The Sniper

The Sniper
Wolf in Sheep's Cloth (Fourteen)



        “Kau yakin akan segera pergi? Lukamu masih basah.”


            “Aku yakin Albert. Calistha membutuhkanku, dan aku masih belum menemukan siapa rubah berbulu domba yang ingin membunuhku kemarin malam. Selain itu aku juga harus melihat bagaimana perkembangan kondisi Emily di rumah sakit, mungkin ia telah sadar dan sedang kebingungan sendiri.”


            Dokter tua itu terdiam di tempat sambil mengamati gerak gerik Luca yang sedang mengancingkan kancing kemejanya. Perkenalan mereka yang telah terjalin cukup lama membuat Albert menganggap Luca seperti putranya sendiri. Dan sekarang ia merasa sangat khawatir dengan keselamatan nyawa Luca karena orang-orang di luar sana


mulai bergerak lebih brutal dari apa yang ia bayangkan. Padahal sebelum Jacob meninggal, semuanya masih berjalan teratur dan tidak pernah terjadi perebutan kekuasaan seperti ini.


            “Fokuslah pada Emily, dia sangat mencintaimu.”


            “Aku tahu Albert, tapi aku tidak mencintainya. Maksudku belum. Sekeras apapun aku mencoba, hatiku justru tertaut semakin kuat pada Calistha. Ck, itu membuatku sangat terganggu saat ini karena Calistha sepertinya tidak akan membalas perasaanku.”


            “Jika kau mencintai wanita lain, untuk apa kau menjalin hubungan dengan Emily? Kasihan sekali wanita itu. Selama lebih dari empat tahun ia hanya mendapatkan omong kosong belaka?” Komentar dokter Albert miris. Luca hanya meringis kecil kearah dokter Albert dan segera bangkit dari kuri kayu tua milik dokter Albert untuk segera pergi dari kediaman dokter Albert yang sangat nyaman.


            “Aku selalu berusaha untuk mengenyahkan Calistha dari pikiranku, tapi aku selalu gagal. Justru sekarang keinginanku untuk memiliki Calistha semakin kuat semenjak ia mulai mengenalku. Hei, jangan berikan aku tatapan seperti itu! Aku tahu aku brengsek karena telah mempermainkan hati Emily, tapi ini diluar


kehendakku. Aku tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri saat berada di dekat Calistha. Pesonanya yang mematikan itu terlalu kuat menarikku.”


            “Dasar anak muda.” Cibir dokter Albert sakarstik sambil melirik Luca tajam. Ia tahu semua itu hanya akal-akalan Luca agar dokter Albert tidak terus menerus mendesaknya untuk tetap bertahan bersama Emily. Lagipula Luca jelas akan memanfaatkan kekacauan ini untuk semakin mendekati Calistha dan menarik simpati wanita itu agar sedikit melihatnya. Ia akan bersikap layaknya seorang super hero yang tangguh untuk melindungi Calistha dari serangan jahat apapun yang saat ini sedang mengincarnya.


            “Aku pergi Albert, terimakasih atas pertolonganmu semalam. Berapapun bayaran yang kau minta, aku pasti akan membayarnya.” Goda Luca jahil. Dokter Albert hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah menyebalkan Luca yang terkadang mampu membuatnya jengkel pada pria itu.


Drrt drrtt


           “Ponselmu berdering nak.”


           “Oh, terimakasih.”


            Luca segera menjawab panggilan dari nomor tak dikenal yang baru saja masuk kedalam ponselnya sambil mengernyitkan dahinya dalam.


            “Calistha...”


            Mendengar nama wanita itu disebut, Albert menjadi tertarik dan semakin menajamkan pendengarannya pada suara percakapan yang terdengar samar dari ponsel hitam milik Luca.


            “Rumah sakit Emerald? Apa kau terluka?”


            “.............”


            “Baiklah, aku akan segera ke sana.”


            “..............”


            “Tidak tidak, aku baik-baik saja. Pagi ini aku memang berencana untuk pulang ke apartemen dan mengurus sisa kekacauan yang belum terselesaikan. Kau sama sekali tidak merepotkanku Cals.”


            “...............”


            “Kalau begitu berhati-hatilah, aku akan segera menyelidikinya. Sampai jumpa.”


