The Sniper

The Sniper
Back To Zero (Twenty Six)



        Kira-kira anak kecil itu berusia sepuluh tahun. Ia berjalan bergandengan tangan bersama kedua orangtuanya dengan raut wajah bahagia yang terpancar dari keduanya. Liburan kali ini menjadi sebuah liburan yang tak akan pernah terlupakan oleh Aiden kecil karena kedua orangtuanya yang selalu sibuk itu akhirnya dapat meluangkan waktu mereka untuk melakukan perjalanan selama tiga hari berwisata di pulau Jeju. Saat melihat pemandangan yang begitu menakjubkan, Aiden sesekali merengek pada ibunya untuk meminta berfoto. Atau jika ia meliha seorang penjual es krim di sekitar tempat wisata, ia akan merengek manja pada ayahnya untuk dibelikan es krim. Kehidupan Aiden di usia sepuluh tahun masih berjalan sangat normal seperti layaknya kehidupan anak-anak pada umumnya. Tidak ada yang aneh, dan Aiden sendiri tidak pernah memiliki firasat apapun jika kehidupan indahnya sebentar lagi akan direnggut paksa oleh orang-orang tak bertanggungjawab disekitarnya.


            “Hari ini kita akan berkunjung ke kuil Bukchon.”


            Nyonya Lee membimbing putranya dengan sabar untuk menaiki satu persatu undakan yang akan membawa mereka ke kuil agung di desa Bukchon. Aiden tampak antusias saat menaiki satu persatu tangga batu itu tanpa mempedulikan teriakan sang ibu yang terus memperingatinya untuk berhati-hati agar tidak terpleset lumut-lumut yang tumbuh di sekitaran undakan batu yang lembab.


            “Lihatlat, ia sangat senang dan antusias.” Ucap nyonya Lee pada suaminya yang beberapa kali tampak tidak fokus karena terlalu banyak melamun. Pria itu kemudian tersenyum kecil pada isterinya sambil memperhatikan putra tunggal mereka yang sangat aktif.


            “Ck, dewan negara sedang memiliki masalah.” Ucap pria itu memulai. Nyonya Lee yang sebelumnya tampak fokus pada Aiden, tiba-tiba mulai terlihat khawatir pada suaminya. Pekerjaannya sebagai anggota dewan pembela rakyat selalu memiliki ancaman besar karena orang-orang licik itu tidak segan-segan untuk membunuh siapapun yang berani mengusik urusannya.


            “Ada apa lagi? Apa kau akan kembali ke Seoul?”


            “Tidak, aku sudah berjanji pada Aiden untuk menemaninya berlibur. Jadi aku akan tetap di sini hingga masa libur yang kujanjikan pada Aiden selesai. Tapi pagi ini aku baru saja mendapatkan kabar, Jonghyun ditemukan mati di kamarnya dengan asap yang memenuhi seluruh sudut kamarnya. Sekilas kematian Jonghyun terlihat seperti sebuah bunuh diri, tapi aku yakin jika kematian Jonghyun sebenarnya adalah kasus pembunuhan yang tersamarkan. Akhir-akhir ini kami banyak melaporkan para pejabat negara yang terbukti melakukan korup. Dan orang terakhir yang kami laporkan memiliki pengaruh yang besar di pemerintahan. Ia juga pria berdarah dingin yang tidak akan segan-segan untuk membunuh orang-orang yang berusaha untuk menghalangi jalannya menuju kesuksesan.”


            “Siapa pria jahat yang telah mendapatkan kehormatan untuk duduk di bangku pemerintahan?” Tanya nyonya Lee khawatir. Rasanya kehidupannya menjadi tidak aman setelah ia mendengar suaminya mengeluhkan pekerjaannya yang sangat berisiko itu. Apalagi ia mengelan Jonghyun dengan sangat baik sebagai rekan kerja suaminya yang selama ini selalu menemani suaminya dimanapun suaminya sedang bertugas.


            “Moon Hyesin, dia pria yang sangat licik.”


            Tuan Lee tampak memandang Aiden dari kejauhan sambil menyiratkan raut kekhawatiran yang begitu kental. Setelah kematian Jonghyun, Moon Hyesin pasti akan mengincar keluarga kecilnya untuk melakukan balas dendam.


