The Sniper

The Sniper
Broken Mask (Twenty Three)



Tok tok tok


            “Aiden, saatnya makan malam.”


            Calistha menggigit bibirnya gugup di depan pintu kamar Aiden sambil menatap resah pada pintu kamar Aiden yang sejak siang tadi belum dibuka oleh sang pemilik kamar. Perang dingin yang saat ini terjadi antara dirinya dan juga Aiden membuat Calistha menjadi sangat bingung untuk menunjukan sikapnya setelah ini pada Aiden. Seharusnya tidak akan ada yang berubah dari hubungan mereka, justru seharusnya ia dapat menjadi partner yang hebat untuk Aiden, karena ia sekarang dapat mengimbangi seluruh kemampuan beladiri yang dimiliki oleh Aiden.


            “Aiden, kau belum makan apapun sejak tadi....”


Cklek


            Suara kenop pintu yang dibuka membuat Calistha seketika menghentikan kalimatnya, dan mulai merubah wajah cemberutnya menjadi wajah penuh senyuman yang ia harap dapat mengesankan seorang Aiden. Sayangnya tatapan dingin pria itu saat melangkah keluar dari kamar berhasil membuat Calistha tersadar pada sikap bodohnya. Percuma saja ia memberikan sebuah senyuman, jika kenyataannya pria es itu tidak mungkin akan luluh begitu saja hanya karena sebuah senyuman.


            “Saatnya makan malam, aku telah memasak steak barbe....”


            Calistha menggeram kesal dalam hati saat Aiden justru berjalan melewatinya begitu saja, saat ia sedang mencoba menjelaskan menu makan malam yang berhasil ia buat setelah ia mati-matian mempelajarinya dari sebuah blog memasak yang sangat terkenal di dunia maya. Calistha kemudian menghembuskan napasnya kuat-kuat untuk menghalau seluruh kekesalannya. Dan setelah itu ia segera berjalan cepat, menyusul langkah Aiden yang telah berjalan cepat di depan sana.


            “Aku tidak tahu kau akan suka atau tidak, tapi aku langsung tergiur untuk memasaknya saat melihat gambar-gambar yang di posting oleh pemilik blog di media sosial pribadinya. Jadi aku memutuskan untuk....”


            “Simpan saja ceritamu, aku tidak ingin mendengar apapun keluar dari mulut pembualmu itu.”


            Calistha tampaknya kali ini harus benar-benar sabar untuk menghadapi sikap defensif Aiden yang sangat menyebalkan. Padahal ia berharap Aiden dapat menjadi rekan kerja yang dapat diandalkan setelah ia menunjukan jati dirinya yang sesungguhnya. Namun ia memang harus menelan mentah-mentah semua rencananya, dan terpaksa mengambil hati Aiden lagi dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.


            “Ini makananmu, kuharap kau menyukainya.” Ucap Calistha lebih manis dan lembut sambil meletakan sepiring daging steak yang masih mengepulkan asap tipis di hadapan Aiden. Ia kemudian mendudukan diri di kursi di hadapan pria itu, dan mulai memakan makanannya dalam diam. Tiba-tiba saja ia merasa kesal dengan


keadaan mereka yang sangat menyebalkan ini. Ia merindukan Aiden yang dulu, yang galak, namun tidak menunjukan sisi defensif di hadapannya.


            “Aiden aku....”


            “Jangan berbicara saat makan.”


            Calistha langsung menghembuskan napasnya kesal di hadapan Aiden, dan ia bersiap untuk membuka mulutnya lagi sebelum Aiden kembali memperingatkannya dengan keras.


            “Kubilang jangan berbicara saat makan. Temui aku di ruang latihan setelah selesai makan, kita lihat apa yang bisa kau lakukan untuk melawanku.”


            Calistha mengernyitkan dahinya dalam sambil menebak-nebak apa yang diinginkan oleh pria aneh di depannya ini. Aiden sepertinya ingin menantangnya untuk berduel atau apa... entahlah, ia tidak mengerti. Namun sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Padahal sebenarnya sejak tadi ia sedang menunggu saat-saat yang tepat untuk membicarakan Malfoy. Semakin cepat mereka mencaritahu mengenai Malfoy lebih jauh, semakin cepat pula mereka dapat menemukan petunjuk mengenai ayahnya.


