
Aiden masih berusaha untuk memecahkan teka teki yang tersembunyi dibalik sajak legendaris milik William Shakespeare yang cukup terkenal itu. Fear No More, kata-kata itu yang terus diulang-ulang Aiden di dalam otaknya hingga otaknya terasa begitu panas dan pening. Rasanya ia tidak bisa memikirkan kemungkinan lain, selain mereka memang harus pergi ke London untuk melihat sesuatu yang ditinggalkan Im Seulong di sana. Teka teki yang mereka dapatkan kali ini sepertinya akan berbeda dengan teka teki yang didapatkan Calistha sebelumnya.
“Bukankah itu sulit? Aku tidak tahu jika ayah menyukai sajak hingga berpikir untuk meninggalkan sebuah pesan yang sangat rumit seperti itu.”
Calistha tiba-tiba datang dari arah dapur sambil meletakan secangkir kopi untuk Aiden. Sejak ia tahu jika Aiden adalah penikmat kopi, ia menjadi ngotot untuk selalu membuatkan kopi di pagi hari. Padahal jelas-jelas kopi buatannya tidak seenak racikan kopi milik Aiden, namun Calistha tetap memaksa untuk membuatkan Aiden kopi sebagai bentuk rasa terimakasihnya karena kebaikan pria itu selama ini.
“Jelas-jelas sajak ini sering diputar di kathedral Santo Paulus, dan mungkin kita harus ke sana untuk memecahkan teka teki ini.”
“Tapi bagaimana caranya? Kita tidak bisa pergi tanpa mengurus dokumen-dokumen keberangkatan, dan hal itu akan diketahui oleh musuh-musuh ayahku.”
Calistha langsung menjatuhkan tubuhnya lesu di sebelah Aiden sambil menatap tanpa minat kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Bahkan ia merasa tak ingin mengamankan dokumen-dokumen penting berisi sertifikat tanah milik ayahnya di Pulau Jeju, karena ia merasa semua itu tidak akan ada artinya. Jika kehidupannya tenang, mungkin ia akan berpikir untuk membuka lahan perkebunan bunga matahari di Pulau Jeju. Namun dengan kehidupannya yang sekacau ini, ia menjadi malas untuk memikirkan hal-hal remeh di sekitarnya. Lebih baik ia memikirkan nyawanya yang berharga daripada sebuah harta yang tidak ada gunanya jika ia mati.
“Kita memiliki presiden Moon, dan lebih baik kita serahkan dokumen-dokumen penting ini pada presiden Moon untuk diamankan. Semua ini akan lebih berisiko jika kau yang membawanya sendiri.”
“Aiden, sebenarnya apa yang sedang disembunyikan oleh ayahku? Kenapa aku merasa ingin segera mengakhirinya sekarang juga. Biarlah orang-orang mengambil harta ayahku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin hidup tenang dan memulai semuanya dari awal. Aku malas....”
Brakkk
Calistha berjengit terkejut saat Aiden tiba-tiba menggebrak meja di depannya dengan keras. Ucapannya yang terdengar frustrasi itu rupanya telah membuat Aiden menjadi marah. Tentu saja ia marah dengan keputusan Calistha yang tiba-tiba ingin mengakhiri semua kerja keras mereka, disaat mereka terlanjur masuk kedalam kekejaman yang diciptakan oleh dunia. Andai Calistha mengatakannya sejak awal, mungkin hal ini justru akan jauh lebih mudah untuk Aiden. Ia telah memiliki prinsip dalam hidupnya, jika apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah mundur dari semua misi yang diberikan oleh kliennya.
“Kita telah melangkah hingga sejauh ini, kau tidak bisa menghentikan semua ini begitu saja. Buang semua pikiran bodoh itu dari kepalamu, aku tidak mau mendengar nada rengekan lagi keluar dari mulutmu.” Umpat Aiden marah. Calistha hanya mampu mengunci bibirnya rapat-rapat sambil melirik kearah Aiden takut-takut. Ia sadar jika kali ini ia memang salah, dan ia tidak seharusnya berpikiran sempit dengan ingin mengakhiri semua perjuangan mereka disaat mereka baru memulainya beberapa langkah.
