The Sniper

The Sniper
New Plan Bad Condition (Eighteen)



        Cukup lama Calistha berdoa di gereja Santo Paulus ditemani oleh Aiden di sebelahnya yang sejak tadi hanya menatap orang-orang yang sedang berdoa dengan wajah datar. Saat merasa bosan, Aiden kemudian mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat arlojinya yang sedang menunjukan pukul empat pagi. Ternyata ia telah cukup lama berdiam di dalam bangunan agung itu bersama Calistha yang entah sedang memanjatkan doa apa hingga mereka telah duduk di sana selama itu. Namun untuk sebuah ketenangan yang ditawarkan di gereja ini, ia sangat menyukainya. Ia seperti dapat melupakan permasalahan rumitnya untuk sejenak sambil menatap orang-orang yang terlihat suci itu sedang mengatupkan tangan mereka masing-masing.


            “Apa kau ingin menemaniku ke atas? Aku ingin melihat pemandangan Kota London dari atas menara.”


            Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Aiden segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lorong kanan yang akan membawa mereka menuju menara. Calistha yang melihat kebisuan Aiden hanya mampu mengekori pria itu dalam diam sambil mengamati setiap ornamen cantik yang terhampar di sepanjang lorong gereja yang tampak remang-remang dan sepi ini. Saat sedang sibuk mengamati ornamen-ornamen itu, Calistha dikejutkan oleh suara teriakan seorang pria paruh baya yang sedang berdiri di ujung lorong dengan pakaian serba putihnya.


            “Father?” Bisik Calistha di samping Aiden. Pria itu hanya melihat kearah Calistha sebentar, lalu memutuskan untuk menghampiri sang pastor yang terlihat seperti sedang menunggu mereka di ujung lorong, dekat dengan tangga menuju menara gereja.


            “Kau memanggil kami?”


            Dengan terang-terangan pastor itu mengamati Aiden dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jelas sekali jika Aiden dan Calistha memiliki wajah oriental yang sangat berbeda dengan penduduk asli London. Setelah puas dengan wajah Aiden, pastor itu kemudian berganti menatap Calistha, namun kali ini dengan wajah yang lebih ramah dan penuh senyuman.


            “Apa yang kalian lakukan di sini?”


            “Kami ingin pergi ke menara father.” Jawab Calistha jujur. Ekor matanya sejak tadi telah melirik tangga pualam yang melingkar indah di samping kanannya, namun ia tidak berani untuk menaiki tangga itu karena sang pastor yang terlihat seperti sedang menghalangi mereka untuk naik.


            “Maaf, tapi kami tidak mengijinkan siapapun lagi untuk pergi ke menara semenjak wanita itu tewas di atas sana.”


            Sang pastor tampak memandang sedih kearah tangga yang dulu sempat menjadi saksi bisu terbunuhnya seseorang di atas sana. Bahkan mayatnya yang bersimbah darah berhasil memancing trauma siapapun bagi orang-orang yang melihatnya.


            “Apa kau mengenal wanita itu father?”


            Kali ini Aiden yang bersuara. Dengan wajah dan suara yang dingin, ia terlihat seperti sedang mengintimidasi sang pastor untuk segera menjawab pertanyaannya. Lagipula ia juga sedikit penasaran dengan kasus itu. Carmine tidak bisa memberitahunya dengan lengkap. Jadi tidak ada salahnya jika sekarang ia berusaha mengorek kasus mengerikan itu untuk memenuhi rasa ingin tahunya yang tinggi.


            “Namanya adalah Maria, ia seorang single parent yang selalu berada di sini setiap hari sabtu dan minggu untuk berdoa. Namun di luar hari itu, terkadang ia juga datang untuk membantu kami jika kami sedang mengadakan acara tertentu di sini. Putrinya adalah anggota paduan suara anak-anak di gereja ini, jadi kami sangat mengenal baik sosok Maria. Sangat disayangkan, ia harus meninggal dalam keadaan yang sangat mengerikan seperti itu.” Cerita pastor itu menerawang. Ada sorot kesedihan yang begitu pekat dari mata sang pastor ketika menceritakan Maria, dan hal itu membuat Calistha semakin penasaran untuk mengetahui cerita lebih lengkap mengenai Maria.


