The Sniper

The Sniper
Separated (Eleven)



Brakk


            Aiden menendang keras pintu kayu di depannya dan membiarkan cahaya bulan segera masuk kedalam ruangan yang remang-remang itu. Pencahayaan yang dipasang sangat minim di dalam ruangan yang cukup luas itu membuat Aiden harus lebih teliti dalam mencari dokumen-dokumen penting yang ia butuhkan. Presiden Moon akhir-akhir ini terus mengawasinya dan Calistha denga intens. Bahkan pria tua itu sepertinya telah meletakan banyak mata-mata disekitarnya, namun Aiden memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan mengabaikan penguntit penguntit itu. Setidaknya mereka masih berada di batas wajar sebagai seorang penguntit dan tidak pernah mengusiknya dengan Calistha. Hanya saja, ia sangat menyayangkan kinerja para penguntit itu yang justru tidak membantunya ketika ia dan Calistha dalam situasi yang berbahaya. Mereka justru sibuk menontonnya yang sedang kewalahn melawan pria-pria misterius itu sambil menyantap popcorn dengan wajah tenang dari kejauhan. Yah, mereka tentu saja tidak mau merepotkan diri untuk melawan pria-pria misterius itu, karena mereka tentu masih sangat menyayangi nyawa mereka masing-masing.


            “Apa yang kau lakukan di kantor Baron? Siapan kau?”


            Aiden menghentikan aktivitasnya yang sedang menggeledah satu persatu lemari-lemari kayu di dalam ruangan remang-remang itu. Ia tidak tahu jika akhirnya akan ada seseorang yang memergokinya sedang mengobrak abrik ruangan pria keparat itu. Padahal seharusnya semua orang sedang sibuk mengurusi mayat si Baron yang tak berguna itu di luar sana. Lalu, siapa wanita yang barani mengusik pekerjaannya malam ini?


            “Pergilah jika kau tidak ingin aku memecahkan kepalamu.” Gertak Aiden dengan pistol yang sengaja ia tunjukan dari balik ikat pinggangnya. Namun seperti tak terpengaruh, wanita itu justru tersenyum miring dan berjalan lebih dekat kearah Aiden. Wajahnya yang tenang, dan langkahnya yang begitu percaya diri menandakan bahwa ia sama sekali tidak takut dengan gertakan Aiden. Ia, sudah lebih dari sering menerima ancaman-ancaman murahan semacam itu. Termasuk berada di situasi paling berbahaya yang tidak pernah dibayangkan oleh orang lain sebelumnya.


            “Well, kurasa kita memang berjodoh, Aiden...”


            Wanita itu mengucapkan nama Aiden lambat-lambat dengan aksen yang sangat Aiden kenal. Tidak salah lagi, wanita berwajah tenang itu adalah Rania, pelacur baru milik Baron.


            “Rania... apa kabar?”


            Aiden akhirnya membalikan tubuhnya dan tersenyum miring kearah wanita muda itu. Ia pikir tentara-tentara Iran atau musuhnya telah meluluhlantahkannya bersama dengan desanya yang hancur, ternyata tidak! Wanita itu memang seperti seekor kucing yang memiliki sembilan nyawa di dalam tubuhnya. Tidak seperti kakaknya yang malang, yang tewas dengan kepala berlubang karena pistol kesayangan milik Aiden.


            “Aku baik-baik saja, dan sangat sehat di sini. Sebuah kehormatan karena aku dapat menyambutmu di sini, di rumah baruku.”


            “Jadi kau sekarang menjadi pelacur Baron brengsek itu? Huh, pelacur tetaplah pelacur.” Ejek Aiden sadis dengan seringaian licik. Aiden tentu tahu bagaimana caranya menyakiti hati seorang wanita. Namun itu semua jelas tidak berlaku untuk Rania. Untuk wanita yang telah tidak memiliki hati sejak pria itu menghancurkannya berkeping-keping dengan kematian kakaknya yang berharga.


            “Ya, aku memang seorang pelacur Aiden. Tapi kurasa itu jauh lebih baik karena aku tidak pernah mengotori tanganku dengan darah dari orang-orang yang tidak bersalah. Dan satu-satunya darah yang ingin kulihat berlumuran di tanganku adalah darahmu. Aku akan membunuhmu Aiden untuk menebus kematian Hannah!”


