The Sniper

The Sniper
Back To Zero (Twenty Five)



            Jemari itu dengan telaten mengobati luka-luka yang bersarang di permukaan kulit Aiden satu persatu sambil sesekali mengernyitkan dahinya dalam saat dirasanya ia menekan luka-luka itu terlalu kuat. Calistha tampak begitu prihatin dengan luka-luka yang didapatkan Aiden di seluruh tubuhnya. Wajah tampan pria itu kini juga telah dipenuhi lebam-lebam kebiruan dengan luka robek di tulang pipi kanan serta pelipis kiri yang kesemuanya membuat Calistha merasa sangat tidak tega pada pria itu.


            “Kenapa kau hanya diam, apa kau tidak merasa sakit?” Tanya Calistha terheran-heran. Ia bahkan sudah merasa ngilu hanya dengan melihat luka-luka lebam yang bersarang di sekujur tubuh Aiden. Beruntung hari ini mereka tidak terlambat untuk pergi ke Seoul, dan pesawat ini memiliki fasilitas p3k yang cukup lengkap.


            “Aku sudah terbiasa mendapatkan luka seperti ini, kau tidak perlu khawatir. Setelah ini aku akan mengobati luka-lukamu juga.”


            Calistha seketika teringat pada rasa ngilu yang begitu menyengat di lengannya, betisnya, dan juga pipinya. Tadi ia sempat mendapatkan beberapa pukulan dari Emily, ditambah dengan anak buah Emily turut ikut campur dalam masalah mereka berdua.


            “Bagaimana dengan Luca, kita belum mengetahui kabarnya sejak ia dinyatakan kritis di rumah sakit. Dan sekarang Emily telah mati, kira-kira siapa yang akan mengurusnya?”


            “Aku sudah meminta Carmine untuk melihat keadaannya di rumah sakit. Saat ini ia sudah sadar, tapi ada yang tidak beres dengan keadaannya. Carmine mengatakan padaku jika Luca tersadar dalam kondisi linglung. Bahkan ia tidak tahu siapa namanya sendiri.”


            Kesedihan tampak tercetak jelas dari wajah Calistha saat mereka membicarakan Luca. Pria malang itu mungkin terlalu sial karena di sisa hidupnya yang berharga, ia justru dipertemukan pada Calistha dan Aiden. Sekarang Calistha nyaris tak memiliki kesempatan lagi untuk meminta maaf pada Luca. Ia sendiri merasa tidak


tahu apakah hidupnya akan bertahan lebih lama setelah ia kembali ke Seoul, dan mengakhiri semua pergolakan mengerikan ini bersama Aiden. Tapi jika mereka masih diberikan umur panjang oleh Tuhan, Calistha ingin sekali kembali ke London dan meminta maaf pada Luca atas segala kekacauan yang ia timbulkan bersama Aiden. Ia juga ingin merawat pria itu, jika ia diijinkan, untuk menebus semua dosa-dosanya selama ini yang tak akan pernah termaafkan.


            “Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Luca seperti itu karena ia memang ingin melindungimu.”


            Aiden berusaha menghibur Calistha yang sejak tadi tampak melamun sambil melilitkan perban di telapak tangannya. Pembicaraan mereka mengenai Luca sedikit banyak telah membangkitkan rasa bersalah Calistha pada pria itu. Namun sejujurnya pihak yang seharusnya menanggung semua dosa-dosa itu adalah Emily, karena wanita ular itu yang membuat keadaan mereka menjadi lebih buruk.


            “Aku merasa bersalah padanya. Ia menjadi seperti itu karena mencoba untuk melindungiku. Menurutmu apakah aku wanita pembawa sial?”


            “Mungkin...” jawab Aiden pendek. Jawaban Aiden itu sukses membuat wajah Calistha berubah masam. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari kehidupannya yang menyusahkan ini. Siapapun yang mencoba untuk mendekatinya akan berakhir sial seperti Luca dan Rocky. Tunggu hingga masalah ini benar-benar berada di puncak, orang selanjutnya yang akan menerima kesialan pasti adalah Aiden.


            “Pikirkan saja rencana kita setelah tiba di Seoul. Apa yang sudah terjadi tidak dapat kau ubah lagi. Aku akan mengobati tanganku.”


