The Sniper

The Sniper
Blood, Tears, and Poem (Ten)



Gratak gratak gratakk


            Calistha menyeret kopornya susah payah sambil mendengus gusar pada Aiden. Pria itu dengan teganya meninggalkannya sendiri dengan kopor miliknya yang sangat berat karena sebagian besar berisi senjata-senjata milik pria itu. Sedangkan Aiden sendiri tampak sedang berjalan tenang di depannya sambil menikmati pemandangan kota London yang masih cukup indah di malam menjelang pagi ini.


            “Sampai kapan kita akan berjalan? Aku lelah Aiden!” teriak Calistha gusar. Beruntung tidak banyak pejalan kaki yang berlalu lalang di sekitar mereka, sehingga suara teriakan Calistha yang berisik tidak akan mengusik ketenangan orang-orang yang berpapasan dengan mereka di sekitar jalan utama kota London.


            “Kau harus berlatih untuk menjadi wanita tangguh Calistha, jadi jangan banyak merengek seperti bayi.”


            Aiden mencibir dengan ekspresi datarnya yang semakin membuat Calistha gusar. Hari ini ia telah mengalami banyak hal yang terduga bersama Aiden. Ketika pesawat mereka mendarat dengan selamat di bandara Heathrow, ia harus kembali dibuat tegang karena lagi-lagi mereka akan melewati petugas pemeriksaan bandara. Dan meskipun Aiden telah mengatakan padanya untuk tenang, ia tetap tidak bisa tenang saat menunggu kopor miliknya dan juga Aiden diperiksa oleh petugas bandara. Apalagi ia menemukan banyak petugas berseragam kepolisian di sekitar loby bandara Heathrow, ketakutan dan kepanikannyapun semakin menjadi-jadi hingga keringat dinginnya meluncur deras dari kening indahnya. Namun, lagi-lagi ia mendapati adanya sebuah kejanggalan di tempat pemeriksaan kopor. Kopor milknya dan juga Aiden selamat dari petugas pemeriksaan tanpa ada suatu masalah apapun. Alarm yang terpasang disepanjang meja pemeriksaan sama sekali tidak berbunyi saat


kopor miliknya mulai discan. Dan setelah berjalan cukup jauh dari tempat pemeriksaan, seorang wanita muda berwajah manis tiba-tiba mendekati mereka sambil memberikan sebuah tas berukuran sedang pada Aiden. Dari penampilannya, Calistha tidak menyangka jika ternyata wanita itu adalah seorang sniper juga, sama seperti Aiden. Kepribadian mereka jelas-jelas sangat berbeda, membuat Calistha sempat tertipu pada wajah ramah Carmine.


            “Jadi, dulu kau dan Carmine pernah melakukan misi bersama? Apakah ia tinggal di London?”


            “Tidak, ia sedang memiliki misi juga di sini. Duduk, aku akan membeli makanan sebentar.”


            Calistha menatap kosong kepergian Aiden sambil menatap menara tinggi di hadapannya. Mereka telah tiba di gereja Santo Paulus. Gereja terbesar nomor dua di Britania Raya setelah gereja agung di Skotlandia. Dari luar ia cukup takjub dengan bangunan itu, apalagi permukaan dindingnya yang putih dipenuhi oleh berbagai ukiran dari arsitek ternama yang sangat menakjubkan, membuat bangunan itu memang layak disebut sebagai gereja agung terbesar di Kota London. Tapi, kenapa ayahnya ingin ia berada di sini? Satu pertanyaan itu melintas di benak Calistha dan membuat wanita itu menjadi risau. Ingatannya mengenai ayahnya dan segala teka teki misterius yang ditinggalkan oleh ayahnya membuat Calistha sadar akan tujuannya datang ke kota yang indah ini. Ia bukan hendak berlibur di sini, atau mengagumi bangunan menakjubkan yang saat ini sedang berdiri angkuh di depannya. Tapi, ia akan memecahkan teka teki lain yang ditinggalkan oleh ayahnya di sini.


            “Ini, kurasa kau menyukai coklat panas.”


