
“Nona... nona Calistha, bangunlah nona.”
Calistha membuka matanya samar-samar, sedikit aneh dengan keadaan sekitarnya yang tampak ramai. Di bawah kakinya ia melihat seorang wanita setengah baya sedang duduk sambil menatapnya dengan kening berkerut. Lalu di kursi-kursi yang berada tepat di depannya, ia melihat sederet orang sedang duduk di sana dengan berbagai aktivitas yang tidak dimengerti Calistha. Ia sejenak kehilangan orientasinya dan seperti sedang hidup di dunia mimpi sebelum seseorang menepuk pundaknya lagi dengan tepukan keras.
“Nona, tuan Aiden telah dipindahkan ke kamar rawat. Kau harus segera melunasi biaya administrasinya.”
“Ahh iya, maaf aku sangat mengantuk semalam.” jawab Calistha dengan suara serak. Ia lalu segera bangkit dari posisi tidur miringnya dan mencoba menghidupkan layar ponselnya untuk melihat jam digital yang tertera di sana. Dan dua detik kemudian Calistha terlonjak kaget karena ia telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk tidur. Ia memiliki meeting pukul sembilan, dan itu berarti lima belas menit lagi. Sedangkan ia masih memiliki tugas untuk melunasi biaya administrasi milik Aiden yang seharusnya ia lakukan semalam.
Dengan panik Calistha segera berlari menuju ruang administrasi tanpa mempedulikan orang-orang yang langsung memberikan tatapan aneh. Ia benar-benar akan terlambat dalam meeting hari ini. Ditambah lagi ia belum merapikan dirinya yang sangat terlihat berantakan pagi ini. Tidak mungkin ia akan datang ke kantor dengan pakaian yang sama seperti kemarin, ditambah dengan wajah berantakan yang sangat menjijikan. Setidaknya ia membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk membenahi penampilannya. Sembari menulis di kertas data diri pasien, Calistha mencoba menghubungi asistennya untuk menunda jadwal meeting hari ini.
“Halo, tolong tunda jadwal meeting hari ini menjadi pukul setengah sepuluh. Aku masih memiliki urusan. Apakah ini benar seperti ini?” tanya Calistha pada petugas administrasi saat ia merasa ragu dengan hasil tulisannya. Seperti ia sedang membagi satu otaknya untuk memikirkan berbagai hal yang terlalu rumit dalam waktu yang bersamaan. Bahkan ia belum sempat melihat keadaan Aiden pasca pria itu dipindahkan ke kamar rawat.
“Lakukan apapun agar tuan Yosef tidak marah dengan penundaan jadwal meeting hari ini, kau bisa memberinya hiburan gratis dari salah satu artis yang hari ini akan melakukan pemotretan di studio dua puluh. Bukankah tuan Yosef menyukai wanita-wanita seksi?” ucap Calistha sambil menyeringai licik. Semua klien yang telah berhubungan dengannya selama lima bulan ini, tidak ada satupun yang pernah lolos dari pengawasannya. Ia merasa perlu untuk menyelidiki kliennya lebih lanjut agar ia tidak perlu mengulangi kejadian yang sama seperti beberapa bulan yang lalu. Yang ia inginkan untuk bekerjasama dengannya adalah orang-orang bersih yang tidak pernah memiliki catatan kriminal apapun. Pria-pria hidung belang seperti tuan Yosef, masih ia berikan toleransi untuk bergabung di perusahaannya, namun tidak dengan orang-orang licik yang hanya akan menjadi srigala berbulu domba di kerajaan bisnisnya.
“Pokoknya lakukan apapun untuk membuatnya diam, aku akan segera tiba di sana beberapa menit lagi.”
Calistha menyelesaikan panggilannya bertepatan dengan ia menyelesaikan seluruh proses administrasi untuk pengobatan Aiden. Dan terakhir Calistha hanya perlu membubuhkan tanda tangan untuk membuat semua berkas-berkas itu menjadi memiliki nilai hukum yang sah di mata negara.
“Tolong beritahu aku segera jika pasien bernama Aiden telah sadar, aku harus pergi sebentar untuk menyelesaikan pekerjaanku.” pesan Calistha setengah memohon. Ia sangat berharap pihak rumah sakit memberitahunya jika Aiden telah sadar karena ia tidak bisa berada disamping pria itu untuk beberapa saat hingga apapun urusannya di luar sana dapat terselesaikan dengan baik. Terkadang ia merindukan saat-saat ketika ayahnya masih sangat galak untuk melatihnya melakukan berbagai macam gerakan bela diri. Itu sangat melelahkan, namun tidak semelelahkan saat ini karena sekarang bukan hanya fisiknya saja yang dituntut untuk bekerja, namun pikirannya juga.
