The Sniper

The Sniper
Wolf In Sheep's Clothing (Thirteen)



Sesuai kesepakatan, Calistha memutuskan untuk tinggal semalam di apartemen Luca bersama Aiden. Meskipun Aiden telah menolaknya berkali-kali dan memaksanya untuk pulang, Calistha tetap bersikeras untuk tinggal hingga ia mendapatkan cerita lengkap mengenai masa lalu ayahnya. Ketika makan malam berlangsung, Luca sibuk bercerita mengenai awal mula pertemuannya dengan Jacob Im. Semua itu terjad sekitar lima tahun yang lalu, saat Jacob Im memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan di tanah Britania Raya, namun pria itu merasa tidak mampu untuk mengurusnya sendiri. Kemudian Luca datang sebagai seorang pria berdarah Inggris yang ingin melamar pekerjaan menjadi sekretaris pribadi Jacob Im. Awalnya Jacob tidak memberikan kepercayaan penuh pada Luca. Jacob hanya memberikan pekerjaan yang sewajarnya dilakukan oleh seorang sekretaris sambil terus mengevaluasi hasil pekerjaan Luca. Setahun berlalu sejak Luca bergabung dalam jaringan perusahaan raksasa milik Jacob Im, pria itu mulai mendapatkan kepercayaan penuh dari Jacob. Pekerjaannya yang rapi dan selalu memuaskan Jacob membuat Jacob akhirnya memberikan posisi tertinggi pada Luca di struktur perusahaannya yang khusus berada di Britania Raya. Jacob menghendaki Luca untuk menjadi tangan kanannya dan mengatur seluruh bidang usahanya yang sangat banyak, termasuk usaha hitam yang dirintis oleh Jacob jauh sebelum usaha legalnya berkembang pesat seperti saat ini.


            “Kau telah mengenal ayahku selama itu? Kenapa kita tidak pernah bertemu sebelumnya?”


            Luca tersenyum kecil kearah Calistha sambil memotong daging steaknya penuh ketenangan. Sebenarnya selama ini ia selalu memperhatikan Calistha dari kejauhan, berpura-pura sebagai orang lain yang tak dikenal Calistha agar wanita itu tidak menyadari kehadirannya. Jacob adalah pria yang sangat protektif pada putrinya. Itu adalah sebuah fakta yang tidak pernah disadari oleh Calistha selama ini. Jadi, Luca berperan sebagai seorang mata-mata yang bertugas untuk mengawasi Calistha sambil memuja wanita itu dari kejauhan. Sejujurnya ini sedikit rumit. Jacob memerintahkan Luca untuk memastikan jika Calistha aman dari musuh-musuhnya tanpa sepengetahuan wanita itu. Namun disaat bersamaan, Luca juga memiliki perasaan lebih pada Calistha karena ketulusan dan kebaikan yang selalu terpancar dari wajah Calistha. Bisa dikatakan jika Luca sebenarnya mencintai Calistha, namun pria itu tidak pernah berani untuk menunjukannya karena Calistha adalah seseorang yang harus ia lindungi, bukan dicintai. Disamping itu, Luca juga telah memiliki Emily, seorang wanita yang dengan tulus memberikan cinta untuknya dengan sangat besar, meskipun perasaanya untuk wanita itu tidak pernah berkembang sebagaimana mestinya. Sangat sulit mengubah perasaan cintanya dari Calistha menjadi Emily karena keduanya memang tidak pernah sama. Calistha dengan pesona murni yang bersinar mampu membuat hati Luca berdebar setiap mengamati wanita itu dari kejauhan. Sedangkan Emily, wajah cantik dan pesonanya yang memancarkan sisi kuat seorang wanita tidak pernah sedikitpun menggetarkan hati Luca. Justru terkadang Luca muak pada Emily karena wanita itu sering kali menggodanya dengan sentuhan-sentuhan intim yang Luca sadari jika itu mengarah pada suatu hal yang tidak pernah ia inginkan sebelumnya. Tidak jika itu Emily, namun jika itu Calistha, mungkin ia akan melakukannya dengan senang hati.


