The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#1



Langit yang membentang dari satu ujung ke ujung lainnya, mau pagi atau malam, mau cerah atau hujan, itu sama saja bagi beberapa orang. Karena hidup mereka tidak terfokus pada kehidupan sederhana seperti memandang alam sehari-hari. Ada kalanya mereka akan peduli dengan langit ketika langit 'mengganggu' kegiatan inti mereka. Jika demikian, langit itu seperti anak kecil yang minta untuk diperhatikan oleh orang tuanya yang sibuk dengan ini dan itu, ucapan singkat tidak akan membuat langit merasa berbahagia hati.


Itu untuk sebagian orang.


Untuk orang-orang yang tidak termasuk dalam kategori tersebut adalah mereka yang spesial, bisa membagi kegiatan intinya dengan pemandangan alam meski terhalang oleh gedung-gedung tinggi yang menjulang di jantung ibukota. Dan sejatinya ada banayak orang yang kegiatan utamanya adalah untuk menagamati alam sekitar. Alam semesta ini merupakan karya seni Tuhan. Para manusia yang kini hidup di bumi dan tentunya ada mahkluk lain selain yang selama ini manusia kenal, mahkluk ciptaan-Nya yang bisa menciptakan karya sejatinya merupakan jari-jari Tuhan.


Manusia adalah satu-satunya predator puncak. Sesuai namanya, manusia ditakdirkan untuk merusak. Hanya jika manusia mau untuk membuka pikirannya dan mengambil keputusan setelah berpikir berkali-kali, maka sungguh manusia adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna. Manusia bisa membawa kehancuran atau kesejahteraan bagi dirinya sendiri, sama seperti Tuhan yang sanggup untuk menghendaki segalanya termasuk takdir dari setiap manusia.


Lantas, seperti apakah takdir diri kita semua? Entah besok kita akan mati, tertimpa kesialan, mengalami pengalaman yang tidak akan terlupakan seumur hidup, semua takdir yang akan dilalui oleh ciptaan-Nya di alam semesta ini telah disaksikan semua sebagai Yang Maha Melihat. Kita dibiarkan untuk memilih jalan kita sendiri, baik atau buruk diputuskan sendiri, tak mungkin tidak ada yang menyaksikan bagaimana manusia di bumi ini hidup.


Setidaknya di luar sana ada satu, yakni sesuatu yang berada di luar batas kemampuan dan di atas pengetahuan manusia saat ini. Contohnya seperti empat dimensi dan lima dimensi dan lain sebagainya. Tentunya ada sosok yang lebih daripada itu karena kita tidak sendirian di sini. Di atas langit masih ada langit, lalu seperti apakah bentuk langit yang paling tinggi?


Manusia dengan rasa penasaran tinggi terus mencoba mengulik berbagai informasi, menciptakan kemajuan ilmu pengetahuan, dan lainnya. Sementara beberapa orang lain hanya setengah peduli karena merasa tidak terlibat pada segala ragam kemajuan yang tengah manusia lain usahakan. Golongan apakah dirimu? Manusia yang berambisi atau manusia yang sudah puas dengan apa yang ada saat ini?


Seseorang yang berambisi memiliki alasannya sendiri untuk bertindak demikian, begitu pula seseorang yang mudah untuk berpuas diri memiliki alasannya pribadi. Setiap orang itu berbeda-beda, karena perbedaan itulah yang mengharuskan manusia untuk bersatu. Akan tetapi tidak semudah itu memang. Insting untuk menjadi yang paling berkuasa dan yang paling di atas tidak akan bisa dihilangkan. Sombong pun masih bisa ditolerir apabila ala kadarnya, karena sombong adalah bentuk pengakuan atas kemampuan di diri sendiri.


Itulah jalan satu arah yang aku pikirkan.


Jalanan yang terhubung pada satu garis lurus akan membentuk keterkaitan dan dari keterkaitan itu akan menciptakan cabang-cabang baru. Pro dan kontra saling mengisi banyak hal. Sebab itulah manusia bisa begitu bermacam-macam sebab mereka memiliki persepsi yang mereka anggap benar dan paling baik. Manusia adalah mahkluk sosial yang saling membutuhkan, seperti pembeli dan penjual, walau tidak ada percakapan yang terjadi tapi keduanya saling membutuhkan dan saling memberi.


Kasus seperti ini juga ada pada hubungan oleh penulis dan pembaca.


"Respon yang bagus. Yah, ide ceritaku memang muncul spontan dan akhirnya aku bisa menyusunnya dengan baik sampai layak terbit di penerbit mayor."


