
“Menangis tidak akan pernah mengembalikan apa yang telah terjadi, jadi diamlah dan pikirkan langkah
selanjutnya untuk memperbaiki hidupmu yang kacau.”
Calistha terlihat masih sangat terpukul dengan kematian Rocky yang disebabkan oleh kecerobohannya. Meskipun mereka tidak pernah mengenal satu sama lain, tapi ia merasa benar-benar sangat bersalah pada Rocky. Andai ia mampu, ia ingin kembali dan mengurus jasad Rocky dengan layak. Sebagai bentuk dari rasa bersalahnya, ia ingin memberikan tempat peristirahatan yang layak untuk Rocky. Sayangnya Aiden tidak mengijinkannya untuk melakukan hal itu dan hanya fokus pada apa yang harus segera mereka selesaikan. Masih ada banyak tugas yang menunggu mereka di depan, termasuk menemukan bedebah lain yang ingin membunuh Luca kemarin malam. Saat mengingat Luca, entah mengapa hati Calistha seketika terasa mencelos. Ia seperti mendapatkan beban ekstra karena harus memikirkan nyawa orang lain yang bisa saja mendapatkan masalah karena keberadaanya. Hidup ini tidak adil, disaat ia merasa senang karena dapat mengenal orang lain dengan lebih baik, mereka justru seperti mendapatkan kesialan karena keberadaanya di dekat mereka justru hanya akan mendatangkan kematian. Lihatlah Aiden, sudah berapa banyak kesialan yang didapatkan pria itu setelah menjadi bodyguardnya. Bahkan sekarang Calistha merasa khawatir dengan kondisi Aiden pasca gegar otak yang dialaminya. Ia yakin pria itu belum sepenuhnya sembuh, hanya mencoba untuk terlihat sembuh di hadapannya.
“Bagaimana kondisi kepalamu? Apa itu masih sakit?”
Calistha memutuskan untuk menghentikan tangisannya yang sangat tidak berguna sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk melegakan paru-parunya. Sesak yang sebelumnya ia rasakan perlahan-lahan hilang, digantikan dengan perasaan lega, namun masih sedikit meninggalkan rasa perih di dalam sana. Yeah, semua penyesalan itu tidak akan bisa pergi dengan mudah. Sampai kapanpun mereka akan tetap di sana, menjadi luka yang tidak akan pernah kering di dalam hati Calistha. Dan saat ini Calistha hanya sedang berusaha beradaptasi dengan rasa sakitnya agar tidak terus berlarut-larut dalam kesedihannya yang seperti tidak ada akhirnya.
“Jangan pedulikan aku, pedulikan kondisimu sendiri. Sekarang kita harus pergi menemui Luca, aku baru saja mengirimkan pesan padannya, dan ia sedang berada di kartel milik ayahmu.”
“Dimana itu? Tempat kemarin saat kau membunuh Baron?”
“Ya, ia ingin mendiskusikan sesuatu pada kita. Ayo, tenanglah, dan jangan terlihat mencolok.”
Aiden menggandeng tangan Calistha dan sedikit menarik wanita itu agar berjalan lebih cepat diantara kerumunan para pejalan kaki yang sedang memadati jalanan St Anne’s yang saat ini mereka lewati. Beberapa kali Calistha melihat anak buah El-Diablo sedang mencari mereka di sudut-sudut gang. Namun untungnya mereka belum menyadari keberadaannya yang tersembunyi di tengah kerumunan pejalan kaki yang baru saja menyaksikan sebuah festival tahunan yang diadakan di jantung kota. Dari kejauhan Calistha melihat sebuah bus kuning berhenti di sebuah halte, lalu Aiden menyeretnya untuk segera menaiki bus itu dan pergi dari jalan St Anne’s secepatnya. Dan saat bus perlahan-lahan mulai melaju meninggalkan kepadatan jalan itu, Calistha dapat sedikit meghembuskan napasnya lega sambil menatap nanar jalanan padat di sampingnya. Apa yang baru saja terjadi padanya, itu sungguh mengerikan. Lagi, ia harus mendapatkan masalah yang sama. Kematian rasanya begitu dekat dengan dirinya saat ini. Ia lalu menoleh kearah Aiden di sampingnya yang sedang menatap lurus ke depan. Jika hidup itu semengerikan ini, lalu bagaimana pria tangguh di sebelahnya ini dapat terus meloloskan diri dari malaikat maut? Apa Aiden memiliki cukup banyak cadangan nyawa yang dapat membuatnya terus memiliki kesempatan untuk hidup di dunia yang kacau ini?