            Calistha mendongak sebentar kearah Aiden yang wajahnya tampak bersinar karena tertimpa cahaya lampu jalan yang sangat terang di sebelah mereka. Entah kenapa sekarang ia mulai berpikir jika seorang sniper tidak seburuk itu. Mereka baik, kadang-kadang. Namun, terkadang juga tidak. Entahlah, mereka seperti memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang.


            “Sampai kapan kita akan duduk di sini? Sebentar lagi matahari akan terbit, apa kau tidak ingin beristirahat sebentar? Di hotel?”


            “Nanti kita akan pergi ke rumahku.”


            “Kau punya rumah di sini? Sejak kapan?”


            Lagi-lagi Calistha tidak dapat menutupi keterkejutannya tentang Aiden yang selalu memberikan berbagai macam kejutan untuknya.


            “Sejak lama. Tidak jauh dari gereja ini, aku memiliki rumah. Sengaja aku membelinya jika aku ingin mendinginkan kepalaku yang panas. Menjadi sniper.... kadang juga menyiksa.”


            Calistha menyipitkan matanya untuk mencerna setiap kalimat yang baru saja diucapkan Aiden. Apakah pria itu baru saja berkeluh kesah padanya?


            “Jadi itu sebabnya kau sering mendengarkan sajak itu, fear no more? Kupikir kau benar-benar pria sakit jiwa yang tidak memiliki hati.” ucap Calistha pelan, namun berhasil didengar Aiden dengan jelas karena jarak duduk mereka yang sangat dekat. Mereka bahkan saat ini nyaris duduk menempel satu sama lain, mereka hanya dipisahkan oleh sekotak burger yang memang diletakan oleh Aiden di tengah-tengah mereka.


            “Terkadang.” balas Aiden samar. Calistha menyadari jika Aiden tidak ingin membahas sisi lainnya lebih lanjut. Ia pun akhirnya memutuskan untuk diam sambil menikmati coklat panasnya yang sangat lezat. Aiden sepertinya sangat mengenal daerah ini dengan baik, terbukti mereka dapat duduk di depan gereja itu tanpa tersesat sedikitpun. Padahal sepertinya sejak tadi Calistha hanya asal berjalan sambil menggerutu tidak jelas di belakang Aiden.


            “Fear no more menceritakan kehidupan manusia setelah kematian. Shakespeare yang tua dan kesepian, mulai berpikir mengenai kehidupannya setelah kematian, dan ia kemudian menciptakan sajak itu. Tepat satu bulan yang lalu, seorang wanita jatuh dari menara itu.”


            Calistha tanpa sadar bergidik ngeri sambil membayangkan bagaimana bentuk tubuh wanita itu setelah jatuh dari ketinggian yang sangat menakjubkan itu. Sudah pasti tubuhnya akan langsung remuk saat menghantam aspal. Tapi bagaimana mungkin wanita itu dapat terjatuh dari atas menara setinggi itu? Bukankah gereja ini dilengkapi dengan pengamanan yang sangat ketat?


            “Mereka bilang itu adalah kecelakaan. Namun menurut Carmine, itu adalah pembunuhan. Wanita itu adalah seorang kurir.”


            “Kurir? Untuk apa ia datang ke gereja jika ia seorang kurir?”


            “Untuk mengantarkan barang dari salah satu kartel narkoba terbesar di London, dan itu milik ayahmu.”


            “Ayah? Ayahku menjual  narkoba? Huh, kalau begitu aku tidak akan menyangkalnya. Bukankah ayahku seorang mafia? Meskipun aku sangat tidak ingin mempercayainya, tapi itu benar-benar telah terjadi bukan?”


            Calistha bergumam lesu di samping Aiden dengan hatinya yang terasa hancur saat ini. Masih ingat dengan jelas bagaimana kerasnya ia menentang penggunaan narkoba di kalangan mahasiswa hingga ia pernah mengikuti kampanye anti narkoba. Tapi apa? ayahnya sendiri justru menjual barang haram itu. Ia sekarang merasa benar-benar munafik dan juga naif. Selama ini ia telah hidup dari harta-harta haram itu, dan bodohnya ia tidak pernah menyadarinya.


            “Setelah wanita itu selesai mengantar barang pesanan pelanggan, ia sengaja menunggu di atas menara untuk mendapatkan bayarannya. Tapi seseorang justru membunuhnya dari sana.”