            “Aku kesal kenapa selama ini tidak ada yang memberitahuku apapun. Bahkan Emily, ia juga telah menutupi kisah cinta kalian sejak lama. Benar-benar menyebalkan.”


            Calistha mendengus kesal dengan semua ketidaktahuan yang ia alami selama ini. Kebohongan demi kebohongan yang diciptakan oleh ayahnya telah membuatnya tumbuh menjadi seorang wanita manja yang tidak pernah peka pada lingkungannya yang kejam. Tapi mungkin itu adalah yang terbaik untuknya, sebelum ia menghadapi kejamnya dunia secara langsung seperti ini. Setidaknya saat ia telah mengetahui semuanya, ia telah memiliki orang-orang yang akan membantunya, Aiden, Luca, dan Emily.


            “Kami tidak menutupinya, hanya sedang menunggu waktu yang tepat.”


            “Ck, alasan! Kau pasti tidak ingin aku mengganggumu saat kau sedang berkencan dengan Luca. Ayo mengakulah.” tuduh Calistha pada Emily. Luca yang melihat itu sedikit tertawa sambil tetap menekan perasaanya sendiri yang rasanya sedang meluap-luap di dalam hatinya. Tentu saja sebagai pria normal Luca merasa senang karena akhirnya ia dapat berada di jarak yang sangat dekat dengan wanita yang ia cintai. Calistha adalah sumber fantasy terliarnya dan juga sumber harapannya. Hingga sejauh ini ia masih berharap jika suatu saat ia dapat meraih Calistha menjadi wanitanya dan menjadi pasangan yang paling sempurna di dunia ini. Terdengar berlebihan memang, namun itulah cita-cita terbesar Luca selama ia bekerja pada Jacob Im sebagai tangan kanan pria itu.


            “Setelah ini apa kau akan membantu kami memecahkan teka-teki Jacob Im? Fear no more, sajak itu telah menunggu kita sejak kemarin.”


            “Aiden, bisakah kau tidak membicarakan itu saat kita sedang makan malam?”


            “Tidak, karena aku muak mendengarkan kalian membicarakan masa lalu, sedangkan kita masih memiliki banyak pekerjaan yang sedang menunggu kita. Sadarlah Calistha jika setiap detik kehidupanmu itu sangat berharga, jadi jangan menyia-nyiakannya untuk sebuah masa lalu yang jelas-jelas tidak akan pernah terulang kembali.”


            Calistha mendengus kesal melihat sikap menyebalkan Aiden yang selalu berorientasi pada teka-teki yang ditinggalkan oleh ayahnya. Memang tugas mereka belum terselesaikan, dan itu seperti pekerjaan rumah yang terus membayang-bayangi kehidupannya. Namun sesekali ia ingin bersantai dan menikmati waktunya bersama


sahabat dan salah satu orang yang ternyata memiliki hubungan erat dengan ayahnya. Malam ini ia sama sekali tidak ingin diganggu dengan masalah teka-teki, ia hanya ingin menghabiskan malam dengan kenangan-kenangan indah mengenai ayahnya di masa lalu.


            “Luca, ceritakan lagi mengenai ayahku. Mengenai bisnis hitamnya yang selama ini tidak pernah kuketahui.”


            “Kau yakin? Aiden sepertinya tidak setuju dengan hal itu.”


            “Abaikan saja sniper kaku ini, kita tidak butuh pendapatnya untuk malam ini.”


            Aiden terlihat menggeram kesal di sebelah Calistha sambil menyambar kotak rokoknya kasar. Wanita itu benar-benar telah menguji kesabarannya dan membuat kedudukannya di sini menjadi tidak penting. Berurusan dengan wanita manja yang melankolis seperti Calistha memang menyebalkan. Seharusnya sejak awal ia tidak


menerima begitu saja pekerjaannya sebagai bodyguard Calistha karena ternyata pekerjaannya kali ini memiliki risiko yang tak terduga, yang kemungkinan efeknya jauh lebih parah dari pekerjaannya sebagai seorang sniper biasanya. Ditambah lagi dengan kemunculan pihak-pihak seperti rubah berbulu domba yang ternyata sangat banyak disekitar mereka, ia harus selalu waspada dengan apapun yang akan terjadi. Kunci utama dalam misi kali ini adalah, jangan mempercayai siapapun. Karena tidak ada pihak yang benar-benar bersih dari rencana licik untuk menggulingkan Calistha dan merampas harta berharga milik ayahnya.