            “Kita akan baik-baik saja sayang, jangan terlalu dipikirkan. Kita pasti bisa melewati semua ini dengan lancar.” Hibur nyonya Lee sambil memberikan senyum meneduhkan untuk suaminya.


-00-


            Aiden bergerak gerak kecil dalam tidurnya sambil sesekali mengucek-ngucek matanya yang terasa gatal. Ia kemudian terduduk di atas ranjangnya yang besar dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari kedua orangtuanya. Mendadak ia merasa ingin buang air kecil, dan biasanya ia selalu pergi ke kamar mandi ditemani oleh ibunya. Aiden kemudian segera turun dari ranjangnya, sesekali ia menggaruk-garuk rambutnya yang


berantakan.


            “Ibu...” Panggil Aiden setengah mengantuk. Langkah kaki kecilnya berjalan kearah pintu kamar orangtuanya yang tampak terbuka sedikit dengan cahaya kuning yang menyusup keluar dari celah-celah pintu. Aiden kemudian semakin mempercepat langkah kakinya menuju kamar ayah ibunya karena ia sudah benar-benar tidak tahan ingin buang air kecil.


            “Ibu.. aku ingin buang air.”


            Aiden kecil mulai merengek-rengek saat tak didapatinya suara lembut sang ibu yang biasanya selalu terdengar tiap kali ia mulai merengek. Meskipun begitu Aiden tetap saja berjalan masuk kedalam kamar orangtuanya hingga ia melihat tubuh ibunya telah berada di atas lantai. Namun Aiden kecil tidak memiliki pikiran buruk apapun di dalam kepalanya, ia hanya mengira jika ibunya sedang tertidur di atas lantai karena kelelahan. Lalu tiba-tiba kaki kecilnya menginjak sesuatu yang basah di atas lantai. Dengan wajah terkejut, Aiden segera mengangkat kakinya dan mulai mengamati cairan pekat yang saat ini sedang membasahi kakinya.


            “Ibu!!! Ayah!!”


            Aiden berteriak histeris saat melihat kakinya telah dipenuhi oleh darah kedua orangnya. Di atas perut ibunya


tertancap sebuah pisau yang begitu besar, yang telah merobek perut ibunya hingga darah masih terus merembes keluar dari sana. Lalu di atas ranjang besar milik orangtuanya, Aiden menemukan ayahnya juga telah tak bernyawa dengan darah segar yang tampak mengotori seluruh permukaan sprei yang digunakan di ranjang king size milik ayahnya.


            “Ibu... ayah...”


            Dengan seluruh rasa takut yang melingkupi hatinya, Aiden segera berlari pergi, keluar dari kamarnya sambil


menangis histeris memikirkan keadaan orangtuanya. Beberapa orang yang berpapasan dengannya tampak kebingungan sambil berusaha untuk menghentikan tangis histeris Aiden, namun Aiden kecil tetap terus berlari tanpa menghiraukan orang-orang yang berusaha memanggilnya untuk menanyakan apa yang terjadi.


Brukk


            Tiba-tiba Aiden jatuh terpental ke atas aspal saat tubuh kecilnya tanpa sengaja telah menabrak seorang pria jangkung yang berdiri di depannya. Dengan wajah ketakutan yang dipenuhi air mata, Aiden mendongak pada pria itu untuk melihat wajah pria yang telah ia tabrak.


            “Ada apa? Kenapa menangis?” Tanya pria berpakaian pendeta itu ramah. Aiden yang masih dipenuhi oleh bayang-bayang kematian orangtuanya yang terbunuh di kamar hotel tampak tidak bis menjelaskan apapun, dan ia hanya mampu menunjuk kearah kamar hotel, tempat ia menginap bersama kedua orangtuanya.


            “Kau kehilangan orangtuamu?”


            “Ii ibu.... aa ayah...”


            “Hey nak, kau mau kemana?”


            Pria itu langsung berteriak ketika Aiden justru berlari kencang meninggalkannya sambil menangis tanpa mengatakan sesuatu yang jelas.


            “Ada pembunuhan di hotem Emerald!” Bisik orang-orang yang tengah berjalan di sekitar pendeta itu. Ia seketika menatap iba pada bocah kecil yang sebelumnya menabraknya sambil berdoa dalam hati untuk keselamatan anak itu.


