter dan diktatorial lalu di sisi kanan ada demokrasi dan revolusi. Kami bisa memilih keduanya dan tidak akan ada yang menentang kami untuk hal itu. Salah satu sisi bisa berjaya atau hancur itu karena keputusan kami, karena kami memegang kunci mutlak."


Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk terlahir kembali di keluarga penyihir. Karakteristik dan pedoman hidup penyihir sangat sesuai padaku yang seorang individualis. Tidak ada yang menghakimi wanita untuk menjadi independen, justru Dominique bertunangan dengan Casildo itu karena keinginannya sendiri. Buktinya, Dominique tetap dijadikan sebagai ahli waris meski ia akan berganti marga nantinya. Padahal, sebagai ganti karena tidak dijadikan pewaris, Dorothy akan diberikan aset yang tidak kalah besar dengan milik kakaknya.


"Kita berdua sangat bertolak belakang," katanya.


"Ksatria seperti matahari yang menghasilkan cahayanya sendiri. Sedangkan penyihir seperti bulan yang mendapatkan cahayanya dari matahari sebelum akhirnya bisa menyinari langit malam."


"Apakah Kau hendak mengatakan bahwa ksatria akan baik-baik saja tanpa ada penyihir?"


"Tidak. Maksudku adalah penyihir tidak bisa terpisah dari ksatria, atau kami akan kehilangan cahayanya."


Kami saling bergantung satu sama lain, sebenarnya. Namun, ada pemahaman—entah pikiran siapa—yang membuat seolah-olah ksatria tidak akan bisa menang tanpa bantuan penyihir. Ya, ksatria hanya memanggil penyihir ketika keadaan sudah terdesak atau peperangan besar yang krusial karena memegang banyak resiko jika kalah, alasan mereka meminta bantuan penyihir di medan perang atas dasar keberlangsungan hidup bersama. Lalu, kalau bukan karena ksatria, penyihir tidak akan jadi disegani seperti sekarang dan boleh jadi juga tidak diakui oleh masyarakat.


"Tunggu, tunggu, Kau mengatakan dua hal yang sangat berbeda."


"Rumit, kan? Seperti itulah penyihir. Karena kami melihat kedua sisi kehidupan hampir bersamaan dan dengan sesuka hati membentuk opini kami sendiri. Terserah orang untuk mempercayai pernyataan yang mana."


"Ambivalen, ya."


"Maksudnya?"


"Bermakna ganda."


Sepertinya ini salah satu efek samping apabila ksatria menggunakan sihir dengan tanpa perantara.


Ekspresinya mengkerut karena kikuk, dia tidak mau mengaku salah bicara. "Memang apa bedanya? Sama saja."


Wajah-wajah kelelahan yang mulai kehilangan konsentrasi dan dehidrasi. Ah, aku haus juga. Pasti karena memindahkanku ke masa lalu juga memakan waktu, belum lagi tadi aku sampai memberkati—meneteskan banyak darahku—pedangnya dan menggunakan beberapa sihir lainnya. Apakah aku harus memintanya naik bersamaku juga? Ah, bukannya aku ingin modus atau apa, tapi dia terlalu murah hati. Apa memang dasarnya semua ksatria itu seperti ini? Aku menciptakan tokoh yang seideal ini. Mungkin gara-gara deskripsi 'duda' yang mencolok di sinopsis.


"Menurutku, kalian—para penyihir—itu hanya terlalu banyak bermanifestasi. Bagaimana kalau sesekali majulah terjang masalah tanpa ragu?"


"Itu tidak bijaksana. Lalu jangan menyamaratakan masalah orang lain dengan masalahmu."


"Hah! Kau mirip sekali seperti temanku. Setiap kali berbicara dengannya itu keadaannya selalu tegang! Saat tadi ketika ular purba itu keluar dan saat aku meminta bantuannya di medan perang, tidak ada waktu yang pas untuk bisa bercengkrama dengannya! Selain itu, dia terlalu suka berterus terang," oceh Cashel.


Tentu saja, temanmu itu adalah ayahku.