            “Lalu bagaimana keadaan putrinya sekarang setelah ibunya meninggal?”


            “Luciana saat ini tinggal di sebuah panti asuhan, tak jauh dari gereja ini. Dulu setelah ibunya meninggal, ada banyak sekali orang-orang yang ingin mengadopsinya, namun seorang pria berwajah oriental seperti kalian memintaku untuk menyerahkan Luciana pada pihak panti asuhan agar orang-orang tidak berebut untuk mengadopsinya. Lalu pria itu setiap bulan selalu rutin mengirimkan uang ke panti asuhan itu untuk Luciana.”


            “Apa kau tahu siapa pria oriental itu?” Tanya Aiden dengan dahi berkerut. Pikirannya saat ini sedang sibuk menerka-nerka, kira-kira siapa pria oriental yang mau repot-repot mengurusi seorang gadis yatim piatu seperti Luciana yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan apapun dengannya.


            “Aku sebenarnya tidak terlalu mengenal pria oriental itu karena ia datang ke sini seminggu sebelum peristiwa itu terjadi. Dan saat itu ia datang untuk naik ke atas menara, dan mendaftarkan diri untuk menjadi anggota di gereja ini. Kalau tidak salah pria itu bernama Jacob.”


            Seketika Calistha menegakan tubuhnya sambil menatap kearah Aiden dengan mata bulatnya yang dipenuhi oleh tanda tanya besar yang sebenarnya juga sedang dirasakan oleh Aiden. Lagi-lagi mereka dihadapkan pada sebuah ketidaksengajaan mengenai Jacob. Jika dipikir-pikir, Jacob memang pria misterius dan seperti hantu. Di satu sisi ia memiliki sepak terjang yang mengerikan di dunia hitam, namun di sisi lain, ia juga bagaikan malaikat yang selalu menolong orang-orang yang kesusahan di luar sana.


            “Maaf, apakah Jacob yang kau maksud adalah seorang pria berwajah oriental yang memiliki sebuah tahi lalat di sudut bibirnya?”


           “Ya, kau benar. Ia adalah Jacob yang itu. Jadi kalian juga mengenalnya?” Tanya pastor itu sedikit girang. Aiden yang melihat itu tampak menyipitkan matanya curiga pada sang pastor yang mungkin memiliki sesuatu yang tak terduga tentang Jacob, sama seperti pendeta yang mereka temui di desa Bukchon. Apalagi saat ini Jacob berhubungan dengan seorang anak bernama Luciana. Itu sungguh aneh. Tidak mungkin Jacob mau repot-repot membiayai kehidupan anak kecil seperti Luciana jika tidak ada sesuatu yang tersembunyi dibaliknya.


            “Eee ya... kami mengenalnya.” Jawab Calistha tak yakin. Ia sedikit melirik kearah Aiden untuk memberinya persetujuan, apakah ia harus mengatakan pada pastor itu jika Jacob adalah ayahnya atau tidak.


            “Jacob adalah rekan bisnis kami, dan sebenarnya kami datang ke sini untuk menikmati pemandangan indah dari menara atas saran Jacob dulu.”


            “Sayang sekali kalau begitu, kami tidak mengijinkan siapapun lagi untuk naik ke atas setelah peristiwa itu. Dan lagipula aku sudah lama tidak melihat Jacob.”


            “Kapan terakhir kau bertemu Jacob?”


            “Sepertinya tiga hari setelah peristiwa itu terjadi. Setelah ia menyarankan aku untuk memasukan Luciana ke panti asuhan, ia kemudian tidak datang lagi ke gereja ini. Tapi seseorang bernama Malfoy setiap minggunya rutin datang ke panti asuhan itu untuk memberikan santunan pada Luciana.”


            Dahi Aiden semakin berkerut dalam saat mendengarkan setiap cerita yang disampaikan oleh sang pastur. Ia pikir teka-teki yang berhubungan dengan gereja Santo Paulus telah berakhir, tapi ternyata mereka masih dihadapkan pada misteri baru mengenai Malfoy dan juga Luciana yang sangat misterius itu.


            “Apa kau bisa memberitahu kami dimana Malfoy tinggal?”


