The Sniper

The Sniper
New Plan Bad Condition (Nineteen)



            “Itu Luciana...”


            Malfoy menunjuk seorang gadis kecil berambut blonde ikal sebahu yang sedang berjalan keluar dari panti asuhan bersama dua orang temannya yang juga masih seumuran dengannya. Calistha seketika tersenyum lembut saat melihat tiga orang gadis itu karena ia tiba-tiba saja teringat pada masa kecilnya yang menyenangkan. Dulu ia


juga memiliki teman-teman seperti genk yang selalu pergi bersamanya kemanapun ia pergi. Bahkan neneknya sampai dibuat gemas karena setiap mereka membeli baju atau pernak pernik khas anak perempuan, ia selalu meminta untuk membelikan dua temannya juga agar mereka dapat menggunakan barang-barang yang sama. Ahh... semua itu terasa sudah sangat lama. Bagaimana kabar kedua temannya itu sekarang, Lee Bora dan Choi Anna?


            “Luciana!”


            Malfoy memanggil Luciana dan melambaikan tangannya kearah gadis itu, memintanya agar mendekat. Calistha tampak senang ketika Luciana dengan kaki-kaki kecilnya yang menggemaskan langsung berlari kearah Malfoy, bahkan gadis kecil itu telah merentangkan tangannya untuk dipeluk oleh Malfoy.


            “Uncle! Aku merindukanmu.” Teriak Luciana manjay. Malfoy tampak tersenyum senang dan langsung memeluk Luciana hangat. Aiden yang melihat itu hanya mampu menunjukan wajah datarnya seperti biasa hingga Calistha rasanya ingin sekali menarik pipi itu agar dapat menunjukan sedikit saja senyumnya pada anak-anak kecil di panti asuhan ini.


            “Uncle, mereka siapa?”


            “Haii...”


            Calistha mencoba menyapa Luciana dengan wajah ramahnya sambil melambaikan tangannya ke udara. Ia berharap gadis kecil itu tidak takut dengan wajahnya dan Aiden. Tapi saat melihat Aiden yang hanya menunjukan tatapann datarnya, membuat Calistha seketika tidak yakin jika Luciana tidak akan takut pada pria itu. Apalagi beberapa tatto yang menyembul dari balik leher Aiden yang tertutup oleh kerah kemejanya membuat Luciana langsung beringsut takut kearah Malfoy.


            “Tidak apa-apa, mereka adalah teman-teman paman. Nona cantik ini bernama Calistha, lalu itu adalah paman Aiden.”


            “Hai...”


            Luciana dengan malu-malu menyapa Calistha dan memilih untuk melihat kearah Calistha daripada melihat Aiden yang terus saja menunjukan wajah sangar.


            “Halo, aku memiliki croissant yang lezat untukmu, kau mau?”


            Calistha menunjukan croissantnya yang masih tersisa dua buah di dalam kardus. Lalu saat Luciana mengangguk dengan wajah malu-malu, ia segera memberikan sisa roti itu untuk dimakan bersama dua temannya yang lain.


            “Uncle, aku ingin menunjukan sesuatu padamu.”


            “Ohh.. aku sepertinya akan ke dalam, kalian tidak apa-apa jika kutinggalkan di sini?”


            “Tidak apa-apa, masuklah bersama Luciana.”


            Malfoy segera pergi meninggalkan Aidend dan Calistha setelah mendapatkan ijin untuk meninggalkan mereka. Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan Calistha untuk berbicara serius dengan Aiden. Tiga puluh menit yang lalu Malfoy telah menceritakan sedikit mengenai asal usul Luciana dan juga ibunya. Ibu Luciana


bernama Maria, wanita itu adalah seorang single parent yang selama ini bekerja di sebuah pabrik keju yang berada di pinggir Kota London. Kematian Maria yang tak terduga itu membuat semua rekannya dan juga orang-orang yang mengenal Maria sempat terkejut. Bagaimana mungkin jika dirinya yang selama ini dikenal baik, tiba-tiba diduga telah melakukan bunuh diri. Satu bulan yang lalu polisi mengumumkan jika kematian Maria terjadi karena wanita itu bunuh diri. Setelah itu polisi menutup begitu saja kasus Maria tanpa pernah benar-benar menyelidikinya lebih lanjut. Dari cerita yang dikatakan oleh Malfoy, Aiden kemudian menaruh curiga pada ayah Calistha dan orang-orang yang bekerja di belakangnya. Jelas-jelas jika Maria meninggal karena ditembak oleh seorang sniper setelah mengantarkan paket. Tidak mungkin polisi sebodoh itu dengan tidak mengetahui penyebab kematian Maria secara


pasti, atau mungkin polisi-polisi itu selama ini telah bekerjasama dengan Jacob Im.


