The Sniper

The Sniper
Separated (Twelve)



          “Tom, lama tak berjumpa. Kau terlihat semakin gagah dari yang terakhir kulihat.”


          Mereka saling berpelukan satu sama lain dengan wajah berbinar-binar yang tampak bahagia. Disebelah seorang pria yang dipanggil Tom, berdiri seorang pria remaja berusia akhir tiga belas yang terlihat diam sejak tadi.


            “Tentu saja, kehidupan di champ sekarang sudah lebih baik. Aku makan dengan layak dan hidup dengan layak di sana. Kau, bagaimana kabarmu setelah ayahmu meninggal?”


            “Buruk. Hahahaa.... sangat buruk.”


            Tom melihat sahabatnya tertawa terbahak-bahak, alih-alih bersikap sedih karena ayahnya baru saja meninggal dua bulan yang lalu. Tapi memang begitulah tabiat Jacob, ia tidak suka terlihat sedih di hadapan orang lain dan selalu menunjukan sisi tegarnya pada siapapun.


            “Kau tampaknya sudah sangat terbiasa dengan kehidupan kita yang buruk ini. Ngomong-ngomong bagaimana dengan keadaan Mary, kapan kau akan menikahinya?”


            “Tentu saja aku sangat terbiasa, ayahku juga telah menyiapkan hal ini sejak aku masih sangat kecil. Jadi kurasa kematian ayahku tidak terlalu membawa dampak buruk pada kehidupanku. Oya, Mary baik. Dia sedang mempersiapkan pesta pernikahan kami bulan depan. Datanglah jika kau bisa, kami membatalkan niat kami untuk menggelar pesta pernikahan yang lebih meriah karena Mary sudah terlanjur hamil tiga bulan.”


            Tom terlihat tidak lagi terkejut dengan informasi yang diberikan Jacob karena kehamilan tanpa ikatan pernikahan sudah sangat biasa terjadi di lingkungan Jacob. Beruntung karena Jacob menghamili wanita yang tepat, bukan hanya sekedar jalang yang ingin menguras harta warisan Jacob yang berlimpah. Selain itu Jacob juga mencintai Mary dengan sepenuh hati. Terbayang di benak Tom jika Jacob dan Mary akan menjadi sebuah


keluarga yang sempurna dengan seluruh harta kekayaan milik Jacob yang sangat berlimpah. Terlebih lagi Mary akan segera memberikan keturunan untuk Jacob sebagai pelengkap bagi kehidupan mereka yang manis. Betapa Tom juga ingin memiliki hal yang sama seperti Jacob, sayangnya ia tidak bisa. Hidupnya telah terikat pada negara, dan selama hidupnya ia hanya akan menjadi pelayan negara tanpa pernah bisa merasakan manisnya memiliki sebuah keluarga. Namun ia baru saja mendapatkan seorang putra. Seorang putra yang akan menemani hari-harinya yang suram, dan yang akan melanjutkan perjuangannya sebagai seorang tentara.


            “Tom, siapa anak laki-laki ini?”


            “Entahlah, dia kutemukan di tengah pasar dengan kondisi terengah-engah setelah mencuri dari sebuah toko. Pemilik toko itu mengejar-ngerjanya yang mencuri sepotong roti, miris sekali bukan? Aku yang merasa iba akhirnya memutuskan untuk mengajaknya tinggal bersamaku.“


            “Siapa namanya?”    


            “Katakan siapan namamu.”


            “Aiden Lee...”


            Jacob tersenyum hangat kearah Aiden dan memberikan usapan pelan di puncak kepalanya. Seorang pria remaja untuk seorang tentara kesepian bernama Tomas Karp, rasanya itu sangat pas. Sudah lama Jacob ingin Tom tidak kesepian dengan hidupnya. Ia tahu bagaimana stresnya Tom saat hati dan logikanya mulai berperang. Tom adalah seorang tentara dengan hati mulia yang sangat langka. Tidak seharusnya Tom menjadi tentara karena itu


sangat tidak cocok dengan jiwa lembut Tom. Ayahnya yang keras yang dulu membuat Tom harus menjadi seorang tentara karena ayahnya adalah seorang jenderal.


            “Kurasa ia berasal dari ras yang sama denganmu.”


