The Sniper

The Sniper
Finding Luciana (Twenty One)



        Aiden mendatangi markas tempat penembakan Luca sambil berdecih sinis pada dua orang penjaga yang sedang berlalu lalang di depan pintu masuk markas. Ia tahu, kini penjagaan pasti semakin diperketat seiring dengan penyerangan yang dialami Luca dan berbagai kekacauan yang saat ini sedang terjadi.


            “Apa yang kau lakukan di sini, kau ingin cari mati?” Tanya salah satu penjaga itu remeh. Ia tampak tersenyum sinis pada Aiden sambil melemparkan tatapan mencemoohnya. Aiden yang tampak tenang, hanya menunjukan wajah datarnya tanpa ingin sedikitpun terprovokasi pada mereka. Tujuannya datang ke sana bukan untuk beradu mulut dengan para orang-orangan rendahan itu. Tujuannya datang untuk mencari Luciana agar ia dan Calistha dapat segera terbebas dari tuduhan Malfoy yang tak berdasar pada mereka.


            “Aku ingin bertemu Emily, katakan padanya aku ingin berbicara.”


            “Ohh... suatu kebetulan yang sangat tidak disangka-sangka, selamat datang Aiden, apa kabar?”


            Seorang wanita dengan wajah sinis tiba-tiba muncul sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Rania, wanita itu muncul dengan gaun mini berbelahan dada sangat rendah yang tampak tidak muat untuk menampung dada besarnya yang berhasil membuat kedua penjaga itu menatapnya dengan pandangan kelaparan. Aiden lalu berdecih pelan sambil meremehkan Rania. Jalang tetaplah jalang, dimanapun mereka berada, sikap mereka tidak akan pernah berubah.


            “Dimana Emily, jangan libatkan Luciana jika yang ia incar hanya aku dan Calistha.”


            “Oh.. jadi gadis kecil itu bernama Luciana?” Ucap Rania dengan gaya bicara yang sangat menyebalkan. Namun Aiden tetap saja menunjukan wajah datar tanpa ingin benar-benar terprovokasi oleh ucapan remeh Rania. Sejak Malfoy datang memberikan kabar mengenai menghilangnya Luciana, ia sudah menduga jika dalang dibalik penculikan gadis kecil itu adalah Emily dan komplotannya. Namun sebelum ia benar-benar bergerak ke markas ini, ia telah mengumpulkan berbagai macam informasi dari rekan-rekannya yang seorang hacker untuk mengecek setiap kamera cctv yang terpasang di sudut-sudut kota London. Dan hasilnya, Luciana memang diculik oleh seorang pria asing yang wajahnya sebagian besar tertutupi oleh tudung jaket. Namun saat Jared mengidentifikasi pupil matanya, ia dapat melacak siapa sebenarnya pria misterius yang membawa Luciana pergi. Penculik gadis


kecil itu adalah Andrew, seorang mantan narapidana yang telah dibebaskan sejak lima tahun yang lalu. Setelah tindakan asusilanya pada lima orang wanita terungkap, Andrew langsung dijatuhi hukuman oleh hakim untuk menghabiskan hidupnya di penjara selama lima belas tahu. Dan setelah ia dinyatakan bebas, ia kemudian mengenal Emily, orang pertama yang datang mendekatinya saat ia sedang terduduk sendiri di bawah lampu lalu lintas kota London dengan perasaan bingung, karena ia tidak memiliki tujuan dan juga uang untuk membeli makanan. Jadi sekarang apapun perintah yang diberikan Emily, Andrew berusaha selalu siap untuk melakukannya karena ia merasa berhutang budi pada wanita itu. Bisa dikatakan jika Emily seperti seorang penyelamat dalam kehidupannya yang suram itu.


            “Gadis kecil itu bersama Emily, tapi urusanmu adalah denganku, jadi kau tidak perlu mempermasalahkan Luciana. Calistha dan rekannya, sedang dalam perjalanan untuk menjemput gadis kecil itu.”


            “Sial!”


            Aiden berdecih sendiri dan mulai terlihat kehilangan fokus. Ia memikirkan Calistha dan kemungkinan ia pergi bersama Malfoy yang akan menjadi tidak aman untuknya. Padahal sebelum ia pergi, ia telah berpesan pada wanita keras kepala itu agar jangan pergi kemanapun. Ia juga telah mengunci seluruh akses di rumahnya agar Calistha tidak dapat keluar kemanapun. Tapi mungkin ia terlalu meremehkan Calistha selama ini, dan menganggap jika wanita itu tidak akan bisa keluar begitu saja dari pengamanan ketat di rumahnya.


