The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#19



"Temanku, Theomund ... Katanya, dia terlahir dengan Mata Arwah yang terbuka. Yang mana di keluarga penyihir, itu merupakan suatu pertanda berkaitan dengan bakatnya. Jika terlahir dalam kondisi tersebut, maka Kau akan mendapatkan perlakuan spesial."


"Itu memang benar, sayangnya aku tidak seperti itu."


Hendak harus aku tegaskan berapa kali. Sebagai anak tunggal, aku tak pernah merasakan bagaimana perhatian terbagi-bagi oleh saudara kandung sendiri sampai aku merasa iri dengan hal itu. Aku anak tunggal, artinya orang tuaku hanya fokus padaku saja. Mereka pun masih sehat sentosa sampai aku tubuh sebesar ini, aku mendapatkan kasih sayang penuh dari ibu dan ayahku. Harusnya tidak usah dipungkiri menjadi anak tunggal, kakak, dan adik, memiliki keuntungan dan kekurangannya masing-masing, menurut preferensiku menjadi anak tunggal lebih baik daripada memiliki saudara seperti Dorothy.


Dan benarlah, menjadi seorang kakak itu tidaklah mudah. Ketika sebagai kakak sudah melakukan yang terbaik, nyatanya mereka tak punya ekspektasi istimewa pada Dominique. Ekspektasi yang bisa dilakukan oleh Dorothy, justru mereka tidak bebankan kepada anak itu, melainkan kepada Dominique yang jelas-jelas tidak memiliki keahlian di bidang yang mereka harapkan si sulung kembar untuk bisa mewujudkannya. Dominique tetap terima dan berusaha, tapi tentu saja orang tuanya tak puas padanya. Sementara itu, Dorothy yang bermanja-manja ria justru dibanggakan—dia adalah villainess yang sebenarnya.


"Jadi, Kau—mau tidak mau—menempuh jalan latihan untuk membuka matamu? Walau begitu, aku dengar pelatihannya sulit."


"Pelatihannya memakan waktu sepuluh sampai lima belas tahun kalau dimulai sejak usia dini. Sementara untuk usia dewasa, mungkin bisa lebih lama, atau lebih singkat? Entahlah."


"Kau betul-betul mengerti bagaimana pelatihannya?"


"Ada beberapa puluh metode yang harus aku lakukan, mulai dari membuka mata sampai menutup mata lagi setiap hari selama sepuluh tahun berturut-turut. Aku menghafalnya di luar kepalaku."


Tidak, Mata Arwah ini merupakan kerja keras dari Dominique yang asli. Pelatihannya dimulai dari saat dia berusia 5 tahun, sementara aku baru muncul saat dia 16 tahun. Yang berarti ia baru menikmati kerja kerasnya hanya setahun saja. Dorothy licik, begini dia masih merasa iri dengan saudarinya? Motifnya iri pada Dominique sangat tak beralasan. Apa daya seorang anak yang hobi berenang dalam berenang keluarga, kalau tidak mengacaukan kakaknya sehari saja dia bisa menggeliat kepanasan seperti cacing yang disiram air garam.


"Keluarga penyihir juga sama kerasnya, ya?"


"Kita ini melewati jalan setapak yang sama. Bedanya adalah aku melewatinya saat musim dingin, dan Kau melewatinya saat musim panas terik."


Cashel terkekeh. "benar, aku tidak suka musim panas."


"Jadi, apa Kau mau?"


"Yah, kalau Nona Mikami memaksa."


Nona. Nona. Nona! Rasanya seperti dirayu, karena di dunia modern sudah jarang yang seperti ini.


"Panggil aku Mikami saja. Bahkan aku tidak memanggilmu dengan embel-embel Sir atau Tuan, kan?"


Cashel mengerjapkan matanya beberapa kali, bibirnya menganga berbentuk huruf O. "Oh, benar juga. Ekhem, apa Kau tidak diajarkan tata krama oleh keluargamu? Aku ini letnan ksatria, lalu lebih tua darimu, dan seenaknya memanggil nama depanku. Harusnya Kau lebih menghormatiku!"


"Maafkan aku, tapi itu karena Kau tidak menegurku dari tadi."


Karena tadi aku menyebutkan nama penaku sebagai nama panggilan di sini, mungkin jati diri penulisku yang suka menyamaratakan karakter jadi ikut terbawa. Akan tetapi, kesanku pada Cashel cukup berbeda. Entah bagaimana justru dia tokoh pembantu pertama yang aku ciptakan, aku mendeskripsikannya memiliki karakter baik dan menyenangkan. Diteruskan dengan Casildo, apapun sifat yang tidak mirip seperti Cashel, maka simpulkan saja itu turunan dari ibunya.


Tokoh laki-laki gentleman yang digambarkan oleh wanita itu valid merupakan tipe pasangannya.