            “Hmm ya tentu saja, tapi ia sedikit berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Lihatlah tatapan matanya yang sendu, namun memancarkan ketajaman. Jika ia mendapatkan pelatihan tentara sama sepertimu, kurasa ia akan menjadi tentara yang hebat.”


            “Apa kau mau Aiden?”


            Aiden yang pendiam hanya mendongakan wajahnya tak mengerti sambil meminta jawaban dari dua orang dewasa yang sedang menatapnya dengan tatapan bersahabat.


            “Menjadi tentara sepertiku, apa kau


mau?”


            “Aku mau.”


            Satu jawaban lirih itu berhasil membuat Jacob dan Tom tersenyum senang. Mereka dua orang yang tidak pernah merasakan bagaimana kehidupan sebagai seorang ayah, tiba-tiba dipertemukan pada seorang anak jalanan yang sedang kebingungan dengan kehidupannya. Tentu saja mereka dengan senang hati akan menjadi figur seorang ayah untuk Aiden, dan juga untuk seorang bayi mungil yang saat ini sedang tumbuh dengan aktif di dalam perut Mary.


            “Aku tidak sabar menunggu kelahiran bayiku. Kurasa menjadi ayah tidaklah buruk, aku benar-benar tidak sabar menunggu hal itu terjadi. Bagaimana denganmu? Apa kau tidak ingin menikah dan memiliki sebuah keluarga?”


            Tom menggeleng kecil sambil sesekali melirik Aiden yang sedang berdiri di sebelahnya. Kemunculan Aiden di hidupnya telah berhasil menyelamatkann jiwa Tomas yang hampir mati karena tuntutan pekerjaanya yang mengerikan. Untungnya saat ini Tomas menemukan anak laki-laki karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana risiko yang dihadapi oleh anaknya kelak jika yang ia temukan adalah seorang anak perempuan.


            “Sniper sepertiku tidak cocok memiliki sebuah keluarga. Terlalu berisiko.” Tambah Tomas dengan wajah sendu. Tentu saja ia merasa kehidupannya tidak bahagia dan penuh tekanan karena semua ini terjadi karena keinginan ayahnya. Dan meskipun ia sangat tidak menginginkan pekerjaan itu, tapi sialnya kemampuannya di bidang menembak yang paling brilian. Jadi ia tidak bisa melakukan apapun saat sang ayah mulai mendoktrinnya


agar menjadi seorang sniper yang handal untuk melawan musuh-musuh mereka yang sama kejamnya.


            “Tenang Tom, setidaknya saat ini kau


telah memiliki Aiden. Kuyakin dia akan menjadi pria yang hebat dibawah


didikanmu yang hebat. Aiden, berlatihlah dengan sungguh-sungguh agar kau


menjadi pria tangguh seperti Tom. Kapan kau akan membawanya ke Amerika?”


            Jacob berbicara singkat pada Aiden dan segera beralih lagi pada Tomas. Sejak tadi Aiden memilih untuk diam, karena ia sedang mencoba menilai kepribadian dua pria dewasa asing di depannya. Sudah


tiga hari ini ia hidup bersama Tomas, pria itu memperlakukannya dengan baik seperti anaknya. Apa yang ia dengar dari pembicaraan Tom dan Jacob membuat Aiden akhirnya memutuskan untuk melakukan balas budi pada Tomas. Jika pria itu menghendakinya menjadi seorang tentara yang hebat sama sepertinya, maka ia akan


menjalani pelatihan militer dengan sebaik-baiknya. Lagipula ia juga tidak memiliki tujuan yang pasti selama ini. Semua ingatannya hilang, dan menjadi pria jalanan yang hidup liar membuatnya tidak pernah memiliki tujuan apapun selain selalu mencoba untuk bertahan hidup. Jadi, tidak ada salahnya jika sekarang ia mengikuti arus kehidupannya yang baru bersama Tomas si tentara kesepian.


            “Baiklah, kurasa aku harus pergi. Mary membutuhkanku di rumah untuk membantunya mempersiapkan pernikahan kami. Sampai jumpa Tom, sampai jumpa Aiden, jadilah anak yang baik untuk Tomas.”


            Jacob sekali lagi mengelus puncak kepala Aiden dan segera berlalu pergi dengan senyum lebarnya yang tidak akan pernah dilupakan Aiden sedikitpun. Tampaknya wanita bernama Mary itu sangat berharga untuk Jacob, hingga membuat Jacob tidak pernah tidak tersenyum saat sedang menyinggung nama calon isterinya.


