The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#15



"Entah kenapa, dia terlihat seperti Theomund ... ya? Apa dia kerabatnya?"


Dominique pergi begitu saja dengan sihirnya setelah meminta maaf pada Cashel. Cashel sendiri tak tahu wanita itu akan pergi ke mana, bahkan dia belum menanyai nama wanita itu. Yang penting dia selamat dan keadaan sudah terkendali. Sampai derap kuda terdengar semakin dekat. Terdengar dari langkahnya yang beruntun, ada lebih dari satu orang yang datang mendekatinya. Tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga Ginova. Toh, danau terlarang ini berada dalam daerah kekuasaan mereka.


Dari balik pepohonan, Cashel melihat lima ekor kuda yang datang mendekatinya, termasuk Kenes yang ditunggangi oleh seorang yang familiar di matanya. Merasa keadaan sudah aman terkendali, ia mengembalikan pedangnya ke dalam sarung pedang. Dari kejauhan datang kemilau surai dan iris yang bersinar bagaikan batu permata ketika diterpa sinar matahari maupun bulan. Tak lain dan tak bukan ialah temannya sendiri, Theomund Ginova. Calon pewaris keluarga Ginova, ia adalah seorang penyihir yang hebat, dan seringkali membantunya dalam perang.


Begitu sampai di depan Cashel, Theomund pun turun dari punggung Kenes. Sementara itu Kenes langsung mengusap-usap kepalanya sambil mendengus lega pada Cashel, Theomund hanya bisa tersenyum saja melihat ikatan hubungan yang nyata antara kuda dan penunggangnya. Namun, fokusnya seketika teralihkan pada potongan daging yang tergeletak di dekatnya.


Tak perlu pikir panjang untuk mengambil kesimpulan. Seragam Cashel yang basah kuyup, pepohonan sekitar yang kacau, bercak darah seperti diseret, lalu seonggok potongan daging bersisik yang masih segar. Seandainya dia datang lebih cepat, dia pasti bisa melakukan sesuatu.


"Periksa sekitar danau. Jika ada yang mencurigakan, langsung laporkan padaku, lalu tidak perlu mengambil tindakan. Kita observasi dulu keadaan di sini, mengerti?" titah Theomund.


"Baik!" Ke-empat penunggang kuda tersebut berpencar masing-masing dua orang menuju kiri dan kanan bergerak memutari danau.


Theomund kembali memberikan fokusnya kepada Cashel yang masih terbahak-bahak dengan tingkah Kenes. "Kau menceburkan dirimu ke danau?"


"Ya, aku menyelamatkan seorang wanita yang tenggelam."


"Di mana dia? Apa dia selamat?"


"Tentu saja selamat, tapi, dia langsung pergi dengan sihir teleportasi."


"Penyihir, ya? Seperti apa penampilannya?"


"Rambutnya mirip sepertimu. Mungkin kerabatmu, entahlah."


Kecurigaan Theomund langsung meningkat. "Aku tidak punya kerabat, Cashel. Keluarga Ginova sangat menjaga garis keturunannya."


"Tidak, tidak. Warna rambutnya mirip sepertimu, sihirnya hebat sekali! Aku bersumpah ksatria!" kata Cashel seraya meletakkan kepalan tangan di atas jantungnya.


Theomund mulai berpikir, ia memegangi dagunya untuk mengurutkan kejadian sebagaimana mestinya. Mula-mula, ia mengawali pertanyaan yang sederhana, "sedang apa Kau di sini?"


"Mengajak Kenes jalan-jalan."


"Masuk ke teritoriku tanpa seizinku? Mau Kau menjadi komandan sekalipun, itu tetaplah kesalahan."


"Maafkan aku, Tuan Muda Ginova," Cashel memasang perangai tengilnya, ia menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang berdoa, dan kepalanya pun ia tundukkan untuk memohon ampunan.


Theomund mendecih, tetapi kini dia mengajukan pertanyaan yang lebih serius. "Apa Kau tahu tentang Mata Arwah?"


Cashel langsung kembali pada posisi tubuh tegapnya seorang ksatria, melihat topik yang diucapkan oleh Theomund adalah sesuatu yang serius karena berhubungan erat dengan mereka. "Aku tahu," katanya.


"Kau belum membuka Mata Arwahmu?"


"Aku bahkan tidak tahu cara membukanya."


"Nah, karena itulah ular tersebut keluar dari danau, Cashel. Bagaimana mengatakannya, ya. Sekian lama ular itu terbiasa dikelilingi sihir, kehadiran sosok yang asing hanya akan membuatnya marah. Soalnya dia menganggapmu sebagai penyusup, karena merasakan Kau tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sihir seperti Mata Arwah. Sepertinya dia menganggap wanita tenggelam yang Kau selamatkan itu sebagai sekutunya, tetapi salah mengira Kau mencoba menculiknya."