            Pastor itu langsung menggeleng kecewa pada Calistha karena tidak bisa memberitahukan apapun terkait Malfoy. Pria itu sebenarnya sama misteriusnya dengan Jacob karena ia jarang berbicara dengan siapapun selain datang ke panti asuhan untuk memberikan santunan pada Luciana.


            “Baiklah, terimakasih atas informasinya father, kami permisi.”


            Setelah berpamitan, Calistha segera berbalik pergi sambil mengerutkan wajahnya dalam untuk memikirkan berbagai macam teka-teki yang ditinggalkan oleh ayahnya lagi.


Malfoy...


            Sekalipun ia belum pernah mendengar nama itu disebut oleh ayahnya selama ini. Tapi memang mustahil jika ayahnya membicarakan mengenai Malfoy di hadapannya, karena Luca pun, ayahnya bahkan tidak pernah menyinggung pria itu di depannya, meskipun Luca adalah salah satu pria terpenting di dalam struktur kerajaan bisnis milik ayahnya.


            “Sepertinya sebelum menjemputku di Oxford, ayah pernah singgah di London.”


            “Jadi kejadian itu terjadi beberapa hari sebelum kau dibawa oleh ayahmu ke Seoul?”


            Calistha mengangguk sebagai jawaban sambil memainkan kukunya yang sedikit panjang. Entahlah, sekarang ia merasa buntu dengan jalan pikirannya sendiri karena banyaknya masalah yang harus ia selesaikan satu persatu. Belum lagi masalah pembunuhan yang terasa seperti hantu yang sangat menakutkan untuknya. Sedikit saja ia lengah, orang-orang jahat itu akan dengan mudah melenyapkan nyawanya. Dan ia merasa tak bisa selamanya bergantung pada Aiden. Pria itu pastinya tidak


bisa selalu melindunginya setiap saat.


            “Apa kita perlu datang ke panti asuhan yang dikatakan oleh father?”


            “Ayo kita ke sana.”


            Aiden segera bergegas pergi menuju pintu utama gereja yang menjulang tinggi tanpa menunggu Calistha yang tampak begitu lambat di belakangnya. Wanita itu sepertinya masih merasa malas untuk kembali pada kehidupan mengerikannya yang penuh akan darah dan kematian. Padahal empat hari kemarin rasanya begitu


menyenangkan untuknya, karena untuk sejenak ia seperti mendapatkan libur untuk menikmati indahnya dunia. Bayangkan saja, selama tiga hari ia tidak melakukan banyak pekerjaan yang menguras tenaga, dan hanya menemani Aiden di rumah sakit. Lalu saat di rumah, ia dapat menikmati waktunya sambil bersantai dan memasak. Sungguh itu adalah hari-hari yang sangat menyenangkan. Seharusnya dulu ia lebih mensyukuri kehidupannya dan tidak terlalu banyak mengeluh pada ayahnya.


            “Aiden, kurasa kita datang terlalu pagi.”


            Calistha menyenggol lengan Aiden pelan saat mereka berdua telah berada di depan panti asuhan yang tampak sepi dan sunyi itu. Di halaman panti, Calistha dapat melihat beberapa permainan khas anak-anak yang tersebar di setiap sudut halaman panti yang luas. Lalu di sisi kanan dan kiri panti, berjejer pohon pinus yang sangat


besar dan berdaun lebat, yang memancarkan aura meneduhkan pada panti asuhan itu. Melihat bagaimana terawatnya panti asuhan itu, Calistha yakin jika panti itu pasti memiliki banyak donatur yang hebat. Pantas saja ayahnya memberikan saran untuk memasukan Luciana ke panti asuhan ini setelah ibunya meninggal.


            “Kita tunggu saja di sini hingga penghuni panti asuhan ini keluar.”


            “Apa itu tidak akan terlalu lama?” Protes Calistha kesal sambil melirik arloji mungilnya. Ini masih pukul lima pagi, dan Calistha berani bertaruh jika para penghuni panti itu baru akan keluar pukul tujuh nanti.


            “Kau bisa pulang jika kau terlalu banyak bicara.”