“Jadi apa rencanamu selanjutnya?” tanya Calistha terdengar pasrah. Rasanya ia masih belum rela meninggalkan semua ketenangan yang ia dapatkan selama dua hari ini setelah mereka berhasil keluar dengan selamat dari Pulau Jeju. Rekan-rekan Aiden, Junpyo dan Steve memiliki peran yang penting dalam pelarian mereka karena nyatanya orang-orang bertopeng itu masih mencari mereka saat mereka hampir tiba di pelabuhan. Namun kedua rekan Aiden itu berhasil menyusupkan mereka kedalam kapal logistik yang mengangkut barang-barang besar di dalamnya, sehingga mereka dapat bersembunyi diantara tumpukan barang-barang itu sebelum akhirnya kapal membawa mereka kembali dengan selamat ke Seoul. Tetapi, mereka tetap harus kehilangan mobil milik teman Aiden yang lain, dan Aiden harus menggantinya dengan mobil yang baru. Yeah, tentu saja pria itu mendapatkan sponsor dari presiden Moon, karena Calistha yakin jika Aiden bukanlah pria yang mau merugi untuk sesuatu yang terjadi di tengah-tengah misi rahasianya.
“Kita pergi ke London. Hanya itu satu-satunya cara untuk memecahkan teka teki yang ditinggalkan oleh ayahmu.”
“Hmm, selama di sana bagaimana jika kita tinggal di rumahku, di Oxford.”
“Kau yakin? Rumah itu pasti telah dioposisi orang lain setelah kabar mengenai kematian ayahmu menyebar. Selain itu jarak Oxford dan London cukup jauh, aku tidak yakin kita akan memiliki cukup waktu untuk bepergian dari Oxford menuju London, begitu pula sebaliknya. Sekarang kemasi barang-barangmu, kita akan berangkat besok pagi.”
“Apa! Secepat itu?”
Calistha tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya ketika Aiden kembali menetapkan sesuatu dengan mendadak. Satu hal yang Calistha pahami dari Aiden setelah kedekatan mereka selama ini, bahwa Aiden adalah pria cekatan yang tidak suka menunggu. Apapun, bila ia dapat menjangkaunya, dan dapat segera melaksanakannya, pasti akan langsung dilakukan saat itu juga.
“Kau bilang itu cepat? Ingat, kita telah membuang waktu sia-sia selama tiga hari. Seharusnya kita segera pergi ke London, setelah kita tiba dengan selamat di pelabuhan Mokpo.”
“Tapi, bagaimana dengan semua barang-barang yang harus kita bawa? Senjata-senjata milikmu, itu tidak bisa disusupkan dengan mudah.” Teriak Calistha frustrasi. Ia bahkan terlihat terengah-engah setelah berhasil menyuarakan kekhawatirannya pada Aiden yang justru sedang menatapnya dengan wajah datar.
“Ikuti saja rencananya, dan kau pasti akan selamat.”
-00-
Pagi ini bandara Incheon tampak ramai seperti biasa dengan lalu lalang calon penumpang yang tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Calistha yang sedang berjalan beriringan bersama Aiden sambil menarik kopornya yang cukup berat, tampak memandang awas ke setiap sudut bandara dibalik kacamata hitam yang bertengger manis di atas hidungnya.
“Perhatikan langkahmu.”
Calistha terkesiap terkejut saat Aiden tiba-tiba menarik lengannya dan menyelamatkannya dari seorang turis bertubuh besar yang hampir menabraknya, lebih tepatnya Calistha yang hampir menabrak pria itu karena berjalan di jalur yang salah.
“Aiden, kau yakin ini akan berhasil? Kau gila!” bisik Calistha gusar. Diliriknya kopor hitam yang tampak biasa saja, namun berisi berbagai macam senjata milik Aiden yang sangat mengerikan. Pria di sampingnya itu memang gila, karena dengan santainya menyembunyikan beberapa pistol di bawah tumpukan baju-bajunya yang hanya sedikit. Sedangkan di dalam kopor pria itu, Calistha yakin jika Aiden pasti telah mengisinya dengan lebih banyak senjata.
“Aiden, petugas pemeriksaan.”
Calistha berseru ketakutan sambil memperhatikan setiap kopor milik calon penumpang yang sedang diperiksa. Petugas bahkan juga membuka kopor-kopor mereka satu persatu untuk diperiksa isinya. Jika seperti itu, Calistha sangat yakin jika sebentar lagi mereka akan segera diseret menuju ruang keamanan karena terbukti membawa berbagai macam senjata api.