“Jangan terlalu dipikirkan, semua ini pasti akan segera berakhir.” Ucap Aiden datar tanpa menoleh kearah Calistha. Sejak tadi ia sadar jika wanita itu terus menatapnya dengan kedua mata sayunya yang menyiratkan kefrustrasian pekat. Dan sekarang perlahan-lahan ia merasa jika misi ini adalah sebuah misi bunuh diri
untuknya. Sekarang bukan hanya satu musuh yang ia hadapi, bahkan kemunculan Rania juga ikut memperparah semuanya. Mungkin ia memang perlu menyingkirkan wanita itu secepatnya agar bebannya sedikit berkurang. Padahal ia telah berjanji pada Hannah untuk melindungi adiknya. Tapi Rania terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup. Jadi jalan satu-satunya, ia juga harus mengirim wanita licik itu untuk berkumpul bersama keluarganya di Neraka.
“Kira-kira bagaimana kondisi Emily, aku mengkhawatirkannya. Semoga ia baik-baik saja di rumah sakit.”
“Wanita itu tidak berhak untuk kau khawatirkan.”
Aiden menipiskan bibirnya ketika ia diingatkan pada satu sosok yang saat ini telah berubah menjadi musuhnya. Ia hampir-hampir lupa jika wanita itu juga perlu diwaspadai karena ia telah menunjukan rasa bencinya secara terang-terangan pada Calistha. Dan tidak menutup kemungkinan nyawa Calistha diincar juga oleh Emily agar ia dapat memiliki Luca untuk dirinya sendiri.
“Aiden... aku ingin ke gereja Santo Paulus.”
“Untuk apa?”
“Berdoa. Aku ingin mendoakan arwah Rocky di gereja yang paling agung di sini. Kumohon, jangan menolakku.”
Calistha sudah terlebihdulu membungkam bibir tipis Aiden yang hampir saja melayangkan penolakan atas permintaannya yang menurut Aiden merepotkan itu. Berdoa bukanlah gayanya, dan semenjak Calistha masuk kedalam hidupnya, ia menjadi sedikit bersinggungan dengan kegiatan sia-sia itu. Tuhan hanyalah omong kosong, dan ia tidak mau terlihat bodoh seperti Calistha yang sibuk mengemis-ngemis keselamatan pada Tuhan yang selama ini tidak pernah peduli pada manusia-manusia ciptaannya. Jika Tuhan memang ada, seharusnya ia tidak menciptakan jalan hidup yang sangat mengerikan ini untuknya, atau untuk orang lain yang juga sama menderitanya di luar sana. Jadi, menurutnya Tuhan itu tidak ada. Untuk apa ia menciptakan manusia, yang katanya adalah makhluk dengan derajat yang paling tinggi, jika pada akhirnya ia hanya menelantarkan manusia pada kesengsaraan tak bertepi.
“Kita sudah sampai, ayo turun.”
Calistha menghembuskan napasnya berat sebelum mengekori Aiden untuk turun dari bus yang
telah mengantarkan mereka ke halte terdekat menuju kartel milik ayahnya. Di dalam hatinya ia sangat berharap jika kematian El-Diablo adalah akhir dari teka teki yang dituliskan oleh ayahnya, karena ia merasa sudah tidak sanggup untuk melihat kematian lain yang lebih mengerikan di depan matanya.
“Calistha... kau baik-baik saja?”
Calistha tersenyum kecil menyambut Luca yang langsung membrondongnya dengan kata-kata penuh nada kekhawatiran yang sangat kental. Ia benar-benar merasa beruntung karena memiliki Aiden dan Luca. Saat ini hanya merekalah yang benar-benar peduli padanya.
“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.”
“Aku telah membunuh El-Diablo, tapi anak buahnya akan sedikit merepotkan setelah ini.”
“Tidak masalah, biar aku yang mengurusnya. Sekarang ayo kita masuk, ada sesuatu yang ingin kujelaskan pada kalian.”
