The Sniper

The Sniper
Chaos (Seventeen)



        “Buka mulutmu, jangan menjadi pria keras kepala Aiden.”


            Calistha menggeram kesal saat melihat Aiden terlihat enggan untuk memakan makanan buatannya meskipun ia telah meyakinkan pria itu lebih dari sepuluh kali jika makanan yang ia masak benar-benar dapat dimakan dan aman.


            “Aku tidak mau mengambil resiko kembali ke tempat terkutuk itu lagi jika aku memakan makananmu.”


            “Kau pikir apa yang kumasukan ke dalam sini, ini sungguh aman. Ini lihatlah, aku juga memakan makananmu.”


            Calistha dengan gusar memasukan sesendok penuh risotto kedalam mulutnya dan mengunyahnya sedikit kasar untuk menunjukan pada Aiden jika hasil masakannya aman untuk dimakan. Selama tiga hari menemani Aiden di rumah sakit, Calistha mulai belajar untuk memasak makanan yang layak untuk Aiden. Disaat Aiden sedang tertidur, ia akan membaca resep-resep masakan melalui ponsel milik Aiden, lalu mengingat baik-baik resep itu di dalam kapalanya. Dan kemarin saat Aiden telah diijinkan pulang oleh doker, ia langsung pergi ke supermarket dan berbelanja kebutuhan rumah tangga untuk mengisi dapur milik Aiden yang selama ini jarang diisi oleh pemiliknya. Dalam hati Calistha telah bertekad pada dirinya sendiri untuk menjadi wanita mandiri, dan ia akan terus menjaga Aiden hingga pria itu benar-benar sembuh dari sakitnya.


            “Lihat, aku masih baik-baik saja, jadi kau juga harus makan dan meminum obatmu.”


            “Berikan padaku.”


            Aiden mengambil mangkuk setengah lingkaran yang dipegang oleh Calistha dengan kasar, lalu memutuskan untuk memakan sendiri makanannya. Selama ini ia tidak pernah sedikitpun bergantung pada orang lain ketika sakit, sehingga rasanya sedikit aneh saat Calistha terus merawatnya seperti ini layaknya bayi yang tidak bisa apa-apa.


            “Nah, jadilah anak yang baik dan jangan banyak membantah. Semakin kau bersikap baik, maka kau akan semakin cepat pulih dan sehat kembali.”


            “Richard memberikan informasi jika saat ini posisi kita masih aman. Aku juga telah menghubungi presiden Moon dan memberitahu kondisi kita padanya.”


            Seperti dipaksa untuk kembali ke dalam mimpi buruknya lagi, Calistha langsung membeku di tempat sambil menatap Aiden dengan sorot mata penuh ketakutan. Rasanya baru sebentar ia merasakan rasa lega yang sangat semu itu, dan sekarang Aiden justru mengungkitnya lagi. Selama di rumah sakit ia bahkan tidak berani keluar dari


kamar rawat Aiden di siang hari karena takut akan bertemu Emily atau anak buah Luca dari kartel milik ayahnya. Saat ini statusnya dan Aiden masih abu-abu. Bisa saja orang-orang dari kartel masih menyimpan dendam padanya dan berencana untuk melakukan rencana pembunuhan. Ditambah lagi masalah Rania, Aiden baru menceritakannya semalam. Pria itu menambah daftar ketakutannya dengan menceritakan jati diri Rania yang sesungguhnya, dan juga dendam yang dibawa oleh wanita itu untuk membunuh Aiden. Jadi posisi mereka saat ini sangat tidak pasti. Kemungkinan orang-orang yang mengincar mereka sedang mengintai mereka dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang.


            “Kurasa mereka tidak akan tahu tempat persembunyian kita di sini, rumahmu sangat aman dan juga nyaman.” Ucap Calistha lebih pada untuk menghibur dirinya sendiri yang panik. Melihat Aiden yang sedang memakan makanannya dalam diam, Calistha memutuskan untuk berjalan menuju jendela besar di kamar Aiden dan menyibak tirai merahnya untuk membiarkan cahaya matahari masuk. Sejak mereka pulang, Calistha belum berani mendekati jendela dan membuka tirainya lebar-lebar karena takut jika orang-orang jahat itu sedang mengintai mereka di luar sana. Namun sekarang, ia berusaha untuk menjadi lebih berani di hadapan Aiden karena ia telah bertekad untuk menjadi seorang gadis yang mandiri.