            “Ayahmu benar-benar telah memainkan semua permainannya dengan sangat rapi. Apa yang terjadi pada Maria, mungkin adalah salah satu kelalaian ayahmu. Sejak pengedaran narkoba mulai diawasi, mafia-mafia seperti ayahmu menjadi lebih berhati-hati untuk mengantarkan paket milik klien-klien mereka. Dan salah satu cara untuk menghindari kecurigaan polisi adalah dengan menggunakan penduduk sipil yang terlihat polos seperti Maria. Mungkin saja wanita itu juga tidak tahu isi dari paket yang dibawanya, dan ia hanya sekedar menjalankan pekerjaannya untuk mendapatkan uang atau imbalan yang lainnya.”


            “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Sepertinya kita lebih baik segera fokus pada masalah penembakan Luca dan jangan mengganggu Luciana atau Malfoy. Mereka berdua tidak ada hubungannya dengan masalah kita, yaahh.. kita hanya sedikit beruntung karena menemukan salah satu rahasia yang ayahku sembunyikan selama ini.”


            “Kurasa kita memang harus segera menyusun rencana baru untuk melacak sniper sialan itu. Lalu kita secepatnya kembali ke Seoul untuk berdiskusi dengan presiden Moon, sudah lama aku tidak menghubungi pria tua itu.” Ucap Aiden sambil menjepit sebatang rokok diantara bibirnya yang entah kenapa selalu memancarkan warna merah muda. Padahal Calistha yakin jika Aiden pasti adalah seorang perokok berat, tapi ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh Aiden justru menunjukan hal sebaliknya.


            “Ngomong-ngomong mengenai narkoba, apa kau pernah menggunakannya?” Tanya Calistha sedikit tak


yakin. Tiba-tiba saja pertanyaan itu terbersit di dalam benak Calistha, dan ia merasa begitu penasaran untuk mendapatkan jawabannya dari seorang Aiden yang misterius.


            “Aku tidak pernah menggunakannya, kami dilarang untuk menggunakan barang haram itu.”


            Calistha mengernyit samar dibalik sikap tenangnya akan jawaban Aiden. Lagi-lagi ia sedikit salah sangka pada Aiden. Ia pikir pria itu juga pernah menggunakan narkoba atau obat-obatan jenis apapun, mengingat bagaimana suramnya kehidupan Aiden selama ini.


            “Wow... kau sungguh tak terduga, aku pikir kau pernah menggunakannya.”


            “Hmm, selalu saja menarik kesimpulan sendiri dari pikiran sempitmu. Terkadang seseorang memang tidak sesuai dengan rupa fisiknya.” Balas Aiden terdengar datar. Entah pria itu tersinggung atau tidak, tapi sepertinya ia cukup terganggu dengan tuduhan Calistha. Setelah itu Aiden beranjak pergi dan diikuti Calistha yang juga ikut pergi untuk pulang ke rumah Aiden yang nyaman. Hari ini mungkin ia akan melanjutkan latihannya menggunakan senjata sambil bersantai sejenak. Sesungguhnya ia mulai mengantuk sekarang, dan ingin segera bergelung hangat di atas ranjang empuknya yang sangat nyaman di rumah Aiden.


-00-


            Diam-dima pria itu menyeringai sambil mengamati anak-anak kecil yang sedang berkumpul di halaman luas bangunan bernuansa putih di depannya. Sambil memegang sebuah ponsel, pria itu memotret sang gadis yang menjadi objek incarannya dan segera mengirimkan gambar gadis kecil itu pada sang bos. Akan sangat menyenangkan jika bosnya dapat menarik keluar dua buruannya, Aiden dan Calistha tanpa perlu repot-repot mencari dimana keberadaan mereka saat ini. Sungguh pagi ini adalah sebuah keberuntungan baginya karena ia tiba-tiba berpapasan dengan Calistha, wanita yang tiba-tiba menghilang setelah insiden penembakan Luca lima hari yang lalu. Ia kemudian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membuntuti Calistha dan mencari tahu apa yang sedang dilakukan wanita itu dengan snipernya. Bawa anak itu untukku!