            “Aku tidak memiliki urusan denganmu Rania, jangan coba-coba menantangku jika kau ingin tetap hidup.”


            Aiden kemudian segera berbalik dan berniat untuk pergi, namun dua orang penjaga itu telah lebih dulu menghadangnya sambil menunjukan seringaian mereka yang memuakan.


            “Aku tetap tidak akan melepaskanmu Aiden hingga dendamku benar-benar terbalaskan. Kau pembunuh kakakku.” Teriak Rania dramatis disusul dengan serangan bertubi-tubi dari kedua penjaga bertubuh kekar itu. Aiden dengan sigap menangkis serangan mereka dan segera mengeluarkan pisau lipatnya dari dalam saku celananya. Tak ada kata ampun lagi untuk saat ini. Semua orang yang berani melawannya, harus mati saat ini juga. Bahkan Rania, ia tidak peduli lagi pada janjinya dengan Hannah. Yang jelas selama ini ia telah berusaha untuk menepati


janjinya pada wanita lemah lembut itu, sayangnya adiknya itu terlalu naif dengan kebaikan yang telah ia berikan selama ini.


Bugh bugh


            Aiden menyikut tengkuk pria kekar itu satu persatu hingga mereka tumbang dengan raut wajah kesakitan yang tercetak jelas di wajah mereka. Ditambah lagi luka sayatan yang berhasil digoreskan Aiden di beberapa lengan mereka, berhasil membuat mereka lebih mudah untuk ditumbangkan. Melihat itu, Rania segera maju sambil mengarahkan moncong pistolnya kearah Aiden. Ia tahu jika dua penjaga lemah itu bukan tandingan Aiden, namun ia hanya menggunakan dua penjaga bodoh itu untuk mengulur waktu agar ia dapat menyiapkan senjatanya untuk membunuh Aiden saat ini juga.


            “Meskipun kau berhasil mengalahkan mereka, namun kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Aku telah menunggu saat-saat ini dengan sangat lama Aiden. Bahkan aku rela menjadikan diriku sendiri budak seks untuk pria-pria yang kutemui selama ini agar aku memiliki jalan untuk bertemu denganmu. Jadi kesempatan ini tidak akan kusia-siakan begitu saja, kau harus mati di tanganku.”


            Aiden masih tampak terengah dengan pertarungannya yang tidak imbang bersama dua penjaga idiot itu. Dan kemunculan Rania saat ini dengan dendam membara di kedua mata indahnya membuat Aiden hanya mampu mendecih remeh pada wanita itu. Pistol adalah temannya, ia sama sekali tidak takut dengan gertakan yang saat ini


dilayangkan Rania untuknya. Jika ia mau, ia akan melemparkan pisau lipatnya tepat mengarah pada jantung wanita naif itu. Hanya saja saat ini ia ingin sedikit bermain-main untuk mempermainkan wanita bodoh itu sebelum ia menghabisinya tanpa belas kasihan.


            “Aku telah berusaha untuk menepati janjiku pada Hannah, tapi kau tetap saja keras kepala dan terlalu naif.”


            “Cih, kau seorang penipu. Kakaku yang bodoh itu menjadi semakin bodoh karena kau berhasil mencuci otaknya dengan baik. Hannah mencintaimu, ia rela memberikan semua hal yang ia miliki padamu tanpa pernah benar-benar berpikir jika kau sebenarnya hanya memanfaatkan tubuhnya untuk kepuasanmu semata.”


            “Bukankah tugas seorang jalang memang memuaskan gairah teman tidurnya?” Tanya Aiden mengejek. Cara paling ampuh untuk membuat lawannya lengah adalah dengan membuat emosi mereka semakin tidak stabil, dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang mereka saat smua emosi itu telah menguasai mereka. Aiden telah mempelajari hal ini sejak lama. Saat di champ pelataihan, para pelatihnya selalu mengajarkan teknik mempermainkan emosi untuk mengecoh para musuhnya. Dan untuk wanita yang memiliki tingkat emosi yang sangat tinggi, hal seperti ini sangat sangat mudah untuk dilakukan.


            “Brengsek! Kau memang brengsek sejati yang harus pergi ke neraka, Hannah tidak pantas mendapatkan penghinaan sebesar ini darimu.”


            “Oleh karena itu aku segera melenyapkannya. Ia tidak pantas hidup di dunia yang kotor ini, dan ia juga tidak pantas memiliki adik sepertimu.”


Dor!


