The Sniper

The Sniper
Back To Zero (Twenty Four)



        “Cepat naik ke atas kapal! Ayo... jangan menoleh ke belakang, cepat tinggalkan desa ini!” Teriak pendeta Seulwo keraspada beberapa penduduk desa Bukchon yang masih tersisa. Kebanyakan yang ikut menaiki kapal adalah para wanita dan anak-anak. Para pria desa Bukchon memilih untuk tinggal di desa Bukchon yang sebentar lagi akan luluh lantas menjadi serpihan-serpihan batu yang bercampur dengan tanah karena presiden telah mengirimkan beberapa alat berat untuk meratakan desa Bukchon yang selalu tertata rapi itu.


            “Tuan, kita akan pergi kemana? Bagaimana jika mereka mengikuti kita?”


            “Mereka tidak akan mengikuti kita karena mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kita akan pergi ke Seoul dan mencari bantuan.” Jawab pendeta Seulwo tegas dan segera menyuruh anak buahnya untuk menjalankan kapal, menjauh dari desa Bukchon yang telah porak poranda oleh para penguasa kikir yang haus akan harta. Sejak dulu pendeta Seulwo telah yakin kematian Im Seulong pasti akan membawa dampak yang sangat dahsyat seperti ini. Ia melihat banyak pemberontakan yang terjadi setelah kematian Im Seulong, dan putrinya juga dikabarkan menghilang setelah dijadikan buronan oleh lebih dari puluhan orang-orang yang haus akan harta milik ayahnya. Saat ini yang dapat dilakukan pendeta Seulwo hanya berdoa pada Tuhan, agar semua masalah yang terjadi di sini dapat segera berakhir. Ia harus mencari Calistha dan juga Aiden, karena mereka berdua adalah pemegang sertifikat terakhir milik desa Bukchon sebelum semua petaka ini terjadi.


-00-


Brukk


            Calistha melemparkan tubuhnya asal di sebelah Aiden yang sedang sibuk menekuni layar tabletnya. Di depannya tampak beberapa makanan sisa yang semalam mereka pesan masih berserakan, dan belum ada satupun yang membersihkannya. Calistha rasanya sangat malas saat bangun pagi ini. Ia ingin sekali bersantai sebentar sebelum kembali melanjutkan misi mereka yang semakin rumit. Pertemuan mereka dengan tuan Hornet kemarin malam justru membuat kepalanya semakin berdenyut. Masa lalu millik ayahnya dan ibunya terasa seperti menghantuinya karena selama ini ia tidak pernah sedikitpun mengenal ibunya. Andai ibunya tidak meninggal saat


melahirkannya, mungkin semua cerita yang disampaikan tuan Hornet akan terdengar lebih manis.


            “Apa yang kau lakukan?” Tanya Calistha ingin tahu sambil mencoba mengintip kedalam layar tablet milik Aiden yang sedang menunjukan sebuah portal web milik pemerintah Korea Selatan.


            “Ada yang tidak beres dengan pemerintahan presiden Moon. Tiga puluh menit yang lalu aku mendapatkan beberapa foto desa Bukchon yang tampak rata dengan tanah, dan beberapa foto alat berat milik pemerintah yang sedang menghancurkan rumah-rumah milik penduduk Bukchon. Namun foto itu sekarang tidak bisa diakses lagi, dan aku telah diblokir dari situs itu. Dan sekarang, web milik pemerintah juga terlihat sedikit aneh. Tidak ada berita-berita terbaru yang ditampilkan di dashboard, ditambah lagi presiden Moon juga tidak dapat kuhubungi sejak tiga hari yang lalu. Padahal pria cerewet itu tidak pernah sedikitpun absen dari rutinitasnya untuk mengecek keadaan kita. Menurutmu apakah itu cukup mencurigakan?”


            “Aneh. Aiden.. kenapa kau justru membuatku takut. Kapan semua masalah ini akan berakhir?” Rengek Calistha kekanak-kanakan. Aiden memilih untuk menbagaikan rengekan Calistha dan meletakan tabletnya ke atas meja. Ia lalu menjepit sebatang rokok diantara bibirnya, dan mulai merokok di sebelah Calistha hingga membuat wanita itu terbatuk-batuk karena tak sengaja menghirup asap rokok yang dihembuskan Aiden.


            “Bereskan sisa-sisa sampah itu. Dan hubungi Malfoy setelah ini.”


            “Kau menyuruhku?” tanya Calistha kesal. Namun ia tetap saja bangkit berdiri dan segera menyingkirkan sisa-sisa pizza dan juga cola yang semalam menjadi menu makan malam mereka. Lalu tiba-tiba Calistha berhenti berjalan sambil berbalik menatap kearah Aiden.


            “Aku tidak punya nomor kontak Malfoy, kau cari saja di kafe tempat kakaknya bekerja.”