            Pria itu langsung menyeringai lebar saat mendapatkan perintah yang sangat sesuai dengan dugaannya sejak tadi. Sekarang ia tinggal menunggu hingga gadis kecil itu lengah sebelum ia membwanya ke hadapan Emily.


            “Luci... tolong ambilkan bolaku yang menggelinding di sana, aku akan masuk sebentar untuk minum.”


            Tanpa berpikir panjang, gadis bernama Luci itu segera berjalan kearah bola yang sialnya telah menggelinding tepat di dekat seorang pria asing yang sejak tadi mengintainya.


            “Halo gadis manis...”


            Luci mendongak dan sedikit menyipitkan matanya untuk melihat wajah pria asing yang saat ini tampak silau karena tertimpa cahaya matahari senja yang sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Dengan wajah polosnya Luci menyapa pria itu, dan meminta pria itu untuk mengambilkan bola milik temannya yang saat ini sedang diinjak dibawah kaki besar pria asing itu.


            “Paman, tolong berikan bolan itu padaku.”


            “Paman akan memberikannya setelah paman mengetahui siapa namamu.”


            “Namaku Luciana, paman siapa?” Tanya Luciana polos. Pria itu menyeringai lebar, lalu ia berjongkok dengan wajah ramah sambil mengelus surai keemasan Luciana sekali.


            “Panggil aku paman Andrew, dan paman punya sapu tangan yang lucu untukmu.”


            Dengan gerakan cepat, Andrew segera membungkam mulut Luciana dan membuat gadis kecil itu tak sadar seketika karena pengaruh obat bius yang telah dibubuhkan pada saputangan merah itu. Sekarang tinggal menyerahkan gadis kecil itu pada bosnya dan menunggu hadiah apa yang akan ia dapatkan untuk prestasinya yang membanggakan ini.


-00-


            Suara desingan peluru dan suara napas Calistha yang terengah-engah terdengar begitu dominan di dalam ruangan kedap suara yang didominasi oleh warna hitam itu. Selama lebih dari dua jam Calistha telah berada di sana untuk mempelajari apapun yang perlu ia pelajari di sana. Sebelumnya selama satu jam, ia berlatih beberapa teknik menendang dan memukul. Setelah itu ia berlatih menggunakan berbagai macam senjata bersama Aiden yang sejak tadi terus mematau perkembangan latihannya.


            “Istirahatlah, kau sudah berlatih cukup lama hari ini.”


            “Sebentar lagi, ini kurang sedikit.”


            Aiden melepas kacamata khususnya sambil melirik Calistha penuh rasa bangga. Ternyata Calistha dapat berubah setelah memiliki tekad yang kuat dalam dirinya. Akhir-akhir ini ia merasa jika wanita itu mulai tumbuh menjadi wanitas dewasa yang tidak merengek-rengek lagi seperti bayi. Sekarang ia juga yang mengambil peran untuk memasak di rumah ini. Dan ia akui, untu ukuran pemula, masakan Calistha tidaklah buruk.


            “Kau ingin makan apa hari ini?”


            “Terserah kau saja.”


            “Ck, kalau begitu kita memesan pizza saja, aku sedang malas.” Decak Calistha kesal. Aiden sepertinya tidak masalah dengan usulan Calistha karena ia tidak pernah mempermasalahkan apapun yang akan ia makan.


            “Ngomong-ngomong, bagaimana kabar penduduk desa Bukchon sekarang, aku tiba-tiba saja merindukan mereka. Aku sempat memikirkan mereka karena dulu kita pernah di serang di villa yang lokasinya dekat dengan desa Bukchon.”


            “Mereka pasti baik-baik saja. Selama tidak ada yang mengetahui semua sertifikat milik ayahmu, penduduk desa Bukchon tidak akan diusik oleh siapapun.” Ucap Aiden menenangkan. Calistha tiba-tiba menyandarkan kepalanya pada pundak tegap Aiden dan mulai menerawang jauh kearah langit-langit ruang latihan Aiden yang selalu tampak suram, tapi ia mulai menyukainya sekarang. Karena ruangan ini menyajikan kedamaian dan kenyamanan untuknya.


            “Sampai kapan kita akan berurusan dengan hal-hal seperti ini?”


            “Kau bahkan baru mengalaminya sekali, sedangkan yang kurasakan selama ini jauh lebih buruk dari apa yang kau alami. Setidaknya kau masih memiliki orang lain untuk membantumu, kau tidak berjuang sendiri.”