            “Ada apa? Sesuatu yang buruk terjadi pada gadismu?”


            “Ck, ini bukan saatnya bercanda Al, Calistha benar-benar dalam bahaya. Ia  baru saja mendapatkan masalah dengan snipernya.”


            “Snipernya?” Tanya Albert menaikan alisnya. Pria tua itu sedikit tertarik dengan topik pembicaraan mereka yang sekarang menjadi lebih menarik. Yeah, sebenarnya ia belum pernah bertemu dengan Calistha secara langsung. Ia hanya pernah mendengarnya beberapa kali dari Luca, tentu saja. Selain itu, juga dari Jacob.


Tapi itu sudah sangat lama, jauh sebelum semua kekacauan ini terjadi.


            “Namanya Aiden, ia adalah salah satu sniper terbaik dari champ pelatihan di Amerika, dan


telah memiliki banyak pengalaman melakukan pekerjaan berisiko. Semalam ada sebuah truck kontainer yang menabrak mereka dengan sengaja saat sedang dalam perjalanan pulang, lalu mereka hampir terbunuh karena ledakan bom yang dibawa oleh seorang anak laki-laki. Kenapa masalah ini menjadi semakin rumit Al?” Tanya Luca frustrasi. Satu masalah belum terselesaikan, dan sekarang telah datang masalah baru yang semakin membuat kepala Luca ingin pecah. Andai Jacob tidak mati dalam penyerangan itu, semua ini pasti tidak akan terjadi. Perebutan harta sialan itu benar-benar telah memakan banyak korban dari orang-orang yang tak berdosa. Dan sekarang masalah itu akan semakin banyak membawa kematian bagi orang-orang yang berharga di pihaknya.


            “Kematian Jacob memang membawa kekacauan yang sangat parah. Terlebih lagi dengan adanya


rumor mengenai harta curia yang disembunyikan Jacob di Kuba, semua orang seperti berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Apa menurutmu Jacob memang menyembunyikan sesuatu di Kuba?”


            “Entahlah, aku tidak pernah mendengarnya dari Jacob. Tapi Calistha mendapatkan teka-teki dari Jacob untuk dipecahkan. Sudahlah Al, aku pusing. Lebih baik aku segera menyusul Calistha di Emerald Hospital karena sniper itu mengalami gagar otak akibat kecelekaan terencana itu.”


            “Semoga beruntung. Aku mendoakan yang terbaik untukmu, son.” Ucap dokter Albert tulus sambil menepuk bahu Luca pelan.


-00-


            “Apa yang harus kukatakan pada polisi? Mereka meminta kita untuk memberikan kesaksian di kantor terkait kasus kecelakaan semalam.” Ucap Calistha panik. Setelah dokter selesai memeriksa kondisi kepala Aiden dan mengatakan jika pria itu mengalami gegar otak ringan, dua orang polisi mendatanginya dan meminta untuk memberikan keterangan terkait kecelakaan yang menimpa mereka. Namun Calistha segera berkelit pada dua polisi itu dengan alasan jika Aiden masih perlu istirahat untuk memulihkan kondisinya. Padahal sebenarnya Calistha sedang bingung dengan dirinya sendiri. Terlalu banyak musuh yang mengincar mereka di luar sana, hingga ia rasanya takut untuk melangkahkan kakinya keluar dari Emerald Hospital yang menurutnya sangat aman ini.


            “Minta Luca untuk membungkam polisi-polisi itu, aku tidak mau kasus kecelakaan semalam diusut karena itu akan membahayakan kita semua. Selagi kita belum tahu siapa yang benar-benar menginginkan kematian kita, lebih baik kita tetap diam dan terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun. Tapi sekarang aku mencurigai El Diablo sebagai dalang atas kecalakaan semalam karena aku yakin jika slogan itu hanya dimiliki oleh kelompok radikal miliknya.”


