The Sniper

The Sniper
Something Was Missing (Seven)



“Permisi, apa kau mengenal wanita ini? Namanya nyonya Ahn Jina.”


Calistha telah bertanya puluhan kali pada orang-orang yang ia temui selepas berdoa, namun dari semua orang yang ia tanyai, tidak ada satupun yang pernah mengenal Ahn Jina, bahkan melihatpun mereka tidak pernah. Dan kali ini Calistha sangat berharap jika wanita tua itu mengetahui sesuatu mengenai Ahn Jina yang dicari-carinya sejak tadi.


        “Aku tidak tahu.”


    Kedua pundak Calistha langsung meluruh begitu saja ketika jawaban yang sama lagi-lagi ia dapatkan dari orang yang berbeda. Padahal sebelumnya ia berpikir bahwa pencariannya akan lebih mudah setelah mereka tiba di desa Bukchon, tapi ternyata pikirannya benar-benar meleset. Sekarang bahkan ia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mencari mantan pelayan neneknya yang menjadi kunci dari teka teki yang ditinggalkan oleh ayahnya.


        “Ini sudah hampir petang, kita tidak bisa terus menerus seperti ini.”


        “Lalu kita harus seperti apa!” Bentak Calistha kesal. Ia sudah terlalu lelah dengan pikirannya sendiri dan keadaan yang benar-benar tidak berpihak padanya. Di tambah lagi sejak tadi Aiden terus menekannya untuk segera menemukan mantan pelayan neneknya agar mereka dapat segera memecahkan teka teki yang ditinggalkan oleh ayahnya, membuat Calistha benar-benar frustrasi dan ingin meledak saat ini juga.


        “Daripada mencari wanita yang berada di dalam foto itu, mengapa kau tidak bertanya pada kepala pendeta di kuil ini, mengapa ayahmu menjadi orang yang sangat berarti di desa ini? Apa kau tidak ingin mengetahuinya?”


        “Aku ingin, tapi kupikir itu bukan saatnya aku meratapi kesedihanku. Bukankah kau sendiri yang mengatakannya padaku jika seseorang yang telah pergi tidak perlu ditangisi


lagi. Mereka tidak...”


        “Aku tidak menyuruhmu menangisi ayahmu, tapi mencari tahu mengenai jasa-jasa ayahmua di desa ini.” Potong Aiden datar dengan wajah menyebalkan yang benar-benar membuat Calistha jengkel. Ia kemudian segera mengekori Aiden untuk bertemu dengan kepala pendeta yang saat ini masih sibuk membereskan kursi-kursi bersama penghuni kuil yang lain.


        “Permisi, kami ingin berbicara dengan anda sebentar.”


        “Maaf, ada perlu apa? Apa kalian adalah turis yang tersesat?”


        “Bukan, kami sengaja datang ke sini untuk mencari sebuah jawaban dari teka teki yang ditinggalkan oleh tuan Im Seulong. Dan kami lihat, seluruh penduduk di desa ini sangat menghormati tuan Im Seulong, apakah anda dapat menjelaskannya pada kami mengapa hal itu terjadi di sini?”


        “Siapa kalian?” Tanya kepala pendeta itu dengan pandangan menelisik. Raut wajah yang sebelumnya tampak bersahabat, kini tiba-tiba berubah menjadi tegas dan penuh kewaspadaan. Dugaan Aiden pun kini semakin kuat jika Im Seulong memiliki banyak masa lalu dengan desa ini, hingga membuat kepala pendeta menjadi bersikap waspada setelah mereka dengan terang-terangan membawa nama Im Seulong kedalam topik pembicaraan mereka.


            “Wanita ini adalah putri Im Seulong, Calistha Im. Kami ke sini karena foto ini.”


            Aiden menunjukan selembar foto pada kepala pendeta yang langsung diterima oleh pendeta itu dengan kerutan dalam di dahinya. Ia yakin jika foto itu pasti telah membuat pendeta itu mengingat sesuatu mengenai Im Seulong.


                “Apa kau benar-benar putri tuan Im? Bukankah telah terjadi penyerangan di rumahnya hingga membuat tuan Im meninggal?”