Berterus terang itu termasuk dalam sifat realistis, kan? Apakah berpikir logis juga termasuk? Sepertinya ini memang bawaan gen di tubuh Dominique dari Theomund. Anak perempuan memang jiplakan ayahnya.


"Aku rasa ... semua penyihir sama saja."


"Kau bahkan mengakuinya dengan wajah tak berdosa."


"Aku hanya bersikap realistis."


Ternyata dia bisa menjadi teman bicara yang asik. Oh, tipe-tipe ekstrovert baik yang mengajak bicara si introvert yang duduk kesepian. Ekstrovert ramah yang merangkul semuanya, seorang pemimpin, mengedepankan orang lain daripada dirinya, bersinar seperti matahari. Namun, kalau terlalu dekat dengannya, aku bisa saja terbakar. Meski begitu, dia sudah menyelamatkanku. Aku tidak akan menjadi kacang lupa kulitnya.


"Hei, terima kasih sudah menolongku."


Cashel mendengus senang. "Sama-sama, itu sudah tugasku."


Saat kusadari, angin yang berhembus menerpa kulitku itu hangat. Kami sudah keluar dari daerah Kastel Mangata yang dingin dan berganti ke tanah yang lebih hangat, aroma petrikor yang disambut baik oleh indra penciumanku, langit yang biru, sampai adanya pelangi. Entah sudah berapa lama kami berjalan, padahal rasanya hanya sebentar saja. Jalan setapak rapi yang layak dilewati pun kami jejaki, ketika mata ini mengamati ujung pemandangan, ada sebuah rumah yang lumayan besar dengan perkarangan yang besar juga. Walau begitu, tampilannya tampak sederhana seperti rumah ketua desa.


"Omong-omong, kita akan pergi ke mana?"


"Ke rumahku. Kau tidak punya tempat untuk tinggal, kan?"


"A-aku..." Mungkin sudah saatnya aku membongkar jati diriku sebagai Dominique Ginova dan calon menantu masa depannya? Ya???


"Kalau Kau ingin pergi, aku tidak akan menghentikanmu, tetapi aku juga tidak akan menolak tamu di rumahku."


"Kau terlalu baik, padahal beberapa saat yang lalu saja nyawamu berada dalam bahaya."


"Sudah jadi makanan sehari-hari. Aku sudah terbiasa. Lagipula, aku hanya tinggal sendiri, aku tak punya kesibukan selain bekerja dan mengurus Kenes."


"Sendiri?" Dia masih belum punya pasangan? Lantas ...


"Aku anak yatim piatu dari panti asuhan yang khusus membesarkan anak-anak terlantar untuk kelak ditempa menjadi ksatria."


'Ditempa' ... Kata macam apa itu?


Aku tahu, tidak ada hal yang mudah. Namun, kurasa kata-kata itu kurang pantas untuk diucapkan. Tidak, tidak, sepertinya ini hanya masalah pola didik saja. Penyihir lebih diajarkan untuk menjaga wajahnya tetap di atas maupun lurus, sementara ksatria kebalikannya. Lalu, bagaimana Cashel dan istrinya bisa menemukan frekuensi di antara perbedaan mereka? Jika hubungan mereka berjalan dengan baik, Cashel tidak akan menjadi 'duda'. Jadi, aku rasa, Casildo telah menjadi korban keegoisan orang tuanya. Ya ... Tidak ada orang di dunia ini yang tidak punya masalah.


"Bagaimana sekarang?"


"Apanya?"


"Apa Kau tidak ada niatan berkeluarga? Kau sudah cukup umur."


"Belum. Mungkin, hanya lebih sadar diri. Aku ini ksatria yang tak jarang terjun ke medan perang. Jikalau aku gugur, itu artinya aku menelantarkan keluargaku secara sengaja, kan?"


Buktinya Kau masih hidup sampai menyaksikan pertunangan anakmu sendiri. Namun, siapa istrinya? Rasa penasaranku berada di titik dimana aku harus memenuhi hasrat ini atau aku akan gila. Mungkin aku akan mengawasinya untuk sementara waktu.