-00-


            Aiden membuka matanya samar-samar sambil mengerang keras saat merasakan kepalanya yang terasa begitu sakit, berdenyut tanpa henti sejak kemarin. Bayangan masa lalunya yang kembali menyeruak kedalam kepalanya berhasil membuat Aiden muak pada dirinya sendiri. Ia seharusnya tidak selemah ini hanya karena masa lalunya yang tak berguna itu. Kedua orangtuanya telah lama mati karena terbunuh. Dan setelah itu kehidupannya barunya di jalananpun resmi dimulai.


            “Selamat siang tuan Aiden, saatnya mengganti infus.”


            Aiden tiba-tiba tersadar dengan keadaannya yang telah berada di rumah sakit. Ia lupa jika sebelumnya ia jatuh pingsan saat Calistha sedang dalam kondisi merenggang nyawa.


            “Apa wanita yang mengalami luka tusuk juga dirawat di sini?”


            “Eee... wanita yang datang bersama anda? Ia berada di kamar sebelah. Nona Calistha sudah sadar sejak kemarin.” Beritahu perawat itu lembut. Aiden tiba-tiba saja tertegun sambil memikirkan dirinya sendiri. Sudah berapa lama ia dalam keadaan seperti ini?


            “Apa yang terjadi denganku?”


            “Anda sebenarnya hanya mengalami luka-luka ringan, tapi anda tak sadarkan diri hingga lima hari. Dokter sendiri bahkan bingung dengan keadaan anda. Menurut diagnosis dokter, anda mungkin mengalami episode ketakutan yang sangat hebat, hingga menyebabkan anda tak sadarkan diri selama itu.”


            Ia tidak tahu jika ingatan itu dapat membawa pengaruh yang luar biasa pada kinerja tubuhnya. Setelah bertahun-tahun ia berhasil melupakan kenangan mengerikan itu, akhirnya semua hancur hanya karena ia melihat Calistha tertusuk pisau. Saat insiden itu terjadi, ia seperti terlempar jauh kedalam masa lalunya. Ia seperti


melihat bayangan ibunya dan juga ayahnya yang bersimbah darah. Lalu ia mulai merasa panik hingga ia tidak bisa melakukan apapun. Padahal selama ini pekerjaannya selalu berhubungan dengan darah dan pisau, namun kejadian yang menimpa Calistha berhasil membangkitkan seluruh ingatan buruknya yang selama ini terus ia tekan di dalam otaknya.


            “Saya telah selesai mengganti infus anda, jangan lupa untuk memakan makanan anda untuk memulihkan kondisi anda. Kalau begitu saya permisi.”


            Hingga perawat itu keluar dari pintu kamarnya, Aiden tetap bergeming di atas blangkarnya dengan perasaan bingung yang membuatnya terganggu. Terbaring selama ini di rumah sakit, ia belum pernah mengalaminya! Bahkan saat ia terluka cukup parah di medan pertempuran, ia hanya dirawat selama dua hari di dalam tenda, dan keesokan harinya ia telah kembali ke medan pertempuran. Mungkin kali ini jiwa dan raganya mulai meronta-ronta dengan ritme kehidupannya yang terlalu tak manusiawi itu. Ia selama ini terlalu menekan tubuhnya sendiri agar tidak menjadi pria lemah, dan kembali terinjak-injak seperti dulu.


Sret


            “Aiden...”


            Di ambang pintu Calistha muncul sambil mendorong tiang infus miliknya sendiri untuk masuk ke dalam ruang perawatan Aiden. Dari wajahnya, Calistha masih tampak pucat dan belum benar-benar menunjukan tanda-tanda telah membaik. Namun dengan susah payah wanita itu tetap berjalan kearah ranjang perawatan Aiden untuk melihat kondisi pria itu.


            “Hai, akhirnya kau sadar juga. Aku mengkhawatirkanmu.”


            Susah payah Calistha mencoba duduk di atas kursi kayu yang berada di sebelah Aiden sambil sesekali meringis kecil karen rasa nyeri yang menjalar disekitar bekas jahitan di perut hingga pinggang.


            “Khawatirkan saja kondisimu, kau tidak perlu ke sini.”


