The Sniper

The Sniper
Finding Luciana (Twenty)



        Gadis kecil itu meronta kuat dan menangis sekencang-kencangnya di hadapan dua pria bertubuh kekar yang sejak tadi tampak geram karena suara berisik gadis kecil itu. Mereka kemudian mengambil sebuah kain dan mulai menyumpal bibir pucat gadis kecil yang telah menangis semalaman tanpa henti.


            “Kau seharusnya diam dan tidak membuat telinga kami sakit, ini adalah akibatnya jika kau terus menangis tanpa henti.”


            Luciana beringsut mundur, namun tangan dan kakinya yang terikat pada kursi kayu membuat pergerakannya seperti tidak membuahkan hasil apapun. Ia ingin pulang dan kembali bersama teman-temannya. Ia ingin paman Malfoynya yang pemberani itu datang menyelamatkannya. Menyelamatkannya seperti dongeng putri putri yang selama ini sering ia baca. Kedua pria itu seperti monster-monster yang selama ini terkadang hadir di dalam mimpinya, di malam ketika ia tiba-tiba merindukan ibunya. Luciana semakin terisak pelan dibalik kain yang menyumpal mulutnya. Sebagai seorang anak-anak yang masih sangat polos, ia telah di hadapkan pada kekejaman dunia yang telah berhasil merenggut ibunya. Salahkan Tuhan yang menggariskan hidupnya menjadi seperti ini. Hidup tanpa ayah sejak lahir, membuat Luciana yang malang harus selalu bertahan dalam segala keterbatasan bersama ibunya. Dulu hidupnya sangat sulit. Ia dan ibunya berkali-kali diusir dari satu apartemen ke apartemen karena ibunya terkadang gagal mengumpulkan uang untuk membayar biaya sewa apartemen yang mahal di tengah kota London yang sangat elit ini. Pekerjaan ibunya yang terkadang hanya menjadi pelayan, atau terkadang tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali membuat keadaan ekonomi mereka sering tidak stabil. Kebanyakan restoran ataupun pabrik-pabrik hanya mempekerjakan seorang wanita single yang belum memiliki anak. Sementara ibu Luciana, selalu membawa serta Luciana kemanapun ia bekerja, sehingga beberapa orang menjadi tidak suka dan memecat ibu Luciana tanpa perasaan. Meskipun saat itu Luciana hanya seorang gadis kecil berusia dua tahun, namun ia sangat tahu bagaimana perasaan sedih ibunya. Bahkan ketika ibunya meninggal, ia sebenarnya telah mengerti. Ia tidak sama seperti kebanyakan anak-anak seusianya. Kehidupan keras yang dirasakannya sejak lahir membuat Luciana menjadi lebih peka dari anak-anak pada umumnya. Oleh karena itu ia selama ini lebih banyak diam, dan tidak mau menceritakan apapun terkait ibunya. Padahal ia lebih dari mengerti dengan kondisi ibunya. Ia bahkan juga tahu mengenai seorang pria yang terkadang mendatangi ibunya sambil membawakan banyak hadiah untuknya. Pria itu cukup tua, dan ia telah menganggapnya seperti pamannya sendiri. Paman baik hati, begitu ia memanggilnya setiap pria setengah baya itu datang sambil membawa banyak hadiah untuknya. Sayang, kebersamaan mereka tidak bertahan lama. Paman itu kini turut menghilang seiring dengan kepergian ibunya. Untung saja Tuhan masih mengirimkan paman Malfoy untuknya, sehingga ia tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan karena kematian ibunya, dan karena kepergian pria baik hati itu dari hidupnya.


            “Halo gadis manis...”


            Lucina bagaikan melihat seorang penyihir jahat yang sedang menyeringai di depan wajahnya saat Emily datang dan berjongkok sambil membelai wajahnya dengan gerakan yang cukup kasar. Suara tangis Luciana yang semula hanya isakan, terdengar semakin jelas saat Emily tiba-tiba menarik kain putih lusuh yang sebelumnya digunakan dua orang bawahannya untuk meredam suara tangisan Luciana yang berisik.