            “Aku iri dengan kehidupannya. Mary mengenalku lebihdulu sebelum Jacob.”


            Aiden tidak pernah mengerti arti tatapan terluka Tomas dan kata-kata penuh kegetiran itu hingga dua minggu kemudian Aiden menemukan Tomas telah bersimbah darah di dalam kamarnya dengan beberapa luka tembak di kepala. Tomas baru saja bunuh diri. Dan detik itu juga Aiden segera menghubungi Jacob untuk memint bantuan karena hanya pria itulah yang dikenal Tomas di Korea. Beberapa menit kemudian setelah Aiden merasa panik dengan keadaannya sendiri, ia menemukan sebuah buku diary yang penuh dengan tulisan tangan Tomas. Di sana pria itu bercerita mengenai kehidupannya yang suram dan bagaimana cintanya bertepuk sebelah tangan. Mary yang lebihdulu mengenalnya justru memilih Jacob sebagai pria yang akan menemani masa tuanya. Tomas


yang depresi akhirnya memilih untuk bunuh diri daripada melihat wanita yang ia cintai hidup bahagia bersama keluarga kecilnya yang sempurna.


            Setelah membaca habis buku diary itu, Aiden memberikannya pada Jacob untuk membuat pria itu tahu jika sahabat baiknya ternyata memiliki rasa pada calon isterinya. Aiden melihat pancaran rasa bersalah dari kedua mata Jacob setelah pria itu selesai membaca buku diary milik Tomas, karena selama ini ia tidak pernah tahu jika Tomas memiliki perasaan yang besar untuk kekasihnya. Andai ia tahu, mungkin ia dapat mencegah Tomas agar tidak bunuh diri.


            “Karena Tomas telah meninggal, maka aku yang akan mengirimmu ke Amerika. Sebenarnya kau telah didaftarkan Tomas untuk menempuh pendidikan di champ militer. Tomas telah menjamin kehidupanmu di sana. Tap aku ingin berpesan padamu, jika suatu saat kau juga memiliki perasaan untuk orang yang kau cintai, jangan kau tahan semua perasaan itu. Lebih baik kau mengungkapnya dan jangan melakukan tindakan bodoh seperti Tom.


Hidup ini terlalu indah untuk ditinggalkan. Dan, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah dari seorang bayi perempuan. Jika suatu saat kita bertemu lagi, aku ingin kau melindungi putriku dengan seluruh ketangguhan yang kau miliki.”


“Mimpi sialan!”


            Aiden mengumpat gusar sambil mengacak rambut hitamnya yang terlihat berantakan. Tidur sesaatnya yang tidak berakhir indah itu membuat Aiden merasa benar-benar kesal pada dirinya sendiri. Efek dari mengingat Jacob di masa lalu ternyata tidak semenyenangkan yang ia kira. Jacob, Tomas, Mary, dan yang terakhir Calistha. Mereka semua adalah orang-orang yang berasal dari masa lalunya, kemudian tanpa sengaja ia dipertemukan lagi pada Calistha sebagai titisan dari Jacob dan juga Mary. Rasanya sudah lama ia tidak berpikir mengenai masa lalu, mengoreknya dan meratapinya seperti yang dulu sering dilakukan Tomas. Yeah, setelah Tomas meninggal cukup lama, ia barulah sadar jika dulu Tomas sering meratapi nasib kisah cintanya yang berakhir menyedihkan di tengah malam yang sunyi. Dan sekarang tanpa diduga, ia justru dipertemukan pada putri Jacob yang dulu kehadirannya sangat dinantikan oleh Jacob. Sekarang ia tahu seberapa besar rasa sayang Jacob pada Calistha hingga pria itu tidak sampai hati untuk menceritakan kehidupan hitamnya yang menyimpan banyak kejahatan di dalamnya.


            “Wanita manja itu... shit!”


            Aiden langsung melompat turun dari ranjangnya sesaat setelah ia sadar jika semalam ia telah kehilangan Calistha. Setelah frustrasi mencari keberadaan Calistha di sudut-sudut kota London hingga pagi, Aiden memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan beristirahat. Harapannya, wanita itu pulang ke rumahnya dan meringkuk dengan nyaman di atas ranjangnya seperti malam-malam sebelumnya saat mereka dihadapkan pada serangan-serangan yang tak terduga. Sayangnya harapan itu hanya menjadi harapan semu saat ternyata rumahnya kosong tanpa sedikitpun kehidupan yang tersisa di dalamnya. Jadi saat ini Calistha telah benar-benar hilang di luar sana, dengan seseorang yang mungkin saja menginginkan kematiannya.