            Aiden melihat begitu banyak kilatan kebencian di mata Rania, dan ia memakluminya. Hannah adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Rania, sekaligus kakak yang selama ini ia lindungi dengan seluruh nyawanya selama di desa yang penuh konflik itu. Keputusannya untuk membunuh Hannah saat itu bukan karena ia membenci wanita itu. Justru karena ia tidak ingin melihat Hannah menderita lebih lama. Luka yang didapatkan Hannah karena serangan bom tidak akan membuat wanita itu kembali normal, meskipun telah mendapatkan pertolongan dari alat-alat medis tercanggih sekalipun. Jadi kematian jelas menjadi jalan satu-satunya jalan untuk membebaskan Hannah dari kesengsaraan tiada akhir yang akan terus menerus membayangi kehidupan wanita itu.


            “Tidak apa-apa. Anggap aku telah memaafkan perbuatan tidak sopanmu hari ini. Lebih baik kau pergi selagi kau bisa karena sekarang kau bebas, Baron telah mati di luar sana. Kau bisa menjalani kehidupanmu dengan lebih baik, seperti keinginan terbesar Hannah selama ini.”


            Rania mengepalkan tangannya tidak terima sambil menatap punggung tegap Aiden penuh kebencian. Pria itu mengatakannya tanpa rasa bersalah, seolah-olah nyawa Hannah tidak ada harganya. Kakaknya yang bodoh itu terlalu dibutakan cintanya pada Aiden yang keparat. Seharusnya dulu ia mencegah Hannah untuk mengenal Aiden dan membawa Hannah pergi sebelum kakaknya yang bodoh itu memiliki perasaan yang terlalu dalam pada Aiden.


            “Pergilah, atau kau ingin membantuku mencari berkas-berkas penting milik Baron?”


            Aiden masih sibuk dengan pencariannya yang tak kunjung membuahkan hasil. Dan tiba-tiba saja Rania telah mengayunkan sebuah tongkat besi kearah kepala Aiden yang untungnya berhasil ditangkis pria itu dengan sigap.


            “Kau harus mati Aiden!” Desis Rania penuh dendam. Aiden lalu mendorong tubuh Rania yang mungil itu kearah tembok, dan menghantamkan tongkat besi itu kearah perut Rania hingga wanita itu sedikit terbatuk-batuk. Ia tidak suka jika kebaikannya justru dibalas dengan sikap yang tidak seharusnya seperti ini. Jika memang


wanita itu tidak ingin pergi, maka ia yang akan membuat wanita itu pergi dari dunia ini, selama-lamanya.


            “Kau jalang menjijikan tak tahu diri, bersiaplah untuk kematianmu sendiri.”


            “Hahaha... cobalah, di sini aku adalah pelacur kesayangan Baron. Kau seharusnya berhati-hati padaku Aiden... Tolong! Sniper itu di sini! Pembunuh Baron ada di sini!”


            “Sialan!”


            Aiden segera melepaskan Rania dan bergegas pergi dari ruang kerja Baron sebelum orang-orang itu berhasil menangkapnya. Jangan sampai Calistha mendapatkan masalah di luar sana karena orang-orang itu bisa saja menemukan Calistha terlebihdahulu sebelum masuk ke ruangan ini.


            “Aku pasti akan membunuhmu Aiden, ingat itu!”


            Aiden tidak mempedulikan ancaman Rania dan segera berlari keluar ke tempat dimana Calistha menunggunya. Bodoh! Seharusnya ia segera membunuh Rania selagi ia memiliki kesempatan. Namun ia pernah berjanji pada Hannah, bahwa ia akan membuat Rania tetap hidup apapun yang terjadi. Sejujurnya Aiden pernah berhutang budi pada Hannah, yang membuat Aiden akhirnya mengucapkan sebuah janji yang ia sendiri tidak yakin dapat mewujudkannya karena di dalam janjinya itu, ia berjanji pada Hannah untuk melindungi Rania. Hanya saja itu semua menjadi semakin sulit setelah wanita itu dengan terang-terangan menunjukan rasa bencinya dan sangat ingin membunuhnya. Ck, cukup sekali ia berhutang budi pada seseorang. Lain kali ia tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi, atau lebih baik ia mati daripada harus memiliki hutang budi.


            “Shit! Dimana wanita manja itu? Sialan!”


Dor


            Aiden segera menyembunyikan tubuhnya dibalik tumpukan barel yang berserakan di depannya sambil membalas serangan yang dilakukan oleh anak buah Baron. Pikiran tentang Calistha yang berhasil ditangkap oleh anak buah Baron membuat Aiden semakin kesal dan juga pusing dengan dirinya sendiri. Bisa dikatakan semua rencananya hari ini tidak berjalan mulus, ditambah lagi ia juga kehilangan Calistha yang entah berada dimana saat ini.


            “Cepat cari pria itu di sekitar sini, keparat itu pasti belum jauh.”