            Aiden tampak menarik garis lurus dari atas menara, lalu jari telunjuknya berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang berada tak jauh dari gereja tempat pembunuhan berlangsung. Jelas sekali jika itu pekerjaan seorang sniper.


            “Darimana kau tahu?”


            “Carmine, tapi selebihnya aku menganalisisnya sendiri. Di London, kartel milik ayahmu terkenal memiliki saingan yang cukup kuat. Mungkin itu masih ada sangkut pautnya dengan musuh-musuh ayahmu. Kita bisa mulai memecahkan teka teki ayahmu melalui kartel miliknya yang saat ini dioposisi oleh Baron O’Neil.”


            “Darimana kau mengetahuinya?”


            “Presiden Moon, rekan-rekanku? Aku memiliki banyak informan Calistha, jadi kau sebaiknya


tidak terus menerus terkejut seperti itu. Cepat habiskan makananmu, dan mulailah menyimak sajak-sajak milik William Shakespeare yang akan segera diputar oleh pengurus gereja tepat pukul enam pagi.”


Deng Deng Deng


            Jam raksasa di depan gereja mulai berdentang tiga kali, dan tak lama kemudian Calistha mendengar sayup-sayup sajak milik William Shakespeare mulai diputar melalui speaker raksasa yang terletak di sisi kanan gereja. Kesan pertama saat mendengarkan sajak itu, Calistha merasa merinding. Benar apa yang dikatakan oleh Aiden jika bait demi bait sajak itu menggambarkan kehidupan manusia setelah kematian. Ditambah lagi dengan iringan musik instrumental yang terdengar suram, membuat Calistha semakin merinding saat mendengarkan bait-bait itu hingga selesai.


            “Bagus, namun suram. Bisa kubayangkan bagaimana kesepiannya William menjelang hari kematiannya. Dari sekian banyak kota, kenapa kau memilih London sebagai tempat persinggahanmu ketika kau mulai merasa lelah dengan pekerjaanmu?”


            “Itu tidak penting sekarang. Ayo kita pergi, di sini sudah terlalu ramai.”


            Tanpa menghiraukan Calistha yang sedang sibuk menatap punggungnya, Aiden segera mengambil barang-barangnya untuk pergi ke rumahnya. Hari ini ia merasa lebih baik dan juga tenang setelah duduk sejenak di bangku kayu yang selama ini selalu menjadi saksi munculnya sisi normalnya. Dan mengenai pertanyaan Calistha, ia belum ingin menjawabnya sekarang. Setidaknya sampai ia siap memberitahukan pada wanita itu jika ia sebenarnya pernah terlibat dengan Jacob Im, jauh sebelum ia tahu jika ternyata pria itu adalah seorang mafia, dibalik wajah malaikatnya yang penuh dengan senyuman.


-00-


            “Aiden... Aiden kau dimana....”


            Calistha membungkam bibirnya rapat-rapat dan mulai berjingkat pelan menuju ruang tamu. Di atas sofa, ia melihat Aiden sedang tertidur pulas dengan jaket hitam yang masih melekat di tubuhnya. Lagi, ini adalah pengalaman pertamanya melihat Aiden tertidur. Entah kenapa selama ini ia tidak pernah melihat Aiden tidur karena


pria itu seperti selalu memiliki tenaga penuh untuk terjaga. Sedangkan saat ia terjaga, Aiden pasti juga tengah terjaga untuk membahas masalah teka teki milik ayahnya yang penuh misteri. Jadi, ia akan memanfaatkan kesempatan kali ini untuk mengaggumi wajah seorang sniper saat sedang tertidur.


            “Ternyata kau tidak terlalu buruk saat tidur, kau terlihat lebih manusiawi tuan sniper.” Bisik Calistha dengan senyuman. Rasanya sungguh aneh dan juga geli saat mengagumi wajah tertidur Aiden seperti ini. Ia seperti seorang maniak yang gemar mengintip orang. Tapi, ini sungguh tak bisa ia lewatkan begitu saja. Kapan lagi ia bisa melihat wajah damai Aiden saat tidur, dan tidak melihat pria itu terus menunjukan wajah datarnya.