            “Carmine, apa kau sudah mendapatkan tanda-tanda keberadaan Calistha?”


            Aiden sibuk berbicara pada Carmine menggunakan hands free, sedangkan kakinya sejak tadi sibuk melangkah kesana kemari untuk menyiapkan senjatanya. Ia perlu membawa mainan-mainan kesayangannya untuk


mencari keberadaan Calistha dan menyeret wanita itu lagi kedalam hidupnya. Tunggu.... sebenarnya siapa yang telah menyeret siapa? Sepertinya ini lebih tepat jika disebut sebagai Aiden yang telah terseret kedalam kehidupan Calistha, daripada Aiden yang membawa Calistha kedalam hidupnya, karena hingga sejauh ini masa lalu Aiden perlahan-lahan dapat terbuka lagi karena Calistha.


            “Ya, sebuah kamera cctv berhasil merekam kejadian kecelakaan yang terjadi kemarin malam di cheapside street pukul sebelas malam. Dan dari ciri-ciri yang kau sebutkan tentang Calistha, sepertinya itu memang dia. Aku akan mengirimkan videonya padamu setelah ini.”


            “Apa yang terjadi setelah kecelakaan? Apa wanita manja itu selamat?”


            Carmine mengernyitkan dahinya heran di sebelah sana sambil menimbang-nimbang pertanyaan yang akan ia lontarkan pada Aiden. Rasanya ia baru saja mendengarkan sesuatu yang tidak biasa dari seorang Aiden. Apakah itu sebuah kekhawatiran yang tersamarkan?


            “Kau mengkhawatirkan wanita bernama Calistha itu? Sebenarnya siapa dia, kenapa kau harus repot melindunginya mati-matian?”


            “Dia klienku. Sudahlah, jangan membahas apapun yang tidak ada hubungannya dengan


masalah ini. Terimakasih atas bantuannya, setelah ini aku yang akan mencarinya. Tugasmu selesai Carmine.”


            Aiden segera mengakhiri percakapannya bersama Carmine sambil menekan tombol kecil pada alat yang menempel di telinganya. Ia tidak suka dengan sikap cerewet Carmine yang seolah-olah ingin tahu dengan urusan pekerjaannya. Yeah, Carmine memanglah bukan orang lain. Mereka telah bersahabat sejak lama. Jadi wajar jika


wanita itu menjadi merasa ingin tahu tentang kehidupan pribadinya. Sikapnya yang terlihat berlebihan pada Calistha semata-mata karena wanita itu adalah kliennya. Ia dibayar oleh presiden Moon untuk membantu Calistha mencari


harta-harta milik ayahnya. Jadi tidak seharusnya wanita itu menuduhnya memiliki perasaan yang tidak sewajarnya pada Calistha melalui pertanyaanya yang sarat akan makna-makna tersembunyi itu.


            Aiden tidak mau lagi memikirkan apapun yang berkaitan dengan masa lalunya ataupun hal-hal sentimentil yang baru saja disinggung oleh Carmine. Tugasnya hari ini adalah mencari Calistha dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda. Baron, dan surat-surat yang seharusnya ia dapatkan kemarin belum berhasil ia temukan. Ditambah lagi masalah Rania yang mengganggu, membuatnya harus segera melakukan sesuatu untuk membereskan wanita itu. Sesuatu yang membuat Rania tetap hidup, namun tidak bisa membuat wanita itu menjadi parasit di dalam hidupnya.


-00-


Brukk


“Awww...”


            Calistha meringis kesakitan saat tulang rusuknya yang baru saja menghantam lantai marmer


di apartemen milik Luca terasa ngilu. Semalam ia jatuh tertidur di atas sofa ruang tamu milik Luca untuk menunggu pria itu pulang, sehingga pagi ini ia harus merasa sakit karena baru saja terjatuh dari atas sofa milik Luca yang nyaman.


            “Punggungku... aww, seharusnya aku tidak tidur di sini. Ah, jam berapa ini?”