            Calistha mencebikan bibirnya kesal, dan dengan terpaksa segera mengambil tempat di sebelah Aiden. Seharusnya sembari menunggu, mereka pergi membeli sesuatu dulu di Kafe di depan sana. Sejak tadi ia mencium aroma croissant yang sangat menggugah selera, serta aroma manis dari coklat panas yang seakan-akan memanggilnya untuk mendekat. Jika Aiden tidak bersikap menyebalkan seperti ini, ia pasti sudah merengek-rengek untuk pergi ke sana dan menikmati croissant lezat itu dengan segelas coklat panas yang sangat menggugah selera. Tapi... sudahlah, tidak ada gunanya bagi Calistha untuk mengumpati Aiden karena kenyataannya pria itu tidak akan tahu apa yang ia inginkan saat ini.


            “Belilah makanan di sana, aku akan menunggu di sini.” Calistha seketika menoleh cepat kearah Aiden sambil menatap pria itu berbinar-binar.


            “Pergilah, aku tahu kau lapar.” Ucap Aiden lagi dengan suara datar. Pria itu kemudian memberikan selembar uang ratusan ribu pada Calistha dan menyuruh wanita itu segera pergi dari hadpaannya. Daripada ia harus mendengarkan suara rengekan menyebalkan Calistha, lebih baik ia segera menyingkirkan wanita itu untuk membeli apapun yang diinginkannya.


            “Kau juga ingin membeli sesuatu?”


            “Tidak.”


            Jawaban singkat Aiden itu sudah cukup bagi Calistha untuk berkesimpulan jika pria itu ingin ia segera pergi secepatnya dari sana. Dan dengan senang hati Calistha pergi dari halaman panti itu sambil sesekali bersenandung kecil, menikmati semilir angin pagi yang sangat menyejukan utuknya. Dulu saat ia tinggal di Oxford ia jarang pergi keluar di pagi buta seperti ini. Ia akan memilih untuk bergelung di bawah selimut hingga jam menunjukan pukul tujuh pagi. Kemudian para maidnya akan mulai mengetuk pintu kamarnya sambil berteriak dari luar jika makanan kesukaannya telah siap. Yahh... memang begitulah kehidupannya sehari-hari selama di Oxford. Cukup membosankan, namun sekarang ia merasa bersyukur pada kehidupannya itu karena setidaknya ia tidak perlu menemui suara letusan, tetesan darah, bahkan sebuah kematian di depan matanya.


            Calistha langsung mendapatkan sambutan yang ramah dari seorang pelayan yang sedang berdiri di dekat etalase toko. Suasana hangat dan aroma Croissant yang sangat gurih langsung menyambut Calistha ketika ia melangkah masuk kedalam toko yang memiliki luas yang tak begitu besar itu. Di dalam atalase, Calistha dapat


melihat lusinan croissant dengan berbagai topping dan ukuran tampak begitu menggoda dan seakan-akan sedang memanggilnya untuk membeli mereka seegera. Dengan sedikit kebingungang, Calistha kemudian menghampiri pelayan toko dan meminta wanita itu untuk merekomendasikannya beberapa croissant yang menjadi andalan di toko itu.


            “Choco hazzelnut, cream cheese, mix berry crumble, dan black jack adalah croissant yang banyak disukai oleh pelanggan kami.”


            “Oh, kalau begitu aku mau mereka semua masing-masing satu, dan juga coklat panas satu.”


            Pelayan itu mengangguk mengerti dan segera menyiapkan pesanan Calistha. Sembari menunggu, Calistha memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang letaknya tak begitu jauh dari pintu masuk. Di luar sana, para pejalan kaki mulai memadati jalanan kota London yang perlahan-lahan mulai tersinari oleh cahaya matahari. Calistha lalu melihat seorang pria dengan hoodie hitam dan sepatu sneakers hitam sedang berjalan tenang menuju pintu masuk toko. Dan tak berapa lama, lonceng kecil di ujung pintu berbunyi, menampilkan seorang pria muda berkulit pucat yang langsung tersenyum samar pada pelayan toko yang sebelumnya juga menyapa Calistha.


            “Kau pasti akan mengunjunginya lagi, apa yang kau inginkan Malfoy?”