            “Pemandangan di sini sangat bagus, kau benar-benar memiliki selera rumah yang bagus.”


            “Dulu ini adalah bekas bangunan tua yang terbakar di tahun sembilan puluh tujuh. Tidak ada satupun yang berani membeli tanah ini karena mereka menganggap tanah ini berhantu. Jadi aku bisa mendapatkan tanah ini dengan harga yang murah.”


            “Maksudmu tempat ini berhantu?” tanya Calistha bergidik ngeri. Pikiran-pikiran buruk tentang dapur milik Aiden yang remang-remang atau pintu kamarnya yang terkadang berderit pelan saat malam hari membuat Calistha kini merasa bulu kuduknya mulai berdiri.


            “Menurutmu?” Tanya Aiden misterius. Calistha cepat-cepat menutup tirai merah milik Aiden dan melompat heboh ke sisi lain ranjang Aiden yang kosong. Sejak dulu ia selalu takut pada hantu dan hal-hal mistis yang berkaitan dengan itu.


            “Kau jangan menakut-nakutiku Aiden, itu tidak lucu.”


            “Apa aku terlihat sedang menakut-nakutimu?”


            “Tt tidak, jadi itu sungguhan?”


            “Saat itu aku belum mendapatkan bayaran sebesar sekarang, jadi aku tidak bisa membeli tanah yang mahal di kota ini. Lalu Carmine memberitahuku tempat ini. Dan dengan bantuan temannya, aku dapat membangun sebuah rumah dengan konsep yang sangat cocok untuk seorang sniper sepertiku.”


            “Tapi di sini tidak akan ada hantu kan?”


            Calistha menatap Aiden sungguh-sungguh sambil berharap pria itu akan menggelengkan kepalanya. Tapi, pria itu justru memberinya piring kotor dan menyuruhnya untuk segera keluar dari kamarnya.


            “Aku ingin istirahat.”


            “Tap tapi... aku takut.”


            “Keluarlah, tidak ada apapun di rumah ini. Dasar penakut!” Ucap Aiden datar, namun berhasil membuat nyali Calistha ciut karena pria itu mengatakannya dengan mulut pedasnya seperti biasa. Ia kemudian segera turun dari ranjang milik Aiden, dan berjalan dengan langkah berat menuju pintu kamar Aiden.


Brakk


            “Dasar Sniper kejam! Kau berhutang banyak hal padaku, ingat itu.” Umpat Calistha gusar di luar kamar Aiden. Dengan wajah bersungut-sungut Calistha segera turun menuju dapur untuk meletakan piring kotor bekas makanan Aiden di wastafel. Sejenak ia lupa pada cerita Aiden mengenai rumahnya, namun sedetik kemudian ia merasa bulu kuduknya merinding dan ia merasakan hawa dingin yang begitu asing terasa begitu nyata di tengkuknya. Cepat-cepat ia kemudian berjalan meninggalkan dapur untuk pergi ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Kebetulan ia juga merasa lelah dan ingin sedikit bersantai selagi Aiden juga tidur di kamarnya.


-00-


            Mata sendu itu tiba-tiba terbuka nyalang dan langsung memindai isi kamarnya dengan tatapan tajam yang terlihat begitu waspada. Mimpi buruk lagi-lagi mengusik Aiden dan membuatnya harus terbangun dalam keadaan yang tidak nyaman seperti ini. Mungkin memang sudah saatnya ia mengakhiri masa istirahatnya. Bersantai di


rumah tanpa melakukan pekerjaan apapun memang lebih mungkin untuk memancing ingatan masa lalunya kembali. Jadi secepatnya ia harus bergerak untuk mencari dalang dibalik penembakan Luca empat hari yang lalu. Dan setelah itu ia akan kembali pada pekerjaannya untuk mencari harta karun milik ayah Calistha di Kuba.