            “Kalau begitu cepat bersiap-siap, kita pergi setelah ini.”


            “Kau mengajakku juga?”


            “Apa kau ingin kutinggalkan sendiri di sini? Ini semua juga berhubungan dengan masalah ayahmu, jadi sebaiknya kau juga ikut.”


            Calistha memutar bola matanya malas dan segera menghilang dibalik pintu dapur. Sementara itu, Aiden kembali meraih tabletnya di atas meja, dan mulai membuka beberapa situs rahasia milik pemerintah yang selama ini selalu berhasil ia retas. Namun sialnya semua situs itu langsung menghalanginya dan membuat tabletnya seketika menjadi eror. Ia membutuhkan bantuan Malfoy untuk meretas semua situs-situs itu karena sekarang pikirannya mendadak kacau setelah memikirkan fakta jika presiden Moon memiliki semua sertifikat yang berkaitan dengan desa Bukchon.


            “Ayo, aku sudah siap.”


            Aiden mengamati penampilan Calistha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita itu tampak menggunakan kemejanya yang tampak terlalu besar di tubuhnya yang mungil, lalu menggunakan celana hot pants yang nyaris tertutupi oleh kemejanya yang terlalu panjang. Penampilan Calistha ini tak pelak membuat wanita itu tampak seperti seorang gadis kecil yang akan pergi bersama seorang pria dewasa sepertinya. Aiden lalu menghembuskan nafas kecil dan berjanji pada dirinya sendiri jika setelah ini ia akan membelikan Calistha beberapa pakaian. Akhir-akhir ini ia lupa memperhatikan penampilan wanita itu karena pikirannya sudah terlalu penuh dengan berbagai macam pikiran pelik mengenai penyerangan, pembunuhan, penculikan Luciana, dan sekarang desa Bukchon.


            “Ngomong-ngomong apakah kita akan menjadi penyusup lagi untuk kembali ke Seoul?”


            “Sepertinya tidak, kita akan menggunakan jet pribadi milik salah satu rekanku.”


            “Kau yakin itu tidak akan menjadi masalah?”


            “Tidak.” jawab Aiden pendek sambil mengeluarkan kunci mobil SUV dari saku celana pendek yang ia kenakan. Kali ini Aiden lebih memilih untuk berpenampilan santai daripada menggunakan suit lengkap seperti biasa. Ia sedang pusing dengan semua masalah yang mengelilinginya saat ini. Ditambah lagi semua masalah itu seperti tidak ada habisnya, dan justru terus datang bertubi-tubi mengganggu kehidupan tenangnya.


            “Kenpa tidak?”


            “Karena jet pribadi itu milik mantan kekasihku.”


            Seketika Calistha diam dan tidak lagi merasa ingin tahu mengeai pemilik jet pribadi yang akan mereka gunakan untuk kembali ke Seoul. Dan tampaknya Aiden memang sangat ahli dalam membungkam mulut wanita-wanita berisik seperti Calistha yang selalu saja menanyakan hal-hal yang tidak penting untuk memuasakn rasa ingin tahu mereka.


            “Sudah berapa banyak wanita yang kau kencani selama ini?”


            “Aku tidak pernah menghitungnya.”


            “Pasti banyak. Bagaimana kau memiliki waktu untuk berkencan ditengah-tengah urusanmu untuk menyelesaikan misi?”


            “Saat aku mendapatkan jatah istirahat dari komandanku.”


            “Apa mereka semua berakhir di ranjangmu?”


            “Kebanyakan iya. Aku memang mengencani mereka untuk itu.”


            Seketika wajah Calistha menjadi pucat saat membayangkan kamar Aiden yang selama ini selalu menjadi tempat favoritnya ketika ingin membangunkan pria itu, atau ketika ia hanya sekedar masuk untuk mengamati wajah damai pria itu saat tidur. Membayangkan ada banyak wanita yang pernah tidur di sana, membuat Calistha tiba-tiba merasa mual dan jijik. Meskipun usianya telah cukup dewasa, namun sejauh ini ia belum pernah berkencan dengan pria manapun. Ia terlalu membatasi dirinya sendiri, dan lebih sering bersikap angkuh di hadapan para pria yang terang-terangan menunjukan ketertarikan padanya.


            “Kenapa diam?” tanya Aiden sambil menoleh singkat. Melihat wajah Calistha yang pucat pasi membuat Aiden sudah menduga jika wanita itu pasti sedang memikirkan hal-hal yang aneh di dalam kepalanya.


            “Tidak apa-apa, aku hanya sedang melihat pemandangan di sebelah sana.” jawab Calistha berkilah. Merekapun akhirnya diam dan memilih untuk fokus pada pikiran masing-masing. Calistha tidak ingin lagi membahas terlalu jauh mengenai masa lalu Aiden dan para kekasihnya. Mengetahui jika Aiden selama ini sangat mengerikan


dalam berhubungan dengan wanita membuat Calistha takut jika suatu saat ia dapat terperangkap kedalam pesona Aiden. Tak dapat dipungkiri jika selama ini ia cukup mengagumi sosok Aiden yang sangat tampan dibalik sikap dingin, maupun sikap berbahayanya saat sedang berhadapan dengan target-targetnya.