"Bahkan hewan bisa salah paham juga? Maafkan aku ... karena sudah membuat kekacauan besar." Kali ini, Cashel menyesal dengan sungguh-sungguh.


Dia sudah siap menarik pedangnya kembali untuk menyayat tangannya sendiri dan meneteskan darah untuk bersumpah, seperti itulah cara ksatria meminta maaf sebagai simbolisme,  barulah setelah itu melakukan gerak nyata. Namun, Theomund mencegahnya lagi. Justru, sebenarnya Cashel sudah sangat membantunya.


"Aku akan menemani—"


"Kau bosan hidup, kah? Ular itu akan membelit tubuhmu sampai Kau meledak seperti kembang api. Lalu, aku akan melarang orang-orang yang tidak membuka Mata Arwah untuk menginjakkan kaki di air danau itu." Telapak tangan Theomund mengeluarkan cahaya, dengan cahaya itu yang mulai mengelilingi tubuhnya, angin kemudian berhembus di sekitarnya.


"Berhati-hatilah."


Theomund mengangguk mengiyakan. "Kalau Kau menemui wanita itu lagi, kabari aku." Kemudian, dia menghilang dalam sekejap.


Cashel melihat keadaan di sekitarnya yang kacau balau. Dia tidak pernah bisa menahan dirinya untuk tidak menyebabkan kekacauan, baik itu ketika latihan seorang diri dan melatih anak-anak baru. Cashel terlalu gigih untuk pertempuran, ia jadi selalu dihindari oleh anak-anak yang awalnya selalu mengagumi dirinya. Cashel mendengus kesal, ia memijak pelana kuda, lalu naik ke atas punggung Kenes. Kuda ini sudah lebih tenang dari sebelumnya, pasti karena pengaruh dari Theomund.


"Ayo pulang."


...»»——⍟——««...


Ekornya sudah tak lagi terluka maupun meneteskan darah. Lukanya telah ditutup oleh mereka yang bergantung padanya dan ia yang bergantung pada mereka. Bukan tak mungkin ekornya bisa tumbuh lagi seperti cicak atau tokek. Bagian tubuhnya yang sudah hilang bisa ditumbuhkan kembali, tidak ada yang tidak mungkin ketika ia memiliki sekutu sebanyak itu, yang menjadikannya bisa bertahan melewati iklim ekstrim ketika rumpunnya telah punah.


Simbiosis mutualisme yang menguntungkan kedua sisi tanpa terkecuali.


"Bisakah aku berbicara denganmu?"


Dia kira itu wanita tadi yang berbicara padanya, tetapi itu suara laki-laki. Dia memutar badannya, lidahnya mendesis kesal yang terdengar seperti suara decakan. Ia mengangkat tinggi-tinggi kepalanya demi menunjukkan siapa yang sebenarnya memiliki kendali di antara mereka. Bahkan, ketika sekutunya merasa tidak suka dengan keberadaan Theomund, ia menyuruh mereka untuk menahan dirinya dahulu.


"Piscinoboa, aku mewakili temanku meminta maaf karena sudah melukaimu dan mengusik waktu istirahatmu yang berharga."


"Lain kali dia datang kemari, aku tidak akan mengampuninya."


"Tentu saja, aku sudah memperingatinya."


"Yah, Kau bisa berbicara dengan bahasaku. Apa maumu, Penyihir?"


"Walau baru mengenalnya tadi, tapi Kau pasti tahu siapa wanita itu."


Piscinoboa terkekeh, moncongnya mendekati wajah Theomund, ia mengetahui kemana arah pembicaraan ini mengalir. "Apa yang ingin Kau ketahui?"


"Segalanya."


"Oh, Kau penggila hierarki ingin selalu memegang kendali, Theomund Ginova. Namun, tidak dengan Mata Arwah yang tertutup. Aku sudi berbicara padamu pun karena Kau memiliki potensi bakat dalam dirimu."


Ular sebagai simbol kebijaksanaan, tentunya tidak akan sembarangan bertindak, berkata-kata, maupun mengambil keputusan. Theomund harus melakukan segala cara yang dia bisa demi mengungkapkan kejanggalan ini yang bahkan sudah dibocorkan oleh ayahnya sendiri.


"Ada harga yang harus Kau bayarkan. Masa lalu, masa kini, masa depan, semua itu terlalu mahal untuk diceritakan dalam satu waktu ... Sungguh, mahal sekali."


"Nyawa siapa yang harus kuberikan?"


Kini Piscinoboa tertawa terbahak-bahak melihat betapa Theomund tengah berada di titik terendahnya demi menjadi pewaris yang serba sempurna.


"Sang bulan yang menjadi bayang-bayang matahari. Purnama yang akan menghalangi sang surya, membuat belahan bumi begitu gelap gulita. Aku menginginkan Sang Gerhana. Oh, Theomund, Kau akan sangat sibuk untuk mengurus egomu sendiri, lho."


Piscinoboa mengincar si kembar Ginova, baik itu Dominique maupun Dorothy.