                “Itu benar, dan syukurlah aku selamat dari insiden penyerangan itu. Tapi ayahku meninggalkan selembar foto ini dengan tulisan Dol Hareubang di sebaliknya, apa anda tahu apa maksud pesan yang ditinggalkan oleh ayahku?”


                Cukup lama kepala pendeta itu terdiam sambil menatap foto dua orang manusia yang sedang tersenyum cerah kearah kamera. Kepala pendeta itu kemudian meminta mereka untuk mengikutinya masuk kedalam ruangan yang lebih tertutup agar orang-orang tidak mencuri dengar pembicaraan mereka yang sedikit rahasia.


                “Sejujurnya aku tidak mengenal dua orang yang berada di dalam foto ini, tapi aku mengenal tuan Im dengan baik. Sebenarnya sejak dulu desa ini selalu menjadi incaran pemerintah karena desa ini memiliki letak geografis yang sangat strategis, serta akhir-akhir ini wisatawan cukup meminati kebudayaan khas yang kami miliki di desa ini. Pemerintah kemudian berencana untuk memindahkan kami dari desa ini agar mereka dapat mengelola desa ini untuk menjadi desa wisata. Namun lebih dari itu, sebenarnya pemerintah sedang melelang desa kami agar dapat didirikan hotel-hotel mewah di sini oleh investor dari manca negara. Saat terjadi konflik yang kian hari kian memanas anatara pemerintah dan penduduk sekitar, tuan Im datang diantara kami untuk menjadi penengah. Dengan seluruh kebaikan yang ia miliki, tuan Im membantu kami untuk bernegosiasi dengan pemerintah. Setelah itu ia juga membantu penduduk desa Bukchon untuk memperbaiki desa kami agar lebih tertata, sehingga desa kami lebih diminati oleh para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Jeju. Bagi penduduk desa ini, tuan Im sudah seperti seorang titisan dewa yang sangat mulia. Ia tidak pernah melupakan desa ini dan selalu membantu kami ketika kami sedang kesulitan. Oleh karena itu saat kami mendengar berita mengenai penyerangan di kediaman tuan Im hingga menewaskan dirinya, kami semua sangat sedih. Kami benar-benar terpukul dengan kematian tuan Im dan ingin


sekali membalas semua jasa-jasa baiknya dengan melakukan doa bersama sejak pagi hingga petang. Maaf jika aku bersikap sinis padamu sebelumnya karena aku memiliki sesuatu untukmu. Tuan Im menitipkannya padaku untuk diberikan pada seseorang yang akan menemuiku suatu saat nanti. Tapi aku tak mengira jika hari yang ia maksud adalah hari ini, hari dimana putrinya datang untuk mengambil apa yang sebelumnya menjadi milik tuan Im.”


            Calistha seketika menatap Aiden sambil menunjukan senyum leganya yang terlihat sangat manis. Akhirnya ia dapat memecahkan teka teki yang ditinggalkan oleh ayahnya untuk mengambil alih semua harta warisan yang ditinggalkan ayahnya untuk masa depannya. Namun saat kepala pendeta itu kembali dengan sebuah gulungan panjang dan sepucuk surat, perasaan Calistha mulai berubah dan menjadi semakin gugup.


            “Ini adalah sertifikat beberapa properti milik tuan Im yang berada di Jeju. Di sisi timur desa ini ada sebuah villa yang dibangun empat tahun yang lalu oleh tuan Im. Dan sebuah benteng yang berada di sisi kanan dan di kiri desa ini adalah bangunan yang dibangun tuan Im untuk melindungi desa ini dari berbagai serangan.”


            Calistha menerima gulungan itu dengan tangan bergetar dan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ternyata ayahnya telah mempersiapkan banyak hal yang tak terduga untuknya. Seperti sebuah villa yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan berada di kaki pegunungan Jeju yang sangat indah.


               “Terimakasih. Kami akan membaca surat ini nanti. Kalau begitu kami permisi.”


                Aiden segera mengekori Calistha pergi meninggalkan kuil itu dengan terlebih dulu menatap sang pendeta dengan tatapan tajam. Ia merasa ada sebagian masa lalunya yang berkaitan dengan pendeta dan juga kuil, namun ia tidak mau memikirkannya lebih jauh karena semua itu hanya bagian dari masa lalunya yang tak pernah ia ingat, atau lebih tepatnya sengaja ia melupakannya untuk tetap menjadi Aiden yang sakit jiwa.