            “Hey, aku sebenarnya sangat penasaran denganmu. Kenapa kau memutuskan untuk mengambil jalan hidup seperti ini, dan aku juga bingung dengan kepribadianmu. Terkadang kau terlihat sangat dingin, tak tersentuh, dan berbahaya. Namun kadang kau juga terlihat lebih manusiawi dengan sisi lembutmu yang sangat jarang kau tunjukan. Aku tahu, jauh di dalam lubuk hatimu yang terdalam, kau sebenarnya adalah pria yang baik.”


            Calistha tanpa sadar telah meletakan tangan kanannya di atas dada kiri Aiden sambil merasakan degup jantung Aiden yang berdetak teratur. Satu hal yang mungkin tidak ia benci dari seluruh kekacauan yang ditinggalkan oleh ayahnya, bahwa ia dapat mengenal Aiden dan melihat sisi lain dari seorang pria yang terduga.


            “Apa yang kau lakukan di sini?”


            Calistha refleks bergerak mundur, dan jatuh terduduk di atas lantai. Suara Aiden yang begitu dingin berhasil mengejutkannya dan membuatnya menjadi kehilangan fokus. Padahal sebelumnya ia sedang memikirkan masa depannya yang entah akan menjadi apa. Lalu Aiden langsung merusaknya dengan kalimat bernada sinis dan dingin miliknya yang sangat mengejutkan.


            “Aku mencarimu, aku lapar.” jawab Calistha ketus untuk menutupi kegugupannya. Ia sadar jika tindakannya menyentuh dada Aiden saat pria itu sedang tertidur sama sekali tidak sopan, dan mungkin akan membuat Aiden berpikiran macam-macam tentang itu.


            “Memasaklah kalau begitu, aku memiliki cukup bahan makanan di dapur.”


            “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?”


            “Kau tidak bertanya. Menyingkirlah, jangan menghalangi jalanku.”


            Dengan gusar Calistha segera menyingkir sambil mengerucutkan bibirnya lucu di belakang Aiden. Sementara itu, Aiden memilih untuk mengabaikannya sambil memasang wajah dingin tak tersentuh andalannya. Sejak tadi ia sebenarnya tidak tidur, ia hanya memejamkan mata untuk memikirkan banyak hipotesa yang sedang berjubel di dalam otaknya. Namun, Calistha tiba-tiba datang dan menggunakan kesempatan itu untuk meraba dadanya. Ia tidak suka sebenarnya, dan selama ini ia tidak pernah membiarkan wanita manapun untuk menyentuhnya. Hanya ia yang boleh menyentuh mereka, namun mereka tidak. Dan saat Calistha mulai menyentuh dadanya sambil sedikit bergumam mengenai dirinya, entah kenapa ia hanya membiarkannya begitu saja. Ia justru merasakan kehangatan dari setiap sentuhan tangan Calistha yang sangat lembut di dadanya.


            “Kami telah tiba presiden Moon, dan kami sedang beristirahat untuk menyusun rencana selanjutnya.”


            Aiden berbicara dengan serius pada presiden Moon sambil sesekali melirik Calistha yang sedang sibuk mengobrak-abrik isi kulkasnya di dalam dapur. Dari kejauhan wanita itu tampak seperti gadis remaja yang tidak pernah menyentuh dapur, gerakannya kaku dan penuh keragu-raguan. Bahkan saat hendak menggoreng telurpun, wanita itu justru berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari penggorengan karena takut cipratan minyak mengenai wajahnya. Aiden hanya mampu menggeram kesal melihat tingkah Calistha yang sangat jauh dari image seorang


wanita. Tak bisa dibayangkan bagaimana kacaunya kehidupan Calistha bila wanita itu tidak memiliki siapapun yang akan melindunginya seperti saat ini.


            “Kau sudah memecahkan teka teki Seulong selanjutnya?”


            “Belum, aku masih berusaha untuk melakukannya. Malam ini rencananya aku dan Calistha akan mengunjungi kartel narkoba milik ayahnya di London Timur. Kudengar saat ini kartel itu dioposisi oleh Baron O’Neil, apa kau mengenalnya?”


            “Aku tidak begitu mengenalnya, tapi ia pria yang berbahaya. Habisi dia, jangan sampai pria itu mengambil kartel narkoba milik Seulong dan beberapa bisnis ilegal lainnya, bisnis itu sangat potensial.”


