The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#23



Di sudut pandang orang lain, pertanyaan gilaku ini tidaklah masuk akal. Namun, jika di sudut pandangku maka masuk akal saja. Aku tak punya apa-apa di sini, baik Nox Venator dan sekutuku yang lain itu sudah tidak terhubung lagi denganku. Aku beruntung sebab Cashel cukup baik membiarkanku tinggal di rumahnya, tetapi aku yakin itu hanya untuk sementara waktu saja. Aku tidak bisa menggantungkan diri pada orang lain terlalu lama sampai aku tidak bisa melunasi hutang budiku karena jumlahnya yang terlalu besar.


Cashel mengangkat dagunya, dengan kedua alis yang menukik ke dalam, dan kedua tangannya terbuka seperti mangkuk. "Sekarang Kau ingin menjual warisan turun temurun selama berabad-abad?! I-itu kelewatan!"


"... Boleh."


"Sungguh?!"


"Daripada dibiarkan terselimuti debu di gudang, lebih baik dihibahkan pada yang membutuhkan."


Kaki Cashel terhentak keras ke tanah penuh amarah, ketika mereka berhadap-hadapan dengan sejajar, Cashel sampai menutupi seluruh lekuk tubuh Theomund yang ramping dengan pundak penuh ototnya sehingga aku hanya bisa memandang punggung seorang letnan yang kesepian itu. Aku bisa merasakan sebagian emosinya yang terpancar dari bahasa tubuhnya, dia tampak begitu marah, dan merasa ... terhina.


"Kau mau menaruh nama keluargamu dan titipan leluhurmu di bawah kakimu yang berdebu? Apakah Kau serakah atau kurang bersyukur?"


Perbedaan tinggi badan membuat Cashel harus menundukkan kepalanya sementara Theomund yang mengangkat wajahnya. Mereka berdua tampak tidak ingin mundur dan siap untuk memberikan segala argumen yang mengawang di atas kepala mereka bagaikan debu tak kasat mata yang menggantungkan nasib pada sepoi-sepoi angin. Debu dan kerikil akan menjadi badai yang mengubah langit biru seolah seperti kedalaman laut yang penuh misteri. Manusia penuh rasa penasaran tetapi juga mahkluk yang penakut, kontradiksi yang bertarung di dalam batin ini tak mau mengalah.


Keinginan untuk memuaskan idealisme atau insting untuk menyelamatkan dirinya sendiri, manakah yang akan menang?


"Aku menginginkan suksesi. Akan kusambut setiap kemasyhuran dan kuhadapi setiap prahara yang ada. Kau—Cashel—tidak akan pernah bisa memahaminya sedikitpun."


Pohon beringin yang kokoh menjadi sumber persatuan di dunia asalku. Namun, meski diserang dengan kekuatan besar pun bisa saja sampai batangnya pun akan bergetar hebat karena menerima impak yang dilontarkan padanya. Bagai meja rapat dewan yang digebrak oleh sang raja yang naik pitam kala hanya sampah dan kegagalan pada sepanjang jalanan ibu pertiwi yang dipimpinnya. Seperti itulah punggung kokoh yang kelak akan menjadi komandan besar itu pun tersentak begitu saja sebab dibentak oleh teman penyihirnya sendiri.


Dahan-dahan pohon bergoyang karena angin, permukaan meja bergetar karena gebrakan dari seorang raja—tidak ada asap kalau tidak ada api. Mulut Theomund menemukan celah agar pertikaian ini tidak terbakar lebih lama, terpaksa harus mengungkit latar belakang Cashel, padahal diam-diam merasa bersalah. Akan tetapi, percikannya dimulai dari diriku.


Sedari kecil, aku belajar untuk hidup menjadi manusia pasif. Aku tak suka membersihkan sampah orang lain. Setiap orang tidak enakan akan bertemu dengan orang yang seenak jidatnya, bagaikan sudah menjadi hukum alam saja. Aku harus repot-repot mengeringkan pipiku yang basah karena air mata, padahal aku tidak suka rasa sakit, malah orang lain yang menyakitiku. Demi agar tidak terinjak-injak lagi, aku menjadi terlalu waspada. Sampai-sampai aku hanya bisa menilai seseorang dari kesan pertama saja, bahwa aku bisa menentukan apakah seseorang memiliki karakter yang baik ataupun buruk.


Inilah bentuk rasa kasihanku pada diriku sendiri. Orang-orang terdekatku coba menyadarkanku untuk tidak terus-terusan terkungkung dalam ilusi dan menarikku paksa untuk menghadapi kenyataan. Aku ... sudah cukup menghadapinya. Di saat yang bersamaan, aku meminta banyak hal dan tidak mengharapkan apa-apa kecuali apapun yang bisa menjadi jalan terbaikku keluar dari zona nyaman. Saat ini, aku tak punya dorongan untuk berubah, aku mudah berpuas diri tetapi juga menyayangkan diriku yang terlalu sederhana.


Walau begitu, semuanya telah berubah. Jikalau ini adalah doa terakhir yang bisa diterima oleh-Nya setelah sekian banyak permintaan imajinatif yang aku haturkan seumur hidupku, maka aku meminta ... Izinkan aku untuk bisa membuat happy ending dengan versiku sendiri.


