The Sniper

The Sniper
Blood, Tears, and Poem (Eight)



        Calistha tak pernah menyangka jika mimpi buruk pasca kematian ayahnya akan menjadi semengerikan ini. Bertahan di tengah-tengah perang yang terjadi diantara dirinya dan juga orang-orang yang tak dikenalnya


membuat Calistha merasa hidupnya mungkin tidak akan lama lagi. Bahkan saat ini ia hanya bisa meringkuk ketakutan dibalik sebuah pintu besi yang menjulang di halaman belakang villa milik ayahnya. Sedangkan Aiden tampak berada jauh darinya sambil terus mengarahkan moncong pistolnya yang mematikan kearah musuh-musuh mereka yang jumlahnya cukup banyak. Peperangan ini jelas kalah jumlah, namun ia tidak sedikitpun meragukan kemampuan Aiden dalam membidik musuh-musuh mereka karena nyatanya pria itu telah berhasil menumbangkan sebagian besar dari mereka, meskipun hanya menghadapinya seorang diri.


        Tubuh-tubuh kaku bersimbah darah itu perlahan-lahan mulai jatuh berserakan disekitar halaman villa yang gelap dengan berbagai bentuk mengerikan. Dan ketika salah satu mayat tiba-tiba terlempar disekitar tempat persembunyian Calistha, wanita itu hampir saja berteriak histeris sebelum tangan bergetarnya berhasil membungkam bibirnya rapat-rapat.


Ckrek


            Bunyi derak pistol yang terdengar begitu dekat menyadarkan Calistha pada satu fakta jika tempat persembunyiannya telah diketahui. Salah satu musuhnya telah mengendus tempat persembunyiaannya lebih cepat dari apa yang ia perkirakan. Ia pun dengan wajah pucat yang tersamar oleh kegelapan malam, segera menoleh kearah sumber suara sambil menyipitkan matanya untuk melihat siluet wajah sang musuh yang sebagian besar tertutupi oleh masker.


            “Halo, akhirnya aku dapat menemukanmu harta karun.”


            Samar-samar Calistha dapat mendengar ucapan pria itu yang hampir-hampir teredam oleh bunyi letusan senjata yang terdengar begitu nyaring disekitarnya. Dan ia pun langsung mengernyit aneh pada pria itu saat ia menemukan kata-kata ganjil seputar harta karun yang ditujukan pria itu pada dirinya. Jadi aku adalah harta karun? Hebat!


            “Menyerahlah, sniper itu tidak akan bisa melindungimu dengan jumlah kami yang sangat banyak.”


            Calistha tahu jika saat ini Aiden tidak mungkin akan menyelamatkannya. Jarak mereka cukup jauh, dengan Aiden yang terlalu sibuk membidik sasarannya dibalik sebuah pilar tinggi di belakang rumahnya, ia jelas akan ditangkap hidup-hidup oleh pria misterius itu jika ia tidak bisa melawan pria itu dengan tangannya sendiri.


            “Aku tidak akan menyerahkan harta milik ayahku pada kalian.”


            Calistha mencicit lemah dengan sisa-sisa keberaniannya sambil menggenggam pistol pemberian Aiden dengan erat. Hatinya sedang mempertimbangkan niatnya untuk membunuh pria itu menggunakan pistol yang telah siap digenggaman tangannya atau memilih lari sejauh-jauhnya dari pria itu, menghampiri Aiden yang sedang sibuk dengan musuh-musuhnya, lalu berlindung dibalik tubuh tegap pria itu.


            “Hahahaa... tak kusangka jika putri Im Seulong seberani ini. Kau...”


Dorr!


            Calistha memejamkan matanya erat dan mulai merasakan tangannya yang baru saja menarik pelatuk pistolnya terasa bergetar hebat. Ia baru saja melukai orang, dan mungkin saja ia telah menjadi pembunuh.


            “Sialan! Kau menembak lenganku.”


Slap


            Calistha langsung memejamkan matanya rapat-sapat saat pria itu hampir menembaknya dengan moncong pistol yang telah siap di atas kepalanya. Namun tiba-tiba ia mendengar suara debuman yang cukup keras di depannya, disusul dengan suara teriakan Aiden yang menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat persembunyiannya.


            “Lari! Bersembunyilah di tempat lain.”


            Calistha melihat pria yang hampir membunuhnya itu tampak sekarat dengan pisau yang menancap di dadanya. Entah apa yang telah dilakukan Aiden pada pria itu, namun Calistha yakin jika pisau itu mungkin tidak hanya sekedar pisau karena pria itu tampak sekarat dengan busa putih menjijikan yang mulai keluar dari mulutnya.