Namaku Karmina, Karmina Kama Indurasmi. Aku seorang penulis novel pemula yang baru saja menerbitkan sebuah novel bergenre fantasi. Aku memiliki nama pena sebagai Mikami yang aku ambil beberapa hurufnya dari nama asliku sendiri-selain itu aku memang memiliki ketertarikan pada jejepangan. Ini bukan pertama kalinya aku terlibat dalam kesusastraan, tapi novelku bisa terbit ini merupakan momen yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku bersumpah, sampai tiba waktunya aku ke alam baka pun momen ini tidak akan pernah terlupa.


Akhirnya impianku sebagai penulis novel bisa tercapai.


Lalu, saat ini aku sedang membaca ulasan yang para pembaca telah tuliskan di akun sosial media mereka masing-masing. Aku percaya, lambat laun novelku ini akan bisa menjadi best seller dan terpampang di rak-rak toko buku terbesar di negara ini. Mereka bilang ceritanya fresh, brilian, memacu naik dan turun emosi, dan menjadi genre yang memiliki potensial besar untuk dieksplorasi pada kesusastraan dari negeri ini. Selain itu, penulisanku memiliki ciri khas kuat.


Aku tersanjung atas semua ulasan baik tersebut, tapi kalau sampai dibandingkan dengan karya penulis sebelah yang sudah jauh lebih terkenal dariku-yang disebut-sebut penulis overrated—rasa-rasanya agak berlebihan. Perjalanan awalku masih panjang dan baru dimulai. Aku adalah aku, ini adalah ciri khasku yang aku kembangkan sendiri. Sebenarnya ini adalah langkah awal yang baik untukku. Penerbit tempatku mengirimkan naskah adalah penerbit mayor, jadi promosi novelku bisa aku percayakan pada pihak mereka.


Ya, aku adalah tipe manusia yang mudah berpuas diri. Aku tidak terlalu memikirkan bahwa awal yang baik ini akan mengarahkanku ke jalan yang lebih sulit, aku sadar itu. Tidak perlu memikirkan hal yang sudah terjadi, lebih baik fokus pada masa sekarang sambil bersiap untuk menghadapi masa yang akan datang.


"Permisi, paket!"


Pas sekali. Hari sudah sore dan paket yang aku tunggu-tunggu sudah sampai, bahkan lebih cepat satu hari dari estimasi tiba. Identitasku sebagai penulis bernama 'Mikami' hanya diketahui oleh segelintir orang. Seperti yang aku bilang, tulisanku sampai dibanding-bandingkan dengan penulis besar-dalam hal ini mereka menganggap tulisanku lebih baik dari penulis sebelah-tentunya aku harus menjaga identitasku. Toh, yang berperang itu para pembacaku. Aku baru akan datang ketika suasananya sudah genting.


Paket ini dikirimkan oleh orang tuaku. Aku tinggal sendiri di rumah kontrakan sederhana, aku memutuskan tinggal terpisah agar bisa bebas dan bersikap semauku sendiri di sini tanpa membuat repot orang lain. Sebab yang nanti akan kesulitan dan mengurus masalah pasti aku sendiri. Aku dan orang tuaku terpisah jarak 900 kilometer. Ya, aku dan orang tuaku tinggal di sisi paling ujung pulau. Aku di arah paling timur sementara orang tuaku di arah paling barat.


Aku berjalan ke arah pintu, memutar kunci yang menggantung di sana kemudian membuka pintu. Seorang pengantar paket dengan helm berwarna merah, masker medis K9 berwarna putih yang agak kehitaman, jaketnya berwarna hitam.


"Atas nama Karmina? Ongkirnya 25 ribu ya, Mbak."


Pengantar paket itu mengambil foto diriku dengan handphone miliknya, lalu dengan secepat kilat kembali pada motornya. Aku tidak melihat penampakan adanya karung berisi penuh paket di atas motornya, jadi sepertinya paketku ini adalah yang terakhir untuk diantarkan. Semoga rezeki bagi pejuang nafkah ini dilimpahkan dan pekerjaannya dipermudah oleh-Nya. Sejatinya tidak ada pekerjaan yang mudah di dunia ini.


Nah, sekarang saatnya membuka paket.


Aku ambil gunting panjang untuk membongkar pelindung isi paket yang sudah sesuai dengan standar agensi pengiriman paket. Di antaranya ada kertas yang berisi informasi pengirim dan penerima paket, lapisan plastik hitam, dan bubble wrap. Kemudian terdapat kotak kardus yang berisi kertas-kertas yang sepertinya sudah dihancurkan oleh alat penghancur kertas, ada alumunium foil bertipe peredam suhu, barulah setelah itu ada paket yang kunanti-nanti selama ini.