Srakk


            Aiden menggeser pelan kursi kayu yang sebelumnya digunakan Calistha untuk merawatnya. Sebagian hati kecilnya merasa terharu dengan usaha Calistha untuk merawatnya meskipun wanita itu tidak pernah merawat siapapun yang sedang sakit sebelumnya. Namun usahanya memang perlu diberikan apresiasi. Dan berkat kesabaran Calistha, kini ia merasa tubuhnya berangsur-angsur mulai membaik. Saat keluar dari kamarnya, Aiden berdiri di depan pintu kamar Calistha yang tertutup rapat. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku celana panjangnya, lalu ia menatap pintu kamar itu untuk beberapa saat dengan wajah datar tak terbaca. Dulu kamar


itu adalah perpustakaan kecil yang sengaja ia desain senyaman mungkin agar disaat ia lelah, ia dapat bersantai di sana sambil menenggelamkan dirinya pada buku-buku sejarah kesukaannya. Tapi ruangan itu sekarang telah berubah menjadi kamar pribadi milik Calistha. Meskipun semua bukunya masih berada di sana, namun ia tidak bisa lagi seenaknya masuk kedalam sana. Caslitha adalah wanita baik-baik, dan ia harus terus menjaganya agar tetap seperti itu.


            Selama kurang lebih lima menit Aiden berdiri di depan pintu kamar Calistha, ia kemudian memutuskan untuk turun ke bawah dan menengok kondisi dapurnya. Selama ia sakit, ia belum melihat bagaimana kondisi dapurnya selama digunakan oleh Calistha. Sempat terbersit perasaan ragu jika Calistha dapat menggunakan dapurnya dengan benar, tapi ia segera menyingkirkan pikiran itu dari dalam kepalanya. Seburuk-buruknya Calistha dalam hal dapur, wanita itu seharusnya tidak lagi membuat dapurnya kacau seperti dulu.


            Setibanya di dapur, Aiden sedikit dibuat takjub oleh dapurnya yang sekarang tampak berbeda. Setiap sudut di dapurnya kini dipenuhi oleh kertas-kertas note kecil yang berisi keterangan dari masing masing bumbu. Lalu ada beberapa kertas dengan ukuran agak besar di dinding dapur yang berisi resep makanan. Tanpa sadar Aiden menarik sudut bibirnya sedikit ke kanan untuk tersenyum. Meskipun itu bukan jenis senyuman yang tulus, bahkan senyuman lebar, namun setidaknya Aiden telah tersenyum. Sangat jarang, atau bahkan mustahil bagi seorang sniper sepertinya untuk tersenyum. Wajah dingin dan garangnya jauh lebih berguna untuk menggertak musuh-musuh sialannya di luar sana.


            Selesai dengan memeriksa dapur dan membuat kopi, Aiden kemudian berjalan menuju ruang tengah untuk sedikit bersantai. Ia ingin menikmati kopi robustanya dalam keheningan sambil memikirkan rencana selanjutnya yang harus ia lakukan. Tapi sudut matanya justru melihat tubuh kecil Calistha yang sedang meringkuk di atas


sofa dengan televisi yang masih menyala nyaring di depannya. Wanita itu tampak sangat pulas dengan tidur siangnya hingga Aiden tidak ingin sedikitpun mengganggu wanita manja itu. Sejak empat hari yang lalu ia tahu jika Calistha sangat kekurangan waktu untuk istirahat. Saat di rumah sakit tidurnya tampak tidak tenang, dan sesekali dokter atau suster akan mengganggunya saat mereka akan mengecek kondisi Aiden.


            Aiden mendengar Calistha mengigau tidak jelas dalam tidurnya. Pria itu lalu berdiri di depan tubuh kecil Calistha yang masih meringkuk tidak nyaman di atas sofa, lalu sebelah tangannya perlahan terjulur dan berhenti di pucak kepala Calistha.


            “Ssshhh.... tidurlah, dan jangan pikirkan apapun.” bisik Aiden pelan dengan tangan yang terus membelai kepala Calistha hingga wanita itu kembali tertidur dengan napas teratur yang tampak tenang.


-00-


            Wanita cantik itu mengangguk pelan, memberi hormat pada wanita muda di depannya sambil tersenyum sinis dengan gaya angkuhnya. Sebuah pertemuan perdana yang dilakukan tanpa sengaja. Emily tidak tahu jika Baron, kaki tangan Luca yang mati karena ditembak oleh Aiden, memiliki seorang jalang bernama Rania yang ternyata sama-sama memiliki dendam pada Aiden. Dan selama Luca koma di rumah sakit, saat ini posisi pemimpin kartel diisi oleh Emily. Sebagai kekasih Luca, orang-orang di kartel telah cukup mengenalnya dengan baik. Dan mereka tak sedikitpun meragukan gaya kepemimpinan Emily karena wanita itu hampir sama dengan Luca yang juga ambisius, namun lebih kejam daripada Luca.