            Calistha yang masih setengah mengantuk mulai berjalan kesana kemari untuk mencari jam dinding di apartemen milik Luca. Suasana rumah yang tampak asing membuat Calistha merasa kesulitan untuk mencari keberadaan jam di dalam apartemen mewah itu. Ia kemudian memutuskan pergi ke kamarnya untuk mencuci muka agar terlihat lebih segar. Namun suara “bip” pelan yang terdengar dari arah pintu membuat Calistha membatalkan niatnya untuk pergi mencuci muka di kamarnya. Seseorang di luar sana baru saja menekan tombol password dan sebentar lagi akan segera masuk kedalam rumah.


            “Luca?”


            Calistha mengernyitkan dahinya saat suara seorang wanita yang justru terdengar dari arah pintu. Padahal sebelumnya ia sangat berharap jika seseorang yang membuka pintu itu adalah Luca yang kemudian juga diikuti oleh Aiden di belakangnya.


            “Luca... kau di dalam? Aku datang untuk...”


            “Emily? Kaukah itu? Emily!”


            Calistha tidak dapat menyembunyikan kegirangannya saat Emily dengan wajah sumringahnya juga tampak berjalan cepat kearahnya. Mereka lalu saling berpelukan sambil berteriak heboh ala wanita yang sudah lama tidak saling bertemu.


            “Ini sebuah kebetulan yang sangat menakjubkan, aku senang dapat bertemu denganmu di sini.”


            “Calistha, kau terluka? Apa yang terjadi padamu?”


            Emily menatap Calistha khawatir saat melihat banyaknya perban yang menempel di kaki Calistha. Namun perasaan risaunya itu langsung ditenangkan Calistha dengan senyum lembutnya yang meneduhkan.


            “Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Semalam aku hampir tertabrak oleh Luca. Oya, kenapa kau bisa berada di sini Emily?”


            Seakan tersadar kembali pada realita yang menunggunya, Emily mulai merangkai kata-kata di dalam kepalanya untuk menjelaskan pada Calistha jika selama ini ia telah menyembunyikan banyak hal dari sahabat baiknya itu. Cerita mengenai Luca dan hubungan mereka akan menjadi sebuah dongeng yang panjang di pagi hari. Namun sebelum Emily memulai ceritanya yang panjang, ia terlebihdahulu menanyakan dimana keberadaan kekasihnya pagi ini.


            “Dimana Luca?”


            “Pergi. Sejak semalam ia pergi mencari Aiden, dan belum kembali.”


            “Siapa Aiden?”


            “Ayahku meninggal Emily, beberapa minggu yang lalu karena sebuah penyerangan yang dilakukan di rumahku.”


            “Oh Ya Tuhan, Calistha....”


            “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja dengan itu Em.”


            Seakan tidak ingin membuat sahabatnya khawatir, Calistha mencoba bersikap tegar dengan menunjukan wajah acuh tak acuhnya pada kejadian memilukan yang terjadi di rumahnya. Semua itu telah berlalu, dan ia sedikit banyak telah belajar untuk ikhlas menerima semua takdir yang digariskan Tuhan padanya.


            “Jadi saat penyerangan itu terjadi, aku diselematkan oleh Aiden. Ia adalah seorang


sniper yang ditugaskan untuk menjagaku, dan mencari harta-harta milik ayahku yang tersembunyi di Kuba. Yah... tapi sebenarnya aku tidak tahu apakah semua rumor itu benar, sejauh ini kami hanya mengikuti apa yang tertulis di dalam surat wasiat milik ayahku. Dan kemarin kami menyusup kedalam kartel narkoba untuk mengambil alih bisnis milik ayahku dari tangan Baron O’Neil, tapi kemudian aku dikejar-kejar oleh pria hidung belang yang ingin memperkosaku. Aku terpisah dari Aiden, dan hampir tertabrak mobil Luca. Itulah cerita singkat sebelum aku bisa terdampar di sini. Lalu bagaimana denganmu?”


            Emily tampak mendesah pelan sebelum memulai ceritanya yang mungkin akan sama panjangnya dengan milik Calistha.


