
Wanita itu meniup kopinya perlahan sambil menatap kosong kearah jendela kafe yang tidak sedikitpun menampilkan pemandangan yang mengagumkan selain pemandangan gelap dan jalanan basah yang baru saja diguyur hujan. Pekerjaannya hari ini begitu berat dan memusingkan hingga ia merasa hidup ini terlalu sulit untuk dijalaninya sendiri. Ketika ia tengah sendiri seperti ini, maka semuanya akan seperti sebuah roll film yang sedang menampilkan sebuah drama paling menyakitkan dalam hidupnya. Ayahnya... sudah lebih dari lima bulan ia melacak keberadaan ayahnya dimanapun pria tua itu meninggalkan jejak keberadaannya, namun entah kenapa ayahnya begitu licin. Setiap ia memerintahkan para detektif sewaannya untuk mendatangi tempat-tempat yang didatangi oleh ayahnya, mereka selalu hanya membawa kegagalan di hadapannya. Sedangkan ia sendiri lebih sering merasa geram pada dirinya karena ia tidak bisa berpaling sedikitpun dari pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan televisi milik ayahnya. Hanya perusahaan itu yang masih tersisa dan masih bersih dari campur tangan orang-orang yang hendak mengkhianati ayahnya karena sejak awal ia memberikan pengawasan ketat di sana. Satu-satunya perusahaan yang sangat ingin ia miliki sejak lama selalu mendapatkan perhatian penuh darinya hingga ia mampu mengendalikan perusahaan itu sampai detik ini. Lalu pria itu, entahlah... terkadang ia merasa merindukan pria itu. Sekarang ia benar-benar sendiri tanpa seorangpun yang peduli padanya. Terkadang ia merindukan saat pria itu berperan sebagai seorang kakak yang melindunginya, lalu seorang kekasih yang begitu manis, dan seorang sniper yang begitu berbahaya. Kesendirian ini terasa begitu menyiksa batinnya setelah selama berminggu-minggu ia menghabiskan waktu bersama pria itu, mempertaruhkan nyawa demi mencari rahasia milik ayahnya yang begitu
menyebalkan. Hah, Calistha merasa muak dengan hidupnya. Terlebih lagi namanya menjadi semakin melejit karena semua stasiun televisi membicarakan dirinya sebagai seorang putri Im Seoulong yang terberkati karena berhasil selamat dari insiden mengerikan itu. Tapi setelah itu, ia merasa hidupnya tidak terberkati. Justru kecemasan mulai timbul di hatinya. Cemas akan masa depannya yang tidak pasti karena ia tidak memiliki orang-orang yang akan melindunginya seperti dulu. Meskipun sebenarnya ia mampu untuk melindungi dirinya sendiri untuk saat ini karena ia telah mendapatkan banyak pelajaran hidup dari ayahnya. Tapi ia tetap saja seorang wanita normal yang menginginkan seorang pendamping, seseorang yang akan melindunginya, dan seseorang yang akan selalu ada disaat ia mendapatkan banyak masalah seperti ini.
“Maaf, tagihan anda. Kafe kami akan tutup sepuluh menit lagi.”
Calistha langsung berjengit kaget sambil memandang linglung kearah pelayan yang masih setia berdiri di sebelahnya sambil memberikan senyum setengah mengantuk karena shift kerjanya yang terlalu panjang.
“Berapa yang harus kubayar?”
“Lima belas ribu won.”