            Rania menarik pelatuknya asal dan berhasil mengenai bahu kiri Aiden. Darah perlahan-lahan merembes dari kemeja hitam yang digunakan oleh Aiden, lalu menetes-netes ke atas permukaan aspal berwarna kelabu. Pemandangan tertembaknya Aiden itu sungguh dramatis jika dilihat oleh orang awam, karena Rania menembaknya dengan seluruh emosi yang ia miliki, sedangkan Aiden tetap saja mempertahankan wajah datarnya yang semakin membuat emosi Rania kian memuncak.


            “Hanya seperti itu keinginanmu untuk membunuhku? Kau bahkan hanya menggores lengan kiriku saja, tidak sampai membuatku tumbang dengan peluru ini.” Ucap Aiden mencemooh.


            “Tutup mulutmu! Aku ingin membuatmu merasakan sakit perlahan-lahan, kematian yang terlalu cepat sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh kakaku.”


            “Terserah, lakukan apapun sesukamu, tapi semua itu tidak akan pernah membuatmu puas karena meskipun kau berhasil membunuhku, Hannah tidak akan pernah hidup kembali.”


            Rania menggeram marah di tengah-tengah kediamannya. Meskipun perasaan puas itu telah menyusup sedikit kedalam hatinya karena ia berhasil melukai seorang Aiden, namun tetap saja keinginan untuk membunuhnya jauh lebih besar. Apapun yang terjadi Aiden harus mati di tangannya. Ia harus melenyapkan Aiden, sama seperti saat pria itu melenyapkan kakaknya tanpa belas kasih.


            “Aku tidak peduli pada Hannah, yang kuinginkan adalah kematianmu Aiden!”


Dorr


            “Arghh....”


            Rania jatuh terduduk di atas tanah yang berdebu dengan betis yang tampak terluka cukup dalam. Sebuah pisau lipat masih menancap di permukaan betisnya yang terbuka, dan membuatnya semakin meringis kesakitan saat ia berusaha untuk kembali berdiri tegak. Sementara itu, Aiden sedang menyeringai sinis dari tempatnya berdiri karena ia berhasil melemparkan pisau itu sebelum Rania dapat melukainya dengan teknik menembaknya yang sangat amatir. Tentu ia tidak akan bisa dikalahkan dengan mudah, ia hanya ingin mempermainkan Rania.


            “Sudah kubilang untuk jangan coba-coba menguji kesabaranku. Aku telah memberimu banyak kesempatan untuk pergi sejauh-jauhnya, dan hidup dengan lebih baik, tapi kau justru membuatku semakin muak padamu. Kau harus menyusul Hannah secepatnya.”


Dor


            Aiden mengeluarkan pistol hitam dari balik punggungnya dan segera menembak Rania tepat di tungkai kirinya. Kini Rania benar-benar tidak bisa lagi berdiri tegak untuk menopang tubuhnya. Kedua kakinya terasa benar-benar sakit, hingga rasanya ia ingin mengakhiri penderitaan ini sekarang juga. Meskipun pasrah bukanlah gayanya, namun jika harus memilih antara hidup dan mati, ia ingin segera mati


saat ini juga.


            “Dimana Emily menyembunyikan Luciana?”


            Aiden berdiri menjulang di hadapan Rania yang tampak tak berdaya dengan kaki bersimbah darah. Posisinya saat ini sangat menyedihkan, karena tak ada satupun anak buah Emily yang tergerak untuk membelanya. Bahkan dua orang penjaga markas yang tadi telah babak belur dihajar oleh Aiden, tampak tak bergeming sedikitpun untuk membantu Rania. Emily sepertinya hanya ingin memanfaatkan Rania untuk menjauhkan Aiden dari Calistha, karena dengan begitu, misinya untuk melenyapkan Calistha akan lebih mudah.


            “Aku tidak tahu!”


            “Huh, jangan membuat kesabaranku habis jalang!”


            “Aaakkhhh....”


            Aiden menginjak tungkai terluka Rania dengan kakinya sambil menunjukan wajah bengisnya yang selama ini selalu ia tunjukan pada para targetnya yang akan segera mati. Sudah dipastikan jika hari ini akan menjadi hari terakhir bagi Rania untuk menghirup udara segar di dunia yang kejam ini.


            “Katakan dimana Luciana sekarang?”


            “Aku tidak akan memberitahumu, meskipun kau menyakitiku hingga aku mati, aku tidak akan memberitahumu!” Teriak Rania keras di sela-sela rasa sakit yang begitu menusuk di betis dan juga tungkainya. Aiden memang pria berdarah dingin jika itu menyangkut targetnya. Tidak akan ia biarkan rasa belas kasihan itu menyusup sedikitpun ke dalam hatinya, karena pekerjaan ini tidak pernah mengenal belas kasihan.