Mereka bertiga lantas berjalan beriringan dalam diam dengan Calistha yang berada di tengah-tengah antara Luca dan Aiden. Namun saat mereka sedang berjalan, Luca tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mendorong tubuh Calistha ke kanan dengan keras hingga Calistha membentur tubuh Aiden sekali sebelum jatuh menabrak pot
bunga besar yang diletakan di sisi kanan pintu masuk kartel.
Bruggh
“Luca!”
Calistha yang baru saja terjatuh tampak belum sepenuhnya sadar dengan apa yang baru saja
terjadi. Ia baru saja ingin mengeluh karena sikunya yang terasa sakit, namun teriakan Aiden yang keras menyadarkannya akan sesuatu yang tampak ganjil di depan matanya.
“Cals, cepat masuk!”
“Ada....”
Calistha memekik terkejut saat melihat tubuh Luca telah jatuh di atas aspal kotor dengan
darah segar yang mengalir dari... dadanya. Seluruh tubuh Calistha terasa dingin dan bergertar hebat. Lagi-lagi ia harus menyaksikan peristiwa seperti ini. Dan parahnya hal itu terjadi pada orang yang baru saja ia pikirkan. Luca? Ia tidak mau kehilangan pria itu. Luca terlalu baik untuk pergi dengan cara yang sangat mengenaskan seperti ini.
“Cepat masuk, ada sniper di sekitar sini.”
“Aa Aiden.. apa yang baru saja terjadi?”
Aiden mendengus gusar saat melihat Calistha justru menangis tersedu-sedu tanpa
mengindahkan perintahnya. Ia dengan waspada segera menyeret tubuh Calistha menjauh sambil mengamati kondisi kartel yang sepi. Dari tumpukan barel-barel yang tersebar disekitar kartel, Aiden sempat melihat bayangan seseorang yang sedang berlari menjauh keluar dari kartel. Tidak salah lagi, seseorang sedang mengincar salah satu dari mereka bertiga. Namun Aiden masih menyangsikan jika target kali ini adalah Luca, karena sejujurnya peluru itu meleset. Peluru itu tidak meledak di jantung Luca, namun sedikit ke kiri, dan jika dilihat dari noda darah yang merembes di permukaan kemeja biru Luca, peluru itu tidak mengenai organ vital milik pria itu.
“Luc... Luca...”
Calistha tampak kesulitan bicara saat tubuh Luca mulai dikerumini oleh anak buahnya yang langsung dengan sigap membawa tubuh Luca menuju rumah sakit. Beberapa orang langsung memberikan tatapan penuh selidik pada Aiden dan Calistha, karena hanya mereka berdua yang bersama Luca saat kejadian itu berlangsung. Seorang pria asing dengan rambut panjang berwarna tembaga tiba-tiba menghampiri Aiden dan mencengkeram kerah kaus yang digunakan Aiden dengan kasar sambil mengumpati pria itu dengan sumpah serapah yang terdengar sangat kasar.
“Kau yang membunuh Baron, dan sekarang kau ingin membunuh tuan Luca juga?”
“Cih, aku tidak melakukan apapun pada Luca.” Balas Aiden meremehkan. Calistha langsung berusaha menjauhkan pria berbadan besar itu dari Aiden, namun tubuh kecilnya justru di tepis dengan kasar hingga Calistha jatuh terjerembam ke atas tanah dengan siku yang terlebihdulu membentur permukaan tanah.
“Brengsek sialan, kau menyakitinya!”
Bughh
Aiden dengan penuh emosi memukul wajah pria berambut tembaga itu, dan mendorongnya menjauh agar ia bisa segera menolong Calistha yang masih meringis kesakitan di atas tanah dengan siku berdarah yang tetesannya mulai mengotori tanah.
“Jangan pernah coba-coba melukainya atau kalian akan mati di tanganku.” Teriak Aiden murka. Calistha mencoba menetralkan kemarahan Aiden dengan mengatakan pada pria itu jika ia baik-baik saja. Namun sekeras apapun ia mencoba, Aiden tetap saja marah dan semakin dilingkupi emosi saat orang-orang dari kartel itu mulai menodongkan senjata mereka kearahnya dan juga Calistha.
“Cih, ingat bung... kau saat ini sedang berada di rumah kami, kau tidak dalam kapasitas untuk mengancam kami.” Ucap pria berambut tembaga itu sombong. Tulang pipinya yang tampak membiru membuat pria itu sesekali meringis kecil kearah Aiden yang sedang menatapnya dengan tatapan setajam elang.