            Aiden mengangguk samar dalam diamnya. Tatapan matanya lagi-lagi mengarah pada Calistha sambil menggeram kesal saat wanita itu telah mengacaukan dapurnya yang semula rapi. Rupanya Calistha memang harus mendapatkan banyak pelajaran, selain pelajaran menembak dan beladiri. Semoga saja wanita itu tidak membakar rumahnya dengan api kompor yang terlihat mengkhawatirkan.


            “Aiden, kau masih di sana?”


            “Ya, aku masih di sini. Jadi, aku hanya perlu membunuh Baron dan mencari surat-surat penting yang berkaitan dengan kartel? Dan mengenai surat-surat properti milik Seulong yang kau simpan, jangan sampai itu jatuh ke tangan orang yang salah. Tanah di Bukchon adalah tanah sengketa, jika surat-surat itu jatuh ke tangan yang salah, penduduk Bukchon akan diusir.”


            “Aku tahu. Aku akan menjaga surat-surat itu dengan aman sampai Calistha siap untuk mengelola seluruh harta kekayaan ayahnya. Lakukan tugasmu dengan baik, jangan kecewakan aku.”


Pipp


            Aiden mematikan sambungan teleponnya, dan segera berjalan menuju dapur yang sangat kacau. Penggorengan yang hangus, kulit telur yang berserakan di atas kompor, dan keadaan Calistha yang terlihat sangat kacau dengan rambut acak-acakannya yang kotor.


            “Apa yang kau lakukan pada dapurku?”


            “Mma maafkan aku, aku hanya ingin menggoreng telur. Tapi...”


            “Tapi kau menghanguskannya! Dasar payah. Pergi dari dapurku, dan jangan pernah berpikir untuk memasak lagi jika kau tidak bisa melakukannya.”


            Calistha langsung menundukan kepalanya sedih dan segera berlari menuju kamarnya. Ini adalah pengalaman pertamanya mendapatkan penghinaan yang begitu menyakitkan dari orang lain. Hatinya sakit, sangat sakit hingga akhirnya ia tak kuasa menahan lelehan air matanya turun. Meskipun Aiden benar jika ia sangat payah,


namun seharusnya pria itu menghargai usahanya. Ia telah mencoba memasak sesuatu menggunakan kedua tangannya sendiri. Dan ia hanya ingin membuatkan Aiden sesuatu yang dapat dimanakan.


-00-


Dor dor dor


            Calistha berkali-kali menembak papan sasaran yang berada dua ratus meter di depannya. Namun dari ketiga tembakan itu, tak ada satupun yang benar-benar melesat mengenai titik sasaran. Tembakan Calistha yang hanya dipenuhi emosi itu justru meleset kesana kemari hingga menyebabkan dinding di sebelah papan sasaran berlubang.


            “Emosi tidak akan menyelesaikan masalah, tapi jika kau menggunakannya dengan cara yang tepat, kau bisa membunuh musuhmu dengan seluruh emosi yang kau miliki.”


            Calistha menegang kaku saat Aiden tiba-tiba telah berdiri di belakangnya dengan wajah yang sangat dekat di sisi kanan wajahnya. Pria itu sedikit membungkuk di belakang Calistha, lalu menjulurkan tangannya untuk membetulkan posisi tangan Calistha yang melenceng cukup jauh dari titik sasaran.


            “Lihat titik merah di sana, rasakan seluruh emosi yang saat ini bergejolak di dalam dadamu. Lalu arahkan semua emosi itu ke dalam tanganmu. Konsentrasi, jangan melihat kearahku.....”


            Calistha cepat-cepat mengarahkan kedua matanya kearah titik sasaran sambil menelan salivanya gugup. Pria ini sangat-sangat tak terduga, dan mengerikan. Ia hampir saja terhanyut oleh pesona memikat Aiden yang tertutupi oleh jiwa kelamnya yang misterius.


            “Tembak!”


Dor


            Suara letusan itu menggema keras di tengah-tengah suasana tenang yang tercipta di dalam rumah bergaya eropa klasik milik Aiden. Calistha yang baru saja menembakan timah panas itu tampak bergetar beberapa saat sebelum tangannya terkulai lemah, menggantung di sisi kanan kiri tubuhnya, sesaat setelah Aiden menjauhkan diri dari tubuh Calistha.