            “Bagaimana dengan Baron? Kita tidak bisa membiarkan Kartel kosong tanpa pemimpin.”


            “Itu urusan Luca. Lebih baik kau segera temukan sniper itu dan bawa dia secepatnya ke markas.”


            Aiden mendengarkan pembicaraan dua orang itu dalam diam sambil mengernyitkan dahinya dalam. Luca... ia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya. Sayang, otaknya tidak cukup cerdas untuk mengingat-ingat nama itu lagi yang telah terkubur cukup jauh di dalam otaknya. Sebaiknya ia segera pergi dan segera menemukan Calistha untuk menyusun rencana selanjutnya.


            “Di sana!”


Dor


Dor


            Tidak ada pilihan lain selain melakukan baku tembak dan menghilangkan nyawa sekali lagi untuk bertahan hidup. Seorang sniper sepertinya memang hanya memiliki dua pilihan, dibunuh atau terbunuh. Dan tentu saja kali ini ia akan memilih untuk menjadi pihak yang membunuh karena ia masih memiliki banyak urusan yang harus


diselesaikan, termasuk mencari keberadaan Calistha sebelum orang-orang yang menginginkan harta karun hidup itu menemukannya.


-00-


            Calistha menatap nyalang langit-langit kamar Luca yang tampak gelap karena pencahayaan yang minim. Ia seharusnya tidak berada di rumah Luca, sayangnya ia tidak bisa pergi dari sini karena ia memiliki banyak pertanyaan untuk pria misterius itu. Luca sepertinya memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya, dan ia sangat ingin tahu bagaimana hubungan mereka di masa lalu. Selain itu, Luca sepertinya bukan orang jahat yang menginginkan hartanya. Pria itu sejak tadi memperlakukannya dengan baik dan juga lembut. Bahkan pria itu juga memberinya tempat tidur yang nyaman untuk ia beristirahat malam ini.


            Tapi bagaimana dengan Aiden? Calistha benar-benar tidak bisa menyingkirkan bayangan Aiden dari dalam kepalanya. Ia terlalu menkhawatirkan pria itu hingga ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan sekarang. Apalagi di luar sana sepertinya juga cukup berbahaya, sehingga untuk saat ini ia tidak bisa berbuat apapun selain menunggu pagi agar segera datang. Andai saja ia tidak mengikuti keinginan Aiden untuk tetap menunggu di luar, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Setidaknya ia dan Aiden tidak harus berpisah dan terjebak dalam keadaan yang sama sekali tidak dapat diprediksi.


            Setelah berkutat terlalu lama dengan kegundahan hatinya, Calistha memilih untuk bangkit dari posisi tidurnya dan melihat luka di kakinya yang telah diobati Luca. Sekali lagi Calistha  merasa jika Luca adalah


pria yang baik, namun ia tidak bisa hanya berbaring di atas ranjang sambil memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa saja terjadi pada hidupnya. Calistha perlu mencari bukti-bukti untuk memperkuat dugaannya jika Luca benar-benar pria yang baik. Banyak hal yang dapat terjadi di dunia ini, termasuk rubah berbulu domba. Calistha kemudian segera turun dari ranjangnya sambil berjalan berjingkat-jingkat menuju pintu keluar. Ia berharap Luca saat ini sedang tertidur pulas di kamarnya yang lain, sehingga pria itu tidak perlu memergokinya yang sedang mengendap-endap untuk mengumpulkan bukti-bukti terkait dugaanya.


Cklek


            Calistha refleks melompat mundur sambil menatap wajah Luca ketakutan. Ia kaget, dan tak menduga jika Luca akan membuka pintu kamarnya tiba-tiba disaat ia hendak memegang kenop pintu. Sialnya saat ini pria itu sedang menatapnya dengan tatapan curiga yang begitu kental sambil memincingkan matanya berbahaya.


            “Hhai Luc, aku....”


            Calistha mencoba berpikir untuk menyingkirkan apapun pikiran buruk yang saat ini sedang bersarang di benak Luca.


            “Kau kenapa? Apa kau membutuhkan sesuatu? Kakimu sakit?”


            “Ya, aku membutuhkan sesuatu. Aku ingin  ke toilet.” Jawab Calistha cepat. Ia hampir bernapas lega untuk alasannya sebelum Luca kembali membuatnya mati kutu dengan wajah gugupnya.


            “Toilet ada di sebelah sana, kau tidak perlu pergi keluar kamar jika ingin ke toilet.”