            “Bodoh! Apa yang kau lakukan, kita harus segera pergi dari sini, jumlah mereka terlalu


banyak.”


            “Aaa aku takut. Kapan semua ini akan berakhir?”


            “Menangis tidak akan menyelesaikan apapun, jangan jadi cengeng disaat seperti ini. Siapkan saja pistolmu, tembak sesuai nalurimu saat mereka akan menyerangmu.”


            Aiden segera menyeret tubuh Calistha yang tampak gemetar ketakutan sambil sesekali menembaki musuhnya yang sangat banyak. Padahal ia pikir ia telah membunuh banyak orang malam ini, namun sepertinya musuh mereka bukanlah orang sembarangan yang akan menyerah dengan mudah setelah Aiden membunuh sebagian pasukannya.


Dorr!


            “Aiden!! Mereka ada di sana!”


            Calistha menjerit ketakutan saat melihat pria-pria bertopeng itu telah berada di sebelah mobil Aiden. Dengan lutut gemetar, ia terus mengikuti kemanapun Aiden menariknya seperti benda mati yang tak memiliki jiwa. Semua ini, terlalu mengerikan untuk dialami seorang Calistha Im yang manja. Bahkan air matanya sudah tak sanggup untuk menggambarkan bagaimana takutnya ia berada di dalam kondisi ini. Lalu bagaimana dengan Aiden? Satu pertanyaan itu terbersit begitu saja di benak Calistha saat ia menatap kosong punggung tegap Aiden yang tampak bergerak-gerak brutal di depannya, efek dari lari yang tak tentu arah. Pada akhirnya seorang sniper handal seperti Aiden tidak bisa hanya mengandalkan senjata-senjatanya. Mereka harus tetap berlari untuk menghindari kejaran orang-orang bertopeng itu, atau mereka akan berakhir tragis di tangan seseorang yang entah siapa.


            “Disana, kita harus segera masuk ke dalam mobil.”


            Calistha mengerjapkan matanya beberapa kali dan tampak linglung dengan pemandangan di sekitarnya yang tampak gelap. Saat ini mereka masih berlari dengan derap langkah yang sangat berisik di belakang mereka. Namun di depan sana, Calistha seperti melihat sebuah cahaya yang berasal dari mobil, dan tiba-tiba semuanya


menggelap. Kegelapan tiba-tiba merenggut paksa akal sehat Calistha hingga yang tersisa hanyalah suara umpatan kasar Aiden yang perlahan-lahan juga ikut menghilang dibalik pekatnya kegelapan yang menelannya.


-00-


            “Hahhh.. Jangan!!”


            Calistha terkesiap bangun dari tidurnya dengan keringat dingin sebesar biji jagung yang telah membanjiri seluruh pelipisnya. Mimpi buruknya terlihat sangat nyata, dan ia seperti baru saja berlari kencang menghindari serangan orang-orang bertopeng yang hampir membunuhnya.


            “Hei sleeping beauty, akhirnya kau sadar juga. Kau hampir membuat kita berdua tertangkap oleh keparat-keparat sialan itu.”


            “Aap apa? Jadi? Itu bukan mimpi?” cicit Calistha seperti wanita idiot. Wajahnya yang menyiratkan tatapan linglung dan kedua bibirnya yang sedikit terbuka membuat Aiden mendengus kesal pada wanita itu. Semalam, ia terpaksa menggendong wanita itu dengan kedua tangan yang harus siaga menggenggam pistol dan tas ransel di punggung yang penuh dengan barang-barang berharga milik mereka. Wanita itu benar-benar pingsan di saat yang tidak tepat, ketika mereka hampir sampai di mobil milik salah satu anak buah presiden Moon yang berhasil melacak keberadaan mereka setelah Aiden mengirimkan titik lokasi tempat mereka berada. Dan sekarang mereka telah berada di sebuah desa yang cukup jauh dari Bukchon, untuk sekedar beristirahat sejenak karena Aiden tidak mungkin memaksakan diri untuk kembali ke Seoul disaat Calistha sedang dalam keadaan tidak sadar seperti itu. Apalagi ia tidak mau membawa tubuh berat Calistha yang merepotkan seperti semalam dengan punggung yang sama beratnya karena barang-barang milik Calistha.


            “Cepatlah bangun, hari ini juga kita harus kembali ke Seoul. Sebelum orang-orang misterius itu berhasil melacak kita, kita harus segera bergerak.”