            Calistha langsung menegakkan tubuhnya awas sambil menatap pria bernama Malfoy itu lekat-lekat. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Calistha merasa jika Malfoy tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Pria itu terlihat seperti pemuda biasa berusia sekitar pertengahan dua puluh tahun dengan kulit pucat yang mengesankan aura misterius. Calistha diam-diam terus mengamati gerak-geraik Malfoy yang saat ini sedang menarik sebuah kursi, tak jauh dari tempatnya duduk. Namun saat ia sedang asik mengamati seorang Malfoy, tiba-tiba pelayan wanita itu datang dan memberikan pesanannya yang telah siap. Dengan gusar Calistha segera mencari-cari alasan pada pelayan itu agar ia dapat sedikit lebih lama di dalam toko dan melihat jati diri Malfoy yang sebenarnya.


           “Eee.. aku pesan satu kopi hitam dengan sedikit gula.”


            Setelah pelayan itu pergi, Calistha langsung berpura-pura meminum coklat panasnya tanpa melihat kearah tutup cup yang ternyata mudah terbuka. Dengan sialnya, cairan coklat panas yang cukup panas itu membasahi dada Calistha dan membuatnya mendesah kepanasan hingga Malfoy yang sebelumnya sedang menatap jalanan Kota London yang mulai padat sedikit melihat kearah Calistha yang saat ini tampak begitu konyol di matanya.


            “Nona, anda baik-baik saja?”


            “Oo... iya, aku baik-baik saja.” Jawab Calistha malu pada pelayan itu. Ia kemudian segera membersihkan sisa coklat panas yang mengotori dadanya, dan berniat untuk kembali mengamati Malfoy yang tiba-tiba telah menghilang dari kursinya. Dengan panik Calistha langsung bangkit berdiri sambil mencari-cari dimana keberadaan Malfoy, tapi sayangnya pria itu seperti seorang hantu yang keberadaannya dapat menghilang dengan mudah. Ia kemudian dengan serampangan segera membereskan barang-barang miliknya, dan berniat untuk segera keluar tanpa menunggu kopi milik Aiden selesai dibuat oleh pelayan. Namun pelayan itu ternyata jauh lebih gesit dari pergerakan Calistha, sehingga ia langsung mencegah Calistha untuk keluar sebelum pesanannya benar-benar siap.


            “Maaf aku sedang buru-buru.”


            “Tapi pesanan anda akan segera selesai nona.”


            Dengan gusar Calistha kembali duduk dan mulai bertopang dagu kesal di atas mejanya. Sekarang ia telah kehilangan kesempatan besar untuk mengetahui sosok Malfoy lebih dekat, dan itu karena pelayan sialan yang saat ini justru sedang bersenandung santai sambil membuatkan kopi hitam pesanannya yang sebenarnya tidak benar-benar ingin ia pesan.


            “Ini nona pesanan anda.”


            “Hmm.. terimakasih.”


            Calistha menjawab dengan setengah hati sambil menunjukan mimik wajah kesalnya pada sang pelayan. Namun dua detik kemudian ia segera mengganti mimik wajahnya kembali normal, dan justru menghentikan pelayan yang hendak pergi menuju cabin kasir.


            “Tunggu! Apa kau mengenal pria yang tadi duduk di sana?” Tanya Calistha sambil menunjuk kursi tempat Malfoy duduk yang sekarang tampak kosong. Pelayan wanita itu tampak mengernyit sebentar, namun setelah itu ia mengangguk sambil tersenyum manis pada Calistha.


            “Malfoy? Dia adalah adikku.”


            Seketika Calistha melebarkan matanya, dan ia hampir saja tersedak liurnya sendiri karena tidak menyangka jika dunia akan sesempit ini. Ia pikir Malfoy akan sama seperti Luca yang memiliki kehidupan kelam dan dipenuhi oleh orang-orang jahat. Namun melihat bagaimana wajah pelayan ini, ia yakin jika mereka hidup dengan keadaan yang aman.


            “Ja jadi dia adalah adikmu? Ohh.. kukira aku telah salah orang, kupikir ia adalah teman lamaku yang sudah lama pindah dari London, kalau begitu terimakasih.”