            Calistha hanya menatap Aiden kosong tanpa minat ketika pria itu mulai mengoleskan obat memar di sepanjang lengan kirinya hingga sebatas siku, lalu Aiden juga mengoleskan obat memar itu di sekitar buku-buku jarinya yang mulai membiru. Rasanya semua luka-luka itu tidak ada apa-apanya dibandingkan luka di hatinya


yang kian menganga. Ia hancur dengan kondisinya sendiri, ditambah lagi dengan kondisi orang-orang yang mencoba untuk menyelamatkan hidupnya. Kutukan yang ditinggalkan oleh ayahnya benar-benar sangat menyiksanya. Dan tiba-tiba saja ia memiliki pikiran untuk mengakhiri semua penderitaan ini dengan ikut menyusul seluruh keluarganya yang telah pergi meninggalkannya sejak lama.


            “Kita akan langsung pergi ke Blue House setelah tiba di Seoul.”


            “Kau yakin? Kita tidak ingin pulang terlebihdahulu ke rumahmu?” Tanya Calistha sedikit menggeser tubuhnya ke kanan setelah Aiden selesai membalur seluruh luka memarnya dengan obat oles khusus yang diberikan oleh pramugari pesawat.


            “Semakin cepat kita bertemu presiden, semakin cepat kita menyelesaikan misi omong kosong ini.”


            “Tapi bagaimana dengan semua pergolakan yang terjadi di luar sana, dan seluruh aset-aset milik ayahku?”


            “Itu kita pikirkan setelah kita mendapatkan keterangan dari presiden Moon. Pria keparat itu nyatanya menyembunyikan banyak hal dari kita. Ia juga harus melakukan ganti rugi untuk seluruh kerusakan yang terjadi di rumahmu. Lalu terkait sertifikat milik ayahmu di Jeju dan desa Bukchon, itu harus segera kita ambil untuk menyelamatkan warga desa Bukchon.”


            Keheningan setelahnya melingkupi mereka berdua, kala tak ada satupun yang ingin mengeluarkan suara untuk melanjutkan pembicaraan. Calistha sendiri memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah kanan, kearah jendela pesawat yang sedang menampakan pemandangan gelap langit malam yang membuatnya tak bisa melihat apapun selain ujung sayap pesawat yang bergerak-gerak pelan seiring dengan pergerakan pesawat yang terkadang berguncang pelan ketika menembus awan. Semua hal yang ia alami beberapa hari ini sekali lagi berhasil menampar idealismenya mengenai kehidupannya yang akan baik-baik saja setelah semua masalahnya selesai. Namun semua itu ternyata hanya angan-angan belaka karena setelah semua masalah ini dapat teratasi, maka ia masih memiliki pekerjaan rumah untuk memulihkan seluruh aset-aset milik ayahnya. Selain itu ia juga harus mulai memikirkan bagaimana kehidupannya setelah ini. Kehidupannya setelah ditinggalkan oleh snipernya.


-00-


            “Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?”


            Malfoy berseru dengan nada tinggi sambil berdiri membelakangi sang lawan bicara yang hanya menatap acuh tak acuh kearahnya. Pria muda itu rasanya masih tak habis pikir dengan drama keluarga yang telah menyeretnya masuk kedalamnya. Ia menyesal telah menerima kebaikan hati seorang Jacob Im jika pada akhirnya ia justru harus menerima kerumitan hidup seperti ini akibat ulah pria tua itu.


            “Karena aku tidak ingin memperkeruh segalanya?”


            “Tapi kau justru membuat semuanya kacau dengan berita mengenai kematianmu, dan permainan konyolmu untuk menjadi si tua Hornet yang menyebalkan itu!”


            Malfoy benar-benar tak kuasa menahan diri dari seluruh rasa emosinya pada Jacob yang baru saja membuat pengakuan dosa. Tepat tiga puluh menit yang lalu, Malfoy mendapatkan kejutan yang tak terduga saat mengujungi gubug kecil milik Hornet di perkampungan kumuh di Ilderton. Dengan wajah penuh senyum yang memuakan, Malfoy disambut oleh Jacob yang tidak lagi menggunakan alat-alat penyamarannya. Pria itu telah menanggalkan rambut palsunya yang berwarna putih, dan juga jambang tebal yang selama ini selalu memenuhi wajah putih orientalnya yang sialnya ternyata cukup tampan bila tidak menggunakan seluruh penyamaran itu. Malfoy rasanya benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Jacob yang lebih memilih untuk menyamar daripada menemui putrinya yang sedang dikelilingi oleh banyak masalah akibat seluruh ulah tak bertanggungjawabnya di masa lalu.