            “Kalau begitu terimakasih atas kesetiaanmu hingga sejauh ini, kau sangat baik dan juga perhatian padaku.”


            “Aku hanya melakukan berdasarkan perintah.” Balas Aiden sinis, menghancurkan suasana hangat yang sedang coba dibangun oleh Calistha diantara mereka. Calistha kemudian mendesah berat, masih dengan bersandar pada pundak Aiden, ia menerawang jauh ke masa kecilnya yang menyenangkan.


            “Kau pasti tahu jika selama ini aku tidak memiliki ibu dan hanya tinggal bersama nenekku hingga aku berusia lima belas tahun. Luciana yang kita temui hari ini, sedikit banyak mengingatkanku pada masa kecilku yang indah, sama seperti miliknya. Kadang aku berpikir untuk kembali ke masa itu dan tidak akan pernah menjadi dewasa.”


            “Jika dulu kau mati, kau tidak akan pernah menjadi dewasa seperti saat ini. Hidupmu akan berhenti di masa kanak-kanak.” Ucap Aiden menyebalkan. Ingin rasanya Calistha memukul kepala pria itu akan kepalanya dapat membantu bibirnya untuk merangkai kalimat yang indah. Ia benar-benar bosan saat harus mendengar kata-kata pedas itu lagi dan lagi, meskipun saat pria itu tak sadarkan diri, ia sempat meminta pada Tuhan agar dapat melihat Aiden yang menyebalkan lagi.


            “Tapi aku juga tidak berharap untuk mati Aiden, aku masih memiliki banyak mimpi yang ingin kulakukan. Ngomong-ngomong, apa kau juga memiliki mimpi yang ingin kau wujudkan?”


            “Aku tidak tahu.”


            “Ayolah Aiden, kau pasti memilikinya, meskipun itu hanya satu.” ucap Calistha mulai menyebalkan. Aiden terlihat menggeram kesal di sebelahnya, namun pria itu hanya sebatas itu, hanya menggeram, dan diam.


            “Dulu aku pernah bercita-cita untuk menjadi seorang jurnalis, atau pemimpin di perusahaan komunikasi milik ayah. Aku merasa hal itu sangat menyenangkan, apalagi saat aku dapat berinteraksi dengan banyak orang.”


            “Itu cita-cita yang bagus, meskipun kau gagal untuk mewujudkan.” ejek Aiden tak berperasaan. Tapi Calistha justru tersenyum saat mendengar balasan Aiden, ia pikir ia dapat terus mendesak Aiden untuk bercerita, meskipun ia harus memulainyaterlebihdahulu.


            “Kau benar, aku memang gagal untuk mendapatkannya. Namun Tuhan justru membawaku untuk mengenalmu, ini sungguh perjalanan hidup yang tak terduga dan penuh tantangan. Apa dulu kau pernah membayangkan akan menemukan wanita berisik sepertiku?” Tanya Calistha dengan kekehan. Konyol rasanya saat membayangkan mengenai takdir yang saat ini membawanya pada Aiden. Tak pernah sedikitpun terlintas di benak Calistha jika suatu saat ia akan hidup dengan orang asing yang selama ini hidupnya selalu dipenuhi dengan kekerasan dan hal-hal gelap lainnya.


            “Hidupku selalu dipenuhi oleh wanita Cals.”


            “Ya,aku tahu. Berapa banyak wanita yang telah kau tiduri?”


            “Aku tidak tahu, aku tidak pernah menghitungnya.”


            “Sepertinya sangat banyak ya, kau pasti sudah sangat ahli.”


            Dengan gerakan cepat Calistha tiba-tiba membalik tubuhnya dan menatap lekat Aiden dengan salah satu tangan yang bertengger di rahang kokoh Aiden yang terlihat begitu tegas membingkai wajahnya. Dan untuk beberapa detik mereka saling bertatapan hingga Aiden tiba-tiba mengeluarkan tawa sinisnya yang sialnya sangat menawan di mata Calistha.


            “Kau sangat amatiran, bukan seperti itu cara menggoda pria. Tapi seperti ini.”


            Aiden kemudian justru membawa kedua tangan Calistha pada dadanya, dan memaksa wanita itu untuk merasakan degup jantungnya yang selalu terasa normal.