"Tapi, Mikami ... Aku baru ingat, besok aku ada perlu sampai satu minggu ke depan. Banyak hal yang harus dikejar, terutama bagaimana nasib Kenes nantinya."


"Nasib?"


"Kenes selalu memberontak kalau mau dibawa ke medan perang. Dia hampir saja dieliminasi karena dianggap tidak membawa kontribusi, padahal sudah dilatih dengan sedemikian rupa bersama kuda-kuda lain. Antara dia akan menetap di sini sebagai kuda liar atau dia akan menjadi tes untuk anak baru yang pertama kali menunggang kuda."


Kuda sebesar ini tapi nyalinya ciut? Selalu ada kemungkinan sugesti masih bisa menang dari 'doktrin' seperti pelatihan. Takut mati itu wajar, karena aku yakin, sepanjang Kenes menyaksikan kematian di depan matanya adalah dia pasti lebih takut merasa sakit dan takut terluka. Hewan lebih peka dari manusia ketika tahu saat-saat kematian mereka sudah dekat. Kenes beruntung karena ada Cashel yang menyelamatkannya.


"Aku sarankan, biar dia menetap di sini sebagai kuda liar. Untuk memanggilnya cukup panggil dengan siulan yang mudah dikenalinya."


"Kau dengar, Kawan? Kalau Kau dibiarkan bebas, Kau tidak akan kabur-kaburan lagi dari kandang."


"Aku izin beristirahat duluan."


"Silakan, selamat beristirahat."


...»»——⍟——««...


"Nona ... Bangunlah!"


Suara dan momen yang mirip, rasanya seperti deja vu. Oh ya, ketika aku pertama kali membukakan mataku di sini juga seperti ini, kan?


"... ya?"


"Maafkan aku, Nona, sudah waktunya makan malam."


Kenapa waktu berlalu cepat sekali? Aku masih mengantuk, tapi tak bisa kupungkiri juga, aku lapar sekali. Dan tenggorokanku kering, apa aku mau sakit gara-gara tadi hujan-hujanan?


"Apakah Cash— maksudku, Sir Cashel sudah menunggu di bawah?"


"Ya, hanya perlu menunggumu. Saya juga sudah siapkan air untuk cuci muka, silakan Nona gunakan."


"Baiklah, terima kasih banyak, ya. Aku akan segera menyusul."


Fidelya menundukkan kepalanya, kemudian berjalan mundur untuk kemudian keluar dari kamar. Lingkungan sekitar ini begitu sunyi dan damai. Sampai aku bisa mendengar ada suara gelak tawa yang berasal dari lantai bawah. Karena Cashel begitu baik, jadi mungkin saja dia sedang bercanda dengan salah satu pekerja di rumah ini? Aku tak ingin membuat sang tuan rumah menunggu, aku cepat-cepat membersihkan wajah dengan teliti, menyisir rambut yang acak-acakan, lalu mengikatnya gaya ponytail—aku tak mau ada rambutku yang tertelan secara tidak sengaja saat makan.


Setelah kupastikan penampilanku sudah rapi, aku bergegas untuk beranjak dari kamar, lalu berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Seorang pelayan lain yang sedang bersih-bersih di lorong menunjukkan arah ruang makan padaku. Lalu, entah kenapa jantungku berdegup kencang. Perasaan apa ini? Rasa gelisah?


Begitu aku sampai di pintu ruang makan, aku bisa pastikan suara bercakap-cakap itu berasal dari sini. Ada dua suara laki-laki. Cashel memang sangat baik, tapi apakah dia senaif makan bersama dengan pekerja di rumahnya? Aku ingin menguping—tidak—aku merasa harus melakukannya.


"Bagaimana itu?"


"Itu apa?"


"Jodohmu. Siapa namanya?"


"Lesya Laksita. Dia bisa sihir, tapi tidak begitu hebat, jadi kalau dia disebut penyihir pun tidak cocok. Sebelumnya aku sudah menghadiahkannya segala sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan sihir, tapi dia tidak tahu apa-apa. Satu-satunya keistimewaannya hanya karena dia terlahir dengan Mata Arwah yang sudah terbuka dan didekati oleh banyak sihir, entah apa yang membuat mereka tertarik padanya."


Lesya? Kalau begitu ... yang di dalam adalah Theomund?! Tapi, kenapa aku tidak bisa merasakannya?


"Sebentar lagi akan menjadi Lesya Ginova. Kalau Kau memperkenalkan keluargamu padanya sebagaimana tugas kepala keluarga, dia pasti akan mengerti dan bisa membangun inisiatifnya sendiri."


"Seperti tidak ada wanita lain saja."


"Memang tipemu yang seperti apa?"


"Yang sempurna seperti diriku."


Oh, dia punya selera humor yang bagus.