            “Kenapa orang itu sangat menginginkan kematian kita? Sejujurnya aku ingin sekali memberikan kartel milik ayah padanya. Aku tidak butuh kartel itu, terlalu berisiko dan merugikan banyak orang. Aiden, apa sebaiknya kita pulang ke Seoul dan melanjutkan misi yang lain? Aku tidak mau kau terluka lagi, itu membuatku selalu khawatir padamu.” Ucap Calistha tulus. Ia membelai kepala Aiden yang dipenuhi perban dengan lembut sambil tersenyum menenangkan pada pria itu. Semakin lama ia semakin memiliki ikatan kuat dengan pria itu, entah kenapa. Dan ia seperti dapat merasakan bagaimana kerasnya kehidupan Aiden selama ini setelah dokter membeberkan padanya jika Aiden termasuk salah satu pria langka, karena masih terlihat baik-baik saja meskipun kepalanya telah mengalami gegar otak serta mengalami cedera punggung.


            “Aku tidak apa-apa, pikirkan saja dirimu sendiri.”


            Tiba-tiba sisi menyebalkan Aiden kembali muncul dan membuat Calistha seketika kesal pada pria itu. Padahal ia telah memikirkan pria itu semalaman hingga ia tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun setiap kali ia mengingat luka-luka yang dialami Aiden.


            “Kenapa kau tidak pernah menghargai kekhawatiranku? Aku benar-benar khawatir.” Keluh Calistha pelan. Ia lalu menjauhkan tangannya dari kepala Aiden, dan mulai menarik kursi kayu untuk duduk di sebelah ranjang perawatan Aiden. Rasanya aneh melihat Aiden yang selalu tampak gagah dengan senjata-senjatanya, kini justru sedang berada di atas blangkar rumah sakit dengan keadaan penuh perban seperti itu.


            “Bagaimana dengan luka-lukamu? Apa kakimu masih sakit?”


            “Aku baik-baik saja. Ini hanya luka lecet biasa karena terhimpit pintu mobil. Kecelakaan kemarin sangat mengerikan.”


            Aiden tiba-tiba menarik tubuh Calistha mendekat dan memeluk wanita itu dengan erat. Wanita itu pasti merasa trauma dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Terhimpit di dalam mobil yang telah ringsek pasti tidak pernah terbayang di benak Calistha sebelumnya. Wajar jika sekarang Calistha merasa sangat takut untuk melangkah dan melanjutkan hidupnya yang terlanjur kacau ini.


            “Aiden, sampai kapan kita akan seperti ini?”


            “Tanyakan itu pada ayahmu, bukan padaku.”


            “Apa kau menyesal melakukan pekerjaan ini?”


pekerjaan ini, aku pasti akan tetap mendapatkan pekerjaan berisiko lainnya.”


            “Kenapa kau menerima pekerjaan ini?”


            “Karena presiden Moon menjanjikan imbalan yang besar untukku.”


            Aiden terlihat sama sekali tidak menutupi apapun pada Calistha karena memang pada kenyataanya ia dibayar sangat banyak oleh presiden Moon. Dan sejujurnya ia sendiri juga tidak tahu mengapa ia melakukan hal ini. Ia hanya mengikuti apa yang hatinya inginkan, lalu mejalaninya dengan penuh tanggungjawab.


            “Aiden... apa kau tertarik untuk mengambil harta milik ayahku?”


            “Tidak, karena itu terlalu banyak untukku.”


            “Aku ingin memberikan sebagian harta milik ayahku padamu, apa kau mau menerimanya?” Tanya Calistha lirih masih dengan kepala yang menyandar pada dada bidang Aiden. Sembari mendengarkan alunan musik merdu dari detak jantung Aiden, Calistha mulai menitikan air matanya entah kenapa.


            “Itu bukan pekerjaan yang cocok untukku. Sudahlah, jangan menjadi cengeng, Luca telah datang.”


            Aiden menatap Luca dalam diam dan mempersilahkan pria itu masuk menggunakan isyarat


anggukan kepala. Melihat bagaimana kakunya sikap Luca saat melihat Calistha memeluknya membuat Aiden semakin yakin jika Luca memang sejak awal tertarik pada Calistha, dan Emily, wanita itu hanya menjadi pelarian sesaat Luca. Huh, sejujurnya itu bukan urusannya. Jika Luca memang menyukai Calistha, maka pria itu boleh mengambil Calistha kapanpun ia mau. Namun ia tidak akan pernah tinggal diam jika nyawa Calistha justru terancam saat bersama dengan pria itu.


            “Bagaimana keadaanmu Luca?”