            “Pistol bukan untuk menyalurkan perasaan marahmu, tapi untuk menghabisi musuh-musuhmu. Jika kau hanya menggunakannya untuk sesuatu yang tidak berguna, lebih baik kau tembak kepalamu sendiri agar peluru itu tidak terbuang sia-sia.”


            Dalam diamnya, Calistha hanya mampu mencengkeram pistol hitamnya kuat-kuat sambil menatap Aiden dengan seluruh tatapan kebenciannya.


            “Kau brengsek Aiden! Kau adalah orang pertama yang memberiku penghinaan semenyakitkan ini.”


            Aiden terkekeh pelan melihat kemarahan Calistha. Ia terlihat sama sekali tidak terpengaruh, dan justru semakin memberikan tatapan mencemooh pada Calistha. Wanita manja seperti Calistha memang tidak akan pernah terbiasa dengan suara keras dan


umpatan. Berbeda dengannya yang sejak kecil telah dibesarkan di lingkungan yang keras dan juga kasar.


            “Kalau begitu mulai sekarang kau harus terbiasa, karena aku bukan pria lembut yang akan membanjirimu dengan kata-kata manis. Masuklah, dan makan hasil masakanmu.”


            Setelah itu Aiden pergi begitu saja tanpa menghiraukan kemarahan Calistha lebih jauh. Ia yakin, cepat atau lambat Calistha pasti akan segera baik-baik saja. Jika memang Calistha ingin marah padanya, itu hak wanita itu. Namun jelas wanita itu akan rugi, karena saat ini hanya ialah sekutu satu-satunya yang dimiliki oleh Calistha.


-00-


            Melalui lubang pengintai dari pistol laras panjangnya, Aiden sibuk mengintai mangsa barunya yang saat ini sedang sibuk bermain bersama jalang-jalangnya. Baron O’Neil, bisa dipastikan malaikat maut akan segera mejemput pria itu sebentar lagi melalui tangan dingin Aiden yang tidak pernah meleset sedikitpun dalam menembak mangsanya.


            “Kenapa kita harus membunuh pria itu? Kenapa kita tidak datang secara baik-baik agar tidak memicu peperangan seperti ini?”


            “Diamlah, kau tidak mengerti. Dunia hitam adalah dunia yang kejam.” Balas Aiden acuh tak acuh sambil tetap mengintai sasarannya. Tak berapa lama Calistha melihat seringaian tipis mulai terbentuk di wajah Aiden, ia yakin sebentar lagi pria itu pasti akan menarik pelatuknya untuk membunuh siapapun pria yang saat ini menjadi target Aiden. Sejujurnya ia tidak setuju dengan cara Aiden mengambil alih kartel narkoba milik ayahnya. Ia justru berharap kartel itu menjadi milik pria bernama Baron agar ia tidak perlu berurusan dengan orang-orang dari bisnis hitam. Namun Aiden selalu membawa-bawa nama presiden Moon di tengah-tengah pembicaraan mereka, dan mengatakan jika pria tua itu jauh lebih tahu mengenai seluk beluk bisnis milik ayahnya yang saat ini tersebar di berbagai belahan dunia.


Dor


            Calistha terdiam kaku di tempatnya saat suara pistol berperedam itu mulai menggema pelan di udara. Ia baru saja menjadi saksi dari pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Aiden. Dan tak berapa lama ia dapat melihat orang-orang di seberang sana mulai terlihat gaduh dengan insiden penembakan yang baru saja terjadi.


            “Aiden, apa mereka mengetahui posisi kita?” Tanya Calistha ketakutan. Pengalaman penyerangan yang terjadi di rumahnya dan juga di villa milik ayahnya menjadi sebuah mimpi buruk yang sangat membekas di otaknya. Secara otomatis otaknya akan selalu memutar kejadian mengerikan itu disaat mereka sedang terlibat dalam tindakan-tindakan yang membahayakan seperti ini.