            “Aku kekasih Luca, kami menjalin hubungan kira-kira sejak empat tahun yang lalu. Maaf karena tidak pernah menceritakannya padamu karena kami, maksudku aku dan Luca telah berjanji pada ayahmu untuk merahasiakan semua ini darimu. Sebenarnya aku menjadi sahabatmu karena ayahmu ingin kau hidup seperti gadis-gadis pada umumnya, pergi ke sekolah, memiliki sahabat yang cerewet, bergosip, dan mendapatkan teman kencan yang sempurna. Tapi, pada akhirnya hidup tidak semudah yang tertulis di atas sketsa kehidupan yang diciptakan oleh ayahmu. Pada akhirnya kau tetap harus menghadapi hal-hal buruk yang selama ini disembunyikan oleh ayahmu.”


            “Ja jadi kau....”


            Calistha terlihat kehilangan kata untuk mengomentari cerita Emily. Ia masih tak percaya jika kehidupan indahnya selama di Oxford ternyata adalah salah satu rekayasa ayahnya yang tidak ia sadari. Bodoh! Lagi-lagi ia menjadi gadis buta yang tidak peka pada situasi yang terjadi di sekitarnya. Pantas saja Emily selalu setia


menjadi sahabatnya, meskipun teman-temannya yang lain memilih menjauh karena menganggapnya terlalu membosankan.


            “Mungkin ini mengejutkanmu Calistha, tapi ayahmu yang meminta semua ini. Ia ingin kau bahagia dengan kehidupanmu.”


            “Emily, aku merasa kehilangan kata-kata untuk mengomentari ceritamu. Ini sungguh sangat mengejutkan.” Ucap Calistha dengan senyum hambar. Emily menjadi merasa sangat bersalah pada Calistha karena ia juga ikut membohongi wanita itu selama ini. Ia bahkan membuat Calistha saat ini menjadi wanita linglung karena cerita ceritanya yang mungkin masih sulit untuk diterima akal sehat Calistha.


            “Sudahlah Emily, kurasa itu tidak penting lagi sekarang. Sekarang katakan padaku mengenai Luca, apakah dia pria yang baik?”


            “Luca pria yang baik, dia salah satu tangan kanan ayahmu untuk seluruh bisnisnya di Britania Raya.”


            “Semalam ia juga mengatakan hal itu padaku. Sejauh mana kau mengetahui kehidupan bisnis ayahku? Baron O’Neil, apa kau mengenalnya?”


Brak


“Calistha...”


            Bersamaan dengan itu pintu utama apartemen milik Luca didobrak paksa oleh seseorang hingga membuat tubuh Calistha menegang seketika. Namun beberapa detik kemudian Calistha justru tersenyum cerah pada si pendobrak sambil merentangkan tangannya lebar-lebar meminta pelukan.


            “Aiden! Kau akhirnya datang...”


            Emily yang masih belum mengerti apapun hanya mampu menjadi penonton untuk aksi lucu sahabatnya yang sedang meminta peluk pada seorang pria, sedangkan pria yang dimintai pelukan hanya menatap datar kearah mereka berdua.


            “Aiden, kenapa kau lama sekali?”


            “Kau yang menghilang tiba-tiba, ayo kita pergi.”


            “Tunggu, mereka berada di pihak kita.” Cegah Calistha setengah memohon sambil mencengkeram lengan Aiden erat. Pria itu lantas melirik Calistha datar sambil memberikan kode untuk melepaskan tangannya yang masih bergelayut di lengannya.


            “Luca dan Emily memiliki jawaban untuk masalah kita, jadi tinggalah sebentar di sini hingga Luca datang.”


            “Luca?”


            Seketika Aiden teringat pada sekelompok pria yang sempat menyebut nama Luca sebagai pihak yang menyimpan surat-surat penting yang berkaitan dengan kartel. Jadi sebenarnya siapa yang benar-benar dapat dipercaya?


            “Ya, Luca adalah kekasih Emily, tangan kanan ayahku untuk seluruh bisnisnya di Britania Raya.”


            “Hai Aiden, senang bertemu denganmu.”


            Aiden hanya menatap acuh tak acuh uluran tangan Emily tanpa berniat untuk menyambutnya. Namun dengan seenaknya Calistha justru mengangkat tangannya dan membuatnya harus bersalaman dengan Emily yang terlihat seperti sejenis dengan Calistha. Mereka berdua sama-sama terlihat manja dengan cara mereka masing-masing.


            “Apa yang kau tahu tentang Jacob dan seluruh bisnisnya? Lalu sajak fear no more, kau mengetahuinya?”