            “Dokter mengatakan kau tak sadarkan diri cukup lama meskipun kau hanya mendapatkan luka-luka ringan, ada apa?” Tanya Calistha prihatin. Ia tahu jika Aiden pasti merasakan sesuatu yang tidak biasa pada tubuhnya. Namun pria itu memilih untuk diam dan tidak membagikannya pada siapapun.


            “Kita gagal dan flashdisk itu hilang.”


            “Jangan pikirkan itu, pikirkan dulu kesehatanmu Aiden.” Gumam Calistha sedih. Perasaannya saat ini terasa bercampur-campur, antara sedih, khawatir, dan takut. Saat ia sadar, ia langsung memikirkan kondisi Aiden di detik itu juga. Lalu dokter yang menanganinya mengatakan jika Aiden belum juga sadar meskipun ia hanya mendapatkan luka ringan. Sedikit aneh bagi Calistha karena sebelumnya Aiden tidak pernah seperti itu. Tubuhnya selalu kuat menahan berbagai macam luka tembakan, atau luka-luka lain yang diakibatkan oleh perkelahian. Tapi ini, hanya karena luka-luka ringan, Aiden tiba-tiba tak sadarkan diri begitu lama. Menurut Calistha itu sungguh aneh.


            “Aku baik-baik saja. Waktu istirahatku kemarin sudah lebih dari cukup untuk memulihkan kondisiku. Bagaimana kondisimu?”


            “Masih sakit, tapi aku merasa lebih baik.”


            Entah kenapa Calistha merasa bahagia saat Aiden menanyakan kondisinya dan terlihat khawatir padanya. Ia seperti mendapatkan sebuah perhatian tulus dari seorang pria berdarah dingin yang bahkan selama ini tidak pernah mempedulikan kondisi orang lain.


            “Ambilkan aku remote tv."


            Calistha segera mengambil remote televisi di sebelahnya tanpa sedikitpun bertanya pada Aiden tujuan pria itu ingin menonton televisi. Selama ini Aiden tidak pernah sedikitpun menyetuh benda persegi itu di rumah. Aiden lebih suka  menyibukan diri di ruang latihan atau membersihkann koleksi senjata-senjatanya yang sangat banyak itu.


            “Kurasa Malfoy telah berhasil menjalankan rencana B.”


            Calistha yang sebelumnya tengah melamukan perilaku Aiden, langsung mengarahkan matanya pada layar televisi yang sedang menayangkan berita penangkapan presiden yang terlihat begitu ricuh. Beberapa aparat keamanan tampak sedang menghalangi para pencari berita untuk mengambil gambar terlalu dekat pada presiden Moon yang hendak dimasukan kedalam mobil. Setelah itu berita berganti menjadi potret kerumunan para pendemo yang sedang berdiri berdesak-desakan di depan Blue House. Mereka semua menuntut pemecatan presiden Moon sebagai presiden setelah informasi mengenai semua kebusukan presiden Moon terbongkar pada publik. Melihat itu Aiden tampak puas dan sangat ingin mengolok-olok wajah menyedihkan presiden Moon yang tampak lemas, karena ia kehilangan seluruh aset yang selama ini telah mati-matian ia kumpulkan.


            “Aku tentu tidak hanya menyimpan bukti-bukti kejahatannya di dalam satu flashdisk. Aku telah mengantisipasi ini akan terjadi. Jadi aku meminta Malfoy untuk menyebarkan bukti-bukti itu ke internet. Dan sesuai dugaan, ia hancur dalam hitungan detik!” Terang Aiden puas. Ide briliannya untuk menggunakan kecerdasan


Malfoy ternyata cukup berguna. Sejak awal ia memang tidak pernah yakin dengan rencananya untuk memaksa presiden Moon meninggalkan tahtanya hanya dengan menggunakan sebuah flashdisk kecil yang sangat rentan. Akhirnya misi bunuh diri ini selesai. Ia akan segera kembali ke kehidupannya sendiri yang selalu dipenuhi tantangan dan bahaya, namun bukan sebuah misi bunuh diri seperti ini.


            “Jadi akan segera pergi meninggalkanku?” Cicit Calistha pelan. Ada sebuah perasaan tak rela yang menyusup di hati Calistha saat ia mengetahui kebersamaannya dengan Aiden akan segera berakhir. Padahal ia terlanjur memiliki perasaan yang cukup aneh pada pria itu. Selama ini ia sudah merasa nyaman hidup bersama Aiden, dan ia sudah terbiasa melihat wajah datar pria itu setiap hari. Jika misi ini selesai, ia tidak akan bisa lagi melihat Aiden.