            “Katakan Rania, atau kau ingin peluruku ini menembus lenganmu?” Gertak Aiden. Rania tampak mencemooh sambil meludah kasar di sebelah kaki Aiden. Ia tidak sudi menurunkan harga dirinya hanya untuk seorang Aiden. Sampai kapanpun, ia tidak akan pernah memberitahu Aiden dimana keberadaan Luciana.


Plakk


            “Dasar wanita keras kepala!”


            Rania jatuh tersungkur di atas tanah berdebu setelah Aiden menampar wajahnya dengan keras. Darah segar kemudian menetes dari sudut bibir Rania setelah telapak tangan Aiden yang keras berhasil menghantam pipinya, dan membuat sudut bibirnya membentur aspal jalanan yang keras.


            “Bertahanlah selagi kau bisa, karena aku akan terus menyiksamu hingga kau mengatakan dimana keberadaan Luciana.”


            Aiden menarik rambut Rania kasar yang telah terkotori oleh debu jalanan, dan juga karena darah yang bercecer di permukaan aspal. Aiden tidak segan-segan untuk menyiksa korbannya hingga mereka memohon kematian mereka sendiri padanya.


            “Akkhhhhh! Aiden, kau tidak akan mendapatkan apapun dariku.”


Slap


            Setelah Aiden mencabut paksa pisau yang bersarang di betis Rania, Aiden kembali menancapkan benda tajam itu ke pundak kanan Rania hingga wanita itu menjerit keras dengan suara memilukan yang sangat menyayat hati. Sayangnya tidak ada satupun yang berniat untuk menolong Rania dari siksaan kejam Aiden. Anak buah Emily seperti menulikan telinga mereka untuk seorang wanita malang seperti Rania. Kali ini Rania benar-benar akan habis di tangan Aiden.


            “Teruslah bertahan dengan egomu, karena perlahan-lahan tubuhmu ini koyak, tulang-tulangmu akan patah, dan kau akan memohon-mohon kematianmu di bawah kakiku. Jadi katakan sekarang, dimana keberadaan Luciana!” Teriak Aiden berang. Suara teriakan kesakitan Rania semakin keras seiring dengan tangan kanan Aiden yang menekan semakin dalam ujung pisaunya yang saat ini bersarang di pundak kanan Rania. Wanita itu kemudian jatuh begitu saja di atas aspal dengan wajah penuh air mata yang tidak lagi bisa menahan rasa sakit yang telah meremukan seluruh tubuhnya, bahkan hatinya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Rania selain menyerah di


bawah kaki Aiden, ia sudah tidak bisa lagi menahan seluruh kesakitan ini lebih lama. Ia ingin mati saat ini juga, menyusul ayah, ibu, dan juga kakaknya yang telah terlebihdahulu meninggalkannya di dunia yang kejam ini.


            “Il... Ilder...”


            “Katakan dengan jelas!” Bentak Aiden tak berperasaan. Susah payah Rania mencoba mengangkat wajahnya agar dapat bertatapan langsung dengan wajah bengis Aiden yang tanpa ekspresi itu. Untuk terakhir kalinya ia akan merekam wajah itu di dalam otaknya, lalu ia bersumpah akan mencari Aiden di neraka untuk membalaskan semua dendamnya selama ini.


            “Illl... Ilderton... Emily... me menyembunyikan gga gadis itu ddi di sana.”


Dorr!


            Tubuh Rania langsung terhempas begitu saja di atas aspal dengan kepala berlubang dan


mata yang tampak melotot dengan sangat mengerikan. Seharusnya sejak dulu ia


menghabisi Rania, tapi karena janji bodohnya pada Hannah, ia harus


membuang-buang tenaganya demi kematian seorang wanita tak berguna seperti


Rania. Dan sekarang Ilderton, ia harus ke sana segera untuk menyusul Calistha


karena mungkin saja wanita ceroboh itu membuat dirinya berada di ambang


kematian lagi seperti sebelumnya.