            “Tidak jika kita segera pergi dari sini. Ayo, kita tidak memiliki banyak waktu sebelum mereka menyadari keberadaan kita di sini.” Ucap Aiden tegas sambil memasukan barang-barangnya kedalam tas khusus. Setelah itu mereka berdua segera bergegas meninggalkan tempat persembunyian mereka yang gelap untuk masuk kedalam sebuah gudang, tempat kartel narkoba itu melakukan transaksi barang-barang ilegal. Tugas mereka setelah ini adalah memeriksa kantor milik kartel itu untuk mencuri informasi-informasi yang disembunyikan oleh kartel selama ini. Dan tentu saja menguasai kartel itu atas perintah presiden Moon.


            “Sebenarnya apa tujuan kita berada di sini? Jika ini untuk mengambil alih kartel ini, aku sebenarnya tidak mau Aiden. Biarlah bisnis ilegal ini dikuasai orang lain, aku tidak mau terlibat dengan bisnis kotor apapun.”


            “Diamlah, ayahmu menginginkan ini. Ayahmu tidak mungkin meninggalkan teka teki mengenai sajak William Shakespeare jika ia tidak ingin kau mengambil alih salah satu bisnis ilegalnya. Kau tetap di sini, aku akan masuk kedalam untuk mengambil dokumen-dokumen yang kita butuhkan.”


            Calistha ingin sekali mencegah Aiden untuk tidak masuk, namun tekad bulat yang membara dari kedua mata teduh Aiden membuat Calistha tidak bisa berbuat apapun, dan pada akhirnya pasrah. Sejujurnya ia belum paham dengan maksud dari sajak itu, Aiden hanya menjelaskan jika sajak itu mungkin berkaitan dengan kematian salah satu kurir kartel milik ayahnya di menara gereja Santo Paulus, sehingga mereka harus secepatnya mengambil alih kartel sebelum pihak lain menguasainya. Tetapi, entah mengapa perasaanya sedikit tidak enak hari ini. Seperti akan ada sesuatu yang buruk yang akan menimpa mereka berdua sebentar lagi.


            “Siapa kau?”


            “Haahhh....”


            Calistha berjengit kaget dan langsung memutar kepalanya kaku kearah sumber suara. Di belakangnya, seorang pria dengan penampilan berantakan sedang menatapnya dengan tatapan kelaparan sambil menelisik penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Melihat itu Calistha segera mengeluarkan pistolnya untuk menggertak pria berandalan itu dengan wajah garang yang dipaksakan.


            “Pergi, atau kau akan kehilangan nyawamu jika berusaha mendekat!”


            Calistha mencoba menggertak pria itu dengan suaranya yang bergetar ketakutan. Kedua tangannya telah terangkat ke udara dengan sebuah pistol kecil pemberian Aiden yang memang difungsikan untuk berjaga-jaga. Sayangnya gerakan Calistha yang amatir membuat pria berandal itu tidak percaya, dan justru memanggil beberapa teman-temannya yang lain untuk mendekat.


            “Kita memiliki mangsa yang sangat manis malam ini. Oh.. kucing kecil kita juga telah dilengkapi dengan sejata. Hmm, aku benar-benar menyukai kucing liar yang manis ini.”


            Calistha semakin mengeratkan genggaman tangannya pada gagang pistol sambil melangkah mundur. Ia jelas tak pernah berniat untuk menggunakan pistol itu. Ia tidak mau menjadi pembunuh, dan ia hanya ingin membuat pria-pria kelaparan itu ketakutan.


            “Pergi! Aku tidak akan segan-segan untuk menembak kalian satu persatu.”


            “Hahaha... coba saja tarik pelatuknya manis, kau pasti tidak akan bisa mela....”


Dorr


            “Aaakkk...”


            Calistha menjerit keras bersamaan dengan suara letusan dari pistol hitam miliknya. Ia


baru saja menembak lengan pria berandal itu hingga membuat pria-pria itu menatap marah kearahnya. Dan beberapa detik kemudian, Calistha segera berlari sekencang-kencangnya dari kejaran pria-pria itu untuk melarikan diri. Ia rasanya benar-benar takut, dan ingin Aiden datang saat ini juga untuk menolongnya. Namun ia sendiri tidak tahu dimana keberadaan Aiden saat ini. Bahkan mungkin saja Aiden juga tengah mendapatkan masalah di dalam kantor kartel narkoba itu, sehingga sekarang ia hanya memiliki dirinya sendiri untuk menyelamatkan diri.