            Calistha memilih untuk segera pergi dan meninggalkan pelayan itu dengan kerutan kebingungan di wajahnya. Calistha rasanya terlalu takut untuk mengorek informasi mengenai Malfoy pada kakaknya karena mungkin saja ada sesuatu yang tidak diketahui pelayan itu mengenai Malfoy. Jadi lebih baik ia memang bertemu


sendiri dengan Malfoy, lalu bertanya langsung mengenai hubungannya dengan sang ayah dan juga Luciana.


            “Kenapa kau sangat lama?"


            “Aku bertemu Malfoy.” Ucap Calistha langsung dengan mimik wajah sedikit panik. Dengan wajah datarnya Aiden hanya mengangguk sekilas, lalu ekor matanya langsung tertuju pada seorang pria yang sedang berdiri di dekat pohon, tak jauh dari pintu masuk panti.


            “Apa pria itu yang kau maksud?”


            “Hah, iya benar! Itu Malfoy!” Jawab Calistha terkejut dan heboh. Aiden langsung memberi kode pada Calistha untuk menunggu, sedangkan ia akan pergi untuk menghampiri Malfoy. Namun dengan penuh keras kepala ia memaksa Aiden untuk menjaganya juga dengan alasan jika ia yang sudah lebih dulu menemukan Malfoy untuk kelancaran kasus mereka. Dan akhirnya Aiden hanya membiarkan Calistha mengikutinya dari belakang dengan suara boots merahnya yang sangat berisik.


            “Malfoy?” tanya Aiden saat mereka telah berdiri tak begitu jauh dari tempat Malfoy


bediri. Pria pucat yang sebelumnya sedikit melamun itu langsung menegakan tubuhnya waspada sambil memandang horor kearah Aiden dan Calistha. Apalagi wajah Aiden yang tampak mengerikan dibalik wajah tampannya membuat Malfoy seketika menunjukan wajah siaga penuh antipati.


            “Siapa kalian? Aku bukan Malfoy.”


            “Ya, kau Malfoy. Aku bertemu denganmu di toko roti di sebelah sana.” Tunjuk Calistha pada toko croissant yang tampak ramai. Melihat itu Malfoy segera bersiap untuk berlari, namun gerak geriknya berhasil ditangkap oleh Aiden dengan cepat, sehingga sebelum ia berhasil pergi dari sana, Aiden sudah terlebihdulu mengunci tubuhnya hingga ia tidak bisa lagi pergi kemanapun.


            “Apa yang kalian inginkan dariku?” Tanya Malfoy kesakitan saat tangannya sengaja ditekan Aiden dengan cukup keras ke belakang.


            “Kami hanya ingin berbicara denganmu sebentar, kami janji tidak akan menyakitimu.” Ucap Calistha lembut. Ia lalu meminta Aiden untuk sedikit melonggarkan cengkraman tangannya pada tangan Malfoy karena ia tahu jika jenis cekalan itu sangat sakit, apalagi jika dilakukan oleh seorang sniper profesional seperti Aiden.


            “Jangan coba-coba untuk kabur atau aku akan mematahkan tulang tanganmu saat ini juga.” gertak Aiden saat ia mendorong tubuh Malfoy agar pergi ke tempat duduk yang sebelumnya ia tempati untuk menunggu Calistha.


            “Apa yang kalian inginkan dariku?” Tanya Malfoy dengan wajah meringis karena menahan nyeri dari cekalan tangan Aiden. Ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan Aiden dan Calistha karena ia sadar jika posisinya saat ini sangat tidak menguntungkan. Salah-salah ia justru akan mati konyol oleh pria mengerikan yang saat ini sedang duduk menghimpit tubuhnya.


            “Kami ingin mengetahui hubunganmu dan Lucina. Jangan coba-coba untuk mengatakan tidak tahu karen kami sudah mengetahui semuanya.” Gertak Aiden dingin. Ia seperti sudah dapat membaca mimik wajah Malfoy yang sepertinya akan mengelak dari pertanyaannya dan berpura-pura tidak tahu mengenai Luciana.


            “Kenapa kalian sangat ingin mengetahui tentang Luciana? Ia hanyalah seorang gadis berusia tujuh tahun yang telah yatim piatu. Ibunya baru saja meninggal karena terjatuh dari atas menara gereja, gadis itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian.”


