
"Mangata."
Mangata adalah bayangan bulan di permukaan air. Bulan itu berada dalam posisi yang hari-harinya dilanda kebingungan. Seperti masyarakat kelas menengah, tidak bisa dibilang miskin, apalagi dikatakan kaya, tetapi untuk sehari-harinya pun tergolong susah, walau begitu hidupnya tidak sesulit kelas bawah pula tidak semudah dari kelas atas. Hidup selalu memiliki konsep hierarki, tidak mungkin tidak ada, karena inilah kenyataannya.
Yang terpilih, berbakat, potensi, dan minat.
Hartawan, kaya, menengah, dan miskin.
Jenius, cerdas, pintar, dan bodoh.
Namun, perlu diingat bahwa roda kehidupan selalu berputar. Aku yakin, garis kehidupanku sudah disusun dengan sebaik-baiknya oleh takdir. Yang bisa kulakukan hanya menjalaninya, beradaptasi, dan terus mencari peluang. Setiap individu memiliki kesempatan untuk berpindah kelas. Terutama, yang kedudukannya hanya di tengah-tengah saja, ada banyak momen tak terhitung untuk menjadi lebih baik atau menyerah saja. Meski sudah tahu hidup ini telah diatur amat detail oleh takdir, tetaplah berpikir bahwa pedoman hidup diri sendiri berada dalam genggaman tangan dan keputusan masing-masing.
Aku berpuas dengan segala pencapaianku yang ada di belakang sana, akan tetapi lama kelamaan semakin redup, aku harus membuat pencapaian baru lagi. Aku akan berlari melawan angin dengan bangga, aku akan meringkuk ketakutan ketika badai menerjangku, aku akan bangkit kembali ketika rembulan yang baru saja terbit itu menampik kebimbanganku. Semuanya ada waktunya, di antara belahan bumi timur dan barat tak bisa disamakan waktu terbit dan tenggelamnya matahari.
Aku berpangku tangan pada isi kepalaku yang menganalogikan dunia yang berfilosofi abu-abu ini. Awang-awang di sekitar tanganku pun berwarna biru keunguan; simbol bulan purnama yang tersembunyi dari balik tirai awan putih terukir pada punggung tanganku, dilambangkan sebagai intuisi dan wawasan baru, tapi bisa menjadi penyebab kebosanan bagi sebagian orang.
Jati diriku hanya akan menarik di mata orang yang tepat saja.
"Recaka."
Recaka berarti bernapas. Bagaikan bunga dandelion kecil berharga yang tumbuh di sela-sela batu bata jalanan maupun rumah. Bagaikan pohon besar yang menampung beberapa kehidupan dalam satu waktu. Angin menerpa serbuk bunga hingga membawanya ke tanah antah berantah. Angin membuat dedaunan menari-nari dan menciptakan suasana damai yang tentram. Tak peduli jika ia diinjak-injak bagaikan rumput, tak peduli jika ia dicabut dari batangnya, tak peduli jika ia diukir dengan ujung batu maupun belati yang tajam, tak mungkin ia akan meninggalkan tugas sebesar itu dengan banyak sukma menggantungkan hidup padanya.
Tak ada hubungannya antara surai hitam kelam dengan iris semerah darah, melainkan ialah supaya tak lupa bahwa dirinya merupakan ksatria dan seorang manusia biasa. Sama sepertiku, Cashel berdiri di tengah-tengah timbangan hidup. Apakah ia akan menjadi bajingan seperti rekan-rekan ksatrianya, atau ia akan menjadi terhormat seperti teman penyihirnya, Theomund. Manusia dan alam mempelajari satu sama lain. Namun, tiap kali manusia penasaran akan segala sesuatu, senantiasa ada kerusakan yang harus direlakan demi alam.
Tidak apa, ini tugasku.
Dirusak sekacau apapun, kami akan selalu menghiasi bumi ini kembali, lagi dan lagi.
Napas mereka itu demi kepentingan banyak orang, pula mereka tidaklah egois. Melainkan realistis, dan kelak Cashel akan segera mengetahui itu bahwa tidak semua orang menjadi tanggung jawabnya, hanya karena ia seorang ksatria. Dia tidak boleh melupakan bahwa masih seorang manusia. Dengan mata lain, Cashel merupakan jelmaan dari alam, yang indah tapi mematikan.
Tangannya terselimuti oleh cahaya hijau kekuningan, seperti pepohonan yang diterpa oleh sinar mentari terik. Keadaan punggung tangannya pun sama sepertiku, perlahan-lahan muncul suatu simbol berupa daun yang diterpa oleh angin.
"Mangkus."
Mangkus berarti berdaya guna. Agaknya ia sudah menyadari tentang makna dari Nama Takdirnya sedari dini. Theomund Ginova adalah seorang pria yang rasionalis, praktis, dan sensibel. Seorang pria ideal yang terlahir di keluarga terpandang, penyihir hebat pula. Walau begitu, dia tidak sombong dan karakternya positif. Dia memang mudah skeptis pada orang-orang baru, tapi penyayang pada orang yang telah dikenalnya dengan akrab, sebab itulah salah satu alasannya kenapa Theomund merestui hubungan Casildo dan Dominique.