            “Jam berapa sekarang?”


            Calistha tampak mencari-cari keberadaan jam dinding di sekitar kamarnya yang remang-remang sambil merapikan selimut tebal yang nyaris jatuh dari ranjangnya. Ia kemudian sedikit meringis malu kearah Aiden saat pria itu dengan gusar menyaksikan bagaimana kacaunya seluruh ranjang yang ia tempati karena gerakan-gerakan brutal yang mungkin ia lakukan saat ia sedang dalam keadaan tidak sadar.


            “Sepuluh. Kau sudah tidur sangat lama semalam.”


            “Benarkah? Tapi aku merasa tubuhku masih sangat lelah, apalagi kakiku juga terasa pegal dan sakit. Luka tusuk...”


            Calistha menghentikan tangannya seketika di udara saat ia melihat betis kanannya yang telah dililit dengan perban baru. Semalam ia merasakan ada sesuatu yang mengalir di kakinya dan juga terasa sakit, namun ia berusaha untuk mengabaikan semuanya karena ia tahu jika itu bukan saat yang tepat untuk menginventaris keadaan tubuhnya sendiri. Terlebih lagi Aiden tengah berusaha mati-matian untuk melindunginya di orang-orang jahat itu, ia jelas tak bisa memikirkan dirinya sendiri hanya karena satu luka kecil yang disebabkan oleh Aiden beberapa hari sebelumnya.


            “Apa ini?”


            “Bisa ular kobra.” jawab Aiden singkat. Calistha tampak terpana dengan barang baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia lalu sedikit menggerakan tangannya untuk menyentuh botol kaca itu, namun tangan Aiden langsung menangkis tangannya dengan kasar, dan membuatnya langsung menggerutu kesal pada pria itu.


            “Kenapa aku tidak boleh memegangnya? Aku hanya ingin melihatnya lebih jelas.”


            “Bukankah kau sudah melihatnya. Ini bukan mainan, bahkan ia bukan jus yang bisa kau minum, ini berbahaya.”


            “Ck, aku tahu Aiden! Aku tidak sebodoh itu, dan aku masih bisa membedakan jus dan racun dengan jelas. Aku hanya ingin tahu kegunaan dari bisa ular itu. Apa kau melumuri pisaumu dengan cairan itu?” Tanya Calistha tiba-tiba saat ia teringat pada pria malang yang hampir menembaknya. Sebelum mereka pergi, ia sempat melihat pria itu kejang-kejang dengan busa putih yang terus keluar dari mulutnya. Ah... ia merasa harus benar-benar waspada pada Aiden Lee, karena selain pistol, pria itu menyembunyikan banyak senjata berbahaya di dalam tubuhnya.


            “Ada banyak senjata yang bisa digunakan untuk bertahan selain pistol, dan ini salah satunya.”


            “Darimana kau mendapatkan racun ular kobra itu? Kurasa itu tidak dijual dengan mudah di Korea. Dengan negara beriklim sub tropis seperti ini, ular kobra jelas tidak akan bisa hidup dengan bebas di sini, kecuali di kebun binatang.”


            “Aku mendapatkannya di Afrika, saat sedang bertugas di sebuah tempat yang sangat gersang dan juga panas. Di sana, ada seorang pria tua yang menjual berbagai racun milik hewan-hewan berbahaya, seperti racun ular kobra dan kalajengking.”


            “Pasar? Seperti apa pasar di sana? Aku tidak...”


            “Jangan kau bayangkan pasar itu seperti Burough market di London atau pasar tradisional di Incheon, di sana jauh lebih liar, dan tak beraturan. Banyak pria-pria hidung belang yang berkeliaran di pasar, di sana, wanita sangat tidak aman. Wanita-wanita manja sepertimu akan dijadikan budak seks oleh pria-pria hidung belang yang jumlahnya puluhan. Satu budak seks akan digunakan oleh belasan pria, bahkan puluhan.”


            Calistha tercekat ketakutan dengan cerita Aiden yang sangat mengerikan. Apalagi suasana


di dalam kamar mereka yang remang-remang semakin memperparah ketakutan Calistha hingga bulu kuduknya meremang. Dulu, mungkin ia masih bisa mempertahankan idealismenya mengenai kehidupan bak seorang putri yang tanpa cela. Namun sekarang, dengan berbagai kekacauan yang ditinggalkan oleh ayahnya dibalik kehidupan nyamannya selama ini, ia menjadi ragu dengan idealismenya yang omong kosong itu. Nyatanya dunia ini memang kejam, dan ia memang sangat terlambat untuk menyadarinya.