“Terimakasih nona, kami akan segera memberitahu nona jika tuan Aiden telah sadar.”
Calistha segera pergi, setengah berlari menuju area parkir rumah sakit untuk mengambil mobilnya yang semalam terparkir asal-asalan di sana. Entahlah, Aiden benar-benar mengacaukan segalanya. Pria itu selalu membuat seluruh atensinya hanya terfokus pada satu titik, lalu ia akan melupakan yang lainnya.
“Ya Tuhan, menjijikan!”
Bugh!
Calistha membanting asal pintu mobilnya saat ia melihat sedikit sisa-sisa muntahan Aiden di kursi penumpang mobilnya. Padahal tadinya ia berniat untuk mengambil peralatan makeupnya di tas kecil yang selalu ia selipkan di belakang kursi penumpang. Namun setelah melihat apa yang tertinggal di kursi penumpangnya, Calistha menjadi jijik dan tidak mau lagi menengok ke dalam mobilnya hingga mobil itu nanti selesai di bersihkan oleh salah satu karyawannya di kantor. Pagi ini ia akan pergi ke butik terdekat untuk membeli baju dan membenahi penampilannya yang terlihat seperti seorang pengemis jalanan. Terlalu lama berpikir di dalam mobil, membuat Calistha lagi-lagi dibuat panik dengan jarum jam yang telah menunjukan pukul sembilan. Tiga puluh menit lagi, dan ia harus berada di kantor sebelum investornya melarikan diri untuk menyuntikan dana di perusahaan lain.
-00-
Calistha menghembuskan nafasnya lelah dan mulai merapikan pakaian kantornya yang sedikit kusut. Akhirnya tugas hari ini berhasil ia selesaikan dengan baik. Sedikit menyebalkan sebenarnya pertemuan hari ini dengan tuan Yosef karena pria itu rupanya kesal padanya yang terlambat tiga puluh menit dari waktu yang telah
ditentukan sebelumnya. Dan sialnya pria itu benar-benar tidak menerima apapun alasan yang telah ia sampaikan sebelumnya. Meskipun ia telah membuat sebuah cerita paling dramatis sepanjang masa tentang proses penyelamatan seorang pria yang hampir mati karena diracuni. Tapi pria tua itu tetap saja tidak mau tahu hingga akhirnya Calistha harus menggunakan cara kotor untuk menyumpal mulut besar pria tua itu. Siang ini ia mengirimkan seorang ****** ke apartemen yang telah ia sewa khusus untuk pria itu bersenang-senang di sana selama dua puluh empat jam. Dan hasilnya, pria itu akhirnya bersedia menyuntikan dana yang cukup fantastis untuk perusahaannya. Yaah, harus diakui jika berbisnis tanpa cara licik itu memang hampir mustahil. Dalam lima bulan ini ia sudah melakukan empat kali hal-hal kotor untuk memuluskan usahanya. Namun setidaknya ia masih berada di dalam batas wajar. Memberikan hadiah wanita-wanita cantik untuk para investornya, itu bukan sesuatu yang melanggar aturan. Anggap saja itu bonus darinya karena mereka bersedia untuk menjadi bagian dari Im grup yang hampir musnah karena ulah jahat presiden Moon. Ahh apa kabar pria keparat itu sekarang? Sudah lama Calistha tidak mendengar kabarnya setelah hakim menjatuhi hukuman seumur hidup masa tahanan untuknya. Dan pria licik itu juga harus membayar uang denda yang begitu banyak untuk penduduk desa Bukchon karena telah
mengusik kehidupan mereka, bahkan hingga membuat desa mereka hancur tak bersisa. Tapi syukurlah, perlahan lahan semua masalah itu dapat terselesaikan satu persatu. Bulan lalu Calistha juga telah pergi ke Jeju untuk melihat perkembangan pembangunan desa Bukchon yang sebelumnya telah diratakan oleh presiden Moon untuk membangun kawasan real estate yang mewah. Sekarang anak-anak desa Bukchon telah mendapatkan kehidupan mereka kembali, para penduduk juga telah menata kehidupan mereka dengan bekerja sebagai petani dengan modal dari uang denda yang dibebankan kepada presiden Moon.