            “Apa Malfoy memang selalu datang ke kafe milik kakaknya?”


            Aiden menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah kafe croissant yang terlihat sedang dipadati oleh para penggemar roti khas prancis itu. Beberapa pelanggan tampak keluar sambil melahap croissant dengan topping coklat yang berhasil membuat Calistha meneguk liurnya sendiri. Lelehan coklat yang terlihat jelas dari bibir masing-masing pelanggan itu, membuat fokus Calistha terpecah hingga menyebabkan Aiden berdecak kesal di sebelahnya.


            “Aku sedang berbicara denganmu.” geram Aiden tertahan. Calistha langsung menyadari adanya nada gusar dari ucapan Aiden, dan ia segera memalingkan wajahnya untuk menatap pria itu. Namun tanpa ia sadari ternyata jarak wajah Aiden sudah terlalu dekat dengan wajahnya, sehingga alih-alih ia seharusnya menatap pria itu, bibir Calistha justru menabrak bibir Aiden, dan membuat Calistha tiba-tiba seperti tersengat aliran listrik kecil dari tubuh Aiden.


            “Mma maafkan aku.” ucap Calistha gugup sambil menjauhkan bibirnya dari bibir Aiden. Pria itu hanya menatap Calistha sekilas, lalu tidak membahas insiden kecil itu lebih lanjut. Aiden lebih memilih untuk keluar dari dalam mobil, dan segera mencari keberadaan Malfoy di dalam kafe croissant itu.


Klinting


            Suara bel kecil yang dipasang di ujung pintu berdenting pelan saat Aiden mendorong pelan pintu kaca itu. Di belakangnya Calistha ikut mengekori Aiden, namun masih dengan wajah syok yang terlihat memerah. Calistha merasa sangat bodoh dengan reaksi tubuhnya yang sangat norak, sedangkan Aiden sendiri tampak biasa-biasa saja di depannya.


            “Anda ingin memesan sesuatu tuan?”


            “Tidak, tapi mungkin wanita ingin memesan makananmu.”


            Aiden langsung mendorong bahu Calistha ke depan, dan membuat tubuh wanita itu seketika membentur etalase roti hingga suaranya membuat beberapa orang menoleh terganggu kearahnya.


            “Kau mendorongku terlalu keras!” bisik Calistha kesal. Pelayan yang menyaksikan kekonyolan Calistha itu tampak berusaha mati-matian untuk menahan tawanya yang sebentar lagi akan pecah karena sikap acuh tak acuh Aiden yang semakin membuat Calistha ingin meledak karenna konyol.


            “Aku pesan satu croissant coklat dan orange juice. Eemm.. satu hal lagi, apa kau melihat Malfoy?”


            “Apa kau salah satu temannya? Ia tadi pergi ke panti asuhan untuk melihat Luciana. Gadis malang itu telah menjadi korban penculikan orang-orang tak bertanggungjawab beberapa hari yang lalu. Untung saja Malfoy berhasil menemukannya sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada Luciana.”


            “Ahh.. malang sekali nasib gadis kecil itu. Aiden, mungkin kau bisa menemuinya terlebih dahulu, aku akan di sini untuk menunggu pesananku siap.”


            Tanpa mengatakan apapun, Aiden segera berjalan pergi meninggalkan Calistha yang tampak begitu cemas di belakangnya. Ia takut kemunculan merek saat ini juga akan membawa dampak buruk bagi Luciana. Tapi mereka benar-benar terpaksa datang ke sini untuk mencari jawaban dari keanehan pemerintah Korea yang tiba-tiba


memblokir semua akses informasi yang dibutuhkan oleh Aiden. Dalam hati Calistha berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja, dan tidak membawa dampak buruk untuk Luciana.


-00-


            “Uncle aku membuat ini untuk uncle, bukankah ini cantik?”


            Aiden berjalan perlahan mendekati Malfoy yang sedang serius menyimak setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh Luciana di depannya. Gadis kecil itu sepertinya sedang menunjukan hasil karyanya melipa kertas origami di hadapan Malfoy dengan wajah penuh sukacita. Seketika Aiden berpikir mengenai kemungkinan bagaimana jika ia bukanlah seorang sniper, dan jika ia memiliki seorang anak seperti Luciana. Akankah kehidupannya berjalan tenang tanpa masalah seperti ini? Atau ia justru akan tetap dikelilingi oleh masalah, namun dengan konteks yang berbeda.


            “Uncle...”