            “Malam ini kita harus merayakannya dengan meminum anggur bersama. Luca, bolehkah aku mengambil salah satu anggurmu untuk menjamu Calistha dan Aiden?”


            “Tentu saja, kau harus mengambil anggur terbaik dari lemari penyimpananku Emily.”


            “Yup, anggur tahun sembilan puluh adalah anggur yang terbaik.”


            Emily menggoyang-goyangkan botol anggur yang digenggamnya sambil berusaha untuk membuka segel botol yang sangat rapat. Luca yang melihat Emily kesulitan, memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan menghampiri Emily yang sedang berdiri tak jauh dari jendela.


Siing


Duarr


            “Chalistha! Menunduk!”


            Aiden yang tepat berada di sebelah Calistha langsung menjangkau tubuh wanita itu dan segera berlindung di bawah meja. Serpihan-serpihan kaca dan aroma mesiu yang cukup khas tercium pekat di dalam ruang makan milik Luca yang berantakan. Sementara itu, Calistha tampak bergetar ketakutan di dalam dekapan Aiden sambil memeluk lengan pria itu kuat-kuat. Lagi, ia mendapatkan serangan traumatis yang membuatnya benar-benar ketakutan dengan hidupnya. Tak bisakah sekali saja ia mendapatkan ketenangan dalam hidupnya?


            “Aap apa yang baru saja terjadi?”


            “Tenanglah, aku akan mencari tahu.”


            “Aku takut Aiden, jangan pergi.”


            Calistha mencengkeram lengan Aiden kuat-kuat agar pria itu tidak beranjak berdiri meninggalkannya. Namun Aiden langsung menyingkirkan tangan Calistha dari lengannya dan meyakinkan wanita itu jika semuanya akan baik-baik saja. Serangan itu sepertinya hanya terjadi sekali karena setelah itu suasana disekitar mereka menjadi hening.


            “Luca! Emily!”


            Aiden berteriak keras pada Luca dan Emily yang tiba-tiba menjadi hening. Sambil mengendap-endap disekitar jendela, Aiden mulai mengintai area apartemen Luca yang sepi. Penembak yang baru saja menembak apartemen Luca telah pergi, namun penembak itu meninggalkan trauma di ingatan Calistha dan juga meninggalkan kekacauan yang sangat parah di apartemen Luca.


            “Aaarrgghh... Aiden, tolong aku.”


            Aiden segera melompat kearah Luca yang sedang bersimpuh tak berdaya di bawah meja. Di sebelahnya Emily terlihat tak sadarkan diri dengan luka kecil di beberapa permukaan kulitnya akibat terkena serpihan kaca. Sedangkan Luca, pria itu terlihat sedang menahan sakit sambil memegang lengan kanannya menggunakan tangan kirinya.


            “Kau tertembak?”


            “Sepertinya begitu, tapi itu untungnya itu hanya mengenai lenganku. Emily, sepertinya dia syok dan jatuh pingsan. Kuharap ia tidak mengalami luka tembak sepertiku.”


            “Calistha, cepat hubungi pihak rumah sakit.”


            “Kita tidak menghubungi polisi?” Tanya Calistha masih bergetar ketakutan dengan ponsel di tangan kanannya. Wanita itu ingin sekali mendekat kearah Luca dan Emily, namun dihalangi oleh Aiden untuk mengurangi risiko jika penembak itu masih berada di luar sana. Namun menurut Aiden sebenarnya penembak itu telah pergi, dan kemungkinan tidak akan ada tembakan lagi dalam waktu dekat.


            “Bagaimana ini bisa terjadi, apartemenku menggunakan kaca anti peluru.”