“Kau darimana saja?”
Calistha berhenti di ujung pintu sambil meringis kecil pada Aiden yang sedang duduk sambil menyandarkan punggung tegapnya pada kepala blankar. Tatapan pria itu terlihat begitu menusuk kearah Calistha dengan gaya dinginnya yang belum berubah sedikitpun. Betapa Calistha ingin melompat dan memeluk pria itu saat ini juga sambil berteriak sekeras-kerasnya jika ia sangat merindukan pria angkuh itu selama lebih dari lima bulan ini.
“Tentu saja bekerja, aku sekarang menjadi CEO di perusahaan stasiun televisi peninggalan ayahku.” balas Calistha ringan sambil meletakan sebuah kotak berisi makanan di meja kecil di ujung ruangan. Sekilas Calistha melihat nampan makanan milik Aiden yang berisi makanan rumah sakit masih belum tersentuh sedikitpun. Ia lalu berjalan mendekati Aiden sambil menatap pria itu intens dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Kenapa kau tidak memakan makananmu?”
“Aku belum ingin memakannya, terlihat menjijikan.” ucap Aiden seperti biasa, dingin dan sangat menyebalkan. Calistha lantas mengambil nampan itu dan meletakannya di atas pangakuannya saat ia telah duduk di samping ranjang perawatan milik Aiden.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Tentu saja memberimu makan, apa lagi?” balas Calistha acuh tak acuh. Ia mulai membuka penutup nasi dan menyendok sedikit nasi itu untuk dicelupkan ke dalam kuah rebusan daging yang telah mendingin. Aiden memang keterlaluan, ia tidak memberikan perutnya kesempatan untuk makan setelah semalam dokter menguras isi perutnya untuk mengeluarkan racun yang telah ia telan.
“Buka mulutmu.”
Aiden sempat melirik Calistha dengan tatapan setajam elangnya, namun kemudian ia membuka mulutnya lebar tanpa perlawanan saat Calistha memasukan sesendok penuh nasi dengan daging. Ia mungkin sebenarnya lapar setelah sadar dua jam yang lalu, tapi ia sedikit enggan untuk turun dan mengambil makanannya yang diletakan di atas meja yang jaraknya cukup jauh dari blankarnya.
“Bagaimana kondisimu setelah mengalami keracunan semalam? Kenapa kau bisa berada di sana.”
“Aku merasa lebih baik. Racun itu hampir membunuhku. Aku terlalu meremehkan musuhku dan tidak memperhitungkan ranjau kecil yang ia pasang di dekatku.” ucap Aiden dengan pandangan kosong. Calistha hanya mampu mendesah kecil melihat Aiden yang selalu seperti itu. Musuh, darah, baku hantam, tembak menembak, itu kehidupan Aiden. Lalu kematian, itu sudah menjadi risiko yang harus diterima oleh Aiden. Pantas saja jika pria itu memilih untuk hidup sebatang kara daripada hidup bersama orang lain dan membuat orang yang mencintainya mati ketakutan karena selalu was-was memikirkan kondisinya. Ah... bukankah ia mencintai pria itu? Ya, ia sangat mencintai pria itu. Mungkin Aiden akan menjadi pria pertama dan juga terakhir yang berhasil menyusup ke dalam hatinya. Ditambah lagi Aiden sedikit banyak memiliki sifat yang cukup mirip dengan ayahnya. Bersama pria itu, ia seperti sedang hidup bersama ayahnya. Namun tentu saja dengan sensasi yang sangat berbeda karena cintanya untuk Aiden adalah cinta kepada pria dewasa, bukan cinta antara anak perempuan dengan ayahnya.
“Aku tidak tahu itu kebetulan atau apa, tapi kau harus bersyukur karena Tuhan mempertemukanmu denganku.”
“Aku tidak perlu melakukannya karena sejak awal aku sebenarnya telah melihatmu di sana. Kau melamun di dalam kafe itu sendirian hingga kau menghabiskan bergelas-gelas kopi di sana. Hidupmu sepertinya menyedihkan.”