            “Jadi kau juga ingin menyingkirkan mereka?” Tanya Emily tanpa basa-basi. Rania mengangguk mantap sebagai jawaban sambil menunjukan wajah penuh kebenciannya yang mengobarkan dendam. Baginya nyawa harus dibalas nyawa. Sebelum Aiden mati di tangannya, ia tidak akan pernah menyerah untuk mengejar pria itu.


            “Kalau begitu kau bisa masuk kedalam timku. Kebetulan aku juga ingin menyingkirkan sniper itu, dan juga Calistha, putri dari Jacob Im yang saat ini menggunakan jasa sniper itu untuk mencari harta karun milik ayahnya.”


            “Tujuanku bergabung bersamamu hanya untuk membunuh Aiden, masalah Calistha, aku tidak akan ikut campur.” Ucap Rania menegaskan. Baginya nyawa Aiden saja sudah cukup untuk memuaskan ambisinya yang sedang menggelegak ini.


            “Tidak masalah, kau bisa berkonsentrasi pada Aiden, dan aku akan berkonsentrasi pada Calistha. Namun mereka berdua saat ini sedang bersembunyi entah dimana, kita harus mencari keberadaan mereka segera, dan menyusun rencana untuk menyingkirkan mereka. Calistha pasti tidak akan berdaya tanpa snipernya, jadi kau harus segera menyingkirkan Aiden secepatnya, setelah anak buahku berhasil melacak keberadaan mereka.”


            “Hmm... tanpa kau perintahkanpun, aku pasti akan langsung membunuh Aiden dengan tanganku setelah aku menemukannya. Karena ulah keparat itu, aku harus kehilangan satu-satunya keluarga yang kumiliki. Huh, kakakku memang bodoh. Ia deengan mudahnya dapat diperdaya oleh bajingan itu dengan janji-janji manisnya yang menipu.”


            Emily tersenyum miring melihat begitu besarnya dendam yang dimiliki oleh Rania pada Aiden. Itu benar-benar bagus untuk perkembangan rencananya karena yang ia butuhkan memanglah orang-orang seperti Rania, orang-orang yang memiliki ambisi tinggi dan tanpa rasa takut untuk membunuh seorang sniper berbahaya seperti Aiden.


            “Kalau begitu mulai sekarang kau adalah bagian dari kami. Selamat datang di kartel d’Angelo Rania.” ucap Emily pelan, nyaris seperti bisikan di depan wajah pias Rania yang sedang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


-00-


            Udara dingin di pagi buta ini sama sekali tidak menyurutkan niat Calistha untuk mengunjungi gereja Santo Paulus bersama Aiden. Dengan mantel tebal dan sepatu boats merah, Calistha berjalan dengan penuh semangat menuju pintu gereja sambil sesekali bersenandung pelan. Akhirnya Aiden benar-benar memenuhi janjinya untuk menemaninya berdoa di gereja agung Santo Paulus. Meskipun mereka harus rela datang di pukul tiga pagi agar siapapun orang jahat di luar sana tidak mengenali identitas mereka yang sesungguhnya.


            “Kau juga harus masuk dan berdoa bersamaku di dalam.”


            Calistha langsung berkacak pinggang kesal saat ia melihat Aiden justru mengambil tempat di kursi taman, tempat mereka pertama kali duduk saat tiba di London dua minggu yang lalu. Dengan wajah datar, Aiden memilih untuk mengabaikan Calistha sambil menjepit sebatang rokok di bibirnya. Lalu ia segera mengeluarkan pemantik peraknya, dan mulai menghisap batang nikotin itu penuh nikmat untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai terasa dingin.


            “Kenapa kau mengabaikanku?”


Takk


            Calistha tak sengaja menyenggol lengan Aiden yang sedang memegang pemantik hingga


akhirnya pemantik itu terlempar jauh dan menimbulkan bunyi jatuh yang nyaring di atas aspal jalanan utama kota London yang sepi.


            “Apa masalahmu? Pergilah berdoa sendiri, jangan mencampuri urusanku!”


            Calistha langsung beringsut mundur dan berjalan tergesa-gesa masuk kedalam gereja. Ternyata kebersamaan mereka hingga sejauh ini tetap tidak bisa mencairkan hati beku Aiden yang tak tersentuh.


            “Permisi...”