            “Aku terlalu malu untuk muncul di hadapan putriku.”


            “Lalu apa maksudnya dengan bersembunyi seperti ini dan menjadi si tua Hornet? Kau justru semakin memperkeruh keadaan. Lihatlah putrimu yang malang itu, ia hampir mati terbunuh karena seluruh perbuatan tak bertanggungjawabmu.” balas Malfoy kesal. Mengingat bagaimana wajah sendu milik Calistha yang selalu ditutupi wanita itu dengan senyuman penuh keceriaan membuat Malfoy tiba-tiba merasa miris. Apalagi setelah bertemu dengan ayahnya yang selama ini hanya berdiri dari kejauhan untuk menonton kehancuran putrinya. Itu sungguh sikap ayah yang sangat kejam. Sangat jauh dari pengakuan pria itu yang selama ini mengatakan jika ia sangat mencintai putrinya lebih dari apapun.


            “Kau seharusnya membantu putrimu untuk keluar dari seluruh masalah pelik ini.”


            “Aku ingin melakukannya, tapi keadaan sudah terlalu buruk. Aku dikhianati oleh Moon Hyesin keparat itu. Ia mengatakan akan membantuku untuk menjaga seluruh aset-aset milikku, tapi ia justru berambisi untuk memilikinya. Ia bahkan mengambil kotak kayu milikku yang berisi teka teki untuk menuju aset-asetku di Bukchon. Dan sepertinya sekarang ia telah berhasil mendapatkannya, berkat kebusukannya memperdaya Aiden. Sejujurnya aku sedikit tidak menyangka jika Aiden saat ini bekerja bersama-sama dengan putriku. Dulu ia hanyalah seorang anak jalanan menyedihkan yang dipungut oleh sahabatku, Tom. Melihat ia telah sukses menjadi seorang sniper, membuatku turut bangga atas prestasi yang saat ini telah ia lakukan hingga sejauh ini. Meskipun beberapa mungkin tidak dalam hal yang benar-benar bagus.”


            “Lalu bagaimana urusanmu dengan presiden Korea itu?”


            “Aku yakin mereka dapat mengatasi bedebah sialan itu. Selagi mereka membereskan masalah Moon Hyesin, aku akan membereskan masalah aset-asetku yang lain. Selama ini dunia telah dibuat gempar dengan rumor adanya sebuah harta karun besar di Kuba, padahal semua itu palsu. Tidak pernah ada apapun di Kuba. Moon Hyesin hanya ingin mengecoh semua orang agar tidak mengganggu rencananya untuk mencari harta karun milikku yang sebenarnya.” cerita  Jacob penuh kebencian. Buku-buku jarinya tampak mengepal kuat di atas meja kayu lapuk yang warna coklatnya telah memudar. Malfoy tahu jika kebencian Jacob pada pengkhianat itu telah berkembang sangat besar di hatinya. Dan tidak ada satupun yang dapat mengatasi hal itu selain Jacob sendiri yang harus melakukannya. Ia harus bergerak untuk memperbaiki keadaan yang terlanjur rusak karena seluruh sandiwaranya.


            “Malfoy, aku ingin meminta tolong satu hal lagi padamu.”


            “Apa? Aku akan membantu jika itu tidak memberatkanku.”


            “Temui putriku, dan....”


            Jacob tersenyum misterius kearah Malfoy sambil memikirkan berbagai macam ide yang berdesak-desakan di dalam kepalanya. Sebagai seorang ayah ia tidak akan bersembunyi di balik sikap pengecutnya, ia akan segera keluar dari persembunyiannya dan mengumumkan pada dunia jika Jacob Im masihlah hidup untuk menguasai seluruh aset-aset miliknya lagi.


-00-


           Calistha dan Aiden langsung mendapatkan perlawanan dari pasukan pengamanan presiden


ketika mereka bersikeras ingin masuk untuk bertemu presiden Moon. Aiden yang melihat seluruh anak buahnya yang kini justru berbalik menyerangnya menjadi geram. Ia kemudian terpaksa melawan mereka satu persatu bersama Calistha yang tampak benar-benar ingin membunuh siapapun yang dengan berani telah membuat


hidupnya menjadi sangat hancur seperti ini. Dan baku tembak itu tak bisa terhindarkan lagi, mereka berdua terpaksa menggunakan cara-cara kasar untuk menerobos pasukan pengamanan presiden demi bertemu dengan presiden Moon yang licik itu.