“Aiden... apa yang akan kita lakukan setelah ini?” Bisik Calistha ketakutan. Dua puluh moncong pistol yang saat ini mengarah padanya dan juga Aiden benar-benar membuat lutut Calistha lemas seketika. Jika Aiden tidak merangkul pundaknya, mungkin saat ini ia telah jatuh terduduk di atas tanah dengan buliran air mata yang hampir menetes dari pelupuk matanya. Ia mengkhawatirkan kondisi Luca, dan ia ingin menemani pria itu di rumah sakit. Namun anak buah Luca yang merepotkan ini justru memperburuk keadaan. Ditambah lagi orang yang menembak Luca masih berkeliaran di luar sana. Seharusnya mereka segera mengejar penembak itu, bukannya menghabiskan waktu untuk menggertak dirinya dan juga Aiden.
“Sekarang mengakulah, apa kau yang menembak tuan Luca?”
“Huh, menurutmu? Hanya orang tolol yang berpikiran seperti itu.” Balas Aiden sakarstik. Pria berambut tembaga itu tampak marah dengan penghinaan Aiden yang sangat kasar itu. Ia lalu memerintahkan anak buahnya yang lain untuk menjauhkan Calistha dari Aiden. Kemudian mereka semua bersama-sama memukuli Aiden hingga
pria itu sendiri kewalahan untuk menghadapi lima belas orang yang saat ini sedang menghajarnya.
“Aiden... jangan pukul Aiden, ia tidak bersalah... Aiden!”
Calistha terus meronta-ronta di dalam cekalan lima anak buah Luca. Rasanya sakit melihat Aiden yang terus dipukuli sambil berusaha melawan orang-orang itu dengan kedua tangannya sendiri yang mungkin sudah tak berdaya untuk membalas pukulan dari lima belas orang pria berbadan besar di depannya. Air mata Calistha terus tumpah, menangisi keadaan Aiden yang terlihat mengenaskan dengan darah yang keluar dari mulut serta kepalanya. Orang-orang itu sungguh kejam, mereka terus memukuli Aiden meskipun ia sudah tidak sanggup lagi untuk melawan lima belas orang itu sekaligus. Ditambah lagi ia baru saja mengalami kecelakaan dan mendapatkan cedera kepala yang tidak bisa dianggap remeh.
Bughh
Bugghh
Pria berambut tembaga itu mendecih sinis di atas tubuh Aiden yang tampak tak berdaya di atas tanah. Darah dan debu, bercampur menjadi satu di seluruh wajah Aiden, hingga membuat pandangan pria itu mejadi sedikit kabur. Namun Aiden tetap berusaha untuk bangkit dan membalas orang-orang yang telah memukulinya dengan membabi buta. Sayang, kondisinya saat ini sudah tak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri dengan tumpuan kaki yang tidak lagi tegak, sambil berusaha menormalkan deru napasnya yang masih menggila, efek dari serangan membabi buta anak buah Luca.
“Hoshh hoshh.... aku pasti hoshh... hosh... akan membalas kalian semua!”
“Aiden... ka kau... sudahlah, jangan melawan lagi.”
Calistha berseru sedih sambil memapah tubuh Aiden menjauh dari pria-pria jahat itu. Dengan perlahan Calistha mengusap wajah Aiden yang bersimbah darah menggunakan ujung lengan kausnya, lalu menangis lagi semakin histeris karena ia merasa tidak berguna disaat-saat seperti ini. Ia yang terlahir sebagai gadis manja benar benar tidak tahu bagaimana caranya mengobati seseorang yang sedang terluka parah seperti ini. Bahkan Calistha saat ini merasa otaknya kosong. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain menangis dan menangis di depan
Aiden.
“Sudahlah... kenapa kau menangis?” Tanya Aiden gusar. Ia beberapa kali meludahkan darah segar dari mulutnya sambil terbatuk-batuk kecil saat rongga dadanya terasa sesak. Sementara itu, kerumunan anak buah Luca perlahan-lahan mulai pergi, mengabaikan kondisi Aiden yang mengenaskan, lalu kembali pada aktivitas mereka yang berhubungan dengan kartel.
“Kita harus mencari penembak itu. Ia harus membayar semua kesialan yang kita terima hari ini.”