-00-


            Calistha turun dari mobil jeep milik Malfoy sambil merapikan helai-helai rambutnya yang tertiup angin hingga menutupi pandangan matanya. Mereka akhirnya tiba di Ilderton setelah berputar-putar cukup lama untuk mencari petunjuk keberadaan Luciana. Sekilas Calistha merasa aneh dengan Malfoy. Sebelumnya pria itu mengatakan jika ia hanya seorang pemuda biasa yang tidak pernah terlibat apapun dengan ayahnya. Namun saat ia bertemu dengan Malfoy pagi tadi, semua kepercayaannya pada pria itu menjadi runtuh. Ia tidak percaya jika Malfoy hanyalah pemuda biasa karena pria itu sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya. Dan lagi, bagaimana caranya Malfoy menemukan keberadaan rumah Aiden? Padahal Calistha yakin jika keberadaan rumah Aiden sangat sulit untuk ditemukan oleh orang-orang. Rumah milik Aiden selama ini selalu terlihat seperti rumah kosong yang suram dan berhantu. Malfoy tidak mungkin dapat menemukannya secepat itu, kecuali jika Malfoy memang bukanlah pemuda biasa, seperti yang ia ceritakan selama ini.


           “Mereka menyembunyikan Luciana di dalam.”


            Calistha menatap Malfoy dalam diam dan hanya mengikuti langkah pria itu memasuki gedung tua yang tampak sangat kotor itu. Sepertinya gedung itu dulunya adalah sebuah gudang untuk menyimpan wine dan keju, karena saat Calistha masuk kedalam bangunan tua itu, beberapa botol wine yang telah pecah dan juga kotak-kotak kayu tampak berserakan di setiap sudut ruangan. Calistha refleks menutup lubang hidungnya menggunakan lengan bajunya saat debu-debu yang beterbangan itu mulai menggelitik rongga hidunya hingga terasa gatal dan hampir membuatnya bersin.


            “Bukan.” Jawab Calistha singkat. Bola matanya sejak tadi terus saja menyoroti semua hal yang ia lihat saat ini. Emily ternyata bukan wanita yang elit untuk menyembunyikan mangsanya. Wanita itu nyatanya lebih memilih sebuah gudang kotor tak terpakai sebagai tempat persembunyian. Padahal sebelumnya ia pikir Emily akan


menyembunyikan Luciana di sebuah penthouse milik ayahnya, mengingat jika selama ini aset-aset milik ayahnya telah tersebar di berbagai tempat.


            “Lalu kalian ini apa?”


            Calistha mengernyitkan dahinya dalam saat mendengar kalimat aneh yang baru saja dilontarkan oleh Malfoy. Pria itu mungkin masih jengkel dengan kehadirannya dan Aiden yang tiba-tiba telah merusak kehidupannya.


            “Maaf, sepertinya pertanyaanmu itu sedikit aneh. Aku dan Aiden tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan kerja, jadi kuharap kau tidak lagi menanyakan hal-hal yang tidak penting seputar kami. Lebih baik kita fokus pada Luciana.”


            “Kalian tiba-tiba datang kedalam hidupku dan Luciana, lalu kalian membawa kekacuan. Kalian pasti bukan warga sipil biasa.”


            Calistha mencoba mengabaikan sikap Malfoy yang berubah menyebalkan dengan berbagai tuduhan yang dilayangkan pria itu padanya. Meskipun sebenarnya pria itu benar, ia bukan warga sipil biasa. Bahkan Aiden adalah sniper. Lalu apa yang akan ia lakukan jika mereka berdua adalah seorang buronan? Khususnya dirinya karena semua orang saat ini sedang mencari harta milik ayahnya yang entah tersembunyi dimana lagi.


            “Malfoy, bisakah kau diam dan tidak berisik. Mereka bisa saja menemukan kita di sini karena mendengar suara berisikmu itu.”


            “Ada apa Calistha, kau merasa terganggu dengan sikapku? Jujurlah padaku kalau begitu, siapa kau sebenarnya?”


Sret


Dugh


            Calistha menatap kedua mata Malfoy tajam dengan kilatan kejengkelan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Akhirnya ia benar-benar kehabisan kesabaran untuk menahan emosinya pada pria memuakan ini.


            “Bukankah sudah kukatakan padamu untuk diam?” Bisik Calistha penuh penekanan. Malfoy tampak tersenyum mencemooh menyaksikan kemarahan Calistha. Wanita itu saat ini tengah menghimpitnya di tembok sambil menekan lehernya, sedangkan satu tangannya yang lain sedang bertumpu di atas kepalanya. Sedikit memiringkan kepalanya, Calistha menyeringai sinis kearah Malfoy.


            “Kau salah jika menganggapku wanita lemah, aku bisa saja mematahkan lehermu sekarang juga.” Bisik Calistha seduktif. Malfoy tampak tidak sedikitpun takut pada Calistha. Pria itu hanya tersenyum sinis, lalu memutuskan untuk mengangkat kedua tangannya sebagai tanda jika ia menyerah.