            “Mereka hanya sedikit, tapi setelah ini pasti akan datang satu kompi tentara pengamanan presiden.” Ucap Aiden sambil menatap hasil bidikannya yang telah terkapar tak berdaya di lantai dengan darah yang menggenang dimana-mana. Calistha yang melihat itu hanya menaikan alisnya sekilas dan tampak tak peduli dengan semua mayat-mayat itu. Baginya penyerangan yang terjadi di rumahnya jauh lebih mengerikan daripada ini. Bahkan mereka juga membunuh para pelayannya yang tak bersalah. Ia bersumpah akan membalas seluruh kematian orang-orang tak bersalah itu dengan tangannya sendiri.


            “Ayo masuk, waktu kita tidak banyak.” ajak Calistha dingin. Aiden merasa Calistha kini telah berubah menjadi seorang wanita yang berbeda. Wanita itu telah dipenuhi dendam dan ambisi untuk membunuh presiden Moon, pria yang telah membuat hidupnya hancur dengan seluruh permainan liciknya yang tak termaafkan. Namun ia menyukai Calistha yang sekarang. Ia kuat, penuh dendam, dan ambisius. Mereka berdua dapat menjadi rekan kerja yang saling menguntungkan.


            “Kalian, apa yang kalian lakukan di sini?” Tanya presiden Moon terkejut saat melihat Aiden dan Calistha telah masuk kedalam ruangannya dengan wajah penuh seringaian yang tampak mengerikan. Aiden sengaja membuka pintu ruangan presiden Moon lebar-lebar agar pria itu dapat melihat sendiri mayat orang-orang bodoh yang ia pekerjakan di depan pintu ruangannya. Pria tua itu harus tahu jika ia tidak seharusnya bermain-main dengan Aiden, karena sang sniper tidak akan pernah memberi ampun bagi siapapun yang telah membuatnya marah.


            “Kau selama ini memanfaatkanku untuk mewujudkan tujuan busukmu itu. Sekarang berikan seluruh sertifikat milik Im Seulong yang pernah kuserahkan padamu, atau semua rahasiamu akan terbongkar. Aku telah memiliki bukti-bukti transaksi gelapmu di sini.”


            Aiden menyeringai licik sambil mengeluarkan flashdisk putih dari dalam saku celana jeansnya. Wajah presiden Moon langsung berubah pucat pasi saat melihat Aiden mengeluarkan sebuah flashdisk yang jelas-jelas akan menjadi sumber mimpi buruknya seumur hidup. Ia tidak boleh membiarkan Aiden dan Calistha tetap


hidup. Meskipun ia belum seluruh aset-aset milik Im Seulong sepenuhnya, namun ia masih bisa mencarinya nanti. Saat ini keberadaan Aiden dan Calistha tidak penting lagi karena tujuannya dengan memperdaya dua manusia bodoh itu telah berhasil. Dulu ia membutuhkan Calistha untuk membuka kota misterius yang berhasil ia curi dari rumah Im Seulong. Lalu keberadaan Aiden semakin menyempurnakan tujuannya karena otak cerdas pria itu mampu menguraikan tiap-tiap teka teki yang ditinggalkan Im Seulong untuk putrinya. Sekarang ia hanya perlu menyingkirkan dua manusia bodoh itu, lalu mencari sisa aset-aset milik Im Seulong setelah ia berhasil menjadikan desa Bukchon sebagai desa wisata yang khusus dikelola oleh pemerintah.


            “Kalian tidak bisa menyerahkan bukti-bukti itu pada mahkamah agung dan kejaksaan. Tidak! Kalian tidak boleh melakukannya.”


            “Kau akan segera membusuk di penjara pria sialan. Bahkan kau akan mati di sana tanpa ada seorangpun yang akan mempedulikanmu.” Geram Calistha kesal. Rasanya ia masih tak menyangka jika ayahnya telah diperdaya dengan sangat parah oleh rekannya sendiri. Andai ia tidak tinggal di Oxford dan lebih memperhatikan


ayahnya, mungkin ia dapat mencegah semua ini terjadi, karena salah satu kesalahan terbesarnya hingga membuat ayahnya mati adalah karena ketidakpeduliannya pada seluruh aset-aset berharga milik ayahnya. Selama ini ia


terlalu acuh, menganggap jika ayahnya akan selalu kuat untuk menjaga seluruh aset-aset miliknya seorang diri. Namun ia lupa jika ayahnya tetaplah manusia biasa yang nantinya juga akan mendapat giliran untuk menghadap Tuhan.