            Suara dengan nada takut milik Luciana membuat Malfoy seketika menoleh ke belakang, mengikuti arah tatapan Luciana yang berhenti tepat di manik sehitam malam milik Aiden.


            “Masuklah kedalam, uncle ingin berbicara dengan teman uncle sebentar.”


            Setelah Luciana benar-benar masuk kedalam panti, Aiden segera mengambil tempat di sebelah Malfoy sambil berdeham kecil untuk memulai pembicaraan.


            “Aku ingin kau meretas sistem keamanan pemerintah Korea Selatan untuk mencari informasi mengenai desa Bukchon.”


            “Bagaimana jika kau tidak mau?”


            “Aku akan memaksa. Lagipula kau berhutang padaku untuk penyelamatan Luciana kemarin.”


            “Itu memang tanggungjawabmu karena kalian yang telah menyeret Luciana kedalam masalah kalian.”


            Aiden berusaha untuk tidak mengeluarkan emosinya yang telah menggelegak di dalam kepalanya. Sikap sombong yang ditunjukan Malfoy ini membuatnya ingin menghajar pria itu, dan menggunakan cara-cara kasar demi mewujudkan tujuannya. Tapi tidak! Ia akan berusaha sekali lagi untuk meminta bantuan pada Malfoy.


            “Masalah ini masih berhubungan dengan penculikan Luciana kemarin. Jika kau tidak membantuku untuk meretas sistem informasi milik Korea Selatan, nyawa Luciana tidak akan pernah aman untuk selamanya.”


            Malfoy tampak berpikir keras untuk mengiyakan permintaan Aiden yang cukup angkuh itu. Sebenarnya meretas situs-situs rahasia milik pemerintah bukanlah hal yang sulit, hanya saja ia merasa malas saat mendengar nada memerintah yang begitu kental dari nada bicara yang digunakan Aiden untuk berbicara padanya. Namun di satu sisi apa yang dikatakan Aiden itu benar, nyawa Luciana saat ini sedang terancam. Mungkin dengan sedikit menggunakan keahliannya untuk meretas sistem informasi milik pemerintah Korea Selatan dapat membantu menjauhkan Luciana dari bahaya.


            “Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”


            “Aku adalah sniper, dan Calistha adalah klienku. Semenjak kematian Jacob, semua hal menjadi kacau karena muncul perebutan kekuasaan di berbagai perusahaan yang selama ini dipimpin oleh Jacob. Tak hanya di situ, perebutan kekuasaan juga terjadi di beberapa kartel milik Jacob yang melakukan berbagai bisnis ilegal,


seperti kartel narkoba, perdagangan manusia, dan lain sebagainya. Satu bulan yang lalu terjadi penyerangan di kediaman Jacob di Korea, yang menyebabkan pria itu tewas. Aku yang mendapatkan tugas dari presiden Moon untuk menyelamatkan Calistha, membuat wanita itu masih tetap hidup hingga detik ini. Namun Calistha justru menjadi buronan karena semua orang meyakini jika ia adalah kunci dari seluruh harta karun milik Jacob. Padahal putrinya sendiri tidak pernah tahu apa itu harta karun yang selama ini dibicarakan oleh orang-orang. Masalah demi


masalah terus saja muncul selama kami mencoba memecahkan teka teki yang ditinggalkan oleh Jacob. Dan sebelum insiden penculikan Luciana terjadi, kartel mengalami pergolakan hebat yang ikut menyeret kelompok kartel lain milik El-Diablo.”


            “Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Ia seseorang yang ditakuti di dunia bawah. Tapi selama ini aku tidak pernah mengenal nama Jacob sebagai penguasa dunia bawah.”


            “Jacob lebih sering melimpahkan tanggungjawabnya pada orang lain. Mungkin kau mengenal Baron O’Neil, atau Luca.”


            “Ya, sedikit tidak asing dengan nama itu. Jadi apa hubungannya semua itu dengan tugasku meretas situs informasi milik Korea Selatan?”


            Malfoy tampak sudah cukup pusing dengan berbagai cerita Aiden, yang keseluruhannya menceritakan hal-hal menyedihkan yang selama ini telah dialaminya bersama Calistha. Daripada semua itu menambah kerumitan hidupnya, lebih baik ia segera saja menyelesaikan pekerjaannya meretas situs informasi milik pemerintah Korea Selatan. Namun tentunya dengan sedikit informasi inti dari pria itu mengenai tujuannya dalam meretas situs rahasia milik pemerintah Korea Selatan.


            “Sebelumnya aku bekerja untuk presiden Moon. Ia memberiku tugas untuk menjaga Calistha dan juga mencari harta karun milik ayahnya. Namun setelah satu bulan berlalu, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan pria tua itu. Ia pasti telah memanipulasi pekerjaanku ini. Ia memanfaatkanku untuk melakukan misi bunuh diri.”