            “Kke kenapa kau berkata seperti itu? Kau membuatku takut, dan kenapa kamar ini begitu gelap.” Dengus Calistha gusar sambil bersiap untuk menarik gorden kuning di kamar itu, namun tangannya segera ditarik oleh Aiden hingga tubuhnya jatuh begitu saja di atas ranjang.


            “Di luar belum tentu aman, setidaknya mereka tidak tahu apa yang kita lakukan jika mereka ternyata juga mengintai kita di luar sana. Kau ingin mengulangi kejadian yang sama seperti semalam?”


            Calistha langsung menggeleng kaku di hadapan Aiden sambil bergidik ketakutan. Cukup hanya semalam ia merasakan perasaan yang sangat mencekam seperti itu. Bila nanti mereka dihadapkan pada situasi seperti itu lagi, setidaknya itu tidak dalam waktu dekat, karena ia masih sedikit trauma.


            “Baiklah, aku mengerti. Aiden, bisakah kau mengajariku menggunakan senjata setelah ini? Aku merasa sangat tidak berguna semalam, dan sangat menyusahkanmu. Maafkan aku.”


            Chalista menundukan kepalanya merasa bersalah dengan berbagai macam kegundahan yang melingkupi hatinya. Sejak ia bangun, dan sepenuhnya sadar, ia merasa harus segera mengakhiri kehidupan bak putri kerajaannya sekarang juga. Calistha sangat ingat bagaimana payahnya dirinya dalam berhadapan dengan orang-orang bertopeng itu. Bahkan yang paling memalukan, ia sampai pingsan dalam keadaan mereka sedang kabur. Jika ia terus mempertahankan sikap manjanya itu, ia bisa saja terbunuh dengan cepat sebelum berhasil memecahkan satu persatu teka teki yang ditinggalkan oleh ayahnya. Lagipula, ia merasa cukup iba pada Aiden.


Meskipun pria itu dibayar oleh presiden Moon untuk melindunginya, dan meskipun pria itu telah terbiasa menghadapi dunia yang penuh kekacauan ini, tapi pria itu jadi semakin memperumit kehidupannya dengan masalah harta-harta ayahnya. Bahkan setelah ini ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya yang sudah sangat kacau ini. Bisa saja apa yang ia alami semalam bukanlah yang terburuk, namun ia masih akan menemuinya lagi suatu saat nanti.


            “Pasti aku akan melatihmu. Kau sangat payah, bahkan merepotkan. Jika aku tidak dibayar untuk melindungimu, aku pasti akan membiarkanmu mati di tengah hutan.”


            Calistha menghembuskan napasnya berat sambil menatap Aiden penuh kekesalan. Pria seperti Aiden memang tidak akan repot-repot berkata manis di hadapan seorang wanita sepertinya jika itu memang tidak sesuai dengan dirinya.


-00-


            “Luca! Kau kembali lebih cepat dari perkiraanku, bagaimana? Wajahmu tampak kusut.”


            Emily menyambut kekasihnya dengan girang sambil menatap wajah Luca yang tampak tak bersahabat. Setelah tiga hari pria itu berada di Seoul untuk berdiskusi dengan presiden Moon, sekarang ia kembali dengan berbagai masalah yang menumpuk di bahunya. Entahlah, semua yang terjadi pada keluarga Jacob justru bertambah rumit sebenarnya. Apalagi rumor itu... ia harus segera menemukan dalang dibalik rumor itu karena ia tidak percaya dengan adanya harta karun yang disembunyikan Jacob di Kuba.


            “Banyak masalah yang terjadi di sana, dan Calistha diserang oleh sekelompok orang yang tak kukenal. Terlalu banyak musuh yang dimiliki Jacob, sehingga keselamatan Calistha cukup terancam.”


            “Bukankah Calistha telah memiliki bodyguard? Seorang sniper?” tanya Emily sambil lalu. Ia memutuskan untuk mengambilkan segelas jus dari dalam kulkas untuk mendinginkan kepala Luca yang panas akibat masalah Calistha dan keluarganya yang rumit itu. Pantas saja Calistha merasa tidak bahagia dengan semua harta yang ditinggalkan oleh ayahnya jika jaminan untuk seluruh harta itu adalah nyawa orang-orang yang ia sayangi, bahkan nyawanya sendiri.


            “Memang, tapi itu tidak menjamin keselamatannya.”


            “Kau tampaknya sangat peduli pada Calistha.”


            “Calistha putri Jacob, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Terimakasih.”