            “Sebenarnya aku ingin membicarakan tentang Malfoy.”


            “Kau boleh berbicara jika kau menang saat berduel melawanku. Aku menunggumu di ruang latihan.”


            Sepeninggal Aiden, Calistha langsung menyudahi acara makannya yang sebenarnya belum benar-benar selesai. Daging steaknya bahkan masih tersisa lebih dari separuh. Namun ia merasa sudah kenyang dan sangat tidak sabar untuk bertarung melawan Aiden. Sudah lama ia tidak menemukan partner yang sebanding dengan ayahnya. Dan Aiden juga dapat menjadi pelampias dari seluruh rasa kesalnya selama ini pada pria itu. Ia akan memukul wajah Aiden berkali-kali, dan membuat pria itu bertekuk lutut di bawah kakinya.


-00-


            Lima belas menit kemudian Calistha telah turun di ruang berlatih dengan menggunakan kaus tanpa lengan dan celana leging pendek di atas lutut yang terlihat pas membalut tubuh indahnya. Dengan rambut yang telah diikat tinggi-tinggi di atas kepalanya, Calistha terlihat lebih dari siap untuk berduel melawan Aiden. Sementara itu, saat ini Aiden sedang bersiap diri sambil melakukan perenggangan di pinggi matras. Melihat Calistha yang telah berjalan kearahnya, Aiden langsung menghentikan gerakan perenggangannya dan memberikan kode pada Calistha agar segera bersiap diri di tengah-tengah matras.


            “Apa yang akan kita lakukan?”


            “Berduel denganku.”


            “Baiklah, kau pasti tidak akan menang melawanku.” Balas Calistha sombong dengan seringaian licik di wajahnya. Aiden segera melepas kaus pendeknya dan melemparkannya asal ke pinggir matras. Calistha yang sekarang bukanlah wanita cengeng super manja yang dikenalnya satu bulan yang lalu. Sekarang adalah saatnya untuk membuktikan kekuatan wanita licik yang bersembunyi dibalik topeng manjanya itu.


            “Jika kau menang, aku akan membantumu menemukan ayahmu dan memecahkan semua kasusnya. Jika kau kalah, segera angkat kaki dari rumahku. Aku akan mengundurkan diri dari tugas ini pada presiden Moon.”


            Calistha hanya menyeringai sebagai jawaban dari tantangan Aiden. Ia tidak takut pada ancaman yang diberikan pria itu padanya, ia justru semakin tertantang untuk melawan pria itu, dan membuktikan padanya jika ia layak menjadi putri dari seorang Jacob Im.


Bugh


            Aiden memulai serangan pertamanya pada Calistha, dan langsung mengenai lengan kiri wanita itu. Untuk permulaan Calistha benar-benar tak menyangka jika Aiden akan langsung menyerangnya seperti itu. Namun setelah itu ia justru semakin yakin jika Aiden tidaklah main-main dengan tantangannya. Bahkan Aiden mungkin juga tidak segan-segan untuk mematahkan tulang-tulangnya.


            “Jadi hanya seperti itu kemampuanmu?”


            “Hmm, kita lihat saja nanti tuan sniper.”


Bugh! Bugh!


            Calistha tidak menyia-nyiakan kesempatan emasnya untuk memukul Aiden dan menendang tulang keringnya ketika pria itu sedang lengah. Ia kemudian segera meliukan tubuhnya ke kanan saat Aiden hendak membalas memukul lengan kirinya yang sebelumnya juga berhasil ia pukul. Duel kali ini rasanya begitu menantang untuk Aiden, karena selain ia berduel bersama seorang wanita, ia juga berduel dengan lawan yang tak bisa ia remehkan begitu saja. Sejak Calistha mengakui semua kebohongannya, Aiden menjadi sangat penasaran dengan sisi lain wanita itu. Mungkin saja Calistha masih menyembunyikan sesuatu yang lain, sesuatu yang mampu membuatnya tercengang lebih dari sebelumnya.


            “Kau pasti tidak akan menang melawanku.” Ucap Calistha sengit sambil mencoba menendang perut Aiden. Namun pria itu dapat menghindarinya dengan mudah, dan setelahnya ia balas memukul punggung Calistha hingga wanita itu terengah-engah dalam keadaan tengkurap di atas matras. Merasa Calistha sedang lengah, Aiden berencana untuk memukul telak wanita sombong itu. Namun sebelum Aiden sempat melayangkan pukulan pada Calistha, wanita itu sudah terlebihdahulu melompat berdiri sambil memberikan tatapan meremehkannya pada Aiden.