            “Dulu aku tidak pernah peduli dengan semua drama keluarga itu, tapi sekarang aku mulai peduli pada keselamatan wanita itu.”


            Ekor mata Malfoy seketika mengikuti arah tatapan Aiden yang menjurus pada Calistha. Wanita itu saat ini sedang berjalan sedikit tergesa-gesa kearahnya sambil membawa tumblr berisi orange juice, dan juga bungkusan yang tentu saja berisi croissant coklat miliknya. Malfoy kemudian tersenyum menyeringai, tampak paham dengan keinginan terselubung Aiden yang ingin membuat Calistha tetap aman.


            “Pukul empat aku akan datang ke rumahmu. Aku harus pergi sekarang.”


            Calistha yang baru saja datang tampak bingung saat Malfoy tiba-tiba saja pergi dengan terlebihdulu mengerling kearahnya. Padahal ia pikir mereka akan terlibat banyak pembicaraan panjang untuk membahas masalah penculikan Luciana, dan berbagai masalah lain yang timbul karena ulahnya.


            “Kenapa ia pergi? Apa kalian sudah selesai?”


            “Sudah. Ayo kita pulang.” Jawab Aiden datar sambil beranjak pergi dari bangku kayu yang sebelumnya ia duduki bersama Malfoy. Calistha tampak sedikit kebingungan dan tidak segera beranjak dari sana hingga Aiden kembali memanggilnya dari kejauhan, dan membuat Calistha mau tidak mau segera berjalan menyusul Aiden menuju mobilnya.


-00-


            “Ck, mereka sepertinya telah mengantisipasi akan adanya peretasan. Mereka telah memasang perlindungan berlapis.”


            Malfoy berdecak kesal sambil terus berusaha mencari celah agar dapat masuk kedalam sisten informasi milik pemerintah. Situs itu sejak tadi menolak berbagai akses yang telah ia gunakan, meskipun ia telah menggunakan cara-cara yang paling canggih sekalipun. Namun Malfoy yakin jika situs itu tetap dapat terbuka, hanya saja ia perlu sedikit bersabar untuk mencari celah yang dapat ia susupi.


            “Pasti ada celah untuk memasukinya.”


            “Memang, tapi kita harus sedikit bersabar.”


            “Bagaimana, apa kau belum bisa meretasnya juga?”


            Dari arah dapur, Calistha tiba-tiba datang sambil membawa tiga kaleng beer dan juga


sepiring kue kering untuk disuguhkan pada Malfoy. Setelah meletakan nampan berisi makanan-makanannya, Calistha segera mengambil tempat di seberang sofa yang sedang diduduki oleh Aiden sambil menatap dua pria di depannya bergantian.


            “Setelah Malfoy berhasil meretas situs milik pemerintah, apa yang akan kita lakukan?”


            “Kita akan terbang ke Korea hari ini pukul tiga pagi?”


            “Kenapa mendadak sekali? Aku belum mempersiapkan apapun.” Keluh Calistha jengkel. Selalu saja Aiden memutuskan sesuatu tanpa berbicara dengannya dulu. Jika seperti ini, nasibnya akan berakhir seperti dulu lagi. Ia tidak akan sempat mengemasi barang-barangnya, dan ia hanya akan menjadi parasit di kehidupan Aiden karena harus terus menerus meminjam barang milik pria itu.


            “Perizinan untuk masuk ke Korea saat ini sedang diperketat. Namun Erica berhasil meloby beberapa orang berpengaruh agar dapat memasukan kita ke Korea dengan aman menggunakan pesawatnya. Jadi kau jangan terlalu banyak mengeluh karena semua ini demi kebaikanmu juga.”


            Calistha mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Selalu saja ia kalah jika harus berdebat dengan Aiden. Pria itu seperti memiliki seribu satu cara untuk membungkamnya agar ia tidak menggunakan bibir cerewetnya yang berisik itu lagi.


            “Berhasil!”


            “Apa?”


            Calistha refleks mencondongkan tubuhnya kearah layar komputer yang sedang ditekuni oleh Malfoy. Di sana terpampang jelas gambar-gambar mengerikan yang terjadi di desa Bukchon, beserta beberapa file mencurigakan yang berhasil membuat Aiden menggeram kesal. Dugaannya selama ini ternyata benar, presiden Moon adalah dalang dibalik semua kejahatan yang selama ini mengelilinginya dan juga Calistha. Pria itu adalah serigala berbulu domba yang sebenarnya, yang telah mengatur berbagai macam cara untuk menyingkirkan Calistha dari seluruh aset milik ayahnya.


            “Pria keparat itu telah membodohiku dengan berbagai drama palsunya untuk mendapatkan beberapa aset milik ayahmu yang tidak berhasil ia dapatkan saat melakukan penyerangan di rumahmu.”