“Tolong buka kopor anda untuk diperiksa.”
Aiden dengan santai meletakan kopornya di atas meja khusus yang telah dilengkapi sensor utuk mendeteksi adanya benda-benda mencurigakan yang dibawa oleh penumpang.
“Apakah anda pasangan suami isteri yang ingin pergi berlibur?”
“Hmm.” Gumam Aiden tanpa minat. Calistha tampak menganga tak percaya sambil menatap Aiden tak habis pikir saat petugas itu tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan di dalam kopor milik Aiden. Padahal ia sangat yakin jika Aiden mungkin membawa banyak senjata di dalam kopornya, tapi ternyata pria itu hanya membawa baju-baju dan beberapa perlengkapan lainnya yang tampak sangat wajar untuk dibawa oleh seseorang yang hendak bepergian.
Srett
“Hey....”
“Aaa itu... aku baru saja melihat temanku, tapi ternyata bukan.” jawab Calistha
konyol. Petugas bandara itu langsung mengangguk mengerti, dan segera menyerahkan kopor milik Aiden untuk dirapikan kembali.
“Aiden, sebenarnya apa yang kau rencanakan? Kau hampir membuatku mati ketakutan.” protes Calistha kesal ketika mereka telah berada di gerbang terakhir untuk keluar menuju lapangan lepas landas. Setelah ini tidak akan ada pemeriksaan lagi dari petugas bandaran, mereka hanya perlu memikirkan pemeriksaan berikutnya yang pasti akan dilakukan di bandara Heathrow.
“Diamlah, kau hampir merusak rencanaku.”
“Ck, jika kau tidak mengatakannya, bagaimana mungkin aku akan tahu?” gerutu Calistha kesal di samping Aiden sambil terus berdecak. Tak berapa lama seorang pria dengan seragam petugas bandara datang sambil menatap Aiden penuh arti. Petugas itu lalu memberikan kopor milik Calistha pada Aiden dan sedikit memberikan tepukan pelan di bahu Aiden.
“Semoga berhasil.”
“Hmm, terimakasih.”
Calistha memandang takjub senyuman Aiden yang diarahkan pada petugas bandara itu. Untuk pertama kalinya ia melihat Aiden tersenyum dengan senyum tulus yang sangat berbeda dengan senyum seringaiannya yang selama ini ditunjukan padanya. Hal itu membuat Calistha ingin mengubah penilaiannya tentang Aiden mengenai pria yang jahat, licik, dan arogant. Tetapi, beberapa detik kemudian Calistha telah melihat Aiden kembali menjadi Aiden si sniper yang angkuh. Semua wajah tulus yang sebelumnya dilihat Calistha lenyap begitu saja dari wajah Aiden, digantikan oleh wajah tanpa ekspresi yang selalu menjadi ciri khas seorang Aiden.
“Ayo, saatnya berangkat.”
“Tunggu.”
Calistha menghentikan langkah Aiden tiba-tiba sambil melirik kearah petugas bandara yang telah menghilang diantara kerumunan para calon penumpang.
“Siapa pria itu?”
“Kau tak perlu tahu.”
“Aku perlu tahu karena kita tidak bisa mempercayai orang asing begitu saja.” Ucap Calistha setengah memaksa. Ia lelah jika terus dipermainkan oleh Aiden seperti ini. Sejak mereka berada di Jeju, Aiden selalu memiliki rencananya sendiri tanpa pernah membaginya pada Calistha. Dan meskipun Calistha memaklumi sikap Aiden yang sangat misterius itu, namun semakin lama ia semakin jengah, dan ingin Aiden mulai saat ini melibatkannya juga dalam setiap rencananya.
“Spencer, pria itu berhutang budi padaku. Kau tidak perlu khawatir padanya, karena Spencer memang seorang petugas bandara. Kujamin ia tidak akan membeberkan apapun terkait kepergian kita karena ia tidak pernah tahu dengan siapa kita berurusan. Sekarang ayo kita pergi, dan jangan banyak bertanya.” Tambah Aiden dengan wajah penuh peringatan. Dengan berat, Calistha segera menyeret langkah kakinya untuk mengikuti Aiden yang telah berjalan dengan langkah cepat di depannya. Mulai detik ini sepertinya ia harus terbiasa dengan
kejutan-kejutan yang dibawa oleh Aiden, atau ia harus siap menjadi seorang aktris dalam sebuah panggung drama yang diciptakan oleh sniper misterius itu.