            “Kita lanjutkan mencari Luciana, anggap saja aku tidak pernah berbicara apapun padamu.” Ucap Malfoy akhirnya. Sikapnya tadi jelas-jelas sangat kekanakan dan tentu saja buang-buang waktu. Lagipula ia juga tidak menyangka jika Calistha dapat berubah menjadi wanita semengerikan itu.


            “Kau membawa senjata?”


            “Untuk apa?” Tanya Malfoy tanpa sedikitpun menatap kearah Calistha. Tiba-tiba Calistha berhenti dan membuat Malfoy juga ikut menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang, kearah Calistha yang sedang terdiam tanpa kata.


            “Kau bisa berkelahi dengan tangan kosong?”


            “Akan kucoba.”


            “Kalau begitu ayo jalan.”


            Calistha kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa menghiraukan Malfoy yang sedang menatapnya tajam dibalik punggung kecilnya. Dengan ekspresi wajah datar tak terbaca, Calistha terus melangkah tanpa gentar. Tidak apa-apa jika hanya Malfoy yang melihatnya. Aiden tidak ada di sini, jadi ia bebas melakukan apapun tanpa perlu khawatir jika Aiden akan melihat sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dari pria itu.


            “Akhirnya kau datang juga, selamat datang Cals.”


            Calistha menghentikan langkahnya sambil melirik kearah atas, tempat dimana sumber suara itu berasal. Emily dengan angkuh menyilangkan tangannya di depan dada, dan tak berapa beberapa pria dengan tubuh kekar keluar dari persembunyian mereka sambil membawa sebuah balok yang sangat besar di tangan mereka masing-masing.


            “Dimana Luciana?”


            “Gadis itu aman, kau tenang saja Cals.”


            “Apa yang sebenarnya kau inginkan Emily? Kukira selama ini kita berteman.” Teriak Calistha geram. Ia tidak tahu jika Emily akan bertindak sejauh ini hanya karena Luca. Ia tahu wanita itu cemburu karena Luca selama ini lebih menyukainya, bahkan Luca tak pernah sedikitpun menghargai pengorbanan Emily untuk bertahan hingga sejauh ini di sisinya.


            “Ya, dulu kita memang berteman, tapi sekarang tidak. Aku ingin melenyapkanmu, habisi mereka!”


            Calistha dengan sigap menangkis serangan yang diarahkan bertubi-tubi padanya dan juga Malfoy. Pria-pria bertubuh kekar itu kompak mengeroyoknya hingga ia nyaris kewalahan. Namun ia sejauh ini dapat mengendalikan keadaan karena ia telah menguasai berbagai macam beladiri. Pukulan demi pukulan ia layangkan pada pria-pria sialan itu sambil sesekali mengamati pergerakan Malfoy. Ia takut jika pria itu tidak bisa melawan membalas serangan-serangan yang dilakukan oleh anak buah Emily. Tapi syukurlah, karena sejauh ini Malfoy masih dapat bertahan, meskipun dengan luka lebam yang satu persatu mulai tampak di wajahnya.


Dor


            “Cukup Emily, waktumu untuk bermain-main telah selesai.”


            Emily menatap terkejut kearah Aiden yang entah datang darimana, tiba-tiba telah berada di tempat yang sama dengan tempatnya berdiri saat ini. Beberapa detik yang lalu pria itu baru saja memberikan tembakan peringatan di udara, dan membuatnya langsung terdiam kaku di tempatnya karena ia tidak memperkirakan kedatangan Aiden di sini. Ia pikir Rania telah berhasil menyingkirkan pria pengganggu ini dari Calistha, tapi ternyata Rania sama sekali tidak becus dalam menjalankan tugasnya.


            “Bebaskan Luciana, dan jangan mengganggu Calistha.”


Dorr dorr


            Aiden membantu Calistha yang kewalahan dengan enam pria bertubuh kekar yang berusaha untuk menyerangnya. Dua orang pria telah berhasil di tembak Aiden dari lantai dua, dan saat ini Calistha masih berusaha untuk menumbangkan empat yang lainnya.


            “Calistha harus mati, ia adalah wanita pembawa sial!”


Dorr


            Lagi-lagi Aiden melepaskan tembakan pada satu pria yang sedang menyerang Calistha. Calistha merasa sangat bersyukur dengan kemuculan Aiden, karena pria itu setidaknya dapat membantunya lolos dari tiga pria bertubuh kekar yang sejak tadi telah berhasil melukai pelipisnya dan juga sudut bibirnya hingga membiru.


Bughh


            “Aaahh.. sialan!”