            “Malam ini kita menginap di villa milik ayahmu.”


            “Aiden, kenapa kau berpikir jika pendeta itu mungkin tahu jawaban dari teka teki yang ditinggalkan oleh ayahku?”


            “Karena bibi Ahn yang berada di foto itu tidak berasal dari Jeju, dan telah mati lima tahun yang lalu.”


            “Darimana kau tahu?” Tanya Calistha terkejut. Sejak tadi bahkan Aiden selalu bersamanya, dan memang pria itu selalu terlihat diam sambil terus berpikir dengan analisisnya sendiri.


            “Aku meminta bantuan salah satu temanku seorang peretas untuk mencari data-data milik Ahn Jina. Kecurigaanku mengenai identitas Ahn Jina yang tidak dikenal oleh satupun penduduk di sini membuatku berpikir jika kita mungkin telah melewatkan sesuatu. Foto itu mungkin hanya pengecoh, petunjuk sebenarnya adalah


kata Dol Hareubang yang berada di balik foto itu. Mungkin ayahmu hanya mengantisipasi jika foto itu jatuh ke


tangan orang lain. Ahn Jina yang berada di foto itu tidak akan terlacak karena ia memang telah mati. Namun aset sebenarnya yang disembunyikan oleh ayahmu adalah serifikat propertinya yang berada di Pulau Jeju.”


            “Aku benar-benar melewatkannya. Terimakasih, kau memang cerdas.” Puji Calistha tulus sambil memeluk Aiden. Dengan wajah datar pria itu tetap mempertahankan kebekuannya sambil menatap langit jingga yang sebentar lagi akan berubah gelap seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat.


            “Ayo kita pergi dari sini, kita masih memiliki masalah lain yang harus kita pecahkan.” Ucap Aiden sambil melirik sepucuk surat yang digenggam oleh Calistha. Mereka akhirnya segera meninggalkan desa Bukchon dengan Calistha yang terus mengoceh berisik di sebelah Aiden.


            Sementara itu, dari balik pepohonan yang rimbun di sisi kanan, seorang wanita dengan wajah datarnya sedang menatap kepergian mereka berdua sambil menggenggam sebuah ponsel hingga buku-buku tangannya memutih.


Malam ini di villa Bukchon!


-00-


Srakk


        “Aku tidak mengerti dengan semua pesan yang ditinggalkan oleh ayah.”


       Calistha melempar dua lembar kertas ke atas meja sambil terduduk lesu di sebelah Aiden yang sedang memoles pisau-pisaunya dengan sebuah cairan aneh berwarna pekat di atas meja.


        “Apa ini?”


        “Jangan sentuh! Jauhkan tanganmu dari sana.”


        “Apa yang ayahmu tulis di dalam suratnya?”


        “Isinya sebagian besar adalah pesan-pesan sebagai seorang ayah, dan yang terakhir ayahku meminta maaf karena telah meninggalkan banyak kesulitan untukku. Lalu, ayahku menuliskan ini.”


        Calistha menunjuk sebuah sajak yang ditulis ayahnya di akhir surat. Aiden lalu mencermati saja itu dengan cermat sambil mencoba mengingat potongan sajak yang sepertinya tidak asing untuknya.


        “Aku tidak tahu artinya tulisan ini.”


         “Itu adalah potongan sajak terkenal karya William Shakespeare.”


          “Kau tahu? Darimana kau belajar sajak seperti ini? Bukankah kau....”


           “Sajak ini sering terdengar di jalan-jalan sekitar Kathedral di Inggris.”


Fear


No More (by William Shakespeare)


Fear no more the heat o’ the sun


Nor the furious winter’s rages


Thou thy worldly task has done


Home art gone, and ta’en thy wages


Golden lads and girl all must


As chimney sweepers come to dust


“Inggris? Kathedral? Selama ini aku tinggal di Oxford, kenapa aku tidak tahu?”