            “Kenapa kau sangat yakin jika dalang dibalik penyerangan itu adalah presiden Moon?” Tanya Calistha sedikit tercekat. Ia sendiri juga tak percaya jika selama ini telah berkawan dengan seseorang yang nyatanya adalah musuhnya sendiri. Dan parahnya, semua sertifikat yang berkaitan dengan desa Bukchon atau aset-aset


yang berada di pulau Jeju telah jatuh ke tangan pria serakah itu. Pantas saja kini kondisi desa Bukchon berubah menjadi sangat mempertihatinkan. Rumah-rumah tampak telah rata dengan tanah. Bahkan beberapa mayat juga tampak bergelimpangan di sela-sela reruntuhan bangunan rumah yang dulunya selalu menjadi kebanggaan


masyarakat desa Bukchon. Seketika Calistha merasa lemas. Ia harus mengulang semuanya dari awal lagi. Semua penyelidikan ini rasanya benar-benar sia-sia. Justru ia menjadikan orang-orang yang tak bersalah menjadi korban dari kebodohannya yang selama ini telah mempercayai orang yang salah.


            “Data-data itu adalah bukti kesepakatan beberapa pemegang saham yang akan segera membangun sebuah tempat wisata di desa Bukchon.” Ucap Malfoy sambil membuka file itu satu persatu. Lalu Malfoy juga menemukan sebuah bukti percakapan antara presiden Moon dengan seorang pria bernama Park Hyunji yang telah mengatur strategi penyerangan pada tanggal dua puluh April. Melihat semua berkas-berkas itu membuat Calistha rasanya ingin meluapkan seluruh amarahnya pada presiden Moon dan siapapun yang telah mendukung terjadinya pembantaian di rumahnya.


            “Kita harus membuat perhitungan pada presiden keparat itu.” Teriak Calistha marah. Aiden yang melihat itu hanya mencoba untuk memaklumi sikap Calistha karena ia yakin jika kemarahan wanita itu adalah suatu hal yang wajar untuk diluapkan. Bahkan jika ia menjadi Calistha, ia akan langsung membunuh presiden Moon dengan cara yang tidak akan pernah terbayangkan oleh pria tua itu.


            “Copy semua berkas itu di flashdisk ini, kita perlu membawanya ke mahkamah agung agar semua kejahatannya bisa diusut.”


            “Selama ini kita berdua telah dipermainkan oleh pria sialan itu. Ia bahkan menyebarkan rumor omong kosong yang membuat semua orang bernafsu untuk memburuku.” Ucap Calistha murka. Aiden tampak tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang kali ini telah lengah, hingga menyebabkannya ikut terseret kedalam drama keluarga Calistha, lalu menjadi pion bodoh yang ditugaskan untuk menjalankan misi bunuh diri. Akhirnya semua ini mulai terkuak. Siapa siapa yang terlibat dalam permainan berdarah ini, Aiden bersumpah akan membunuh mereka satu persatu.


            “Bagaimana jika kita majukan saja keberangkatan kita ke Seoul agar kita bisa tiba lebih awal.”


            “Akan kuhubungi Erica untuk memajukan jadwal keberngkatannya. Malfoy, semua data-data yang kau temukan telah kau copy di flashdiskku?”


            “Sudah, semuanya telah tersimpan di sini. Semoga beruntung.” Ucap Malfoy tulus sambil menepuk pundak Aiden beberapa kali.


-00-


            Suara tetesan air dari keran westafel terdengar begitu berisik di tengah-tengah suasana sunyi yang melingkupi Calistha. Wanita itu terlihat bertopang dagu sendiri di dalam dapur gelap milik Aiden sambil menatap kosong pada tetesan-tetesan air dari keran westafel yang seakan-akan telah menjadi musik penenang jiwanya. Semua fakta yang ia temukan hari ini terasa begitu menyakitkan. Presiden Moon, orang yang selama ini ia pikir sangat peduli padanya dan juga ayahnya, ternyata memiliki nafsu yang begitu besar untuk menguasai seluruh aset-aset milik ayahnya. Bahkan pria itu tidak segan-segan melakukan pertumpahan darah di rumahnya untuk mendapatkan semua aset-aset milik ayahnya yang sangat menggiurkan itu.


            “Kita akan berangkat dua jam lagi.”


            Calistha hanya menoleh sekilas pada Aiden, lalu ia kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan perasaan hancur yang sejak tadi terus membelenggunya. Padahal ia sempat berharap jika ayahnya memang masih hidup. Tapi harapannya pupus begitu saja saat ia mengecek akun bank milik si pengirim uang tunjangan untuk Luciana, ternyata akun bank itu telah lama dibuat ayahnya untuk berjaga-jaga jika suatu saat hal-hal seperti ini terjadi. Dan secara khusus Jacob meminta pada pihak bank untuk menyamarkan lokasi dimana dana itu dikirim agar uang-uang yang telah ia siapkan untuk sesuatu yang cukup genting itu tidak mudah dilacak.