            Calistha menggeram kesal saat salah satu pria bertubuh kekar itu berhasil memukulnya dan


membuatnya jatuh tersungkur di atas lantai berdebu yang dingin. Ia menyeka hidungnya sebentar yang mengeluarkan darah, lalu segera mengambil sesuatu yang sejak tadi terus ia sembunyikan di dalam saku belakang celananya.


            “Huh, kalian tidak akan pernah bisa membunuhku!”


            Dengan gerakan cepat, Calistha langsung menusuk satu persatu pria itu dengan pisau lipat yang dulu pernah diberikan Aiden padanya. Masing-masing dari pria itu langsung mengerang tertahan saat Calistha berhasil menusuk mereka di perut dan juga lengan. Calistha kemudian menendang kepala salah satu pria yang sudah


kehilangan fokus karena mengalami luka tusukan di perut. Lalu ia menendang tulang kering satu pria yang lain, dan menjadikan pria malang di depannya sebagai tumpuan, sebelum ia melompat dan memberikan tendangan yang lebih keras untuk menjatuhkan satu pria lagi yang masih mencoba untuk menyerangnya.


Dorr dorr dorr


            “Kejar Emily!”


            Calistha berteriak keras pada Aiden yang tiba-tiba kehilangan fokus pada Emily, dan justru berbalik kearah Calistha untuk menghabisi tiga pria yang masih mengerang kesakitan di atas lantai. Sekarang pria-pria itu telah mati, namun Emily berhasil melarikan diri dari gudang tua itu bersama seorang pria yang ternyata telah menunggunya di depan gudang.


            “Dia pergi, kenapa kau justru membiarkannya pergi?” Keluh Calistha kesal sambil mencoba mengatur deru napasnya yang masih memburu. Ia terlihat sama sekali tidak menghiraukan luka-luka yang bersarang di tubuhnya, bahkan ia juga belum menyadari perubahan raut wajah Aiden yang tampak menggelap di sampingnya.


            “Kau melakukan kecerobohan.”


            “Apa?” Tanya Calistha tidak mengerti.


Sret


            Calistha langsung menghindar saat Aiden tiba-tiba mengarahkan pukulan pada wajahnya. Pria itu kemudian semakin maju, meringsek Calistha yang terus saja mencoba mundur sambil menghindari serangan Aiden yang terlihat sangat berbahaya.


            “Aaa Aiden apa yang kau lakukan?” Tanya Calistha bingung. Ia terus saja mencoba mengelak. Namun serangan Aiden yang sama sekali tidak main-main itu membuat Calistha geram hingga akhirnya ia mencoba untuk menahan serangan Aiden sebanyak yang ia mampu.


Bughh


Srett


Bugh


            “Aiden hentikan, ada apa denganmu?” Teriak Calistha geram. Ia terus saja melangkah mundur sambil menahan serangan Aiden yang terus saja diarahkan padanya. Beberapa kali Aiden berhasil menghantam lengannya dan juga telapak tangannya hingga ia terdorong mundur. Lalu pada akhirnya Calistha terpojok di dinding tanpa dapat melakukan apapun untuk melawan Aiden. Calistha akhirnya hanya dapat memejamkan matanya sambil menunggu serangan Aiden yang akan mengarah pada wajahnya.


Bugh


            Calistha membuka matanya sedikit untuk melirik Aiden yang ternyata justru menghantam tembok di belakangnya, alih-alih pria itu seharusnya memukul wajahnya yang telah penuh dengan luka lebam saat ini.


            “Kau membohongiku.” Desis Aiden berbahaya.


            “Aap apa maksudmu Aiden, aku tidak mengerti.” Ucap Calistha dengan mata berkaca-kaca yang tampak ketakutan. Dadanya masih bergerak naik turun tak beraturan, campuran antara lelah, gugup, dan takut pada ekspresi kemarahan Aiden.


            “Kau benar-benar seorang manipulator yang hebat Calistha. Apakah aku perlu memukulmu dulu agar kau segera membongkar semua kebohonganmu ini? Aku tahu Calistha, kau bukan wanita yang lemah. Aku tahu....” Bisik Aiden sekali lagi dengan desisan berbahaya yang berhasil membuat bulu kuduk Calistha meremang. Untuk beberapa saat Calistha masih menunjukan wajah ketakutannya disertai dengan cairan bening yang mulai merembes dari matanya. Namun sedetik kemudian ia merubah ekspresi sedihnya dengan sebuah seringaian sinis yang berhasil membuat seorang Aiden Lee menatapnya dengan raut wajah tak terbaca.