Rasanya Calistha kesal dengan mulut pedas milik Aiden yang sangat ingin ia sumpal dengan apapun yang dapat menahannya dari berbicara dengan kata-kata menyakitkan. Sayangya apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar. Ia telah berada di kafe itu berjam-jam lamanya dengan wajah menyedihkan dan beberapa cangkir kopi yang turut menemani jiwanya yang hampa malam itu. Semua itu tidak serta merta salahnya, pria itu juga turut andil dalam menjadikan hidupnya menjadi sangat menyedihkan seperti ini. Andai Aiden tidak pergi, andai Aiden
terus berada di sampingnya, andai Aiden... ah sudahlah, Calistha sekarang merasa kesal dengan dirinya sendiri karena ia merasa sangat bergantung pada Aiden. Padahal sebelumnya ia adalah wanita mandiri yang telah dididik ayahnya dengan keras.
“Siapa targetmu kemarin malam?”
“Kau tidak perlu tahu, dia sudah kubereskan.” jawab Aiden datar. Calistha lagi-lagi hanya dapat menghela nafas jengah melihat sikap Aiden yang selalu datar seperti itu. Terkadang ia ingin melihat Aiden menjadi pria normal, meskipun itu hanya sekali. Calistha sibuk mengaduk-aduk makanan milik Aiden yang masih tersisa separuh. Minatnya untuk menyuapi pria itu mendadak hilang, digantikan dengan perasaan malas yang entah mengapa tiba-tiba menyerangnya. Namun beberapa detik kemudian ia mendongak, mengamati wajah Aiden yang selalu menampilkan rahang keras dan aura yang begitu gelap yang tidak pernah berubah sedikitpun. “Kau tinggal dimana?”
“Ck, selalu seperti itu. Aku serius.”
“Aku juga tidak bercanda.” balas Aiden semakin menyebalkan. Dengan kesal Calistha meletakan nampan makanan milik Aiden di atas pangkuan pria itu dan pergi sambil menghentakan kakinya dengan kesal. “Kau makan sendiri sisanya, aku lelah.” ucap Calistha sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa coklat yang sejak tadi terus memanggil-manggilnya untuk mendekat. Sepertinya ia membutuhkan tiga puluh menit untuk tidur sebelum kembali menghadapi Aiden yang menyebalkan.
“Bagaimana kehidupanmu setelah kejadian itu?”
“Tidak terlalu menarik, hidupku membosankan.” jawab Calistha dengan mata setengah terpejam. Salah satu tangannya ia gunakan untuk menutup bagian matanya, sedangkan tangannya yang lain tampak menggantung di pinggir sofa.
“Kau sudah menemukan ayahmu?”
“Belum, ayah begitu licin dan lihai. Beberapa kali aku hampir menemukannya, tapi ayah lebih cepat menyadari kehadiranku, sehingga ia akan langsung menghilang sebelum aku berhasil untuk menangkapnya. Aku lelah.” ucap Calistha lirih di akhir. Entah Aiden mendengar keluhannya yang lirih itu atau tidak, tapi rasanya
menyenangkan saat ia bisa mengutarakan sedikit perasaannya pada orang yang dulu pernah sangat dekat dengannya. Setidaknya orang itu telah mengetahui seluk beluk kehidupannya yang memang sangat melelahkan.
“Bukan hanya kau yang lelah, semua orang juga merasakan kelelahan dengan cara mereka masing-masing.”
“Tapi kurasa itu tidak seburuk diriku.” akhirnya Calistha menyerah untuk mencoba tidur dan memilih untuk berbaring miring menghadap kearah Aiden. Pria itu ternyata juga sedang menatap kearahnya intens dengan nampan makanan yang masih terlihat sama seperti sebelumnya. Calistha memutar bola matanya malas. Pria itu ternyata lebih manja dari yang ia perkirakan. “Kenapa kau tidak memakan sisanya?”
“Aku sudah kenyang.”