Kebetulan sebelum ia pergi ke Seoul, telah terjadi kasus penembakan yang membuat ibu Luciana meninggal ketika sedang bertugas mengantarkan paket untuk pelanggannya. Karena merasa iba pada gadis kecil itu, akhirnya Jacob mengalihkan uang-uangnya untuk memberikan tunjangan pada Luciana. Ia yakin jika Calistha tidak membutuhkan uang yang tidak seberapa itu dari rekeningnya karena ia sangat mempercayai kemampuan putrinya sendiri. Saat ia tidak ada, ia yakin Calistha dapat menangani semua kesulitan yang diberikan dunia kejam ini padanya.


            “Aku lelah...”


            Calistha menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke atas bahu kokoh Aiden yang telah mengambil tempat di sampingnya. Pria itu kemudian memberikan kecupan lembut di puncak kepala Calistha dan mulai mengelus pundak Calistha lembut untuk menenangkan kecemasan wanita itu.


            “Pria itu harus membayar semua darah dan air mata yang selama ini telah kita keluarkan untuk menjalankan permainan bodohnya. Aku dengan senang hati akan menggunakan senjata terbaikku untuk membunuhnya tepat di hadapanmu Cals.”


            “Terimakasih Aiden, kau memang pria yang sangat baik. Aku beruntung dapat mengenalmu.”


Duagg


Brakk


            Calistha langsung bergerak bangkit sambil menatap awas pada gerbang depan yang dipenuhi suara-suara berisik khas penyerangan yang pernah dialaminya beberapa minggu yang lalu.


            “Kurasa kita kedatangan tamu lagi.” Bisik Aiden lambat dengan seringaian mengerikan di wajahnya. Mereka berdua lantas bergerak menuju ruang berlatih untuk mengambil beberapa senjata yang tersimpan dengan rapi di brankas senjata milik Aiden. Kali ini Calistha akan menunjukan pada Aiden hasil dari latihannya selama ini bersama sang ayah dan juga pelatihnya sejak ia kecil.


            “Emily sepertinya tidak main-main dengan rasa tidak sukanya padamu.”


            “Memang. Aku dulunya selalu berpikiran positif tentangnya, tapi semuanya berubah sejak satu tahun yang lalu. Perlahan-lahan aku mulai mencium gelagat aneh darinya. Dan semua itu semata-semata karena ia terlalu mencintai Luca. Ayahku memang terkadang terlalu over protektif padaku. Bahkan ia sampai repot-repot mengirim Emily untuk menjadi sahabat baikku karena ayahku takut aku tidak akan memiliki teman. Lalu Luca, pria itu selama ini ternyata sering ditugaskan untuk mengawasiku dari jauh. Huh, terlalu banyak rahasia yang disembunyikan oleh ayahku hingga aku merasa hidup di dunia yang penuh kepalsuan.” Keluh Calistha sambil memasukan beberapa peluru kedalam pistol hitam milik Aiden. Mereka berdua kemudian segera bergegas menuju pintu depan untuk menyambut tamu-tamu mereka yang sudah tidak sabar untuk saling membunuh satu sama lain. Kali ini bahkan Calistha tidak akan ragu-ragu lagi jika diharuskan untuk membunuh Emily karena rasanya ia sudah terlalu muak hidup dengan seluruh kebencian yang diarahkan wanita itu padanya. Apalagi akhir-akhir ini Emily juga selalu berusaha untuk membunuhnya, jadi tidak ada salahnya jika ia mencoba sedikit peruntungannya untuk membunuh wanita munafik itu.


Dorr


            Calistha segera menyelinap di samping pilar saat ia mendegar suara tembakan yang diarahkan padanya. Ia kemudian memberikan serangan secara sembunyi-sembunyi dibalik pilar rumah Aiden yang cukup besar. Dari kejauhan, ia dapat melihat pemandangan mayat yang mulai berjatuhan di atas lantai rumah Aidenn saat pria


itu mulai menembaki mereka satu persatu. Melihat itu, Calistha merasa tidak mau kalah dari Aiden. Ia juga harus mengakhiri semua pertikaian ini dengan saling membunuh, jika ia tidak ingin menjadi yang terbunuh.


            “Emily! Keluar dan lawan aku.” teriak Calistha sambil menendang beberapa anak buah Emily yang berusaha untuk menyerangnya. Ia kemudiann menggunakan pistolnya untuk menembak dua orang yang mencoba untuk membunuhnya, lalu menyikut kepala salah satu anak buah Emily yang beberapa saat yang lalu sempat menahan tangannya agar ia tidak bisa menembak anak buah Emily yang lain.


            “Rupanya kau cukup berani  juga untuk melawanku Cals. Kupastikan kau akan mati di tanganku setelah ini, dan aku akan menjadi penguasa seluruh kartel milik ayahmu.”