            “Tentu saja ini ulah seorang sniper. Dilihat dari kekacauan yang dihasilkan, sniper itu pasti menggunakan peluru kaliber lima puluh dengan jarak tembak lebih dari seribu lima ratus meter, seribu tujuh ratus lebih tepatnya. Seseorang ingin melenyapkan salah satu diantara kita.” Ucap Aiden menganalisa. Alis Luca terlihat mengerut dalam dengan hasil analisis yang baru saja diutarakan oleh Aiden. Di kepalanya saat ini sedang dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi padanya setelah ini. Jika seseorang sedang berencana untuk


membunuhnya, itu berarti ulah dari salah satu musuh kartel milik Im Seulong. Tidak ada yang menargetkannya selama Im Seulong masih hidup. Dan saat Baron telah mati karena ulah Aiden, maka target selanjutnya tentu saja dirinya.


            “Lu Luca.. gunakan ini untuk menahan lukamu.”


            Calistha mengangsurkan sebuah lap makan yang berhasil ia temukan di atas meja makan yang telah porak poranda pada Luca. Kemudian dengan gerakan cepat Calistha segera menekan nomor rumah sakit terdekat agar segera datang untuk menolong Luca dan Emily. Kondisi Emily yang tak sadarkan diri dan belum dapat dipastikan membuat Calistha merasa was-was. Emily masih memiliki kemungkinan menderita luka yang lebih parah dari Luca karena saat kejadian berlangsung, Emily dan Luca sedang berdiri bersebelahan, sedangkan Calistha berhasil selamat karena Aiden melindunginya. Namun tiba-tiba Calistha merasa aneh dengan sikap Aiden dan Luca


yang sepertinya tidak terlalu mempedulikan Emily. Kedua pria itu justru sibuk berdiskusi untuk menentukan siapa penembak jitu yang malam ini menggunakan senjatanya untuk menembus kaca anti peluru milik Luca. Mereka berdua sama sekali tidak memindahkan Emily sedikitpun dari posisi pingsannya, dan Luca hanya sedikit mengusap darah yang terlihat di permukaan wajah Emily menggunakan kain lap yang diberikan oleh Calistha.


            “Bagaimana dengan polisi? Apa aku harus menghubunginya?”


            “Tidak....”


            “Jangan....”


            Kedua pria itu berucap serempak sambil membrerikan tatapan yang sama-sama mengeras hingga


Calistha merasa tidak nyaman karena keduanya terkesan seperti sedang menyudutkannya. Luca yang sadar akan sikapnya segera memberikan senyum lembut pada Calistha agar wanita itu tidak merasa terintimidasi olehnya dan juga Aiden.


            “Kita tidak bisa melibatkan polisi karena bisnis ilegal milik ayahmu sebenarnya telah melanggar aturan. Meskipun kita dapat mengusut kasus ini atas tuduhan percobaan pembunuhan, namun polisi pasti akan  mencari penyebabnya lebih dalam dan menemukan kartel milik ayahmu di dalamnya. Jadi sebelum semua itu terjadi, lebih baik kita menggunakan orang-orang dalam untuk menyelidiki kasus ini. Aku memiliki banyak kenalan mata-mata yang hebat, jadi kau tidak perlu khawatir Calistha.”


            “Baiklah, aku tidak akan menghubungi polisi. Tapi bagaimana dengan lukamu dan Emily? Apakah itu parah?” Tanya Calistha khawatir. Akhirnya Aiden mengijinkan Calistha untuk mendekat kearah Emily dan mencoba menggeser tubuh pingsan Emily yang sepertinya hanya mendapatkan luka goresan karena serpihan kaca.


            “Tenang Cals, aku baik-baik saja. Dan kurasa Emily hanya syok karena ledakan tiba-tiba tadi, jadi kau tidak perlu khawatir. Sebentar lagi tim medis akan datang.”