“Aaa Aiden, kita harus ke rumah sakit sekarang. Jangan pedulikan penembak itu, sekarang yang terpenting adalah dirimu sendiri.”
“Darah harus dibalas dengan darah, begitu juga kesakitan. Kupastikan penembak itu akan menerima yang lebih buruk dari apa yang kudapatkan hari ini.” Gumam Aiden penuh tekad. Calistha hanya mampu menatap nanar rasa dendam dan juga kebencian yang terlihat begitu pekat dari kedua mata sendu Aiden. Rasanya hari ini seperti sebuah mimpi paling buruk yang pernah dialami Calistha. Dalam sehari ia telah mendengar puluhan bunyi ledakan, darah yang mengalir begitu deras di depannya, dan kematian yang begitu mengerikan. Semua itu bagaikan mimpi buruk yang tak bertepi. Apalagi, sekarang semuanya justru bertambah kacau. Satu persatu serigala berbulu domba itu mulai menampakan wujud asli mereka. Dan tidak ada lagi yang dapat ia percaya di sini, selain Aiden.
“Apa yang telah terjadi di sini?”
“Emily...”
Calistha memekik penuh rasa syukur saat Emily tiba dan berdiri dengan gaya angkuh di hadapannya. Melihat teman, dan satu-satunya orang yang ia kenal di kartel ini membuat Calistha memiliki sedikit harapan akan kondisinya dan juga Aiden yang tak berdaya.
“Apa yang kau lakukan pada Lucaku? Kau pembawa sial Cals!”
Calistha hampir-hampir berdiri dan memeluk Emily, namun kata-kata penuh nada kebencian itu menghancurkan segalanya. Calistha tidak menyangka jika Emily juga turut memusuhinya hanya karena sebuah kesalahpahaman yang tidak jelas ini. Lalu Aiden... pria itu juga sama sialnya seperti dirinya karena harus menerima begitu banyak pukulan karena sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan.
“Kami tidak melakukan apapun, tiba-tiba seseorang menembak Luca saat kami akan masuk kedalam markas.”
“Bohong! Kehidupan Luca menjadi kacau semenjak ia mengenalmu. Jika sampai terjadi sesuatu pada Luca, kau adalah orang pertama yang akan kucari!”
Setelah menebarkan ancaman dan menunjukan kemarahannya yang terlihat berlebihan, Emily segera pergi meninggalkan Calistha dengan air mata kesedihan yang semakin banyak membanjiri pipi tirusnya. Semua rasa sedihnya benar-benar semakin lengkap setelah Emily memperparahnya. Aiden benar, mereka memang harus menemukan dalang dibalik penembakan Luca hari ini untuk membayarkan semua air mata yang telah ia keluarkan hari ini.
“Aiden, apapun yang terjadi tolong tetaplah berdiri di sampingku. Jangan tinggalkan aku.”
-00-
Calistha menggigit bibirnya pelan sambil memperhatikan wajah tenang Aiden yang sedang beristirahat di atas blangkar rumah sakitnya yang nyaman. Setelah selama dua jam dokter memeriksanya dan menjahit luka-luka di wajahnya, akhirnya Aiden dapat dipindahkan di ruang rawat biasa dengan kondisi yang belum sepenuhnya sadar. Sepuluh menit yang lalu Aiden sempat membuka matanya, bergumam tidak jelas, kemudian kembali memejamkan matanya dengan damai. Menurut dokter kondisi
Aiden sudah stabil, dan secepatnya pria itu akan membuka mata setelah efek obat
biusnya habis.
“Huufftt... cepatlah sadar dan bersikap sinis lagi di hadapanku. Sungguh, itu jauh lebih baik daripada aku melihatmu terbaring lemah seperti ini.” Bisik Calistha pelan pada udara kosong di sekitarnya. Ia lalu beranjak berdiri dan memutuskan untuk keluar sebentar. Sedikit menghirup udara segar di taman rumah sakit sepertinya bukanlah ide yang buruk. Sejak tadi ia cukup bosan di dalam kamar perawatan Aiden yang sepi. Apalagi ia hanya ditemani oleh suara kardiograf yang terdengar sangat berisik sejak tadi, hingga membuatnya tidak pernah bisa beristirahat dengan nyaman.