            “Maafkan aku Calistha, aku telah membunuh ayah yang sangat kau cintai itu, tapi aku sangat berterimakasih padamu yang telah menuntunku pada aset berharga milik Seulong.”


            “Sialan!”


            Calistha hampri saja maju untuk menghajar wajah memuakan presiden Moon, namun gerakannya segera ditahan oleh Aiden yang sejak tadi tampak begitu tenang di sebelahnya, meskipun sebenarnya pria itu juga sama marahnya dengan Calistha.


            “Cepat serahkan surat-surat berharga itu, atau kau ingin karirmu hancur sekarang juga?”


            “Tidak! Aku tidak akan menyerahkan surat-surat itu pada kalian. Sudah lama aku ingin membuat desa Bukchon sebagai desa wisata yang dikelola langsung oleh pemerintah. Tapi Seulong justru membeli desa itu dan memberikannya pada penduduk sekitar untuk dijadikan tempat tinggal. Dan selama ini aku selalu membujuk Seulong untuk menjual tanah itu pada negara dengan harga dua kali lipat, namun ia selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Akhirnya kesabaranku untuknya sudah benar-benar habis. Aku tidak bisa lagi menunggu


Seulong hingga ia menyerahkan seluruh tanah di desa itu padaku. Jadi...”


            “Kau menyuruh anak buahmu untuk membunuh ayahku dan orang-orang tak bersalah di rumahku? Kau presiden sialan yang tak punya hati! Tunggu hingga seluruh rakyat Korea tahu jika mereka memiliki seorang presiden yang lebih menjijikan daripada seonggok kotoran.”


Brakk


            Bersamaan dengan itu pintu ruangan presiden Moon tiba-tiba didobrak paksa oleh sekelompok tentara pengamanan presiden bersenjata lengkap. Mereka semua segera menyeruak masuk kedalam ruangan presiden dan mengepung Calistha serta Aiden yang langsung memasang gerakan awas. Negosiasi mereka sepertinya tidak berjalan lancar, dan mereka terpaksa melakukan baku tembak dengan para tentara itu agar dapat melarikan dari Blue House untuk menyusun rencana lain.


            “Tangkap mereka, dan ambil flashdisk putih yang disembunyikan Aiden di saku celananya.” Perintah presiden Moon dari balik meja kerjanya. Lima orang tentara kemudian segera mengamankan presiden Moon, keluar dari area baku tembak yang dapat membahayakannya. Sementara itu, Aiden dan Calistha tampak kewalahan dengan puluhan tentara pengamanan presiden yang terus saja berdatangan, seperti tak ada habisnya.


Bughh


            “Akhh..”


            Calistha jatuh terduduk di atas lantai ketika salah satu tentara memukul pinggangnya. Tiga orang tentara kemudian datang mengeroyoknya tanpa ampun disaat Calistha mencoba berdiri untuk melawan mereka satu persatu. Aiden yang melihat itu segera menyikut salah satu tentara yang hendak mengunci pergerakannya, kemudian Aiden segera menembak tiga tentara yang dengan kejinya sedang memukuli seorang wanita lemah yang sudah tampak tak berdaya di atas lantai.


            “Berdirilah.” Teriak Aiden sambil menyeret tubuh Calistha agar segera berdiri dan berlari. Mereka kemudian berlari tertatih-tatih menghindari kejaran pasukan pengamanan presiden sambil sesekali Aiden menimbaki tentara-tentara tak berguna di belakangnya.


            “Masuk kedalam lift!”


            Aiden segera mendorong tubuh Calistha meringsek masuk kedalam lift yang kebetulan terbuka di samping kiri mereka. Dan bertepatan saat tentara-tentara itu mendekat, pintu lift seketika menutup. Salah satu tentara namun sempat menembakan satu peluru kearah lift, hingga Aiden dan Calistha refleks melakukan tiarap di atas lantai lift untuk menghindari gerakan peluru yang melesat kearah mereka.


            “Bagaimana caranya kita keluar dari sini? Hosh hosh hosh...”