Tok tok tok


            Tepat setelah Luca menyelesaikan kalimatnya, pintu apartemennya tiba-tiba diketuk cukup keras dengan irama tak beraturan yang dapat membuat orang lain terganggu. Dengan sigap Aiden segera membuka pintu kayu itu dan mempersilahkan para tim medis untuk segera membawa Emily ke rumah sakit. Wanita itu, Aiden yakin jika Emily tidak sedang bersandiwara pingsan dan terlibat dalam penyerangan hari ini karena Emily terlihat benar-benar syok. Dan dari apa yang Aiden duga, kemungkinan mereka memiliki musuh lain yang sama-sama mengincar harta karun milik Im Seulong yang saat ini keberadaanya entah dimana.


            “Tuan Luca, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa banyak serpihan kaca di sini dan anda juga tertembak?”


            Dua orang petugas apartemen yang datang bersamaan dengan tim medis tampak terkejut


dengan kondisi apartemen Luca yang sangat kacau. Ditambah lagi dengan bekas ledakan yang tercetak jelas di jendela besar milik Luca, membuat petugas keamanan itu langsung menatap curiga kearah Aiden dan Calistha.


            “Tertembak? Kurasa kalian salah, ini hanya luka kecil karena aku terkena letusan petasan. Kami melakukan kecerobohan dengan merokok disaat kami memiliki petasan di dekat kami, jadi petasan itu meledak dan membuat kaca di sebelah sana terlihat seperti baru saja mendapatkan serangan tembakan.” Bohong Luca lancar dengan salah satu mata yang mengerling kearah Aiden. Aiden lalu mendengus gusar kearah Luca sambil menunjukan rokok miliknya yang kebetulan masih tertinggal di atas meja.


            “Aku tidak tahu jika Luca menyimpan petasan di dalam rumahnya. Masalah ini bukanlah masalah serius yang membutuhkan penyelidikan dari polisi, jadi kalian tidak perlu memanggil polisi untuk menyelidikinya.”


            “Kurasa ini tidak perlu diusut lebih lanjut, tolong bawa saja kekasihku ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan, ia pingsan karena terkejut dengan bunyi ledakan yang terjadi.”


            “Baiklah, anda juga harus segera diobati tuan.”


            Calistha saling berpandangan dengan Aiden setelah mendengar alasan Luca yang cukup masuk akal itu. Luca tidak bisa menggunakan dokter biasa untuk menangani lukanya karena itu akan berisiko. Dokter jelas tidak akan tertipu dengan jenis luka tembak yang saat ini bersarang di lengan Luca. Jadi Luca memang harus pergi ke dokter pribadinya untuk mengobati luka tembak yang saat ini menggores lengannya. Andai petugas-petugas keamanan itu lebih jeli, mereka bisa saja menemukan bukti bekas peluru di kaca jendela anti peluru milik Luca dan selongsongan peluru yang saat ini sedang diinjak oleh Aiden. Tepat setelah petugas keamanan itu datang, Aiden langsung mencari selongsongan peluru yang ternyata jatuh tak jauh dari kakinya dan menyembunyikannya di bawah kakinya untuk menghindari kecurigaan dari para petugas keamanan apartemen. Lagipula Aiden yakin jika petugas-petugas itu tidak akan jeli karena mereka biasanya hanya berasal dari agen pelatihan kelas rendahan.


            “Ayo kita pergi ke rumah dokter Albert.”


            “Dokter pribadimu? Bagaimana dengan Emily?” Tanya Calistha khawatir. Sejujurnya ia ingin ikut mengantar Emily ke rumah sakit bersama para tim medis, namun Aiden langsung memberikan tatapan tajam kearahnya sambil memberikan kode jika ia jangan macam-macam untuk saat ini.


            “Kau tenang saja, Emily akan aman berada di Emerald Hospital. Justru kondisinya akan jauh lebih berisiko jika ia bersama kita karena entah siapa di luar sana, mereka mengincar nyawaku.”