-00-
Brughh
“Aku membawa barang baru dari Iran, masih segar, dan belum terjamah.”
Wanita itu mengerang kesakitan di atas aspal dingin yang kotor sambil merasakan sesak dan sakit yang terus menggerogoti hatinya sejak ia diseret paksa oleh dua orang pria tak dikenal ketika ia berusaha kabur dari seorang tentara hidung belang di perbatasan Iran.
“Kau jangan coba-coba untuk mempermainkanku, dia jelas-jelas telah dijamah oleh banyak pria!” Geram pria bertubuh kekar itu sambil mencengkeram kerah kemeja yang digunakan oleh lawan bicaranya. Rania dalam hati mendecih gusar menyaksikan dua orang pria idiot itu saling berseteru di hadapannya. Saat ini ia sudah benar-benar pasrah dengan nasib yang akan terus membelenggunya menjadi seorang wanita tak terhormat. Andai Hannah masih hidup saat ini, ia pasti akan lebih kuat daripada ini. Tapi sekarang ia tidak memiliki alasan untuk menjadi kuat lagi. Satu-satunya alasan yang membuatnya tumbuh menjadi gadis kuat yang keras adalah karena Hannah. Selama ini ia bersikap kuat dan keras demi Hannah agar kakak perempuannya itu tidak dipermainkan oleh pria-pria bejat di luar sana, yang hanya ingin memanfaatkan tubuh lemah kakaknya. Namun, setelah Aiden datang dan menjadi cinta pertama kakaknya, ia mulai bersikap longgar dan tidak terlalu menunjukan sisi kuatnya, karena Aiden setidaknya dapat membuat kakaknya bahagia. Meskipun saat ini kebenciannya pada Aiden melebihi rasa bencinya pada nasibnya sendiri, namun ia berusaha tetap kuat untuk membalaskan dendamnya pada
Aiden. Pria itu harus merasakan kemarahannya karena telah berani merenggut kakaknya yang berharga dari kehidupannya.
“Berapa harga wanita ini?”
“Se seratus tujuh puluh lima euro.” Jawab pria itu tergagap. Tak ada cara lain selain memberikan harga rendah untuk pelacur yang dibawanya karena wanita itu terbukti telah dijamah oleh banyak orang. Lagipula harga itu tidak terlalu buruk untuk seorang wanita yang ia dapatkan cuma-cuma di sebuah daerah kumuh di
perbatasan Iran.
“Deal, wanita ini sekarang menjadi milikku. Sekarang pergilah, dan jangan coba-coba untuk menipuku lagi.” Geram pria bertubuh kekar itu menakutkan. Dua orang pria itu lantas segera pergi meninggalkan Rania bersama pria kekar berambut coklat ikal di depannya. Dalam hati Rania hanya berdecak kesal pada dua orang pengecut itu sambil bersiap untuk menjadi bulan-bulanan pria itu di atas ranjang.
“Siapa namamu?”
“Rania.”
“Oh, kau tampaknya adalah seorang wanita pemberani. Kau berasal dari perbatasan Iran?”
“Ya, aku berasal dari sana. Siapa namamu?” Tanya Rania angkuh dengan dagu mendongak. Pria bertubuh kekar itu terkekeh pelan melihat sikap menantang Rania yang ditunjukan di depannya. Namun ia menyukai hal itu. Seorang wanita pemberani, untuk pria berwatak keras sepertinya. Benar-benar sempurna.
“Orang-orang di sini memanggilku Baron, aku seorang tukang pukul. Well, karena aku telah membelimu dengan harga yang pantas, maka kau juga harus melakukan tugasmu dengan baik. Biarkan aku mencicipimu tubuhmu yang mengagumkan ini, lady Rania.”
Pria itu berucap lambat-lambat sambil menerbarkan teror yang cukup mengerikan untuk mangsanya. Namun hal itu sama sekali tidak bekerja untuk Rania, karena ia telah menghabiskan lima tahun hidupnya di daerah kumuh itu untuk menjadi pemuas nafsu pria-pria seperti Baron. Mereka adalah pria-pria yang sangat mudah untuk ditaklukan jika ia memiliki strategi yang tepat. Dan melalui Baron, ia akan memulai menyusun rencananya untuk membalaskan dendamnya pada Aiden