            “Dasar jalang! Berhenti kau!”


Brukk


            Calistha mendorong satu tong sampah yang berada di sampingnya hingga menggelinding mengenai pria-pria yang mengejarnya. Namun hal itu hanya berefek pada satu pria, selebihnya mereka tetap mengejar Calistha dengan seluruh kemarahan yang mereka miliki.


            “Aiden! Kau dimana, tolong aku. Aiden... hikss...”


            Calistha bergumam pelan dengan air mata yang mulai membanjiiri pipinya. Ia sangat takut jika apa yang dikatakan oleh Aiden benar-benar terjadi padanya, ia akan dijadikan pelacur oleh pria-pria menjijikan itu dan digunakan bergantian tanpa belas kasihan. Ia takut semua pikiran buruknya akan menjadi kenyataan.


Tiiiinnnn


Brukk


            Calistha terjatuh dengan cukup keras di atas aspal sambil memejamkan matanya rapat-rapat yang terasa silau. Sebuah mobil baru saja hampir menabraknya, namun syukurlah itu belum terjadi. Ia hanya terjatuh di atas aspal karena terkejut dengan suara klakson nyaring yang tiba-tiba mengusik indera pendengarannya.


            “Kau baik-baik saja nona?”


            Calistha masih senantiasa menunduk dan memejamkan matanya untuk menormalkan degup jantungnya yang masih menggila. Ia hampir saja mati tertabrak oleh mobil. Benar-benar sial nasibnya hari ini, setelah dikejar oleh sekelompok pria hidung belang, ia justru dihadapkan pada masalah lain yang sama buruknya.


            “Aaa aku tti tidak apa-apa.” Jawab Calistha terbata-bata. Pita suaranya seperti rusak seketika dan tidak dapat mengeluarkan suara dengan jelas. Ia masih syok dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Bahkan saat ini ia merasa mati rasa, dan tidak dapat merasakan apapun.


            “Kau terluka, aku akan membantumu.”


            Dengan cekatan pria itu menggendong Calistha menepi di trotoar sambil menunggu Calistha pulih dari serangan syoknya. Pria itu kemudian sedikit menengok ke


kanan dan ke kiri untuk mengecek keadaan jalanan disekitarnya yang malam ini memang cukup sepi. Beruntung ia tidak sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, sehingga ia dapat menginjak pedal remnya tepat waktu sebelum mobilnya menghantam tubuh wanita malang di depannya.


            “Aku akan bertanggungjawab, kau jangan khawatir.”


            “Tti tidak perlu, aku sedang menunggu seseorang.”


            Dengan suara yang masih tercekat, Calistha mencoba memberanikan diri untuk menatap


lawan bicaranya. Tanpa diduga, sang lawan bicara justru mengernyitkan dahinya dalam sambil menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi sebagian wajah pucatnya.


            “Kau... bukankah putri dari Jacob Im?”


            Calistha langsung membelalakan matanya terkejut sambil melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari pertolongan. Jika pria itu adalah salah satu dari orang-orang


yang mengincar harta milik ayahnya, maka ia harus segera kabur.


            “Bbu bukan, kau salah orang. Aku bukan putri Jacob Im.”


            “Tidak,


aku yakin kau putrinya. Calistha Im, aku mengenal ayahmu.”


           Seketika Calistha hanya mampu memejamkan matanya sambil mengangguk pasrah pada pria itu. Percuma saja ia hendak membohongi pria itu jika kenyataannya pria itu sangat mengenal ayahnya. Lagipula dengan keadaanya yang sedang terluka seperti ini, mustahil ia dapat melarikan diri dengan mudah dari pria misterius didepannya.


            “Ya, aku memang Calistha Im. Kau siapa? Kenapa kau mengenal ayahku?”


            “Namaku Luca, aku adalah salah satu orang kepercayaan ayahmu.” Jawab Luca penuh kesungguhan. Dan meskipun Calistha sangat benci untuk mengakuinya, namun ia mempercayai tatapan penuh kesungguhan milik Luca di hadapannya.