            Cahaya terang dan suasana hangat yang menentramkan langsung menyambut Calistha saat pertama kali ia melangkahkan kakinya masuk kedalam gereja. Bangunan yang didominasi oleh warna putih dengan berbagai ornamen cantik dan juga patung-patung yang tertata rapi itu berhasil membuat Calistha terkagum-kagum


untuk beberapa saat hingga akhirnya ia menyadari posisinya yang tidak sendiri di sana. Beberapa orang tampak sedang berdoa dengan khusyuk di deretan kursi-kursi paling depan yang berhadapan langsung dengan patung besar Yesus Kristus. Dengan perlahan Calistha berjalan ke depan, berniat untuk bergabung bersama orang-orang di sana agar doanya semakin didengar oleh Tuhan. Hari ini ia ingin mendoakan semua orang yang dicintainya. Orang-orang yang telah mati, atau orang-orang yang mengalami kesialan karena mengenalnya. Dan terakhir, ia ingin mendoakan Aiden. Ia ingin Tuhan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Aiden dan juga kebahagiaan untuk pria itu.


            “Permisi, boleh aku bergabung?”


            “Tentu, silahkan.”


            Calistha tersenyum manis pada seorang wanita paruh baya yang begitu baik di sebelahnya. Ia lalu segera duduk dan mengatupkan tangannya dengan sungguh-sungguh sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Bibir Calistha seketika bergetar saat bayangan wajah ayahnya adalah bayangan pertama yang memenuhi pikirannya saat ia sedang khusyuk berdoa. Wajah ayahnya yang begitu ia rindukan tampak tersenyum sambil melambaikan tangan kearahnya.


Tess


            Satu air mata lolos begitu saja dan meluncur turun hingga ke dagunya. Semua bayangan tentang ayahnya terlalu menyakitkan untuk dikenang bersama doa-doa yang saat ini sedang ia panjatkan. Kemudian bayangan ke dua yang muncul di dalam kepalanya adalah bayangan wajah Rocky yang sedang berusaha menyelamatkannya dari kekacauan yang ia timbulkan beberapa hari yang lalu. Suara letusan senjata api dan teriakan orang-orang di sana terasa begitu nyata di dalam kepala Calistha hingga ia semakin tidak bisa mengendalikan derasnya air mata yang semakin membanjiri pipi tirusnya. Lalu wajah Luca juga ikut memperparah kesedihannya yang terasa semakin sesak memenuhi rongga dadanya. Semenjak ia mengenal Luca, ia merasa jika pria itu adalah pria yang baik dan yang akan membantunya untuk keluar dari masalah ini selain Aiden. Namun saat mengetahui fakta jika


semua orang yang berhubungan dengannya akan terluka, bahkan mati, Calistha merasa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan semua ini. Jika bisa, ia ingin menyerah saja dan membiarkan orang-orang serakah di luar sana untuk mengambil harta-harta milik ayahnya. Sungguh ia tidak masalah jika harus hidup miskin tanpa sepeserpun harta milik ayahnya karena baginya itu jauh lebih baik daripada ia memiliki semua itu, namun hidupnya justru dipenuhi oleh darah dan air mata.


            Aiden...


            Dan bayangan terakhir yang memenuhi seisi kepala Calistha adalah bayangan snipernya yang sejak awal telah menyelamatkannya dan melindunginya. Tak terhitung seberapa banyak pengorbanan yang dilakukan Aiden untuk tetap membuatnya hidup di dunia yang sangat kejam ini. Meskipun pada kenyataannya pria itu melakukan semua ini karena uang yang diberikan presiden Moon, namun ia merasa semua hal yang dilakukan oleh Aiden adalah lebih dari itu. Pria itu selalu ada untuknya, dan menggenggam tangannya dengan hangat saat ia merasa sendiri seperti saat ini.


Grep


            “Sudah kuduga kau akan menangis dan membutuhkan seseorang untuk menggenggam tanganmu.”


            Calistha perlahan-lahan membuka matanya saat merasakan tangannya terasa lebih hangat dengan hembusan napas beraroma rokok pekat yang sedang membelai lembut wajahnya yang sejak tadi telah dibanjiri oleh air mata.


            “Aiden....”


            Dan untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, saling berbagi kehangatan dari tautan telapak tangan Aiden yang sedang melingkupi tautan telapak tangan Calistha yang mungil. Lalu mereka berdua sama-sama terhanyut dalam keheningan menenangkan yang diciptakan oleh gereja Santo Paulus yang agung.