            “Sebenarnya tidak, Luca yang lebih tahu. Sebaiknya kita menunggu Luca sambil menyantap sarapan di meja makan, aku membawa masakanku ke sini.”


            Emily tampak berseru ramah sambil mengerlingkan matanya kearah meja makan. Calistha yang sadar akan penampilannya yang masih sangat berantakan, meminta pada Emily untuk menunggunya mencuci muka. Ia merasa malu pada Emily karena masih terlihat berantakan di jam yang menurutnya sudah cukup siang, pukul sembilan pagi.


            “Baiklah, aku akan menunggumu di meja makan.”


            Setelah Emily pergi, Calistha langsung melangkahkan kakinya menuju kamar milik Luca yang seharusnya ia tempati semalam. Namun Calistha langsung menghentikan langkahnya saat ia merasa jika saat ini Aiden tengah mengikutinya menuju kamar.


            “Hey, kenapa kau mengikutiku?”


            “Masuk.”


            Calistha mengerutkan dahinya tidak suka saat mendengar nada penuh perintah dan juga paksaan yang keluar dari bibir Aiden. Pria itu, lagi-lagi berbuat seenaknya dengan gaya arogan yang sangat menyebalkan. Rasanya ia sangat menyesal telah mengkhawatirkan Aiden sepanjang malam jika ternyata sikap pria itu tetap saja menyebalkan.


            “Pergilah ke mpphhfff...”


            “Sudah


kukatakan untuk masuk. Kau terlalu banyak bicara!”


Brak


Aiden menutup kasar pintu kayu di belakangnya dan segera mendorong Calistha untuk duduk di atas ranjang. Kali ini firasatnya mengatakan jika salah satu diantara presiden Moon atau Luca tengah mempermainkan mereka.


            “Luca yang memiliki surat-surat penting terkait kartel. Kita tidak bisa mempercayai Luca atau siapapun di sini.”


            “Tapi aku mempercayai mereka, Emily adalah sahabatku selama di Oxford. Sudahlah, kali ini kita serahkan semuanya pada Luca, maksudku kita dengarkan dulu penjelasan darinya. Setelah itu kita mulai bergerak untuk mencari petunjuk selanjutnya. Apa kau menemukan jawaban lain untuk sajak yang dituliskan ayahku?”


           “Tidak, aku belum menganalisanya lagi setelah kau menghilang. Seharusnya kau tidak melakukan tindakan gegabah dengan pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan.”


            “Apa kau mengkhawatirkanku? Apa kau takut aku terluka?”


            “Tidak, aku hanya khawatir pada pekerjaanku.”


            “Yah... sudah kuduga, tapi terimakasih karena telah mencariku dan melindungiku hingga sejauh ini. Aku tahu kau pria yang baik Aiden.”


Cup


Calistha membeku di tempat, merasa syok dengan apa yang baru saja ia lakukan pada Aiden. Dengan beraninya ia tiba-tiba mencium pipi Aiden karena merasa pria itu telah melakukan banyak hal untuknya. Sungguh, itu di luar akal sehatnya dan diluar  kendali pikiran sadarnya. Bahkan posisinya saat ini masih berjinjit di depan


Aiden dengan tubuh yang masih condong kearah Aiden. Ia malu! Ia sangat malu untuk berhadapan dengan Aiden setelah ini.


            “Apa ini, kau menciumku?”


            Aiden berseru remeh pada Calistha sambil menatap lurus kearah jendela yang menyuguhkan pemandangan kota London yang menakjubkan. Ia merasa sudah lama tidak menerima sentuhan lembut wanita sejak ia meninggalkan Hannah dan mulai membanjiri pikirannya dengan teka teki misterius milik Im Seulong.


            “Aaa itu... hanya hadiah kecil dariku, jangan terlalu dipikirkan.”


            Calistha cepat-cepat menjauh pergi sambil pura-pura menyisir rambutnya menggunakan jari-jarinya yang lentik. Wajahnya saat ini telah berubah merah dengan berbagai macam perasaan malu yang membuncah di hatinya. Rasa kagumnya pada Aiden memang tidak main-main, mungkin sebenarnya ia telah terpana pada Aiden sejak ia melihat pria itu untuk pertama kalinya, namun rasa kagum itu tersamarkan dengan rasa ngeri saat ia melihat koleksi senjata-senjata milik Aiden yang tersimpan rapi di dalam rumahnya di Seoul.