Calistha segera merogoh tas tangan berwarna maroonya sambil memberikan gestur pada sang pelayan agar menunggu. Seingatnya ia meletakan dompetnya di dalam tas. Namun hingga dua menit berlalu dan wajah sang pelayan sudah terlihat bosan, ia belum juga menemukan dimana keberadaan dompetnya. Akhirnya ia mencoba untuk merenung sekali lagi, mengingat-ingat dimana terakhir kali ia meletakan dompetnya. Dan sedetik kemudian ia mendapatkan kembali ingatannya dan meminta sang pelayan untuk menunggu sekali lagi karena ia harus mengambil dompetnya di dalam mobil. “Dompetku berada di dalam mobil, aku akan mengambilnya terlebihdulu. Kau bisa menahan kartu identitasku sebagai jaminan.” Dengan gerakan yang tergesa-gesar, Calistha meletakan kartu identitasnya di atas meja dan segera berjalan keluar kearah mobilnya yang terparkir tepat di depan kafe yang baru ia singgahi hari ini. Sebenarnya ia sedang ingin mencoba hal-hal baru untuk mengalihkan pikirannya dari banyaknya masalah yang terlalu memusingkannya. Tapi ternyata tetap saja ia akan membawa pulang semua masalahnya itu hingga ke apartemennya dan membiarkan semuanya menumpuk di sana.
“Ck, seharusnya aku tidak lupa untuk memasukannya ke dalam tas lagi.” gerutu Calistha kesal. Ia benar-benar lupa jika sebelum singgah ke kafe ini ia sempat berhenti di tempat pengisian bensin untuk mengisi bahan bakar mobilnya. Dan karena terlalu bersemangat untuk mencoba kafe baru yang tak sengaja ia temukan beberapa jam yang lalu, ia menjadi lupa dengan dompetnya yang begitu penting ini. Calistha mendesah gusar dengan banyaknya kebodohan yang telah ia lakukan hari ini. Masalah yang menimpanya benar-benar menjadi ancaman untuk kelancaran hidupnya yang praktis menjadi tak beraturan sejak insiden itu terjadi.
“Ini uangnya, maaf membuatmu menunggu lama.”
Sekembalinya dari mengobrak-abrik isi mobilnya demi sebuah dompet berwarna hitam pemberian ayahnya dua tahun yang lalu, Calistha langsung mengambil kartu identitasnya yang masih tergletak dari atas meja. Ia lalu menahan tangan sang pelayan yang hendak memberinya uang kembalian sambil menggeleng pelan. Pelayan itu berhak mendapatkan uang tip untuk kesabarannya dalam menunggu seorang pelanggan yang tak tahu diri
sepertinya. “Kopi buatanmu enak, aku mungkin akan datang lagi ke sini lain waktu.” ucap Calistha sebelum melangkah keluar dari pintu kafe. Sekilas Calistha melihat pelayan itu membungkuk kerahanya, namun atensinya kini tak lagi tak tertuju pada wanita itu. Ada hal lain yang membuatnya kini justru merasa terpaku di tempat. Beberapa kali Calistha mencoba memastikan pandangan matanya yang mungkin telah berubah mengabur karena banyaknya hal yang membuatnya lelah hari ini. Namun sebanyak apapun ia mencoba untuk melebarkan matanya, sebanyak itu pula itu mendapatkan keyakinan jika ia memang tidak salah. Dengan langkah tergesa-gesa ia menghampiri mobilnya dan segera berjongkok di sisi kanan badan mobilnya. “Hey, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” Calistha mencoba menyentuh pundak seorang pria yang sedang menyandar di sisi bannya dengan napas yang masih memburu tak beraturan. Pria itu saat ini sedang menunduk dengan erangan lirih yang berhasil membuat Calistha mengernyit dalam sambil menatap was was kearah jalanan sepi yang tidak menampakan apapun selain keheningan.
“Apakah ini takdir atau hanya sebuah kebetulan?”
Calistha mengernyit heran saat mendengar suara pria itu mengalun serak. Ia cepat-cepat menunduk kearah pria itu dan segera melebarkan matanya tak percaya setelah melihat sebuah keajaiban yang hampir-hampir tidak pernah ia percayai sebelumnya. “Aiden? Kau, bagaimana bisa?” tanya Calistha dengan mimik tak percaya dan juga khawatir disaat bersamaan. Ia lantas membantu Aiden berdiri dan segera membukakan pintu mobilnya untuk Aiden. Dan sebelum ia berlari-lari memutari mobilnya untuk menduduki kursi pengemudi, ia sempat melirik kearah permukaan kaca kafe yang sedang menampilkan sosok sang pelayan yang sedang berdiri sambil mengamatinya. Sedikit was-was, akhirnya Calistha segera membanting pintu mobilnya keras dan membawa mobilnya cepat meninggalkan halaman kafe yang sangat sepi malam ini.