            “Ups... kukira ini memang sudah saatnya aku mengakhiri sandiwara bodoh ini di hadapanmu. Hai Aiden, aku memang bukan Calistha yang lemah, yang selama ini selalu berlindung di balik punggungmu. Aku... lebih dari itu.”


            Calistha balas menatap kedua mata Aiden yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Selama ini ia memang hanya berpura-pura lemah di hadapan Aiden. Sebenarnya di hadapan semua orang ia berpura-pura lemah. Sejak kecil ia telah dilatih oleh ayahnya untuk menjadi wanita yang tangguh. Ia


diberi pelatihan beladiri, menembak, pelatihan untuk menjadi seorang manipulator, dan serangkaian pelatihan lainnya agar ia dapat bertahan hidup di tengah-tengah ritme kehidupan ayahnya yang penuh dengan bahaya ini. Dan beberapa tahun belakangan ini ia mencium gelagat adanya banyak serigala berbulu domba di pihak ayahnya. Semua orang memang selalu memasang wajah manis saat berada di depan ayahnya, namun Calistha tahu jika mereka semua sebenarnya hanya menunggu saat-saat yang tepat untuk menyerang ayahnya. Lalu malam itu tiba-tiba rumahnya diserang oleh sekelompok orang tak dikenal yang berhasil membuat seluruh isi rumahnya porak-poranda. Padahal malam itu ia berniat untuk pergi mencari ayahnya dan bersembunyi bersama-sama untuk menangkap dalang di balik penyerangan itu. Namun sayangnya ia lengah saat Aiden membungkam wajahnya dengan sebuah kain berlapis obat tidur yang berhasil membuatnya tak sadarkan diri. Lalu saat pertama kali ia terbangun, ia telah memikirkan berbagai macam cara untuk kabur dari Aiden. Sialnya, pria itu telah menemukannya


terlebihdahulu dan berhasil membuat kakinya terluka karena tusukan pisau lipat Aiden yang sangat tajam. Setelah itu ia berusaha untuk mengikuti alur permainan Aiden sambil menyelidiki satu persatu misteri yang ditinggalkan oleh ayahnya. Saat itu sejujurnya ia sangat hancur. Melihat rumahnya porak-poranda, lalu ayahnya ditemukan mati mengenaskan di dalam ruang kerjanya. Namun kemunculan Malfoy memberikan sedikit harapan untuk Calistha jika sebenarnya sang ayah belumlah meninggal. Orang yang selama ini memberikan tunjangan untuk Luciana, ia yakin jika itu adalah ayahnya. Dan mungkin saat ini ayahnya sedang bersembunyi di suatu tempat, menunggunya untuk segera mengakhiri perang kekuasaan yang sangat memuakan ini.


            “Sudah berapa lama kau melakukan ini?” tanya Aiden marah sambil mencengkeram dagu Calistha kuat. Wanita itu tampak meringis kesakitan dengan perlakuan Aiden karena saat ini beberapa luka lebamnya juga ikut tertekan karena ulah telapak tangan sialan Aiden. Namun sebisa mungkin ia tetap menunjukan wajah tenangnya


di hadapan Aiden sambil memikirkan jawaban yang sekiranya tidak berisiko akan membuat Aiden semakin marah.


            “Hey... aku telah menemukan Luciana, saatnya pulang.”


            Aiden refleks menoleh kearah Malfoy yang sedang mendekap Luciana dengan erat sambil melambaikan tangannya dari kejauhan. Ia kemudian mendorong dagu Calistha kasar, dan meninggalkan wanita itu begitu saja dengan wajah meringis menahan ngilu disepanjang tulang rahangnya.


            “Kita lanjutkan nanti di rumah, kau berhutang banyak penjelasan padaku.”


            Calistha hanya menatap punggung Aiden yang menjauh dalam diam tanpa sedikitpun ingin menimpali kata-kata Aiden. Ia akan membutuhkan usaha ekstra untuk menjelaskan pada Aiden mengenai sandiwaranya selama ini. Pria itu, pasti akan semakin sulit untuk meletakan kepercayaannya padanya. Padahal salah satu alasannya melakukan semua sandiwara itu adalah untuk mengetahui jati diri Aiden yang sesungguhnya. Saat itu ia terpaksa mengikuti permainan Aiden karena ia merasa sangat tidak berdaya jika harus melawan semua musuh ayahnya sendiri. Dan akhir-akhir ini ia telah merasa yakin untuk memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Aiden karena pria itu memang dapat diandalkan untuk membantunya mengungkap semua misteri yang berkaitan dengan ayahnya.