            “Tidak semudah itu untuk menumbangkanku tuan sniper.” Kerling Calistha nakal. Ia pun segera memberikan tendangan pada perut Aiden sambil tangan kanannya juga mengarahkan pukulan pada tengkuk Aiden. Ia tahu jika Aiden pasti akan menghindari tendangannya, namun pria itu tidak mengantisipasi serangan Calistha di tengkuknya, sehingga Aiden cukup merasa syok dengan pukulan itu hingga ia sempat terbatuk sekali karena merasakan sentakan yang begitu kuat di tengkuknya.


            “Hoshh hoshh.. untuk ukuran wanita manja, aku tidak boleh meremehkanmu. Tapi kau terlalu menggunakan hati, dan tidak memanfaatkan situasi!”


            “Aaakkkh...”


            Aiden tiba-tiba menarik tangan Calistha, mengunci gerakan wanita itu, lalu membantingnya ke atas matras. Calistha yang merasa bodoh karena sempat merasa kasihan pada Aiden menjadi menatap sengit pada pria itu. Bisa-bisanya ia masih memberikan kesempatan pada Aiden untuk bernapas setelah ia berhasil membuat pria itu syok dengan pukulannya di tengkuk. Sekarang rasakan sendiri akibatnya. Ia justru terbaring tak berdaya di atas matras dengan dada naik turun dan napas yang tak beraturan karena terlalu kelelahan.


            “Menyerahlah,


kau tidak akan pernah menang melawanku, wanita manja.”


            Calistha mengernyitkan dahinya tidak suka, namun ia tidak bisa membalas memukul wajah Aiden yang menyebalkan itu karena saat ini tangannya sedang dikunci oleh Aiden. Tetesan keringat dari keningnya tampak bercampur dengan milik Aiden yang sedikit menetes-netes di atasnya, hingga ia merasa sangat jijik dengan keadaan mereka saat ini. Namun tak bisa dipungkiri jika Aiden terlihat lebih tampan dengan peluh yang masih menetes-netes di ujung rambutnya sambil menatapnya intens dengan tatapan setajam elangnya itu.


            “Kau curang, kau sengaja menjebakku!” Tuduh Calistha telak. Ia benar-benar membenci Aiden yang penuh manipulasi dan sangat berbahaya ini. Pantas jika selama ini Aiden selalu berhasil mengeksekusi mangsa-mangsanya dengan mulus. Wajahnya yang menipu itu pasti telah membuat musuh-musuhnya menjadi lebih mudah untuk masuk kedalam perangkapnya.


            “Tidak ada aturan baku dalam perkelahian, hanya ada satu hal, mempertahankan diri agar tetap hidup, tak peduli bagaimana kondisi musuhmu, kau harus tetap hidup untuk bertahan diri.”


            “Aargghh Aiden sialan! Berikan aku kesempatan untuk melawanmu lagi.” Teriak Calistha kesal sambil meronta-ronta. Padahal jika ia tidak lengah, ia yakin dapat mengalahkan Aiden dengan mudah karena melawan Aiden sama dengan melawan ayahnya, ia hanya perlu bersabar dan menggunakan teknik yang tepat. Tapi sial, karena ia masih saja menggunakan hati nuraninya untuk mengasihani Aiden yang selama ini tidak pernah sedikitpun bersimpati padanya.


            “Kau kalah putri Jacob Im.” Bisik Aiden serak di atas Calistha. Calistha seakan-akan ingin melahap Aiden hidup-hidup dengan kemarahannya, karena pria itu saat ini begitu congkak dengan terus mengejeknya. Sekarang ia telah kehilangan kesempatan emasnya untuk mencari keberadaan ayahnya bersama Aiden. Pria itu jelas akan menendangnya keluar dari rumahnya setelah ini, dan membuatnya harus terlunta-lunta tak memiliki tempat tinggal seperti gelandangan. Bahkan ia juga tidak bisa kembali ke Korea karena ia tidak memiliki kenalan orang-orang handal seperti yang dimiliki Aiden. Baiklah, hidupnya mungkin memang sudah ditakdirkan hanya sampai di titik ini. Secepatnya ia akan menyerah untuk mencari sisa-sisa harta berharga milik ayahnya yang menurut rumor masih banyak tersebar luas di luar sana.