            “Karena kau terlalu memikirkan kehidupanmu sendiri.” Jawab Aiden datar. Pria itu terus


mencoba mengaitkan makna dari puisi legendaris itu dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Bisa saja misi mereka setelah ini berkaitan dengan Inggris, tempat dimana Shakespeare hidup dan menuliskan karya karya hebatnya. Namun, sajak itu bisa saja mengandung makna lain yang ingin disampaikan Im Seulong pada putrinya.


Patss


“Aiden!”


            Calistha langsung memeluk lengan Aiden erat sambil membenamkan wajahnya di sekitar lengan kokoh Aiden yang keras. Tiba-tiba saja listrik di villa yang mereka tempati padam. Padahal tidak ada siapapun di dalam villa selain mereka berdua. Dengan gerakan awas, Aiden segera memindai seluruh sudut ruang tamu sambil membereskan barang-barang miliknya yang bercecer di atas meja.


                “Kita kedatangan tamu.”


                “Apa? Siapa?” tanya Calistha gemetar ketakutan. Sebisa mungkin ia terus menempel pada Aiden agar pria itu tidak tiba-tiba pergi dan meninggalkannya sendiri di dalam villa yang sangat gelap dan menakutkan itu. Apalagi ia sebenarnya tidak setuju untuk menginap di villa ayahnya saat ia tahu jika villa itu terlihat cukup menyeramkan dari luar. Ditambah lagi villa milik ayahnya juga tidak memiliki penjaga sedikipun, sehingga mereka perlu sedikit membersihkannya beberapa saat yang lalu sebelum dapat beristirahat dengan nyaman di dalam villa.


                “Aiden, aku takut.”


                “Diamlah, dimana kau meletakan semua barang-barang yang berkaitan dengan ayahmu?”


                “Ddi di kamar.” gagap Calistha. Aiden lalu segera melangkah cepat kearah kamar Calistha di bagian depan sebelum dugaanya mengenai penyusup benar-benar terjadi. Tetapi jika ternyata pemadaman lampu itu terjadi karena hal lain, ia jauh lebih bersukur daripada ini.


                “Sial!”


                “Ada apa?”


                “Ada orang-orang yang menyusup ke dalam villa. Kita telah diikuti sejak tadi. Cepat bereskan barang-barangmu, kita keluar dari pintu belakang.”


                “Memangnya ada jalan keluar di belakang?” tanya Calistha bodoh. Aiden langsung menggeram kesal di sebelah Calistha sambil bergerak cepat untuk memunguti semua barang milik Calistha yang berserakan di atas tempat tidurnya. Akan sangat gawat bila orang-orang itu berhasil menemukan Calistha dan mendapatkan sertifikat properti milik Im Seulong yang telah mereka dapatkan dengan susah payah hari ini.


                   “Jangan hanya melamun di sana, cepat bereskan barang-barangmu! Dasar bodoh! Kau ingin mereka menangkapmu dan mengambil seluruh harta milik ayahmu?”


                    “Hey, aku tidak bodoh! Aku hanya sedang syok.” jawab Calistha membela diri. Mereka lalu segera bergegas menuju pintu belakang sambil sesekali meraba-raba tembok untuk menemukan jalan di depan mereka. Aiden tidak bisa menggunakan senter dari ponselnya karena posisi mereka akan ketahuan oleh penyusup-penyusup itu, jadi mereka terpaksa meraba-raba tembok dengan penerangan seadanya yang mereka dapatkan dari cahaya bulan.


Brakk


                “Aiden...”


                “Ssshhh... jangan melihat ke belakang, cepat jalan!”


                “Aiden, kakiku tersandung meja.”


                “Berisik, cepat jalan!”


                Calistha terus menggenggam erat ujung jaket yang dikenakan Aiden sambil sesekali meruntuk kesal pada benda-benda yang ia tabrak. Di belakangnya, ia merasa orang-orang itu telah dekat dengannya dan hampir-hampir menangkapnya dan juga Aiden saat ini juga.


                “Sial! Mereka sepertinya telah mengintai kita sejak tadi. Kita terpaksa harus melawan mereka.”


                “Maksudmu?”


Ckrekk


                “Siapkan pistolmu sekarang juga, kita akan bunuh mereka satu persatu.” desis Aiden mengerikan dengan bunyi pistol terdengar siap untuk membunuh siapapun yang berani menghalangi jalannya.