“Kemana saja kau selama ini? Apa yang terjadi denganmu?” Calistha bertanya khawatir sambil sesekali menoleh ke belakang untuk melihat kondisi Aiden yang masih sama seperti sebelumnya. Pria itu tengah mengerang pelan sambil kedua matanya tak fokus karena bergerak kesana kemari.
“Aku akan membawamu ke rumah sakit.” putus Calistha setelah ia tak mendapatkan jawaban apapun dari Aiden selain erangan yang terdengar mengkhawatirkan. Sejujurnya ia tidak yakin jika Aiden mungkin mendapatkan luka tembak atau apa karena kenyataannya ia tidak melihat adanya darah yang berceceran di sana. Tapi rintihan pria itu membuatnya semakin tak tenang hingga akhirnya ia terpaksa untuk menghentikan mobilnya di tepi jalan agar ia bisa melihat kondisi Aiden secara langsung.
“Beritahu aku sesuatu, kau kenapa?” ulang Calistha gemas. Aiden yang sebelumnya masih menikmati rasa sakit yang menikamnya, seketika mendongak sambil merintih kesakitan untuk yang ke sekian kalinya. “Arrgghh... seseorang akan membunuhku, ia membubuhkan racun di makananku.”
“Apa!” Calistha memekik keras, lantas menginjak pedal gasnya kuat-kuat agar mereka segera tiba di rumah sakit terdekat. Samar-sama Calistha mendengar suara batuk dan bunyi muntahan beberapa kali dari Aiden yang membuat Calistha tak bisa fokus menjalankan laju mobilnya. Beberapa mobil yang sekiranya menghambat laju mobilnya yang kencang langsung mendapatkan serangan klakson dari Calistha hingga jalanan malam ini terasa
“Kita sudah sampai, ayo turun!” teriak Calistha sambil melepaskan sabuk pengamannya asal. Dilihatnya Aiden sudah tak lagi mengerang kesakitan seperti sebelumnya, namun dari mulut pria itu keluar cairan putih berbuih yang membuat Calistha merasa ngeri saat melihatnya. Dengan heboh Calistha menarik salah satu perawat yang kebetulan melintas di depannya dan segera memintanya untuk menurunkan Aiden yang sudah tak sadarkan diri di kursi penumpang.
“Dia keracunan, cepat tolong dia!”
Perawat itu seketika menjadi panik saat melihat kondisi Aiden yang jauh dari kata baik-baik saja. Ditambah lagi dengan buih menjijikan yang terus keluar dari mulut Aiden, meskipun pria itu sedang dalam tak sadarkan diri. Perutnya sedang menolak sesuatu yang sangat membahayakan untuk masuk lebih jauh ke dalam pencernaannya. Segerombolan perawat dan satu orang dokter tiba-tiba datang sambil membawa blankar untuk membawa Aiden ke dalam ruang UGD. Dokter itu harus bekerja keras untuk menguras racun yang tertelan oleh Aiden sebelum pria itu pergi untuk selama-lamanya.