            “Bagaimana kau tahu?” Tanya Calistha mengerutkan dahinya. Ia kemudian menatap jendela anti peluru milik Luca sekali lagi dan mulai mencari jawabannya menggunakan otaknya sendiri. Sayangnya ia tidak bisa menemukan jawaban yang tepat atas analisa Luca karena ia memang tidak pernah memiliki pengetahuan apapun mengenai hal itu. Hari-harinya selama ini tentu saja dipenuhi oleh pelajaran komunikasi massa dan komunikasi interpesonal yang akan sangat berguna untuknya jika ia melanjutkan bisnis media massa milik ayahnya.


            “Sasaran sniper itu memang Luca, jika itu bukan Luca, ia pasti telah menembaknya sejak tadi, karena aku terus berada di dekat jendela sebelum makan malam berlangsung. Tapi sial bagi sniper itu karena Emily tiba-tiba meminta Luca untuk membantunya membuka tutup botol wine, sehingga sasarannya yang telah terkunci justru meleset dan hanya menggores lengan Luca.”


            “Ya, kupikir juga begitu. Mungkin aku dikhianati, atau mungkin juga itu ulah salah satu musuh Jacob. Entahlah, setelah Jacob meninggal, semuanya menjadi lebih kacau dan rumit.”


            “Lebih baik kita lanjutkan diskusi ini nanti, sekarang kita harus mengobati lukamu dulu sebelum orang-orang jahat itu kembali menyerangmu.” Potong Calistha cepat. Mereka bertiga kemudian segera pergi dari apartemen Luca, dengan Calistha yang mencoba memapah Luca di samping kirinya. Meskipun sejujurnya Luca baik-baik


saja dengan lukanya, namun Calistha bersikeras untuk membantu karena ia merasa jika semua ini juga masih berhubungan dengann dirinya. Secara tidak langsung kerumitan ini bersumber dari ayahnya, dan mungkin ayahnya juga membawa semua ini dari kakeknya. Jadi rasanya impas jika sekarang ia mencoba membantu Luca meskipun ia yakin jika hal itu sama sekali tidak membantu.


-00-


            Karena kondisinya yang tidak memungkinkan, akhirnya Aiden dan Calistha meninggalkan Luca semalam untuk beristirahat di rumah dokter Albert. Lagipula Luca memang harus mengistirahatkan pikirannya sejenak sebelum besok ia kembali berkutat dengan masalah barunya yang teramat mengganggu. Mencari satu orang jahat yang hendak membunuhnya diantara ribuan orang jahat, tentu itu sangat sulit. Bahkan Luca sendiri tidak bisa memperkirakan siapa yang hendak melenyapkan nyawanya karena akhir-akhir ini sekutunya memang sedikit berkurang. Banyak pemberontakan yang terjadi di kartel. Dan dengan meninggalnya Baron, pemberontakan itu


semakin tak terelakan hingga dapat memicu perpecahan di kalangan kartel sendiri.


            “Jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?”


            “Tugas kita menjadi lebih banyak, sajak milik ayahmu belum terpecahkan sepenuhnya, belum lagi masalah Luca dan Emily, kita tidak bisa mempercayai mereka begitu saja. Terutama Emily, wanita itu berbahaya.”


            “Emily? Jadi itu alasanmu mengapa kau tidak langsung menolongnya saat serangan itu terjadi? Aku melihat kau dan Luca tidak terlalu peduli pada Emily meskipun kalian tahu jika Emily harus segera ditolong.”


            Aiden mendecih kasar saat mengingat bagaimana percakapan Emily dengan salah satu anak buahnya kemarin siang. Jelas sekali jika wanita itu memiliki dendam pada Calistha, dan mungkin itu karena Luca.


            “Emily ingin membunuhmu, kupikir serangan sniper malam ini adalah ulahnya. Tapi melihat bagaimana reaksinya dan sasaran tembaknya, aku sangat yakin itu bukan hasil kerja anak buah Emily. Ada orang lain yang menginginkan kematian Luca dan.....”