            “Tugasku telah selesai.”


            “Tapi kau belum membantuku untuk menemukan ayahku.”


            “Lupakan pikiran konyolmu itu, ayahmu telah mati.” Ucap Aiden tegas. Ia tidak mau Calistha menjadi ketergantungan padanya. Mereka berdua harus berpisah secepatnya dengan jalan mereka masing-masin.


            “Tapi aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.”


            “Mulailah untuk hidup mandiri, kau memiliki tanggungjawab untuk memimpin seluruh perusahaan milik ayahmu.”


            “Hmm ya.. tapi aku tidak tahu apakah aku bisa. Tinggalah bersamaku Aiden, kau bisa memimpin salah satu perusahaan milik ayahku dan tidak perlu mempertaruhkan nyawanya di medan perang.” Bujuk Calistha parau. Air mataya hampir meluncur turun dari sudut matanya seiring dengan perasaan tidak yakin yang terus menggelayuti benaknya. Ia tahu jika Aiden pasti tidak akan pernah mau keluar dari pekerjaan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak bertahun-tahun lamanya itu.


            “Itu bukan jenis pekerjaan yang cocok untukku. Aku adalah seorang tentara, tempatku berada di baris terdepan medan pertempuran.”


            Kedua bahu Calistha langsung merosot lemas saat Aiden telah mengeluarkan penolakan yang begitu telak untuknya. Tak ada lagi kesempatan untuk membujuk Aiden agar tetap tinggal. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah membiarkan pria itu pergi dengan jalan hidupnya sendiri, dan ia juga akan pergi dengan jalan hidupnya sendiri.


            “Kalau begitu aku memiliki permintaan terakhir sebelum kita berpisah.”


            “Apa?”


            “Bawa aku ke makam ayahku...”


-00-


            Semilir angin yang cukup dingin itu menerbangkan anak rambut Calistha satu persatu saat wanita muda itu sedang bersimpuh di depan makam ayahnya sambil mengatupkan kedua tanganya untuk berdoa. Sesuai janjinya, sore ini Aiden mengantarkan Calistha untuk berdoa di makam ayahnya seperti saat mereka pertama kali hendak menjalankan misi bunuh diri itu. Sejak lima belas menit yang lalu Calistha terus saja memejamkan matanya sambil merapalkan berbagai macam doa untuk dikirimkan pada sang ayah yang kini telah berkumpul bersama ibunya di surga. Saat melihat Calistha sedang berdoa di depan pusara ayahnya, Aiden tiba-tiba teringat pada kedua orangtuanya. Insiden penusukan Calistha itu telah membangkitkan memori terburuknya mengenai kematian kedua orangtuanya yang sangat tragis. Sayang, saat itu ia justru berlari jauh hingga ia jatuh pingsan di tengah jalan, sehingga ia tidak pernah tahu dimana kedua orangtuanya dimakamkan. Namun dimanapun itu, Aiden hanya berharap semoga orangtuanya telah hidup dengan damai di surga. Sedangkan dirinya, ia tertinggal sendiri di dunia


yang kejam ini, dengan berbagai masalah yang tidak pernah berhenti membayangi kehidupan suramnya.


            “Akhirnyaaku menemukan kalian...”


            Aiden dan Calistha refleks menoleh saat mendengar suara yang begitu tak asing di telinga mereka. Dari kejauhan Malfoy tampak meringis kecil sambil berjalan cepat kearah Aiden dengan membawa sebuah kotak kayu yang dipenuhi oleh ukiran rumit di atasnya. Setelah menepuk bahu Aiden pelan, Malfoy segera menghampiri Calistha dan ikut bersimpuh di sampingnya sambil meletakan kotak kayu yang dibawanya ke atas tanah.


            “Bagaimana bisa kau berada di sini Malfoy?” Tanya Calistha lembut. Suara yang mengalun dari bibir Calistha seperti tanpa emosi. Sejak Aiden mengatakan hendak meninggalkannya, Calistha merasa hidupnya hampa. Dan ia sendiri merasa bingung untuk bagaimana harus bersikap saat ia berpisah dengan Aiden nantinya.