            “Sedikit gerakan lembut di sana, maka kau dapat membawa pria manapun kedalam genggamanmu.”             “Jadi begitu cara menaklukanmu?” Tanya Calistha polos. Ia mencoba sedikit menggerakan tangannya pada tulang dada Aiden, lalu merasa tatto hitam di sepanjang garis tulang selangka Aiden yang bertuliskan Danger.


            “Tidak semudah itu untuk menaklukanku, huh.... kau hanya gadis kecil Cals, kau tidak mungkin bisa menaklukanku.” Ucap Aiden meremehkan. Untuk sesaat Calistha merasa tertantang, tapi kemudian ia memilih untuk menurunkan tangannya dari sana dan menjauh dari Aiden.


            “Kau benar, aku memang tidak akan pernah bisa melakukannya. Tapi...”


            Calistha yang awalnya menunduk dengan ekspresi sedih, tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menunjukan sebuah smirk yang selama ini sangat jarang ia tunjukan pada siapapun. Dengan auranya yang cukup berbeda, Calistha mencondongkan kepalanya tepat di depan wajah Aiden, lalu ia berbisik dengan suara rendahnya yang terdengar seksi di telinga Aiden.


            “Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti....”


-00-


Dugg dugg dugg


            “Kalian keuarlah! Hey, cepat buka pintunya!”


            Calistha yang sedang menyiapkan sarapan di dapur tampak mengernyit heran kearah pintu depan yang sedang diketuk dengan berisik. Untuk pertama kalinya setelah ia tinggal di rumah Aiden, seseorang datang bertamu ke rumah yang selalu tampak seperti rumah kosong ini. Bahkan orang itu juga tidak bertamu dengan cara baik-baik, terbukti dari bagaimana cara orang itu mengetuk pintu dengan sangat kasar


            “Ada seseorang di luar, tapi kenapa orang itu mengetuk pintu dengan sangat kasar?”


            Calistha yang sedang menata meja makan dan meletakan sebuah omelet di atas meja langsung bertanya pada Aiden yang baru saja muncul dari kamar mandi. Aroma maskulin dari sabun dan shampo yang digunakan oleh pria itu langsung tercium cukup tajam di indera penciuman Calistha yang sensitif.


            “Itu bukan salah satu orang-orang yang mencari kita bukan?”


            “Sepertinya bukan, aku akan melihatnya melalui kamera cctv.”


            Saat Aiden bergegas menuju ruang monitor, otomatis Calistha juga langsung mengekorinya dengan wajah yang tiba-tiba tegang. Padahal sebelumnya ia masih biasa saja dan berpikiran positif mengenai si pengetuk pintu yang tidak sopan itu.


            “Malfoy? Apa yang ia inginkan hingga ia bersikap seperti itu.” Gumam Aiden pelan. Mereka kemudian segera berjalan menuju pintu depan untuk menghentikan aksi berisik yang sedang dilakukan Malfoy di depan sana. Apalagi ekspresi wajahnya yang berhasil terekam oleh cctv milik Aiden menunjukan jika Malfoy tidak dalam keadaan baik-baik saja.


            “Ada apa?”


            “Brengsek! Dimana kalian menyembunyikan Luciana?”


            Malfoy tiba-tiba mencengkeram kerah kaus Aiden dan mendorong tubuh Aiden penuh emosi.


Calistha yang berada di sana mencoba untuk ikut memisahkan, namun Aiden langsung meminta Calistha untuk menjauh karena ia tidak ingin wanita itu kembali terluka seperti sebelumnya.


            “Kami tidak tahu dimana Luciana, kami tidak menyentuh gadis kecil itu sedikitpun. Kau sudah mencoba mencarinya di panti asuhan?”


            “Hari ini panti asuhan menjadi ramai karena Luciana menghilang, terakhir ia terlihat kemarin sore sedang bermain di halaman bersama teman-temannya.”


            “Kita harus segera mencarinya Aiden, mungkin saja itu ulah orang-orang yang sedang mencari kita, mereka dengan picik menggunakan Luciana sebagai umpan.” Ucap Calistha khawatir. Mendengar itu emosi Malfoy semakin memuncak, dan ia langsung menghadiahi satu pukulan keras di pipi Aiden ketika pria itu lengah.


            “Sialan kalian berdua! Sudah kubilang untuk jangan mengganggu kami, tapi kalian justru memaksa untuk mencaritahu mengenai Luciana. Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, kalian berdua harus bertanggungjawab untuk itu!”