            “Cih, ambil saja semua harta milik ayahku, aku sama sekali tidak membutuhkannya.” Decih Calistha tenang. Ia segera memukul Emily dan memberikan serangan bertubi-tubi tanpa membiarkan wanita itu memiliki kesempatan untuk menyerangnya. Calistha tidak lagi menganggap Emuly sebagai temannya, dan ia juga tidak ingin lagi melihat wanita itu berkeliaran di dunia ini. Terlalu sakit saat membayangkan bahwa dulu mereka pernah menghabiskan waktu bersama, bahkan tertawa bersama di bawah langit London yang indah.


Brukk


            Emily jatuh berlutut di bawah kaki Calistha dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya dan tulang-tulang yang terasa ngilu akibat serangan Calistha. Seharusnya sejak awal ia tidak meremehkan Calistha yang selama ini selalu ia anggap sebagai wanita manja.


            “Hahahaa.. jadi sekarang kau telah berubah menjadi wanita tangguh, huh?” Tanya Emily mengejek sambil sesekali terbatuk-batuk memuntahkan darah dari mulutnya. Calistha yang melihat itu tampak tidak sedikitpun menaruh iba pada Emily, ia justru semakin berambisi untuk melenyapkan nyawa wanita itu saat ini juga.


            “Kau selama ini terlalu meremehkan aku Emily. Aku diam bukan karena aku lemah, tapi karena aku menunggu saat yang tepat untuk melihat jati dirimu yang sebenarnya.” kekeh Calistha meremehkan. Ia dengan kejam menarik rambut Emily, lalu memaksa wanita itu agar mendongak kearahnya dengan moncong pistol yang diarahkan tepat di tenggorokan wanita itu.


            “Aku tidak akan pernah ragu lagi untuk membunuhmu. Aku sudah muak dengan orang-orang jahat yang telah menghancurkan kehidupanku dan juga ayahku. Jadi jika memang harus menjadi pembunuh, bagikut itu tidak masalah.”


Bughh


            Calistha tiba-tiba jatuh tersungkur saat seorang pria bertubuh kekar menendang punggungnya kuat hingga ia merasakan dadanya sesak. Pistol yang sebelumnya tergenggam di tangannya telah terlempar jauh entah kemana, dan pria itu menggunakan kesempatan yang ada untuk menyelamatkan Emily sambil menendang


tubuhnya sekali lagi. Calistha yang melihat pria itu hendak kabur segera menarik kaki pria itu sambil berusaha menahan pergerakan pria itu dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Ia kemudian menendang tulang kering pria itu, namun ia sendiri juga mendapatkan tendangan dari Emily di tulang rusuknya.


            “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Emily!”


            Calistha segera bangkit dan berusaha untuk menghajar pria yang telah menyelamatkan Emily. Namun lagi-lagi pria itu memukul perutnya hingga ia terbatuk-batuk dan jatuh berlutut di atas lantai. Perutnya terasa benar-benar sangat sakit hingga ia merasa tidak mampu untuk berdiri tegak untuk beberapa saat.


Cekrek


            Calistha memejamkan matanya saat ia merasakan dinginnya moncong pistol itu terasa di pelipisnya. Sekarang keadaan telah berbalik, Emily yang memegang kendali permainan sekarang.


            “Kau akan mati saat aku menarik pelatuk ini Calistha. Kau itu lemah, kau itu cengeng, dan kau hanyalah gadis manja yang bersembunyi dibalik seluruh kemewahan yang diberikan oleh ayahmu. Cih, jangan pernah bermimpi untuk mengalahkanku, karena kau tidak akan pernah mampu!”


Dorr


Brugg


            Calistha membuka matanya lebar-lebar dan langsung menemukan tubuh Emily telah terkapar tak berdaya di atas lantai dengan lubang peluru di belakang kepalanya. Calistha kemudian cepat-cepat mendongak sambil memberikan senyum terbaiknya pada Aiden. Pria itu selalu saja menjadi penyalamatnya disaat ia sedang terpojok.   Terimakasih Aiden... Terimakasih banyak!   


            “Kita harus pergi sekarang, waktu kita tidak banyak untuk sampai ke bandara.”


            Tanpa mempedulikan luka-luka yang bersarang di tubuhnya, Calistha segera berlari keluar bersama Aiden yang telah berlari terlebihdahulu di depannya. Beberapa mayat dan tubuh luka-luka anak buah Emily menjadi pemandangan terakhir yang dilihat Calistha sebelum ia dan Aiden bergerak pergi menggunakan mobil milik


Emily yang terparkir begitu saja di depan rumah. Dan Calistha rasanya benar-benar bersyukur karena ia masih memiliki Aiden untuk menjadi pelindungnya disaat-saat ia sangat membutuhkan seseorang untuk menyelamatkan kehidupannya yang hampir hancur.