            “Lepaskan aku Aiden, kau menang! Aku akan segera angkat kaki dari sini dan menjadi tunawisma di luar sana karena aku sekarang tidak memiliki apa-apa lagi. Cepat menyingkir dari sana!” Teriak Calistha kesal. Ia sudah lelah dengan posisinya yang tidak menguntungkan ini. Tangannya yang masih dikunci oleh Aiden mulai terasa pegal dan hampir mati rasa. Sedangkan Aiden sepertinya masih betah berlama-lama berada di posisinya yang terlihat sangat mengintimidasi itu. Apalagi deru napas Aiden yang mulai terlihat teratur itu mulai membuat Calistha gugup, karena deru napas milik Aiden yang panas seakan-akan sedang membelai lembut wajahnya yang dipenuhi keringat.


            “Saat kau menjadi tunawisma, apa kau akan menyerah begitu saja untuk mencari harta-harta berharga milik ayahmu?”


            “Menurutmuapa yang bisa kulakukan tanpa rumah dan uang? Aku sekarang hanyalah gadis miskin yang tak berarti apa-apa, selain menjadi buronan Emily. Wanita ular itu nyatanya masih berada di luar sana, dan sedang menyiapkan diri untuk menungguku lengah. Aku... aku merasa sedih sejujurnya, karena kupikir Emily dapat menjadi teman terbaikku sampai kapanpun.” Kenang Calistha dengan wajah sendu. Ingatan ketika pertama kali ia bertemu Emily menjadi ingatan yang tak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. Saat itu ia terlalu bahagia karena pada akhirnya ia dapat menemukan seorang teman yang benar-benar cocok dengannya. Selama ini ia terus berteman dengan Emily hingga ia merasa teman baiknya itu perlahan-lahan mulai berubah. Dan sejujurnya selama ini ia tidak pernah tahu jika Emily sebenarnya berhubungan dengan kartel milik ayahnya, dan menjalin hubungan sejauh itu dengan Luca.


            “Sejak kapan Emily mulai terlihat ingin membunuhmu?”


            “Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi tahun lalu aku mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Emily. Namun aku tidak pernah mempermasalahkannya karena Emily tidak juga menunjukan tanda-tanda mencurigakan yang perlu dikhawatirkan. Aku baru mengetahui semua kebenaran itu akhir-akhir ini. Kurasa ayahku juga banyak menyimpan rahasia dariku.”


            “Berdirilah, obati lukamu.”


            Semuanya berlalu begitu cepat. Aiden tiba-tiba melompat berdiri dari posisinya, dan membiarkan Calistha mengambil alih dirinya sendiri yang saat ini merasakan mati rasa di kedua pergelangan tangannya. Dengan erangan kecil, ia berusaha bangkit dari posisi berbaringnya, namun sulit karena kedua tangannya mulai terasa kesemutan.


            “Aku tidak bisa berdiri.” Erang Calistha manja. Aiden yang melihat itu tampak sedikit jengah, namun akhirnya ia tetap membantu Calistha untuk berdiri. Bahkan akhirnya Aiden menggendong Calistha menuju ruang khusus pengobatan.


            Kata-kata Calistha yang berisik itu membuat Aiden sempat mengernyit sesaat sambil menyiapkan obat-obatan untuk membalut luka-luka di sekujur tubuh Calistha. Ia adalah seorang pria sejati, dan ia tidak meninggalkan wanita begitu saja dengan luka-luka lebam yang ia ciptakan seusai berduel. Sebenarnya sedikit pengecualian untuk Calistha karena ia hampir tidak pernah melakukan hal ini pada wanita manapun di luar sana. Bahkan ia cenderung lebih sering menyakiti mereka dengan perbuatan kasarnya yang merendahkan, daripada membuat hati mereka


berbunga-bunga saat berada di dekatnya.


            “Apa kau sudah melupakan niatmu untuk memburu Malfoy?”


            “Tidak, aku masih mengingatnya dengan baik. Tapi aku kalah, kau sendiri yang menyuruhku untuk angkat kaki dari sini jika aku kalah. Aku adalah wanita yang menjunjung sportifitas, jadi aku akan....”