“Aku akan segera kembali, jangan mencariku.” Bisik Calistha geli di samping telinga Aiden. Sikapnya ini sungguh seperti seorang remaja kasmaran yang sedang berpamitan pada kekasihnya yang sedang tertidur. Dan membayangkan wajah Aiden yang biasanya suram, membuat Calistha mau tidak mau terkikik lagi. Bagaimana mungkin ia dapat membayangkan Aiden bila menjadi kekasihnya dengan wajah super datar yang biasanya selalu membuatnya bergidik ngeri. Namun sedikit banyak ia bersyukur dengan keadaan Aiden sekarang, karena dengan begitu Aiden dapat beristirahat dengan layak. Dan jika Aiden bangun nanti, ia akan tetap memaksa pria itu untuk beristirahat setidaknya hingga tiga hari kedepan.
Saat tiba di taman, Calistha sedikit bergidik ngeri karena suasana rumah sakit yang begitu sepi dan mencekam. Ia lalu melirik jam tangannya, dan menemukan fakta jika saat ini jam telah menunjukan pukul dua belas malam. Pantas saja jika suasana di sana begitu senyap, tidak ada seorangpun yang berada di taman itu selain Calistha tentunya, dengan kedua tangan yang saling memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil. Ia kemudian berjalan pergi dari taman itu, dan tidak lagi ingin berlama-lama di sana. Terlalu sepi di sana. Ia takut seseorang
mungkin sedang membuntutinya atau mengincarnya saat ia sedang lengah. Dan saat melintasi lorong-lorong rumah sakit, Calistha seketika menjadi takut. Otak cerdasnya yang telah terkontaminasi oleh banyak hal mengerikan mau tidak mau justru terus memutarkan kejadian-kejadian mengerikan di dalam kepalanya, hingga Calistha akhirnya memutuskan untuk berlari di sepanjang lorong rumah sakit itu tanpa benar-benar memperhatikan petunjuk arah yang menggantung di langit-langit lorong rumah sakit yang sepi.
“Kau urus saja kartel, dan segera kumpulkan orang-orang yang tersisa di sana. Pastikan tidak ada pemberontakan yang akan memperburuk keadaan kartel.”
Calistha cepat-cepat bersembunyi saat ia mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya dengan topik pembicaraan masalah kartel yang sangat tidak asing baginya. Dengan penuh waspada, Calistha memperhatikan langkah Emily yang mulai menjauh, lalu ia melongokan kepalanya ke arah kanan, arah dimana Emily datang sebelum wanita itu berjalan menjauh. Setelah merasa aman, ia kemudian segera keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat ruangan berpintu putih yang berada di ujung lorong.
“Luca....”
Calistha tak kuasa menyembunyikan kesedihannya saat melihat Luca yang tampak menyedihkan dengan berbagai alat-alat penunjang kehidupan yang terpasang di tubuhnya. Luca yang tangguh, kini telah berubah menjadi Luca yang lemah. Calistha kemudian memutuskan untuk masuk kedalam, dan sedikit menyapa Luca yang mungkin tidak akan pernah tahu jika ia telah menyusup ke sana, karena mungkin di lain waktu, ia tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk melihat Luca.
“Hai, maafkan aku.”
Calistha berucap dengan bibir bergetar dan air mata yang hampir tumpah dari pelupuk matanya. Dan akhirnya Calistha tidak bisa lagi menahan isakannya. Ia terduduk di samping blangkar Luca sambil menyumpal mulutnya sendiri dengan tangannya agar suara tangisannya tidak menggema di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi. Kata-kata Emily siang tadi tiba-tiba menggema di dalam kepalanya hingga membuat isak tangisnya terdengar semakin menyayat hati. Sekarang ia yakin jika ia memanglah seorang pembawa sial karena satu persatu orang-orang disekitarnya mulai mendapatkan celaka karenanya. Bahkan Aidenpun juga ikut mengalami penderitaan yang sama akibat ulahnya. Calistha lalu memutuskan untuk keluar dari ruang rawat Luca dan kembali menuju ruang rawat milik Aiden. Ia sudah tidak kuat lagi berlama-lama di sana dengan berbagai kesesakan yang memenuhi rongga dadanya.
“Kau darimana saja?”