Calistha langsung terduduk sedih melihat tubuh lemah Aiden yang telah dimasukan ke dalam ruang UGD. Saat-saat seperti ini adalah hal yang paling ia inginkan sejak lima bulan yang lalu. Aiden, pria yang tidak pernah absen dari kepalanya dan selalu berada di dalam kepalanya hingga ia merasa selalu pusing jika memikirkan keberadaan pria itu. Rasanya doa juga tak pernah berhenti ia rapalkan untuk keselamatan pria itu agar suatu saat mereka dapat bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Tapi kemudian malam ini Tuhan memberinya kejutan dengan kemunculan tiba-tiba pria itu dengan racun yang bersarang di perutnya. Ia ingin protes pada Tuhan, karena bukan cara seperti ini yang ia inginkan untuk bertemu dengan Aiden. Tapi sudahlah, toh akhirnya ia dapat bertemu pria itu lagi, melihat dari jarak yang sangat dekat, bahkan dapat menyentuhnya seperti dulu. Jika dipikir-pikir ini adalah kali pertama ia merasa sangat payah karena seorang pria. Sebelumnya ia tidak pernah sempat memikirkan
seorang pria lebih dari dua jam karena ayahnya akan selalu membanjiri otaknya dengan latihan, latihan, dan latihan yang tidak pernah ada habisnya. Tapi, Aiden adalah pria yang berbeda. Wanita mana yang tidak akan meleleh hatinya saat dihadapkan pada pria dingin nan cuek, namun memiliki sisi peduli yang begitu manis. Bahkan pria itu rela mati untuknya demi sebuah misi bodoh yang dengan sengaja diciptakan oleh orang ***** yang hanya ingin menguasai harta milik ayahnya. Beruntung mereka berdua masih selamat dari peristiwa paling sialan sepanjang masa dan dapat memiliki lagi kehidupan mereka yang berantakan.
“Nona, apa kau keluarga dari pria itu?”
“Hah?” Calistha mendongak linglung kearah wanita itu sambil mengucek matanya yang terasa perih karena efek mengantuk. Beberapa kali ia terus menguap hingga kini matanya telah berair dan tampak cukup merah.
“Kau keluarga pasien dari pria yang keracunan di dalam?”
“Oh iya, apa yang terjadi padanya?” tanya Calistha berubah panik. Ia baru sadar jika perawat itu saat ini sedang menatapnya dengan tatapan malas.
“Tolong selesaikan administrasinya di loket administrasi di depan.”
“Bagaimana kondisinya sekarang?” kejar Calistha sebelum perawat itu pergi meninggalkannya. Sekilas Calistha dapat melihat perawat itu menghela nafas sejenak, sedikit mengintip dari celah pintu ruang UGD yang sedikit terbuka. Ia lalu menoleh kearah Calistha dengan senyuman lembut. “Kau harus bersyukur karena pria itu masih dapat diselamatkan setelah dokter memompa perutnya agar racun itu keluar dari tubuhnya. Dan
beberapa saat yang lalu ia sempat sadar, ia menanyakan seseorang yang bernama Calistha. Apa itu kau?” tanya perawat itu dengan wajah menyelidik. Calistha mengangguk samar sambil dalam hati merapalkan banyak-banyak ucapan terimakasih pada Tuhan. Akhirnya pertemuannya dengan Aiden tidak benar-benar berjalan buruk. Mungkin Tuhan hanya akan memberinya kejutan setelah berbulan-bulan ia merasakan hidupnya sangat hampa hingga ia nyaris tak memiliki semngat hidup. Sekarang ia bagai tersengat listrik berkekuatan ribuan volt, namun itu ampuh untuk membangkitkan semangat dalam jiwanya yang sempat meredup.
“Jadi kapan ia akan dipindahkan ke kamar rawat?”
“Mungkin besok pagi, hari ini dokter akan mengawasinya untuk melihat apakah masih ada racun lain yang tertinggal di tubuhnya.”
“Baiklah, terimakasih banyak suster... Han.” ucap Calistha tulus setelah ia sedikit menyipitkan matanya untuk mengeja nama dari nametag wanita itu. Ia kemudian kembali ke kursi tunggu di depan ruang UGD dan mulai memosisikan dirinya untuk tidur. Kemarin malam ia hanya tidur selama dua jam, dan sekarang ia merasa matanya sangat berat untuk terbuka, seperti ada ribuan ton lem yang memenuhi area matanya. Sejenak ia sempat memikirkan proses administrasi yang seharusnya ia lakukan untuk Aiden. Tapi matanya justru menolak untuk diajak berkompromi dan ia akhirnya benar-benar jatuh tertidur di atas kursi tunggu pasien dengan tangan yang saling memeluk tubuhnya untuk menghalau hawa dingin yang terus berhembus dari jendela besar di ujung lorong.