            “Kau hanya akan kujadikan umpan gadis kecil, jadi tenanglah. Kau akan segera kukembalikan ke panti asuhan itu segera setelah dua orang tak berguna itu datang.”


            Luciana tetap saja menangis sekeras yang ia bisa tanpa mempedulikan raut jengkel yang tercetak jelas di wajah Emily. Melihat Luciana yang semakin menangis membuat kesabaran Emily habis dan segera memerintahkan anak buahnya untuk melakukan sesuatu. Lagipula menenangkan anak kecil dengan senyum lembut yang dibuat-buat, itu sama sekali bukan gayanya. Ia lebih suka menggunakan cara instan untuk membuat gadis kecil itu dan tidak membuang-buang tenaganya untuk sesuatu yang tidak berguna.


            “Cepat berikan obat tidur untuknya, aku tidak mau mendengar suara tangisannya yang berisik.”


            Luciana langsung meronta-ronta saat salah satu penjaga bertubuh besar itu mulai memegangi tubuhnya sambil membungkam mulut Luciana dengan telapak tangannya yang lebar agar suara tangis Luciana dapat teredam secepatnya. Sedangkan pria bertubuh besar yang lainnya mulai bersiap diri dengan sebuah jarum suntik di


tangannya untuk menyuntikan jarum suntik itu ke tengkuk Luciana secepat yang ia bisa sebelum suara tangis Luciana membuat kedua telinga mereka semakin tuli.


            “Apa yang akan nona lakukan pada gadis kecil ini?”


            “Kita akan menggunakannya untuk umpan, kita tunggu hingga dua keparat itu datang untuk mencari gadis kecil ini. Dan jika sudah, kita singkirkan gadis kecil ini bersama mereka ke neraka.” Seringai Emily licik. Di kepalanya kini telah bersarang berbagai macam rencana untuk membuat Aiden dan Calistha mati di tangannya. Tak akan ia biarkan lagi Luca memandang Calistha. Ia telah mencuci otak Luca ketika pria itu dalam keadaann tak sadarkan diri di rumah sakit. Dan setelah ini, tak akan ada lagi nama Calistha di dalam ingatan Luca. Hanya dirinyalah yang akan terus berada di dalam kepala Luca, bahkan di hati pria itu juga untuk selamanya.


-00-


            Calistha menatap pantulan dirinya di cermin dengan dahi berkerut dan wajah gelisah. Rencana awalnya untuk menyembunyikan segalanya dari Aiden tiba-tiba menjadi ragu sejak Malfoy menuduh mereka telah melakukan sebuah konspirasi untuk menyakiti Luciana. Padahal ia telah berusaha sehati-hati mungkin untuk menjauhkan gadis kecil itu dari masalahnya yang rumit ini. Tapi entah mengapa Emily dan anak buahnya jauh lebih cepat dari yang ia duga. Jadi benar jika kemarin keadaannya aman selama Aiden dirawat di rumah sakit karena Emily belum ingin berurusan dengannya. Sekarang wanita itu telah menunjukan wajah rubahnya yang sesungguhnya, dan tentu saja Emily hanya menginginkan kematiannya agar Luca tidak lagi melihat kearahnya.


            “Apa yang harus kulakukan?”


            Calistha bermonolog pada bayangannya sendiri di permukaan cermin sambil mendesah frustrasi. Padahal seharusnya sekarang ia keluar dari rumah Aiden yang nyaman ini, pergi bersama pria itu untuk mencari Luciana. Namun sikap protektif Aiden justru membuatnya harus terkurung di rumah besar ini tanpa melakukan apapun yang sekiranya berguna untuk mencari Luciana. Ia membenci saat-saat Aiden meremehkan kemampuannya seperti. Padahal ia lebih dari mampu untuk melindungi dirinya sendiri. Jika kecerobohan yang ditakutkan oleh Aiden, ia janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Saat ini ada sesuatu yang lebih penting untuk diteliti. Entah mengapa ia merasa jika ayahnya saat ini sedang bersembunyi di luar sana, tidak mati seperti apa yang diberitakan selama ini.