            “Malfoy memang cukup mencurigakan, dan aku telah meminta seseorang untuk mengawasinya. Besok kita pergi ke suatu tempat yang selama ini sering didatangi oleh Malfoy.”


            “Aa Aiden, kau serius?” Tanya Calistha berubah linglung. Ia masih tak percaya jika akhirnya Aiden akan membantunya untuk menemukan ayahnya yang ia yakini masih hidup di luar sana.


            “Lebih baik kau diam dan jangan mengulang-ulang pertanyaanmu. Lagipula setelah masalah di sini dapat diatasi, kita harus kembali ke Seoul. Ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Akhir-akhir ini presiden Moon menjadi sulit untuk dihubungi.”


Grep


            Calistha tiba-tiba memeluk Aiden erat hingga pria itu sedikit terdorong mundur akibat gerakan tiba-tiba Calistha yang tak terbaca. Pria itu kemudian hanya terdiam kaku tanpa sedikitpun membalas pelukan Calistha yang sangat erat itu. Hatinya saat ini sedang bergejolak. Tak bisa dipungkiri jika kebersamaan mereka selama ini membuatnya sedikit demi sedikit menumbuhkan rasa sayang pada Calistha. Saat wanita itu merasa membutuhkan bantuannya, ia tidak bisa lagi berpura-pura tuli dan buta seperti dulu. Semua sikap acuh tak acuhnya perlahan-lahan mulai pudar karena Calistha.


            “Terimakasih Aiden. Terimakasih karena kau telah berdiri di sisiku untuk membantuku. Aku janji tidak akan pernah mengecewakanmu dan membohongimu lagi.”


-00-


            “Kau yakin Malfoy sering datang ke tempat ini?”


               “Informanku tidak pernah salah, Malfoy memang beberapa kali mendatangi tempat kumuh ini dan masuk ke dalam rumah di ujung sana?”


            Calistha sedikit sangsi menatap pemandangan tak beraturan yang terpampang jelas di sekitarnya. Perkampungan kumuh ini, bahkan ia baru mengetahuinya jika ternyata kota London juga memiliki sebuah kompleks khusus untuk ditinggali oleh orang-orang yang selama ini menjadi sampah masyarakat. Suara lolongan anjing liar, dan hawa dingin menusuk kulit menjadi sebuah hal yang terasa asing untuk Calistha saat berjalan menyusuri jalanan rusak yang tampak begitu tak layak huni di daerah Mandrake street.


            “Kira-kira apa yang dilakukan Malfoy di sini?”


            “Kita akan tahu setelah kita bertemu dengan pria pemilik rumah ini.”


Dug dug dug


            Aiden memukul keras pintu kayu lapuk di depannya sambil menatap awas pada orang-orang di sekitarnya yang jelas menatap aneh kearahnya dan juga Calistha. Sejujurnya tempat seperti ini tidaklah seburuk yang terlihat, hanya saja seseorang harus memiliki cara-cara khusus untuk dapat bertahan di lingkungan yang sangat menjunjung tinggi hukum rimba. Siapa yang kuat, maka dirinya yang akan berkuasa.


            “Malfoy, apakah itu kau?”


            “Buka pintunya, aku bukan Malfoy.”


            Aiden bersuara dingin sambil menunggu pintu lapuk di depannya terbuka. Sejujurnya ia tidak cukup sabar untuk melakukan hal itu, dan ia sangat ingin menghancurkan pintu lapuk itu agar dapat segera bertemu dengan sang pemilik gubuk.


            “Siapa kau, untuk apa kau berada di sini? Aku tidak menerima tamu siapapun kecuali Malfoy.”


            Aiden menggeram tertahan sambil memberikan tatapan malasnya pada Calistha. Satu lagi orang yang menguji kesabarannya. Padahal seharian ini ia telah dibuat terus menahan kekesalan karena sikap kekanakan Calistha yang mulai muncul. Setelah ia mengobatan luka-luka wanita itu, Calistha dengan manja memintanya untuk menggendongnya hingga ke kamar dengan alasan kakinya terasa sangat ngilu. Dan setelah itu, Calistha mulai berulah dengan menyuruhnya untuk melakukan ini itu yang sialnya juga ia lakukan tanpa sedikitpun membantah ucapan Calistha. Jadi kali ini jika pria itu ingin menguji kesabarannya, maka katakan selamat tinggal pada pintu lapuk itu.