            Luca menerima jus pemberian Emily penuh rasa syukur dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk. Memang sejak dari bandara ia merasa kepalanya panas, dan ia membutuhkan minuman dingin untuk memperbaiki keadaanya yang kacau. Dan setidaknya pagi ini ia cukup merasa lega setelah mendengar kabar dari presiden Moon jika Calistha masih baik-baik saja bersama Aiden. Sniper itu cukup dapat diandalkan untuk melindungi Calistha dengan berbagai kondisi, tetapi dengan kondisi kehidupan Calistha yang sangat kacau sekarang, ia menjadi tidak yakin dengan kemampuan Aiden. Tentu setiap orang memiliki batas-batas mereka masing-masing.


            “Calistha gadis yang kuat, kau tidak perlu mengkhawatirkannya terlalu jauh. Sekarang kau seharusnya memikirkan dirimu sendiri karena kau memegang banyak tanggung jawab untuk aset-aset miliki Jacob di Britania Raya. Aku membutuhkanmu Luc, kau tidak boleh mati sia-sia hanya karena masalah Calistha.”


            Emily memeluk manja punggung tegap Luca sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Ia merasa sudah lama tidak menghabiskan waktu senggang bersama Luca seperti ini. Mereka telah berhubungan sebagai sepasang kekasih sejak empat tahun yang lalu. Namun Emily merasa jika hubungan mereka sama sekali tidak ada kemajuan hingga detik ini. Dan menjadi sahabat Calistha, itu bukanlah bagian dari jalan hidupnya. Itu semua hanya skenario yang diciptakan oleh Luca, dan tentu saja Jacob, ayah Calistha, agar kehidupan Calistha seolah-olah normal seperti kebanyakan gadis pada umumnya.


            “Luca, aku lelah menjalankan semua skenario ini. Bisakah sekali saja kau memahami perasaanku? Aku ingin hubungan kita lebih berkembang daripada ini, hmm...”


            “Untuk saat ini aku tidak bisa Em, aku.....”


            “Ssshh... kita belum mencoba baby. Sesekali cobalah untuk berpaling dari masalah Jacob, dan pikirkan kehidupanmu sendiri. Kau berhak bahagia.”


            Entah bagaimana, saat ini posisi Emily telah berada di hadapan Luca, dengan kedua tangan yang telah melingkar sempurna di leher Luca. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Emily dapat merasakan hembusan napas hangat Luca di wajahnya. Ia sangat mencintai Luca. Luca adalah cinta pertamanya, sekaligus satu-satunya pria yang mengerti dirinya selain adiknya. Awal pertemuan mereka adalah saat Luca tak sengaja menabraknya di dalam sub way. Setelah itu hubungan mereka terus berkembang secara alami, hingga tanpa sadar mereka telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih selama empat tahun lamanya.


            “Luca, aku menginginkanmu.”


            Emily telah siap untuk meraih bibir menggoda Luca di depannya, sebelum pria itu menjauhkan kontak fisik mereka dan berjalan sedikit menjauh menuju sofa.


            “Aku lelah, bisakah kau memberiku waktu untuk istirahat. Malam ini aku harus pergi ke Moscow untuk memastikan sesuatu. Maafkan aku Emily, kuharap kau bisa sedikit bersabar untuk kelanjutan dari hubungan kita yang semakin tidak jelas ini.”


            Emily seketika merasa sakit dan juga sedih. Hampir saja air matanya jatuh dari kedua kelopak matanya yang telah berkaca-kaca. Selalu saja keberadaanya dianggap tidak penting oleh Luca. Padahal ia telah mengorbankan seluruh kehidupan tenangnya demi dapat menyenangkan Luca. Skenario bodoh yang ia jalankan selama ini, semata-mata hanya untuk Luca. Ia senang saat melihat Luca tertawa bahagia di hadapannya sambil mengucapkan beribu-ribu kata terimakasih tiga tahun yang lalu, ketika ia pertama kali mengiyakan permintaan


Luca untuk menjadi sahabat Calistha. Andai ia dapat memutar waktu, ia tidak ingin mengenal Luca tiga tahun yang lalu. Lebih baik ia menjalani kehidupannya yang biasa dan membosankan dengan berbagai masalah perkebunan anggur milik neneknya di Skotlandian yang terbengkalai. Sejauh ini ia telah membohongi banyak orang demi menciptakan sebuah kehidupan norma nan bahagia milik Calistha. Namun pada akhirnya ia justru menghancurkan kehidupannya sendiri yang seharusnya berjalan dengan indah.