Tok tok tok


            “Malfoy?”


            Calistha tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya saat wajah datar Malfoy yang justru ia temukan di balik pintu. Dengan kening berkerut, Calistha segera melongok kearah bawah yang ternyata kosong. Di sana sunyi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Aiden di sana. Lalu bagaimana pria itu dapat masuk kedalam rumah Aiden yang dikunci oleh pria itu dari luar?


            “Bagaimana kau bisa masuk ke rumah ini?”


            “Itu tidak penting, lihat ini!”


            Malfoy menunjukan sebuah foto yang sepertinya diambil dari sebuah rekaman cctv yang dipasang di perempatan lampu lalu lintas. Sekilas Calistha tidak bisa mengenali gambar orang-orang yang terekam oleh kamera cctv itu karena gambarnya yang tampak tidak terlalu jelas. Namun setelah jari telunjuk Malfoy berhenti di sebuah gambar mirip anak kecil berbaju hijau daun, seketika Calistha berbisik pelan di depan wajah sedingin es milik Malfoy.


            “Luciana? Ini Luciana?” Tanya Calistha setengah tak percaya. Akhirnya mereka memiliki sedikit petunjuk mengenai keberadaan gadis kecil itu. Dan ternyata dugaan Aiden benar jika komplotan Emilylah yang saat ini sedang menculik Luciana untuk memancingnya keluar.


            “Jelaskan padaku siapa pria yang membawa Luciana pergi?”


            “Aku tidak tahu, tapi kemungkinan itu adalah anak buah Emily.”


            “Aku tidak mengenal Emily dan tidak pernah berurusan dengannya. Jadi bukankah dugaanku benar jika kalian yang telah menyeret Luciana kedalam masalah kalian yang rumit. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Luciana, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian.” Ucap Malfoy penuh ancaman. Calistha tampak


diam dengan kemarahan yang ditunjukan Malfoy di depannya, namun dalam hati ia berjanji pada Malfoy jika ia akan membawa Luciana dalam keadaan baik-baik saja di hadapan pria itu.


            “Aku tahu dimana Emily, aku akan menghubunginya.”


            “Dimana Aiden, aku tidak ingin tindakanmu menghubungi Emily akan berdampak buruk pada Luciana. Setidaknya kita harus membicarakan hal ini terlebihdahulu pada Aiden.”


            “Aku tidak tahu dimana keberadaannya, ia pergi satu jam yang lalu untuk mencari Luciana.” Ucap Calistha jujur. Bahkan saat ini ia sangat mengkhawatirkan keadaan pria itu karena sejak tadi pria itu tak kunjung memberinya kabar. Padahal ia sangat berharap Aiden menghubunginya dan memberinya kabar baik mengenai Emily.


            “Apa kau yakin akan menunggu Aiden dan membiarkan Luciana terus disembunyikan Emily tanpa kepastian? Kita harus bergerak sendiri tanpa Aiden.” Putus Calistha tiba-tiba. Malfoy tampak tidak menyukai ide nekat Calistha yang terdengar gegabah itu. Namunn ia sendiri tak bisa menunggu lebih lama hingga Aiden


kembali karena setiap detik nyawa Luciana saat ini sedang dipertaruhkan. Jika mereka sedikit saja terlambat untuk menyelamatan gadis kecil itu, tak menutup kemungkinan Emily akan bersikap lebih bengis pada Luciana.


            “Percayalah padaku, aku tidak akan mengecewakanmu.” Ucap Calistha penuh kesugguhan. Malfoy kemudian mengangguk samar dan segera membawa Calistha turun untuk segera mencari Luciana, dimanapun gadis itu berada.