Braaakkkk


Tiiinnnnnnnn


Dugg


            Tiba-tiba sebuah mobil kontainer menghantam sisi kiri mobil hitam yang sedang dikendarai oleh Aiden. Tabrakan yang sangat keras itu membuat mobil hitam milik Aiden berguling-guling beberapa kali di atas aspal hingga akhirnya berhenti karena menabrak bahu jalan. Serpihan kaca yang berceceran di atas aspal yang hitam


tampak berkilauan diterpa cahaya lampu yang telah menjadi saksi bisu bagaimana dahsatnya kecelakaan itu terjadi. Asap seketika keluar dari kap mobil milik Aiden yang telah rusak di sana sini. Sementara itu Aiden yang sempat merasakan telinganya berdengung langsung mencoba meraih tangan Calistha yang tampak sangat lunglai di sebelahnya. Lagi-lagi mereka mendapatkan masalah karena seseorang, entah siapa di luar sana yang telah menjadi serigala berbulu domba diantara Aiden dan Calistha.


            “Cals... hey! Jawab aku! Calistha!”


            “Aa... Aiden... ak aku baik-baik saja. Kepalaku pusing.” jawab Calistha lemah. Seketika Aiden merasa lega dan segera bergerak untuk meloloskan diri dari sabuk pengaman yang membelitnya. Mereka harus segera keluar dari mobil itu sebelum hal-hal buruk yang tidak mereka inginkan terjadi.


            “Kakiku terjepit...” Rintih Calistha lagi. Aiden yang telah berhasil keluar dari mobil segera membantu Calistha keluar dengan menendang engsel pintu mobilnya yang menyebabkan kaki Calistha terjepit.


            “Kau bisa merasakan kakimu?”


            “Ya, kurasa aku masih bisa merasakannya. Tapi sakit, aahh... kepalaku berdarah.”


Rengek Calistha mulai manja. Aiden segera menyeret tubuh lemah Calistha ke tepi trotoar yang jaraknya cukup jauh dari mobilnya, kemudian ia segera mengamati kondisi jalanan tempatnya kecelakaan yang tampak sepi.


            “Aiden! Lihat, ada seorang anak yang terluka!” Teriak Calistha heboh. Anak kecil itu tampak berjalan tertatih-tatih setelah melompat dari dalam kontainer yang baru saja menabrak mereka. Aiden yang melihat itu langsung mengernyitkan dahinya waspada sambil menarik senjatanya keluar dari dalam mobilnya yang terbalik di tengah jalan.


            “Ttoo tolong... tolong ak akuu...”


            “Hai, apa kau baik-baik saja? Dimana orangtuamu?” Teriak Calistha dari seberang jalan. Ia hampir saja menyebrang untuk menolong anak laki-laki itu, namun gerakannya langsung ditahan Aiden karena ia mencium adanya sebuah kejanggalan dari anak laki-laki yang tampak sekarat itu.


            “Kita harus menolongnya, lihatlah kakinya berdarah, kepalanya juga.” Ucap Calistha gemas. Tapi tanpa diduga Aiden justru mengacungkan moncong pistolnya kearah anak laki-laki itu dengan tatapan dinginnya yang tajam.


           “Ada yang aneh dengan anak itu, sebaiknya kita lari dan jangan mendekatinya.”


            “Itu hanya anak-anak Aiden, orangtuanya mungkin terluka di dalam sana.”


            “Buka matamu, tidak ada siapapun di dalam kontainer itu. Ini jebakan!” Teriak Aiden gusar. Mereka kemudian segera melangkah menjauh dari anak laki-laki itu meskipun Calistha sangat ingin menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Apalagi kondisi anak laki-laki itu terlihat lebih parah dari lukanya yang tidak seberapa.


            Kakak... tolong kami, adikku terluka... kakak.... mereka melukai kami. kakakkkk.....


Duarrr


            “Kyaaa....”


            Seketika Aiden tersadar dari lamunannya dan segera mendapati Calistha yang sedang terduduk di atas aspal dengan wajah syok yang terlihat tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depannya.


            “Aaa Aiden... anak itu... anak itu....”


            “Seseorang ingin kita mati. Anak itu dibekali bom dan dipaksa untuk menaiki kontainer dengan pengendali jarak jauh. Kita harus segera pergi dari sini sebelum orang itu menyadari jika rencananya gagal.”