            “Jauh lebih baik dari sebelumnya. Emily juga baik-baik saja dan saat ini aku memintanya untuk tetap beristirahat di kamarnya. Kalian, bagaimana semua ini bisa terjadi?” Tanya Luca khawtir sambil menangkup pipi Calistha, berusaha untuk lebih intens meneliti satu persatu luka-luka yang dialami oleh Calistha.


            “Hey, aku baik-baik saja. Ini hanya lecet, Aiden menglami gegar otak ringan dan cedera, namun menurut dokter itu akan segera pulih. Jadi saat kami sedang berada di persimpangan jalan, tiba-tiba sebuah kontainer menabrak sisi kiri mobil hingga mobil berguling-guling dan menabrak pembatas jalan. Saat ini polisi ingin menyelidiki kasus itu lebih lanjut, tapi....”


            “Kau harus segera mengurus polisi-polisi itu Luca karena mereka tidak boleh tahu mengenai kartel. Semua penyerangan ini kurasa berhubungan dengan kartel milik El Diablo. Teka teki sajak yang ditinggalkan oleh Jacob sepertinya mengarah pada kartel itu, karena semalam kami melihat sebuah penanda yang terpasang di pergelangan tangan anak laki-laki yang sedang membawa bom untuk membunuhku dan Calistha. Fear no more adalah slogan yang dimiliki oleh kartel itu untuk merekrut keluarga para pekerja kartel yang setia. Jika kau ingin menghentikan semua penyerangan ini, kita harus mulai dari El Diablo.”


            “El Diablo? Pria keparat itu memang sudah lama mengincar kartel milik Jacob. Dulu ia sempat mengajukan penawaran kerjasama, namun Jacob langsung menolaknya karena ia tahu jika El Diablo sangat licik. Dan sekarang setelah kematian Jacob, El Diablo pasti ingin menguasai aset-aset milik Jacob.”


            “Oya, aku ingin tahu siapa yang membawa semua sertifikat aset-aset milik Jacob di Britania Raya? Apakah kau?” Tanya Aiden berpura-pura tidak tahu. Sesungguhnya Aiden sudah mengetahui jawabannya sejak lama, hanya saja ia ingin memastikan semuanya melalui pengakuan Luca sendiri. Dan jika benar bila semua sertifikat


itu dipegang oleh Luca, maka dugaanya sementara ini mungkin benar. Kartel milik Jacob mungkin telah disusupi atau telah terjadi pemberontakan di dalamnya.


            “Aku yang menyimpan semuanya. Jadi mereka tidak akan mendapatkannya sebelum....”


            Luca menghentikan kalimatnya tiba-tiba dan langsung menatap Aiden dan Calistha bergantian. Ia sekarang telah mengetahui sesuatu berkat pertanyaan cerdas Aiden untuk menyadarkan Luca.


            “Ada apa Luc? Kau mendapatkan sesuatu?” Tanya Calistha tak mengerti.


            “Ya, aku sekarang tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus mengecek anak buahku terlebihdahulu sebelum menyingkirkan El Diablo.”


            “Kenapa?”


            “Karena mungkin anak buah Luca berkhianat. Setelah kematian Baron, kartel mengalami kekosongan pemimpin. Tentu saja saat ini sedang terjadi perebutan kekuasaan di dalam kartel milik ayahmu  hingga memungkinkan beberapa orang melakukan pembelotan. Dan orang-orang itu harus membunuh Luca sebelum mendapatkan apa yang mereka cari, sertifikat aset-aset berharga milik ayahmu.”


            Aiden menyeringai puas dengan hasil analisisnya yang cerdas. Orang-orang serakah itu pasti yang mengirimkan seorang sniper untuk membunuh Luca kemarin malam. Ya, para pembelot itu saat ini sedang mengincar nyawa Luca, sedangkan El Diablo saat ini sedang mengincar nyawanya dan Calistha untuk merampas seluruh harta curian milik ayah Calistha yang menurut rumor sangat berharga.


            “Kalau begitu aku akan pergi ke kartel untuk mencari para keparat itu. Sementara ini kalian tetaplah di sini untuk memulihkan kondisi kalian. Aku pergi.”


            “Luca, tunggu....”