Dengan tipe kepribadian pragmatis seperti itu, tentunya ia diuji amat berat ketika ia dipaksakan untuk bersabar, berlatih secara bertahap dan berproses tapi pasti demi membuka kembali Mata Arwahnya. Meski begitu, ia tetap merencanakan segalanya dengan matang dan tertata. Sebagai calon pemimpin, ia harus menanamkan sifat optimis dan peka dengan lingkungan sekitarnya, harus bisa beradaptasi dengan segala perubahan yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Oh, sungguh, dia menjadi pemimpin yang baik.
Di atas kulit kedua tangannya, pendar cahaya putih kebiruan bagaikan sinar bulan purnama membuatku rileks, entah mengapa. Bagaikan bulan yang mengambang di atas kepala dan di tengah langit bersama bintang-bintang yang bersih dari awan. Menjadi sosok yang paling dekat dengan bumi, tetapi tetap menjaga jaraknya, kalau tidak bisa-bisa ia justru menghancurkan bumi serta dirinya sendiri.
"Atas nama-nama yang diberkati ini, kami menautkan ikrar di atas sumpah darah. Runtuhkan dan laknat mereka yang menceraikan diri, serta teguhkan kami yang mempersatukan kepatihan dengan tangkas."
Dia sebegitu dendam pada Lesya, ya?
Perlahan-lahan, cahaya yang tadinya menyelimuti kami pun mulai redup. Pula angin yang mengitari kami membawa pergi harapan kami yang dibawa oleh dedaunan itu ke lapisan langit yang tertinggi. Sehingga kami tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada doa dan harapan yang terbang melewati awan. Kami hanya terus menggantungkan harap semoga doa itu tidak jatuh lagi ke tanah, terus terbang dan melayang-layang sampai kelak terjangkau oleh bintang-bintang tanpa nama yang jauh di sana. Dengan kondisi yang sudah mendingin, kami pun melepaskan tautan genggaman tangan kami masing-masing.
Tanganku berkeringat...
Koneksi dari suatu ikatan itu nyata. Insting dan naluri yang terwariskan melalui faktor biologis dan pengaruh lingkungan sama-sama memiliki dampak signifikan. Perasaan antara satu sama lain terhubung, semakin banyak orangnya maka semakin samar dan bising emosi yang bisa dirasakan. Komunitas paling sedikit bisa terbentuk antara dua orang saja, dengan komunikasi seperti itu maka keterikatan untuk merasakan emosi satu sama lain lebih terasa, apalagi jika terikat dengan faktor biologis.
Dominique pernah melakukan ini bersama Dorothy saat mereka masih kecil. Namun, mungkin sebab Mata Arwah Dominique belum terbuka, Dorothy tidak bisa merasakan apa-apa dari diri Dominique. Walau begitu, Dominique bisa membaca Dorothy seolah sedang membaca sebuah buku. Nama Takdir mereka terhubung, ya, meski hanya bisa dirasakan dari satu arah saja tetapi Dominique bisa membaca isi hati orang lain dengan kemampuan murninya saja sebagai seorang perasa.
Aku bisa merasakan emosi mereka berdua. Emosi Theomund lebih dominan karena aku adalah anaknya dari masa depan, sementara emosi Cashel masih samar-samar sebab dia belum membuka Mata Arwah, hanya saja seolah ada gejolak yang seperti ingin mendobrak masuk ke pintu hatiku. Seperti dentuman yang menggema sampai ke lubuk hatiku yang terdalam. Berani, gagah, dan kolosal, sebagaimana karakter dari seseorang yang akan menjadi komandan besar.
"Jadi, setelah ini Kau mau apa? Mau memaksanya menunjukkan wajahnya?" tanya Cashel, sembari mengelap kedua telapak tangannya yang basah dengan jubahnya, kemudian ia menelusupkan jari-jemarinya ke dalam sarung tangannya kembali.
"Tidak. Aku sudah paham semuanya," jawab Theomund.
"Aku benar-benar tidak bisa memahamimu," keluh Cashel.
"Terima kasih atas pemahamanmu," kataku, yang kumaksudkan tertuju pada Theomund.
Tepat di depan mataku, Cashel berkacak pinggang sembari memasang wajah setengah ketus yang begitu menusuk ke arahku. Seakan dia kesal karena aku bisa mengakrabkan diri dengan Theomund—ayahku di masa lalu—dengan begitu mudahnya. Mungkin citra penyihir di mata ksatria dan di mata sesama penyihir itu berbeda.
"Kau serius ingin memberikan warisan keluargamu? Bukannya apa-apa, ya... Ada baiknya dipertimbangkan lagi."
Harga diri dari warisan keluarga keluarga penyihir terpandang Ginova jadi tidak ada harganya lagi karena menantu mereka tidak paham apa nilainya. Aku yakin, Theomund sudah mengajari Lesya bagaimana cara menggunakannya, tetapi dia diacuhkan.
Warisan keluarga yang setara dengan mas kawin—atau seserahan pernikahan—itu pasti mahal.
"Apakah aku boleh menjualnya?"