            “Aku menyusul kalian. Aku membawa ini untukmu.”


            Malfoy memberikan kotak kayu yang sebelumnya ia letakan di atas tanah pada Calistha sambil menyunggingkan senyum tipisnya yang sangat tulus. Calistha lalu menerima kotak kayu itu dengan dahi berkerut, namun ia merasa terlalu malas untuk menanyakan apa isi dari kotak kayu itu pada Malfoy. Bahkan ia merasa jika kotak kayu itu hanya akal-akalan Malfoy untuk mengingatkannya lagi pada sang ayah yang ternyata memang benar-benar telah pergi meninggalkannya.


            “Kau


tidak ingin membukanya?” Tanya Malfoy jengkel. Jauh-jauh ia menyusul wanita itu


ke Korea hanya demi untuk menyerahkan sebuah hadiah dari Jacob untuk putrinya.


            “Memangnya apa isi kotak itu?”


            “Aku tidak tahu, tapi kau akan segera tahu jika membukanya. Dan pemilik dari kotak itu menitipkan salam untukmu.”


            Calistha


langsung mengernyitkan dahinya sambil mengelus kotak itu perlahan menggunakan jari-jarinya. Namun tiba-tiba saja gelang miliknya menempel pada lubang kotak, dan samar-samar Calistha dapat mendengar suara klik dari tutup kotak yang perlahan-lahan terbuka.


            “Ayah...” Bisik Calistha takjub. Senyum manis langsung terlukis di wajah Calistha seiring dengan kata-kata Malfoy yang membuatnya serasa memiliki sebuah harapan lagi. Harapan yang membuatnya akan kembali bersemangat untuk menjalankan hidup.


            “Ayahmu masih hidup Cals, dan ia menunggumu entah dimana untuk kembali berkumpul bersama-sama lagi denganmu.”


           “Apa kau serius? Malfoy kau serius?”


            Calistha menghentak-hentakan bahu Malfoy keras sambil menangis bahagia setelah mendapatkan kabar yang begitu menggembirakan dari Malfoy. Ia pikir hipotesisnya selama ini salah. Ternyata ayahnya benar-benar masih hidup di luar sana, dan ia bersumpah akan mencari keberadaan ayahnya dimanapun.


            “Aiden ayahku masih hidup!” Seru Calistha girang sambil menghambur kedalam pelukan pria itu. Untuk beberapa saat Calistha masih terhanyut dalam euphoria kebahagiaannya atas berita mengenai ayahnya yang masih hidup di luar sana. Namun beberapa detik kemudian Calistha menghentikan teriakan bahagianya dan segera menjauh dari dekapan Aiden yang nyaman.


            “Ayahku masih hidup, aku akan mencarinya.”


            “Kau harus mencarinya karena ia adalah satu-satunya keluarga yang kau miliki.”


            “Ya kau benar, aku memang harus mencari satu-satunya keluargaku yang masih tersisa. Terimakasih untuk semua bantuanmu selama ini, kau sniper terhebat yang pernah kumiliki.”


            “Aku tahu, jaga dirimu baik-baik.”


            Perlahan-lahan Aiden berjalan menjauh meninggalkan Calistha yang tengah dilingkupi perasaan remuk karena ditinggalkan oleh sang sniper. Namun Calistha yakin jika semua ini bukan akhir dari segalanya. Ini semua justru awal dari semua kisah yang akan segera terajut di masa depan.


FIN??????


Epilog


            “Hai... bagaimana kabarmu di sana? Kau membuatku khawatir.”


            Suara manja Calistha yang mendayu-dayu membuat sang lawan bicara di ujung telepon terkekeh pelan, membayangkan wajah cemberut Calistha yang pasti akan berekspresi lucu.


            “Aku baik-baik saja. Di sini sedang terjadi gencatan senjata beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang semuanya telah aman.”


            “Kapan kau akan pulang?”


            Pertanyaan singkat yang terasa sangat sulit dijawab oleh Aiden membuat pria itu hanya mampu mengusap tengkuknya bingung. Pekerjaannya sebagai sniper selalu menuntutnya untuk bekerja tanpa batas, dan tak kenal lelah. Saat ini ia tidak bisa menjanjikan pulang secepatnya pada Calistha karena perang masih berlangsung di sini. Ia masih memiliki lima target yang harus ia eksekusi secepatnya jika ia ingin segera kembali pada keluarga kecilnya yang telah menanti di rumah.