            Calistha terengah-engah di samping Aiden sambil menatap cemas monitor lift yang terus bergerak turun. Ia khawatir saat pintu lift itu terbuka, sekelompok tentara telah menunggu mereka dengan moncong pistol yang diarahkan pada mereka. Jika begitu usaha mereka hingga sejauh ini akan menjadi sia-sia. Mereka hanya akan


mati dengan mengenaskan tanpa bisa mencegah perbuatan presiden Moon yang bengis itu.


            “Minggir, mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.”


Cekrek


            Lagi-lagi Calistha melihat sisi lain dari Aiden yang tampak begitu kelam dan jahat. Dari kedua matanya, Calistha tahu jika Aiden telah berubah menjadi Aiden yang lain, Aiden yang tidak segan-segan untuk menghabisi siapapun yang berani mencampuri urusannya. Dan saat pintu lift berdentang nyaring, Calistha segera melakukan


tiarap di sisi kanan lift sambil memalingkan wajahnya kearah lain karena ia tidak mau melihat insiden pembunuhan ini tepat di depan matanya.


Dorr dorr dorr dorr


            Suara tembakan itu terdengar bersahut-sahutan nyaring diiringi dengan suara teriakan pilu para tentara yang berhasil ditembak Aiden hingga mati. Calistha yang mendengar jerita para tentara itu hanya mampu memejamkann matanya sambil memikirkan hal-hal menarik yang sekiranya dapat mengalihkan fokusnya dari suara


orang-orang terbunuh itu. Namun semakin ia berusaha, suara itu justru semakin keras memasuki gendang telinganya hingga pada akhirnya Calistha hanya mampu terdiam pasrah hingga suara-suara itu hilang dengan sendirinya, digantikan oleh suara dingin Aiden yang begitu kejam mencemooh para tentara-tentara bodoh itu.


            “Kalian hanya mati sia-sia untuk si keparat itu.”


            Dengan kepala yang sedikit berdenyut, Calistha segera bangkit sambil menyipitkan mata ngeri kearah genangan darah yang tampak begitu menjijikan di depan pintu lift. Mayat para tentara yang bergelimpangan itu seakan-akan mengingatkan Calistha pada sosok bengis di depannya yang beberapa minggu terakhir ini justru selalu ia kagumi hingga ia nyaris gila karena terus memikirkan pria itu.


            “Sudah? Kau sudah selesai menghabisi mereka?”


            “Sepertinya, tapi satu orang di sana belum sepenuhnya mati. Sebentar lagi ia pasti akan mati.”


            Aiden menginjak dada seorang tentara yang sedang diambang hidup dan mati itu tanpa perasaan, lalu melewatinya begitu saja tanpa sambil menunjukan wajah bengis yang akan menjadi mimpi buruk bagi pria itu sebelum benar-benar meninggal. Calistha yang melihat Aiden telah berjalan mendahuluinya, segera menyurul pria itu dengan langkah lebar-lebar karena merasa jijik dengan banyaknya darah yang bercecer di sekitarnya. Bahkan ia merasa kakinya seperti ikut menginjak darah meskipun sebenarnya hanya sepatu boatsnya yang menginjak genangan darah itu.


            “Kita harus membuat perhitungan pada presiden keparat itu. Moon Hyesin harus.... awas!”


            Semuanya terjadi begitu cepat. Tubuh Calistha kini telah meluruh di atas lantai dengan luka tikaman yang dilakukan oleh sang tentara yang hampir mati itu. Dan Aiden refleks segera menghadiahi tentara itu tembakan bertubi-tubi hingga tubuh tentara itu koyak dengan darah yang mengalir dari beberapa lubang tubuhnya. Ia kemudian segera bersimpuh di dekat tubuh Calistha yang mulai kehilangan kesadaran akibat luka tusukan belati yang cukup dalam di pinggang kanannya.


            “Bertahanlah...”


            Tiba-tiba Aiden merasa kepalanya berkunang-kunang saat melihat Calistha tengah bersimbah darah dengan luka tusukan di pinggangnya. Ia seperti melihat kilasan-kilasan masa lalunya yang teramat pahit dan juga menyakitkan. Teriakan, suara barang-barang pecah, lalu suara deru napasnya sendiri yang terdengar naik turun tak beraturan karena panik membuat Aiden seketika lumpuh. Ia tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Calistha selain mencoba untuk meraih tubuh wanita itu, namun gagal karena pada akhirnya ia justru kehilangan kesadarannya sendiri karena suara berisik yang terus mengoyak gendang telinganya hingga ia merasa tidak kuat, dan semuanya berubah menjadi gelap.