            “Ah, jadi itu toilet?” Cicit Calistha seperti orang bodoh. Tentu saja sejak awal ia tahu jika pintu itu adalah toilet. Seharusnya ia tidak menggunakan alasan toilet sebagai jawaban untuk pertanyaan Luca. Jelas-jelas pria itu akan mencurigainya lagi dengan alasan bodohnya yang terdengar sama sekali tidak masuk akal itu. Sekali lagi ia harus memberikan jawaban pada Luca agar pria itu segera berhenti mencurigainya.


            “Eee... kupikir aku akan menggunakan toilet di luar karena aku juga ingin mengambil air


putih di dapur.”


            Kali ini Calistha benar-benar berharap jika Luca akan mempercayainya dan tidak menanyakan apapun lagi. Ia sudah kehabisan stok kebohongan di dalam otaknya, dan sekarang ia hanya ingin segera bebas dari suasana yang tidak menyenangkan ini.


            “Oh, kau bisa memintanya padaku jika kau memang haus. Akan kuambilkan, kau tunggu saja di sini.”


            “Ahh Luca...”


            Calistha langsung mencekal lengan Luca ketika pria itu hendak berbalik pergi. Wajahnya yang tampak memelas membuat Luca menatap tidak tega pada Calistha sambil menyunggingkan senyum kecil yang meneduhkan.


            “Sebenarnya aku ingin menanyakan hubunganmu dan ayahku selama ini. Kurasa aku tidak akan bisa tidur hingga semua pertanyaan di benakku terjawab olehmu. Dan... bisakah aku meminjam ponselmu untuk menghubungi Aiden, mungkin sekarang ia sedang kebingungan mencariku.”


            “Aiden? Ah ya tentu, sniper itu pasti sedang kebingungan mencarimu. Tapi apa yang membuatmu berlari ketakutan hingga hampir tertabrak oleh mobilku?”


            “Aku dan Aiden sedang menyusup kedalam kartel, kami perlu mencari surat-surat kepemilikan kartel yang saat ini dipegang oleh seorang pria bernama Baron O’Neil. Sebelumnya ayahku membuat sebuah teka teki berisi sajak milik Shakespeare yang selama ini selalu diputar di gereja Santo Paulus pukul enam pagi. Aiden berpikir jika ayahku mungkin ingin aku menemukan harta warisan milik ayahku yang berada di London karena sebelumnya ayahku juga meninggalkan teka teki untuk menemukan harta warisannya di Jeju.”


            “Jadi kalian yang membunuh Baron?” tanya Luca tak percaya. Calistha seketika merasa gugup saat melihat ekspresi wajah Luca yang berubah mengeras di depannya. Tatapan ramah yang sebelumnya terpancar dari kedua mata pria itu, kini berubah total menjadi tatapan penuh permusuhan yang membuat Calistha waspada.


            “Iiya, Aiden membunuh Baron dan menyusup kedalam markas untuk mencari berkas-berkas penting yang berkaitan dengan kartel. Lalu aku dikejar-kejar oleh sekelompok pria mabuk yang hendak memperkosaku.”


            Calistha mendengar Luca setelah itu mengumpat keras dan berjalan pergi meninggalkannya dengan langkah terburu-buru. Rasanya Calistha ingin meruntuki bibirnya sendiri yang dengan tololnya justru berkata jujur pada seorang pria yang belum jelas asal usulnya. Melihat bagaimana marahnya Luca, itu menandakan jika Baron dan Luca mungkin memiliki hubungan khusus. Hal itu membuat Calistha akhirnya menjadi waspada pada sosok Luca dan ingin secepatnya pergi dari apartemen itu, namun sebelum ia berhasil kabur, Luca telah terlebihdahulu mencegahnya dengan berdiri tepat di belakang tubuhnya.


            “Jangan coba-coba untuk kabur karena di luar lebih berbahaya dari apartemen ini Calistha.”


            “Aku tidak mengenalmu Luca, aku ingin Aiden.” balas Calistha keras tanpa memalingkan wajahnya. Ia memang terlalu gegabah mempercayai Luca hanya karena pria itu mengenal ayahnya. Padahal jelas jelas itu bukan jaminan jika Luca adalah pria yang baik. Mungkin saja Luca adalah rekan bisnis ayahnya yang justru menginginkan kehancuran ayahnya.


            “Anak buah Baron sedang memburu Aiden di luar sana, terlalu berbahaya untuk menemui Aiden saat ini.”