Calistha berjengit kaget sambil mengusap air matanya buru-buru saat suara dingin Aiden menyambut kedatangannya di ruang perawatan pria itu. Seketika Calistha mengubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum agar Aiden tidak tahu jika ia baru saja menangis. Sayangnya sepintar apapun Calistha menyembunyikan kesedihannya, Aiden tetap saja mengetahui hal itu.
“Kau menangis? Ada apa?”
“Hah, tidak... aku tidak menangis.” elak Calistha terbata-bata. Ia kemudian menyibukan diri dengan mengambil salah satu kursi di ujung ruangan dan memindahkannya ke dekat ranjang perawatan milik Aiden agar ia dapat menemani pria itu sepanjang malam.
“Kau ingin minum? Makan?” tawar Calistha seperti seorang perawat. Aiden sedikit menipiskan bibirnya kesal melihat Calistha yang justru berpura-pura semuanya berjalan baik, meskipun sebenarnya wanita itu sedang sedih.
“Ambilkan aku air putih.”
“Aku akan membantumu minum.”
Calistha hampir saja membantu Aiden untuk duduk di atas blangkar rawatnya sebelum pria itu menggeser sendiri tubuhnya, dan memberikan kode pada Calistha agar tidak perlu membantunya. Ia merasa seperti pria lumpuh jika diperlakukan seperti itu oleh Calistha.
“Berikan saja air putihnya.”
Calistha segera mengangsurkan gelas berisi air putih pada Aiden tanpa sedikitpun membantah kata-kata pria itu. Akhirnya Aidennya yang galak telah kembali. Setidaknya ia dapat bernapas lega karena kondisi Aiden berangsur-angsur mulai membaik. Mungkin mereka hanya perlu sedikit menunggu lebih lama untuk luka basah yang menghiasi permukaan wajah tampan Aiden yang sebelumnya tampak mulus tanpa cela.
“Kau dari mana?”
Calistha yang sebelumnya terlalu sibuk dengan lamunannya, tiba-tiba mendongak sambil menatap linglung kearah Aiden. Untuk sesaat suara berisik kardiograf justru menjadi suara latar belakang untuk keheningan aneh yang melingkupi mereka. Dan lima detik kemudian ketika Calistha tak juga menjawab pertanyaannya, Aiden segera mengulangi pertanyaan yang sama untuk Calistha.
“Kau darimana?”
“Eee... itu... aku...."
“Jawab pertanyaannku dan jangan coba-coba untuk berbohong.” ucap Aiden penuh intimidasi. Calistha langsung menghembuskan napasnya kuat, seolah-olah ia baru saja membuang beban berat yang menyesakan rongga dadanya. Tidak ada pilihan lain, ia memang harus jujur pada Aiden.
“Aku baru saja pergi melihat Luca, ia ternyata juga dirawat di rumah sakit ini.”
“Apa kau bertemu Emily?”
Calistha menggeleng pelan sebagai jawaban. Jelas ia tidak mungkin akan bertemu Luca jika Emily berada di sana. Wanita itu kini telah berbalik membencinya hanya karena sesuatu yang tidak ia lakukan.
“Bagaimana keadaannya?”
“Aku tidak tahu, tapi ia tidak sadar dengan berbagai alat penunjang kehidupan yang terpasang di tubuhnya. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
Calistha lagi-lagi terisak dan menangis tersedu-sedu di hadapan Aiden. Pria itu lantas hanya menatap wajah Calistha dalam diam tanpa melakukan sesuatu untuk menenangkan wanita itu. Biarkan saja Calistha menangis jika memang hal itu dapat membuatnya lebih lega. Namun semakin lama perasaannya semakin merasa iba pada Calistha. Ia akhirnya mengulurkan tangannya kearah wanita itu dan menariknya kedalam pelukannya yang hangat. Untuk pertama kalinya Aiden bersikap begitu hati-hati pada seorang wanita yang rapuh seperti Calistha.
“Aku takut Luca juga pergi seperti Rocky, aku takut Aiden... aku adalah gadis pembawa sial!”
“Ssshhh... kau bukan gadis pembawa sial, kau adalah berlian terindah yang dimiliki oleh ayahmu.”
Tanpa sepengetahuan Calistha, Aiden saat ini sedang bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Semua hal berkaitan degan Jacob, ia tahu. Dan Calistha, ia memang harta paling berharga yang dimiliki oleh Jacob di dunia ini. Lalu Mary, wanita itu adalah belahan jiwa Jacob yang sampai kapanpun tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.