Braakk


            Suara pintu yang ditendang kasar, serta serpihak pintu yang tampak berceceran di atas lantai membuat Calistha syok pada perbuatan Aiden yang sangat tak memiliki aturan itu. Baru saja mereka mengganggu kehidupan tenang seorang pria tua yang diduga memiliki hubungan dengan Malfoy dan juga ayahnya. Tapi Aiden salah. Bukan seperti ini caranya jika ingin memaksa seseorang untuk buka mulut.


            “Apa yang kau lakukan Aiden?” Tanya Calistha kesal saat orang-orang di komplek kumuh itu mulai berkerumun untuk melihat apa yang terjadi di rumah miliki tuan Hornet. Namun Aiden sepertinya sama sekali tak ingin mempedulikan orang-orang itu, dan ia hanya berjalan masuk kedalam rumah petak kecil yang tingginya bahkan tidak lebih tinggi dari tinggi tubuhnya.


            “Jadi kau yang bernama Hornet Hudson?”


            “Kau baru saja menghancurkan rumahku anak muda.” Geram tuan Hornet murka. Ia terlihat begitu marah dengan tindakan perusakan yang dilakukan oleh Aiden. Dan saat ini pria tua itu telah siap dengan sebuah tongkat bisbol di tangannya untuk menghajar Aiden.


            “Aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan mengenai Malfoy. Apa hubunganmu dengannya?”


            “Kenapa aku harus menjawab pertanyaan dari seorang perusak sepertimu. Lebih baik kau pergi, karena kau tidak akan mendapatkan apapun di sini.


            “Tuan, tolong jawab pertanyaan temanku ini. Dan mengenai pintu rumahmu yang rusak, kami akan menggantinya nanti.” Ucap Calistha lembut. Rasanya ia sendiri sangat geram dengan kelakuan Aiden yang sangat semena-mena itu. Bukan karena pria itu bersikap defensif ia dapat merusak barang-barang miliknya dengan mudah seperti itu.


            “Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Malfoy.”


            “Jangan membuat kesabaranku habis dengan sikapmu yang memuakan ini pak tua!” Umpat Aiden kasar. Calistha langsung menggenggam tangannya kuat dan memberikan tatapan memohon agar pria itu diam. Kali ini biarkan dirinya yang menghadapi pria tua menyebalkan itu karena ia sendiri merasa kekerasan sangat tidak ada gunanya untuk membuat pria tua itu berbicara.


            “Maaf, tapi kami melihat Malfoy beberapa kali datang ke sini. Sebenarnya apa yang dilakukan Malfoy di sini? Dan... apa kau mengeal Jacob Im?” Tanya Calistha ragu. Namun saat melihat raut terkejut yang tercetak jelas di wajah tuan Hornet membuat Calistha menjadi sedikit memiliki harapan jika pria tua itu mungkin mengenal ayahnya, dan dapat menuntunnya untuk bertemu dengan sang ayah.


            “Ssi siapa kau sebenarnya?” Tanya pria tua itu dengan suara bergetar yang nyaris seperti bisikan.


            “Aku Calistha, putri Jacob Im. Apa kau mengenal ayahku tuan Hornet?”


            “Calistha? Kau Calistha? Ya ampun, kau tampak lebih dewasa dan juga menawan. Wajahmu sangat mirip dengan ibumu.”


            Calistha langsung mengernyitkan dahinya bingung sambil menatap Aiden penuh arti. Sepertinya mereka harus tinggal lebih lama di gubuk kecil itu untuk mendengarkan cerita dari tuan Hornet.


            “Apa kau mengenal ibuku?”


            “Tentu saja, dulu aku adalah bekas tukang kebun ayahmu. Bahkan jauh sebelum ayahmu bertemu dengan ibumu. Tapi aku diberhentikan karena seseorang menuduhku melakukan kejahatan di rumahnya.”


            “Oh maafkan aku tuan Hornet jika ayahku mungkin telah salah paham padamu. Apa kau mau menceritakan sesuatu mengenai ayahku?”