            “Kalau begitu seharusnya aku memang mencari Aiden karena pria itu membutuhkan bantuanku. Aku ingin pergi, buka pintunya.” Ucap Calistha setengah memaksa. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya berbicara pada Luca setelah apa yang terjadi pada mereka bertiga saat ini. Aiden sedang menjadi buronan anak buah Baron di luar sana, dan saat ini ia sedang berada di dalam tawanan Luca. Ia jelas-jelas telah percaya pada orang yang salah sebelumnya. Pantas saja Luca sangat bahagia saat mendapatkannya, ternyata ia memang telah menjadi incaran pria itu sejak dulu.


            “Tidak, kau harus tetap di sini. Kembali ke kamarmu Calistha, aku janji akan menceritakan padamu semuanya besok.”


            “Aku tidak mau besok, bisa saja besok kau telah membunuhku. Kau pasti salah satu pihak yang menginginkan harta curian ayahku yang tersimpan di Kuba. Jadi kau membutuhkanku untuk menuntunmu pada harta-harta itu, benar bukan?”


            “Kurasa kau salah, aku sama sekali tidak menginginkannya. Siapa yang menyuruh Aiden untuk membunuh Baron?”


            “Aku tidak tahu.” Dengus Calistha kesal. Luca telah membuat semuanya menjadi sulit dengan sikapnya yang membingungkan. Di sisi lain Calistha merasa jika Luca adalah pria yang baik, namun di sisi lain Luca juga menunjukan hal yang sebaliknya.


            “Kalau begitu kau tetaplah di sini, aku akan menemukan Aiden.”


            “Bohong! Kau pasti akan membunuhnya.” Tuduh Calistha keras. Akhirnya Calistha kali ini bersedia untuk berbalik dan berhadapan langsung dengan Luca.


            “Aku tidak akan membunuhnya, percayalah padaku.”


            Luca menatap Calistha lembut dengan senyum manisnya sambil memegang kedua pundak Calistha bersungguh-sungguh. Dari matanya terpancar sebuah kejujuran yang membuat Calistha lagi-lagi tidak bisa menolak pesona seorang Luca. Padahal beberapa menit yang lalu ia baru saja ingin membunuh Luca dengan tangannya sendiri jika sampai anak buah baron melukai Aiden. Tapi sekarang, ia justru kembali percaya pada Luca sambil menganggukan kepalanya lemah kearah Luca sebagai jawaban.


            “Kau janji tidak akan melukai Aiden dan menemukannya dalam keadaan baik-baik saja?”


            “Aku janji. Percayalah padaku, aku bukan orang jahat. Aku salah satu kaki tangan ayahmu untuk seluruh bisnisnya di Britania Raya. Saat ini aku juga membutuhkan Aiden untuk menjawab semua pertanyaanku. Jadi kau harus mempercayaiku jika aku tidak akan melukai Aiden.”


            “Baiklah, untuk saat ini aku mempercayaimu. Tolong temukan Aiden secepatnya, karena aku sangat mengkhawatirkan kondisi Aiden.”


            “Kau terlihat sangat mempedulikan sniper itu.”


            “Ya, untuk saat ini Aiden adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki.”


            “Kau yakin dengan kata-katamu? Menjadikan Aiden sebagai bagian dari keluarga?” Tanya Luca sangsi. Untuk ukuran seorang pria dewasa, Luca termasuk pria yang cerewet dan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain. Padahal Calistha sudah berdoa sejak tadi agar pria itu cepat-cepat pergi dari apartemennya untuk segera


menemukan Aiden di luar sana.


            “Sangat yakin. Untuk itu, tolong cepat temukan Aiden dalam keadaan hidup dan sehat.”


            “Wah, kau memiliki permintaan yang terlalu banyak Calistha. Kurasa Aiden dalam keadaan hidup saja itu sudah cukup. Aku tidak bisa menjanjikan Aiden yang tanpa luka.” Tambah Luca cepat sebelum ia berjalan melewati Calistha dan segera menekan beberapa kombinasi angka untuk membuka pintu apartemennya. Sekilas Calistha sempat melirik Luca saat sedang menekan kombinasi angka-angka apartemennya, namun pria itu langsung menggeser sedikit tubuhnya ke kanan agar Calistha tidak dapat mengintip dua digit terakhir angka pintu apartemennya yang rumit.


            “Lebih baik kau menunggu di rumah dan istirahat untuk memulihkan kondisi kakimu. Jangan coba-coba untuk kabur karena itu hanya akan memperburuk keadaan. Percayalah padaku Calistha, aku berada di pihakmu.” Ucap Luca meyakinkan sebelum akhirnya menutup pintu kayu itu sepenuhnya dan meninggalkan Calistha sendiri di dalam apartemennya yang hampa.


            Tuhan, tolong lindungilah Aiden dimanapaun ia berada.....