            “Bagaimana kabar Cleo, apa ia baik-baik saja?”


            Calistha mendengus gusar saat Aiden justru menanyakan kabar putri mereka sebagai pengalihan untuk topik pembicaraan mereka. Jika sudah seperti itu, maka Calistha sudah dapat menduga jika Aiden belum memiliki jadwal pasti untuk kepulangannya. Padahal ia sendiri setiap hari rasanya hampir gila karena terus menerus memikirkan pria itu. Sejak lima hari yang lalu mereka kehilangan kontak. Dan beberapa menit yang lalu Aiden dengan santainya justru menganggap jika semua yang terjadi di sana bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.


            “Baik, ia sedang mewarnai bersama Luca di ruang tengah. Aiden...” hembusan napas panjang keluar dari bibir Calistha sebagai wujud dari rasa lelahnya untuk


menunggu pria itu pulang. Jika ia bisa memilih, ia sebenarnya tidak ingin jatuh cinta pada sniper itu, lalu melahirkan putrinya tiga tahun yang lalu. Tapi mau bagaimana lagi, nyatanya Tuhan justru menggariskan ia dan Aiden untuk bersama. Setidaknya mereka memang bersama, disatukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan, namun tidak secara jarak.


            “Apa?” Tanya Aiden datar. Hal seperti itu sudah menjadi santapan Calistha sehari-hari, jadi ia sudah tidak terpengaruh lagi dengan nada bicara Aiden yang memang seperti itu.


            “Pulanglah, kami merindukanmu.” ucap Calistha setengah memohon. Entah cara apa lagi yang harus dilakukan Calistha untuk meminta Aiden pulang. Namun pria itu tetap saja sangat sulit untuk diminta pulang. Medan pertempuran adalah hidupnya. Dan semenjak mereka menikah, Aiden tidak lagi menjadi pembunuh bayaran untuk orang-orang kejam yang ingin menyingkirkan pesaing mereka. Saat ini pekerjaan Aiden hanyalah menjadi tentara di medan perang demi melindungi nama baik negara.


            “Iya, nanti aku akan pulang.” Jawab Aiden singkat. Setitik cairan bening tiba-tiba meluncur dari sudut mata Calistha sedetik setelah ia mendengarkan penuturan Aiden. Rasanya sulit sekali bagi keluarga kecil mereka untuk bersatu. Bahkan sejak awal hubungan mereka, ia sulit sekali untuk bertemu dengan Aiden dan mengklaim pria itu sebagai miliknya.


            “Kau menangis?”


            “Tt tidak..” Elak Chalista serak.


            “Aku pasti akan pulang Cals, jangan menangis lagi. Aku tidak suka wanita cengeng.”


            “Kau yang membuatku selalu menangis.” Jawab Calistha membela diri. Jari-jari lentiknya kemudian menghapus air mata itu cepat sebelum Cleo melihatnya menangis dan ikut bersedih karena melihat ibunya menangis. Entah bagaimana gadis kecil itu terlihat cukup perasa untuk ukuran anak seusianya.


            “Kalau begitu jaga dirimu baik-baik di sana, aku mencintaimu.” Tutup Calistha sebelum ia mematikan sambungan teleponnya. Untuk beberapa saat Calistha hanya terdiam di dalam kamarnya sambil mengatur napasnya yang memburu. Bukan tanpa alasan ia bersikap seperti ini pada Aiden. Semuanya semata-mata karena ia terlalu takut kehilangan pria itu. Bertahun-tahun ia mencoba membuat Aiden mencintainya, dan membuat pria itu percaya jika ia adalah wanita setia yang sampai kapanpun hanya akan memuja pria itu. Tapi yahh... semua itu tidak mudah. Bahkan setelah cita-citanya untuk menikah dengan pria itu tercapai, ia masih harus dihadapkan pada masalah loyalitas pria itu pada negara. Jadi pada akhirnya Calistha hanya mampu bersabar, dan menunggu hingga pria itu benar-benar pulang untuk berkumpul kembali bersama keluarga kecilnya.