            Pria tua itu mengangguk samar, lalu menyuruh Calistha untuk duduk di sebuah kursi kayu kecil yang sebenarnya lebih cocok digunakan untuk duduk anak-anak daripada seorang wanita dewasa sepertinya. Namun Calistha tidak mau membuat pria itu tersinggung dengan keengganananya untuk duduk di sana, sehingga Calistha hanya mampu menurut sambil meyakinkan dirinya sendiri jika ia tidak akan lama berada di atas kursi kayu kecil yang bahkan nyaris tidak mampu menampung seluruh bokongnya.


            “Sebelum kau bercerita mengenai ayahku, bagaimana bisa kau mengenal Malfoy?”


            “Malfoy? Anak itu yang menemukanku setelah ia berhasil meretas situs resmi milik ayahmu, dan ia berusaha mencari seorang informan untuk memberitahunya mengenai Jacob Im.”


            “Aku tidak mengerti, jadi Malfoy juga sebenarnya tidak pernah mengetahui apapun mengenai ayahku?”


            “Tidak. Malfoy bahkan sangat penasaran dengan kehidupan Jacob yang sangat misterius. Oleh karena itu ia selama ini mencaritahu mengenai Jacob melalui aku. Anak itu sangat berusaha keras untuk mencari orang-orang bekas pekerja Jacob agar ia dapat mengetahui apapun yang tidak ia ketahui mengenai Jacob. Selama ini Malfoy hanya diberikan tugas untuk memberikan santunan pada seorang gadis kecil bernama Luciana, yang ibunya tewas saat sedang mengantar paket khusus milik Jacob. Malfoy beberapa kali melacak akun bank yang telah mengirimkan uang-uang itu untuk Luciana, namun si pengirim tidak pernah menggunakan akun yang sama untuk mengirimkan uang-uangnya pada Luciana. Karena itulah Malfoy sering datang ke sini untuk mencari tahu mengenai sisi lain Jacob yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Ia bahkan juga heran dengan kemurahan hati Jacob yang secara tiba-tiba mau memberikannya uang untuk mendanai operasi perut yang dilakukan oleh kakaknya.”


           “Jadi karena itulah ia dapat membobol rumahku?”


            Tuan Hornet tertawa mendengar nada bicara Aiden yang tampak tidak suka dengan sikap Malfoy yang telah membobol rumahnya. Ia sepertinya sangat puas dengan sikap Malfoy yang pernah membobol rumah Aiden. Bahkan ia sangat mendukung jika suatu saat Malfoy ingin melakukannya lagi.


            “Itu adalah hukuman untuk orang-orang yang jahat sepertimu, kau bahkan baru saja merusak pintu rumahku.”


            “Soal itu aku minta maaf, kami nanti akan menggantinya. Tapi tolong ceritakan semua hal yang kau ketahui tentang ayahku, karena aku percaya jika ayahku sebenarnya masih hidup di luar sana.”


-00-


            Suara teriakan dan tangisan anak-anak terdengar begitu riuh di sebuah perkampungan nelayan yang berada di desa Bukchon. Para tentara  terlihat sibuk melemparkan barang-barang milik orang-orang di sana sambil meneriaki mereka agar segera pergi dari desa mereka. Para wanita dan anak-anak yang terlihat ketakutan hanya mampu meringkuk di atas tanah sambil menyaksikan rumah mereka hancur, dirubuhkan oleh sekelompok tentara jahat yang telah dikirimkan oleh presiden Moon untuk mengambil desa mereka yang berharga. Sementara itu, para pria terlihat sibuk mengumpati para tentara itu sambil memberikan perlawana, namun pada akhirnya mereka justru dihujani oleh peluru yang bertubi-tubi hingga tubuh mereka terpental begitu saja ke atas tanah dengan darah yang tampak menggenang di mana-mana. Ini adalah sebuah pembantaian masal dan sebuah pengusiran tak terhormat yang telah dilakukan oleh presiden Moon bersama seluruh para penguasa yang sejak dulu ingin memiliki Bukchon demi kepentingan pribadi mereka. Konspirasi ini telah lama mereka rencanakan, bahkan dalang dibalik penyerangan yang terjadi di rumah Im Seulong, serta semua mimpi buruk yang selama ini selalu menghantui Calistha kemanapun wanita itu pergi, tidak lain adalah karena rencana licik presiden Moon. Dan tentu saja karena bantuan dari snipernya yang handal, Aiden Lee.