            “Kau tahu, aku tidak suka dicium Calistha.”


            “Ooo ya? Kalau begitu maafkan aku. Aku tidak....”


            “Tapi aku lebih suka mencium wanita terlebihdahulu.”


            “Ai hmmpff...”


            Dengan gerakan halus yang sangat ahli, Aiden membalik tubuh Calistha dan memberikan wanita itu sebuah ciuman lembut yang terkesan menggebu-gebu. Tidak ada sedikitpun kelembutan dalam ritme ciuman Aiden hingga Calistha berkali-kali dibuat gelagapan dengan gerakan bibir milik Aiden yang sangat ahli. Bahkan di tengah-tengah ciuman mereka, Calistha sempat memikirkan berapa banyak teman kencan Aiden selama ini hingga dapat membuat Aiden menjadi seorang pencium yang ulung.


            “Berapa banyak wanita yang telah kau kencani selama ini?” Tanya Calistha dengan suara terengah-engah. Deru napasnya yang memburu membuatnya seolah-olah sedang mendesah di depan Aiden  dengan wajah polos yang berhasil membuat Aiden terkekeh geli.


            “Tidak terlalu banyak. Lain kali jangan menciumku lagi, aku tidak suka.”


            Calistha langsung mengangguk cepat seperti seekor anjing kecil yang sangat patuh pada


majikannya. Ini adalah pertama kalinya ia berciuman dengan seorang pria. Dan parahnya pria itu adalah pria asing yang belum lama masuk kedalam hidupnya.. Sekali lagi ia ingin berterimakasih pada ayahnya untuk semua kekacauan yang ia telah ditinggalkan padanya. Karena dengan begitu sekarang ia dapat melihat dunia melalui sudut pandang lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


            “Calistha?”


            Calistha berbalik cepat dan langsung menemukan Luca di ambang pintu dengan tatapan menelisik yang ia arahkan pada Aiden yang ternyata sejak tadi masih berdiri di ambang pintu.


            “Saatnya sarapan, maaf meninggalkanmu terlalu lama semalam.”


            Aiden sadar dengan tatapan tidak suka yang diarahkan Luca padanya. Pria itu sepertinya memiliki ketertarikan pada Calistha, dan merasa tidak suka jika wanita incarannya diusik. Dengan senang hati Aiden menyingkir, keluar dari kamar Calistha untuk menunggu wanita itu di ruang tamu. Perasaanya saat ini benar-benar menjadi tidak menentu setelah Luca datang untuk melihat keadaan Calistha di kamarnya.


            “Roy, lakukan apapun untuk membunuhnya. Pria itu sekarang berada di sini, bersama wanita yang kau cari.”


            “...........”


            “Ya, lakukan apapun untuk membunuh pengawalnya, dan wanita itu akan mengantarkanmu pada harta karun milik Jacob Im di Kuba. Carilah waktu yang tepat untuk membunuh sniper itu selagi mereka masih berada di apartemen Luca. Jangan mengecewakanku.”


            Aiden segera pergi dari tempat persembunyiannya sambil mengamati jendela besar yang menghadap tepat kearahnya. Jendela itu mungkin akan menjadi sasaran empuk bagi siapapun yang membunuhnya. Sial, ia tidak tahu jika posisinya saat ini juga berisiko. Menjadi seorang bodyguard untuk Calistha nyatanya tidak mudah dan penuh bahaya. Bahkan mungkin saja misi yang ia hadapi saat ini adalah misi bunuh diri untuk menghancurkannya dan juga Calistha.


            “Lebih baik kau berada di sini untuk beberapa hari kedepan Calistha, ada beberapa hal yang ingin kutunjukan padamu.”


            “Aku akan mengatakannya pada Aiden.”


            “Aku juga akan menunjukan padamu beberapa bisnis milik ayahmu.”


            “Terimakasih banyak Luca, aku menghargai kebaikanmu.”


            Aiden menatap diam interaksi yang terlihat begitu akrab antara Calistha dan Luca. Pria itu berhasil memainkan perannya dengan baik untuk mempengaruhi Calistha. Sedangkan Emily, ia tahu jika wanita itu memiliki rencana jahat untuknya dan juga Calistha.


            Luca? Siapa yang sebenarnya sedang menjadi rubah berbulu domba di sini?