“Kau benar-benar kenyang atau kau terlalu malas untuk menggerakan tanganmu?” balas Calistha sakarstik. Aiden hanya melirik makanannya sekilas tanpa minat, ia lalu bergerak turun dan meletakan nampan itu di atas meja terdekat. Ia ingin membuktikan pada Calistha jika ia tidak malas seperti yang dituduhkan wanita itu. Ia hanya tidak suka dengan makanannya, dan ia memiliki pikiran lain yang mengganggunya. Sambil menyeret tiang infus, Aiden berjalan mendekat kearah jendela besar yang sedang menampilkan suasana gelap nan mencekam di halaman
rumah sakit. Ia tidak mengira jika rumah sakit ternama tempatnya dirawat tidak memberikan penerangan yang memadai untuk halaman mereka yang luas. Dan tiba-tiba Aiden menangkap adanya bayangan hitam yang sedang bergerak-gerak di sekitar semak-semak yang begitu rimbun di halaman rumah sakit. Jika ia tidak salah memperhitungkan, ia melihat dua bayangan hitam sedang bersembunyi di sana dengan topi hitam yang melingkupi kepalanya. Namun ketika Calistha ikut berdiri di sampingnya, bayangan hitam itu tiba-tiba hilang, pergi dari semak semak itu dan meninggalkan tanda tanya besar untuk Aiden. Ia yakin jika bayangan hitam itu sedang mengintainya sejak tadi. Dan kemunculan Calistha di sampingnya mungkin membuat bayangan hitam itu merasa harus pergi karena ia berhasil mendapatkan informasi baru.
“Apa kau masih bisa menampung seorang pria di apartemenmu?”
“Siapa yang harus kutampung di dalam apartemenku?” tanya Calistha tidak mengerti. Tiba-tiba saja Aiden berseru dingin tanpa melihat kearahnya dan justru terus fokus kearah halaman rumah sakit yang gelap. Calistha rasanya sangat kesal melihat sikap pria itu yang selalu tidak menghargai keberadaannya. Ia lalu memutar bahu Aiden ke samping dan membuat pria itu sekarang tepat menatap kearahnya. “Siapa yang harus kutampung?” ulang Calistha gusar.
“Aku, kau harus menampungku di apartemenmu.”
“Kenapa? Apa kau sekarang berubah menjadi tunawisma yang menyedihkan setelah keracunan?”
“Anggap saja seperti itu. Aku mengalami komplikasi perut, jadi aku harus beristirahat beberapa waktu.”
“Lalu?” tanya Calistha menyebalkan. Jika tidak dalam mood yang bagus, Aiden bisa saja mencekik Calistha karena ia terlau gemas dengan sikap menyebalkan wanita itu. Sebenarnya masalah komplikasi perut bukan yang utama di sini. Dokter memang menganjurkannya untuk beristirahat selama satu hingga dua minggu karena kemarin
ia sempat mengalami kontraksi perut yang sangat hebat ketika berada di ruang UGD. Tapi sekarang ia merasa komplikasi perut itu tidak mempengaruhinya. Ia masih bisa makan dengan normal, bahkan nafsu makannya juga tidak ada perubahan. Hanya saja ia perlu memastikan sesuatu. Terkait bayangan hitam yang bersembunyi di balik semak-semak beberapa saat yang lalu. Mungkin saja itu salah satu suruhan targetnya yang seharusnya telah ia bunuh kemarin. Tapi sial baginya karena ia lupa pada si keparat Jongki yang ternyata adalah musuh di balik selimut. Bahkan cara pria itu untuk menyingkirkannya juga sangat halus. Ia hampir saja mati karena senjatanya sendiri. Benar-benar memalukan! Racun yang bersarang di dalam perutnya sudah pasti adalah salah satu racun ular koleksinya yang berhasil dicuri Jongki dari rumahnya. Dua minggu yang lalu dengan bodohnya ia membiarkan pria itu masuk ke dalam rumahnya dan melihat-lihat koleksi benda-benda pribadinya yang ia simpan di dalam bunker. Jadi, intinya ia sekarang sedang dalam fase paling idiot sepanjang masa, dan ia sendiri juga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi padanya. Hanya karena melihat portofolio Jongki yang dulu merupakan adik tingkatnya di camp pelatihan di Amerika, ia menjadi begitu percaya pada pria keparat itu hingga ia lupa jika siapapun yang keluar dari camp pelatihan itu bisa menjelma menjadi apapun, musuh atau teman.
“Hey, kau melamun? Aku masih menunggu jawabanmu Aiden.”
“Apa lagi yang harus kujawab? Sudah kukatakan jika kau perlu menampungku di apartemenmu hingga penyakit komplikasi sialan ini segera sembuh. Aku butuh seseorang untuk merawatku.”
“Jadi kau ingin aku menjadi babysitter-mu?” tanya Calistha sakarstik. Sudah ia duga jika Aiden tidak benar-benar akan tinggal bersamanya jika pria itu tidak membutuhkan bantuannya. Dan sial baginya karena ia tidak akan pernah bisa menolak keinginan pria itu. Meskipun Aiden adalah pria sialan menyebalkan yang seharusnya ia tendang jauh-jauh dari hidupnya, tapi ia tidak akan pernah bisa menolak permintaan pria itu. Yahh... ia memang bodoh, bahkan idiot karena cinta.