            “Ada, gadis itu ada hubungannya karena ia dimasukan ke dalam panti asuhan ini atas saran dari Jacob Im.”


            Malfoy tampak terkejut saat Calistha menyebutkan nama Jacob Im dengan lantang di hadapannya. Dan Aiden langsung menyimpulkan jika Malfoy memang mengetahui sesuatu mengenai Jacob Im.


            “Katakan apa yang kau ketahui tentang pria bernama Jacob Im itu.” Ucap Aiden penuh paksaan.


            “Ceritanya panjang, tapi sebenarnya aku tidak tahu siapa Jacob Im sebenarnya. Aku hanya bertemu dengannya satu setengah bulan yang lalu di gereja saat aku sedang putus asa dengan masalahku. Kakakku, ia membutuhkan donor ginjal karena penyakit gagal ginjalnya yang sangat parah, sedangkan aku dan kedua orangtuaku tidak memiliki cukup biaya untuk mengobati kakaku. Akhirnya setiap hari yang bisa kulakukan hanyalah datang ke gereja dan berdoa pada Tuhan agar ia mengirimkan satu malaikatnya untuk menyelamatkan kakakku. Selama satu bulan aku datang ke gereja dan terus berdoa hingga akhirnya tanpa sengaja aku bertemu dengan pria bernama Jacob Im itu. Aku tak sengaja menemukan dompetnya yang terjatuh, lalu saat aku mengembalikannya ia menanyakan imbalan yang kuinginkan. Dengan penuh semangat aku mengatakan padanya jika aku membutuhkan uang untuk biaya berobat kakaku. Ia kemudian dengan cepat segera menyanggupi permintaanku.”


            “Jadi selama ini kau sering bertemu dengan Jacob Im?”


            “Tidak juga. Aku hanya bertemu sebanyak tiga kali, pertama saat aku mengembalikan dompetnya, ke dua saat ia memberikan uang untuk berobat kakaku, dan ke tiga setelah ibu Luciana jatuh dari menara tinggi di gereja Santo Paulus.”


            “Apa yang ia lakukan saat itu?”


            “Ia meminta tolong untuk menjaga Luciana dan mengirimkan uang santunan yang telah ia depositkan atas nama gadis itu di bank. Jadi seminggu sekali, di hari senin, aku akan datang ke bank dan mengambil sejumlah uang yang telah ditetapkan nominalnya oleh pihak bank atas nama Luciana.”


            “Sampai berapa lama kau akan melakukan pekerjaan ini?” Tanya Calistha penasaran. Ia tak menyangka jika ayahnya telah mempersiapkan segala hal dengan sangat rapi untuk Luciana. Untuk sesaat ia merasa cemburu dengan bentuk perhatian ayahnya pada Luciana. Bahkan ia sempat berpikir jika mungkin saja Luciana adalah adiknya karena menurut pastur yang ia temui tadi, Luciana tidak memiliki ayah yang mengurusnya selama ini.


            “Aku tidak tahu, selama uang itu masih ada di sana, aku akan terus melakukannya untuk Luciana.”


            “Kau pria yang baik dan bertanggungjawab.”


            Aiden berkomentar ringan sambil menatap kearah lain dengan pandangan menerawang. Ia masih tidak percaya jika di dunia ini ada seorang pria muda yang sangat bertanggungjawab seperti Malfoy. Pria itu jelas tidak ada hubungannya dengan kartel, dan sampai kapanpun ia harus memastikannya agar tetap seperti itu karena akan sangat mengerikan jika Malfoy sampai berurusan dengan kehidupan  hitam yang dimiliki oleh Jacob.


            “Tentang Luciana, biasakah kau menceritakan asal usul gadis itu pada kami?”


            “Mungkin tidak banyak yang bisa kuceritakan mengenai Luciana, karena aku sendiri hanya mendapatkan informasi tentangnya dari ibu panti yang selama ini mencoba mengajak bicara Luciana yang sangat pendiam.” Ucap Malfoy dengan wajah tidak yakin sambil menatap kearah Calistha yang terus menyiratkan permohonan.