Tidak ada yang bisa memahami diriku yang penuh kontradiksi, tidak akan seperti bagaimana aku dapat memahami orang lain.


Aku mencoba melangkahkan kakiku ke depan salah satu kakiku yang lainnya. Semakin maju tubuhku dibawa oleh insting dan naluriku, semakin adrenalinku pun meningkat yang diiringi kewaspadaan bercampur rasa curiga. Aku membasahi bibirku sebelum sampai di posisi tengah di mana mereka dapat melihatku hanya dengan melirik mata saja. Aku mulai membuka mulutku dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Jika tergantung padaku, aku akan mengembalikannya padamu tanpa ada kurang apapun. Maaf, sejujurnya aku begitu terkejut bahwa Kau benar-benar melepas warisan keluargamu, aku sampai tidak bisa berpikir dua kali karena pikiranku sudah jauh melayang. Maafkan aku."


Ah...


Ternyata, orang yang lebih mempercayai orang asing daripada keluarganya sendiri bukan hanya aku saja. Theomund mempercayaiku semudah itu sampai-sampai dengan lapang dada menghibahkan warisan keluarganya padaku sebab aku adalah orang asing? Kalau begitu, aku tidak boleh mengungkapkan jati diriku padanya. Namun, jika dia berniat untuk menyelidikiku secara diam-diam, maka aku akan pura-pura tidak tahu saja.


Akhirnya, Theomund mengalihkan pandangannya pada Cashel yang berdiri tegak bagaikan patung pahat. "Terima kasih atas minumannya, dan maaf sudah tidak sopan. Lalu, sampai bertemu besok," tuturnya.


"Ah, ya... Sampai jumpa," balas Cashel.


Aku pun ikut menambahkan juga. "Sekali lagi, terima kasih banyak."


Sihir yang berputar di sekitarnya menciptakan tekanan udara bagai angin ****** beliung yang membuatku nyaman. Tubuhnya pun bercahaya seperti komet yang terbakar di atas atmosfer, sejenak malam gelap gulita pun bagai tengah hari yang terang benderang. Rasanya seperti berbaring di atas tikar, di tengah-tengah hamparan padang rumput, di tengah lolongan sihir dan bunyi derik jangkrik. Kemudian, mengobservasi satu persatu bintang di angkasa hingga tak terhitung berapa banyak rasi bintang yang tergelar pada permadani malam. Aku ingat pesan beliau.


Suasana hati itu mempengaruhi kinerja sihir. Energi bisa tersalurkan hanya dari gelagat saja. Energi negatif atau positif bisa menular, karena itulah diperlukan latihan pengendalian emosi. Namun, perlu diingat bahwa kita ini hanya manusia biasa. Sehebat apapun seseorang memiliki kemampuan pengendalian diri, emosi yang bagaikan bom waktu bisa meledak kapan saja.


Perbedaan waktu antara cahaya terang serta pusaran angin yang mengelilingi Theomund itu lebih cepat dari kedipan mata. Sadar tidak sadar, dia sudah lenyap entah ke mana. Kini, hanya tersisa aku dan Cashel yang masih bergeming. Kalau saja tadi aku tidak sembarangan bertanya hendak menjual Harta Sihir, maka Cashel tidak akan terpancing, jadi Theomund tidak akan terpaksa mengungkit latar belakang Cashel, dengan begitu mereka tidak akan jadi perang batin begini.


Padahal secara mental, aku berusia 28 tahun, tetapi berada di tubuh yang berbeda 8-9 tahun usia asliku itu rupanya menantang juga, ya. Aku tidak dewasa dan aku masih sama cerobohnya, payahnya aku.


"..."


Kenapa tiba-tiba bibirku membeku, sih?!


"Dipikir-pikir, memangnya siapa yang punya cukup uang untuk membeli warisan keluarga yang tak ternilai harganya? Lalu, apa Kau tahu di mana tempat menjualnya? Ah, apakah aku terlihat menyeramkan?" ungkapnya.


Poker face yang bagus, tapi percuma saja jika sudah berhadapan denganku. Energinya yang terlalu menyebar atau aku yang terlalu perasa? Lagi-lagi aku menanyakan ini, tetapi jawabannya selalu sama bahwa menjadi peka itu anugerah. Sayangnya, aku bukan orang yang bisa bersikap bodo amatan dengan mudah. Mana bisa aku mengabaikan seseorang yang wajahnya sudah hampir mau menangis begitu?


Mau ksatria, laki-laki, atau seorang ayah, semua orang berhak menangis.


Aku sudah ditakdirkan untuk menjadi pendengar yang baik.


"Sedikit, kok. Malah, Kau membuatku kagum..."


Tawa pria bertubuh kekar itu terdengar meremehkanku sekaligus dirinya. "Huh? Penyihir dianggap nyeleneh dan sulit dipahami sebab lebih suka mengikuti arus alternatif. Sementara ksatria cenderung memiliki tendensi untuk mengikuti arus utama dan terlalu terpaku pada manual." Aku akan diam dan membiarkannya bicara, dan dia menambahkan sebuah kalimat lagi, "menjadi ksatria itu membosankan."