Tidak ada yang lebih nikmat dari masakan ibu.


Aku segera merogoh handphone yang tadi kuletakkan di atas meja sebelum menerima paket. Aku bermaksud untuk mengabari ibuku kalau paket yang dikirimkannya sudah datang. Isinya adalah sate bandeng, sate bebek, dan tentu saja tidak boleh melewatkan sambal. Semuanya dibungkus dengan bungkus plastik yang khusus untuk vakum udara yang ada sehingga makanan di dalamnya bisa awet sangat lama. Bungkus yang seperti inilah yang cocok untuk digunakan ketika akan diantar melewati jarak jauh terutama yang memakan waktu berhari-hari di luar lemari pendingin.


Aku bilang aku rindu masakan ibuku tapi tak punya waktu untuk pulang sebab sibuk mengurus naskah dan kontrak. Ibuku merupakan wanita yang bisa menemukan 1001 solusi untuk permasalahan. Bukannya aku tinggal terpisah itu karena aku terkesan menjaga jarak dari orang tuaku, tapi ini juga termasuk saran dari beliau. Pun dia mengusulkan untuk memintaku membelikannya alat vakum makanan agar ia bisa mengirimkan masakannya padaku. Sungguh, tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan pada zaman sekarang.


Aku mencari-cari kontak ibuku dan menekan ikon video call. Aku ingin menunjukkannya bahwa makanan yang dipenuhi oleh cintanya itu sudah sampai dengan aman padaku. Tak butuh waktu lama sampai ibuku menjawab panggilannya. Begitu panggilan tersambung, aku bisa mendengar ibuku berteriak memanggil-manggil ayahku. Akhirnya setelah keberadaan kedua orang tuaku berada dalam satu bidang, aku mulai berbicara.


"Makanannya sudah datang. Nanti mau aku langsung panaskan. Makasih, Ibu. Lain kali kirimkan lagi."


"Mau apa pun pasti dibuatkan, kok. Selamat atas terbitnya novel pertamamu, Sayang."


"Makan yang banyak. Kamu kurus, tambah berat sedikit gapapa," ucap ayahku.


"Aku kurus, aku bangga. Asalkan sehat dan bahagia. Hmm... Oseng pindang tahu dan sambal teri, bisa?"


"Siap. Bisa dikirim kapan aja, kan? Besok pagi saja ibu buatkan karena sekarang sudah sore. Jadi begitu besok sudah selesai dimasak, bisa segera dibungkus, cepat-cepat dipaketkan."


Aku senang. Walau masa kecilku kurang bahagia, tetapi akan selalu ada langit biru setelah badai.


"Oh iya, Ibu mau bantu-bantu temanmu Riri itu. Di rumahnya ada syukuran, baru saja dilamar kemarin siang."


"R-Riri yang itu mau menikah?!" Riri itu teman dekatku di SD. Dia baik, hanya saja memang agak pendiam. Eh, tidak kusangka dia mendahuluiku


Aku wanita mandiri yang bisa lakukan banyak hal seorang diri. Hanya segelintir hal yang tidak bisa aku lakukan, memasang gas elpiji misalnya. Aku selalu minta bantuan tetangga kontrakan sebelahku yang sesama anak muda untuk bantu memasangkannya. Selain itu, aku bisa sendiri. Kalau aku menikah terlalu cepat, lantas buat apa aku tinggal di kontrakan ini seorang diri? Aku sudah dikontrak untuk membuat novel selanjutnya, kalau ditambah dengan menikah pasti tanggung jawabku semakin besar.


"Oh, ya sudah, aku tutup duluan."


"Minimal punya tambatan hati. Jangan terlalu menutup hatimu."


"Enggak bisa janji, Yah."


Aku cepat-cepat tekan ikon merah pada layar supaya tidak diceramahi lebih jauh. Inilah salah satu manfaat yang kudapatkan sejak tinggal sendiri dua tahun yang lalu. Kekurangannya pasti kesepian, aku selalu mengusahakan membuat naskah dari rumah. Namun, ada sekali seminggu aku akan keluar ke kafe terdekat supaya tidak jenuh. Aku seorang wanita yang tinggal sendiri. Aku tak mau aneh-aneh keluar jauh sendirian tanpa ada urusan penting.


"Aku panaskan sate bandeng dan sambelnya dulu, deh. Bebeknya untuk sarapan besok saja."