            “Aiden....”


            “Jangan menangis!” Teriak Aiden kesal. Namun akhirnya ia tetap memeluk tubuh bergetar Calistha sambil menyeret tubuh wanita itu menjauh dari posisi mobil mereka terguling. Semua ini seperti roll film yang terkadang membangkitkan ingatan masa lalunya. Anak kecil yang diumpankan untuk mereka hari ini juga terlihat seperti anak kecil yang ia temui dua tahun yang lalu saat mendapatkan misi di Amerika. Ada sebuah sindikat mafia yang sering menggunakan loyalitas anak buahnya untuk menjebak musuh-musuh mereka yang juga terkenal kejam. Fear nor more...


            “Calistha, kurasa ini ada hubungannya dengan sindikat mafia dari Amerika Selatan...” Desis Aiden tajam sambil tetap mendekat bahu Calistha erat. Sekarang sedikit demi sedikit teka teki milik Im Seulong menemukan titik terang.


            “Siapa? Mereka ingin membunuh kita dan Luca?”


            “Kurasa seperti itu. Fear no more bukan hanya sekedar judul sajak milik William Shakespeare, tapi kalimat itu juga digunakan sebagai slogan dalam sebuah organisasi hitam yang berasal dari Amerika Selatan. Pemimpinnya bernama El Diablo.”


            “Darimana kau mengetahuinya?”


            Calistha tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya sambil mendongak penuh tanda tanya kearah Aiden. Dan saat wajahnya mendongak, Calistha melihat rembesan darah yang terlihat mengalir di sekitar pelipis Aiden. Seketika ia mengusap darah itu sambil menatap khawatir kearah Aiden yang ekspresi wajahnya justru berbanding terbalik dengan ekspresi Calistha yang tampak khawatir.


            “Kau terluka, kita harus ke rumah sakit.”


            “Kepalaku memang terbentur cukup keras.”


            Calistha membelalak kaget saat Aiden menunjukan telapak tangannya yang penuh darah setelah pria itu mengusap kepala bagian belakangnya. Wanita itu dengan panik segera menjauh dari pelukan Aiden untuk melihat luka pria itu satu persatu.


            “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kenapa kau justru membiarkanku bersikap bodoh, dengan menangis di pelukanmu?”


            Calistha sekarang benar-benar merasa konyol dengan dirinya sendiri. Ia yang kondisinya tidak lebih parah dari Aiden, justru merengek-rengek seperti bayi. Tidak! Mulai sekarang ia harus menjadi wanita tangguh untuk mengimbangi Aiden.


            “Ayo kita ke rumah sakit, jangan tinggalkan aku, jangan mati.”


            Ada nada sedih yang terselip diantara kata-kata Calistha yang terdengar mengkhawatirkan Aiden. Itu mungkin karena Calistha telah merasa nyaman bersama Aiden, dan ia telah melewati hal-hal menegangkan bersama pria itu beberapa minggu terakhir ini.


            “Huh mati? Aku belum memikirkan itu sekarang. Aku khawatir kau tidak akan hidup dengan baik jika aku mati. Lagipula aku tidak akan mati sebelum menyelesaikan misiku.” Jawab Aiden sombong. Calistha mau tidak mau tergelak geli melihat sikap sombong Aiden yang terlihat benar-benar alami meskipun pria itu sedang menahan sakit sekalipun.


            “Terimakasih, kau memang tidak boleh meninggalkanku sebelum semua ini selesai.” Balas Calistha sambil memeluk Aiden erat. Pria itu tanpa sadar tersenyum dibalik bahu bergetar Calistha sambil mengusap punggung


rapuh itu sekali. Wanita manja ini benar-benar tak terduga dan mampu membuat hatinya sedikit menghangat dengan sikap manjanya yang kadang terlihat menyebalkan. Tapi harus ia akui, jika ia menyukai sikap manja Calistha, karena dengan begitu ia merasa sangat dibutuhkan, dan apa yang ia lakukan saat ini benar-benar dihargai oleh wanita itu.