            Luca menghentikan langkahnya saat suara penuh nada khawatir milik Calistha bergema keras di dalam ruang perawatan Aiden yang sunyi. Luca lalu tersenyum kecil untuk menenangkan Calistha yang tampak khawatir di hadapannya. Sungguh, hal yang paling mebahagiakan selama ia menjadi tangan kanan seorang Jacob adalah melihat Calistha terlihat sangat mengkhawatirkannya seperti ini. Ia merasa dirinya sangat berharga di mata Calistha.


            “Berhati-hatilah. Segera hubungi kami jika kau memerlukan bantuan.”


            “Kau tenang saja, aku pasti baik-baik saja.” Jawab Luca menenangkan dan segera berjalan keluar dari ruang perawatan Aiden.


            Setelah Luca pergi, Calistha langsung menatap Aiden untuk menanyakan rencana mereka


selanjutnya. Tidak mungkin hari ini mereka akan berdiam diri di dalam rumah sakit, sedangkan Luca sedang berjuang sendiri di luar sana. Lagipula nyawa mereka di sini juga sama-sama terancam seperti Luca. Mereka hari ini harus secepatnya menemukan pembunuh keparat itu untuk membayar semua luka-luka yang telah mereka dapatkan hari ini.


            “Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?”


            “Membunuh El Diablo, mata-mata presiden Moon memberiku informasi keberadaan El Diablo saat ini.”


            “Jadi kau masih berhubungan dengan presiden Moon? Lama kau tidak menyinggungnya.” ucap


Calistha sambil berjalan menjauh dari blangkar milik Aiden. Wanita itu tampak menghembuskan napasnya yang berat sekali, lalu mulai mengintip siluet tubuh Luca yang sedang berjalan keluar dari rumah sakit untuk mencari mobilnya di halaman parkir yang luas. Kehidupan seperti ini bukanlah keinginannya, tapi ia dipaksa untuk menjalaninya dengan setiap detik ketakutan yang ia rasakan. Andai ia bisa, sebenarnya ia ingin segera mengakhiri semua ini secepatnya.


            “Pagi tadi aku menerima pesan darinnya yang menanyakan mengenai perkembangan misi ini. Lalu aku memintanya untuk mencari informasi mengenai El Diablo karena kita perlu memberi perhitungan pada pria itu sekarang juga.”


            “Carmine? Bagaimana dengan teman snipermu itu, ia tidak memberimu informasi?”


            “Ia sedang melakukan pekerjaanya di Bristol, aku tidak bisa mengganggunya. Ayo pergi.”


            Calistha cepat-cepat menoleh kearah Aiden dan menemukan pria itu telah melepas jarum infus di punggung tangannya dengan santai. Darah segar langsung terlihat menetes-netes di atas lantai, menciptakan sebuah kengerian sendiri untuk Calistha karena mau tidak mau ia kembali teringat pada insiden penyerangan yang terjadi di villa milik ayahnya di Pulau Jeju.


            “Wajahmu terlihat pucat, kau takut?” Kekeh Aiden setengah mengejek saat mengetahui jika


Calistha takut dengan tetesan darahnya yang mengotori lanti. Ia lalu segera meraih tisu yang disediakan oleh seorang perawat di sebelah blangkarnya dan segera membersihkan sisa-sisa darah itu secepat yang ia bisa.


            “Santai, kau akan melihat lebih banyak dari ini nanti.”


            “Ya, aku tahu. Meskipun begitu aku masih berharap jika aku tidak perlu melihat darah yang berceceran lagi seperti yang telah terjadi sebelumnya. Kau tahu, itu sangat mengerikan dan membuatku selalu merasa ketakutan. Tapi sudahlah, nanti pasti aku akan segera terbiasa. Oya, bagaimana kita mencari El Diablo hari ini? Senjata-senjatamu, mobilmu?” Tanya Calistha beruntututan. Ia seperti terkesan tidak sabar untuk segera memulai pertarungan hari ini. Padahal sebenarnya ia sedang dilanda ketakutan hebat hingga kedua telapak tangannya terasa sangat dingin.


            “Ada seseorang di luar yang telah menunggu kita. Ayo, dan cobalah untuk rileks.”


               Calistha tanpa sadar menautkan kedua telapak tangannya saat Aiden memberikan lirikan penuh arti pada kedua tangannya. Pria itu sepertinya tahu jika sejak tadi ia dilanda kegugupan dan ketakutan hebat.