“Anggap saja seperti itu.”
“Baiklah, terserah kau saja. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu karena aku sendiri juga memiliki banyak urusan dengan hidupku yang rumit.” ucap Calistha pasrah. Ia berharap Aiden tidak akan terlalu berekspektasi tinggi dengan kehidupannya karena sekarang ia tidak lagi sama seperti dulu. Apartemennya
bukan apartemen yang tergolong mewah di Korea, namun masih cukup layak untuk menjadi apartemen seorang CEO dari perusahaan televisi. Sekarang ia tidak ingin menghambur-hamburkan uangnya yang sedikit itu hanya untuk sebuah hunian yang tidak akan ada artinya bila suatu saat ia diserang oleh orang-orang yang gila harta seperti dulu.
“Bagaimana kabar Luca?”
Entah bagaimana, tiba-tiba Aiden menanyakan mengenai Luca yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Namun bukan berarti Calistha menutup mata dan telinga pada pria yang memiliki jasa besar dalam hidupnya. Salah satu alasan Calistha tidak menghambur-hamburkan uangnya untuk hal-hal yang tidak penting di Korea adalah karena ia masih memasok uang yang cukup banyak demi kesembuhan Luca di London. Sejak lima bulan yang lalu, ia telah meminta Malfoy untuk merawat Luca yang ditinggalkan begitu saja oleh Emily dalam keadaan otak yang kosong tanpa memori. Sebenarnya Emily tidak benar-benar menghapus ingatan Luca. Salah satu dokter syaraf terbaik di London mengatakan jika Luca masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan kembali ingatannya, namun itu memang memerlukan waktu yang lama dan proses pengobatan yang rutin. Sehingga Calistha benar benar bekerja keras di Korea agar ia dapat membiayai pengobatan Luca yang cukup mahal di London.
“Ia masih dalam tahap pengobatan untuk mengembalikan memorinya. Emily yang jahat itu telah membuat otaknya seakan-akan kosong tanpa memori.”
Aiden melihat begitu banyak kemarahan yang terakumulasi di kedua mata bulat Calistha saat membicarakan mengenai Emily. Jika dipikir-pikir mereka berdua memiliki sedikit kemiripan, yaitu sama-sama pernah dibodohi oleh seseorang yang mereka anggap menjadi teman. Namun begitulah kehidupan, jika mereka tidak mendapatkan pengalaman buruk itu, mereka tidak akan pernah belajar untuk menjadi lebih waspada pada orang lain.
“Untung saja wanita itu sudah mati, jadi kau tidak memiliki dendam lagi untuk membunuhnya.”
“Tapi meskipun ia masih hidup sekalipun, aku juga tidak memiliki ambisi untuk membunuhnya.”
“Kenapa? Apa kau ingin berubah menjadi malaikat suci yang akan dengan mudahnya memaafkan orang lain?”
“Mungkin iya, karena aku sudah terlalu lelah dengan siklusnya yang akan terus berulang seperti itu. Dendam membawa pertumpahan darah, lalu pertumpahan darah akan kembali melahirkan dendam. Harus ada yang mengalah untuk mengakhiri semuanya Aiden, jadi aku memilih untuk memaafkan apapun yang telah terjadi di masa lalu. Fokusku sekarang adalah memperbaiki apa yang telah rusak di masa lalu, dan mencoba mencari keberadaan ayahku yang entah sekarang berada dimana. Tapi aku sangat yakin jika ayahku masih hidup di luar sana. Dan mungkin ia sedang melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya di masa lalu.”
Aiden hanya diam mendengarkan setiap kalimat yang terlontar begitu saja dari bibir wanita di sampingnya. Andai ia juga memiliki pemikiran yang begitu sederhana seperti milik Calistha, mungkin sekarang hidupnya tidak akan berada di ambang kematian seperti ini. Tapi ia bukanlah Calistha yang akan dengan mudah memaafkan orang lain. Terutama orang yang telah menyeretnya kedalam jurang kematian karena racun ular miliknya yang dicuri oleh orang itu. Setelah ini ia pastikan pria itu akan segera membusuk di neraka dengan sebuah kematian yang tidak akan pernah terlupakan sedikitpun.