The Sniper

The Sniper
Something Was Missing (Six)



Kekacauan tampak terjadi di pelabuhan Shanghai, tepatnya di gerbang terminal empat puluh, dimana barang-barang yang berasal dari perusahaan raksasa asal Korea Selatan, Posco Steel, yang  bergerak di bidang pembuatan baja dan material konstruksi mengalami kekacauan pasca meninggalnya sang direktur utama, Im Seulong. Oposisi terjadi dimana-mana setelah kematian Im Seulong, tak terkecuali di dalam struktur perusahaan Posco Steel. Jabatan yang sebelumnya dipegang oleh Im Seulong saat ini menjadi kosong dan membuat beberapa pihak yang menginginkan kursi itu menjadi gelap mata. Mereka berlomba-lomba untuk dapat menggantikan posisi Im Seulong tanpa menghiraukan sang pewaris sah yang saat ini sedang hidup penuh kesulitan di luar sana.


            “Tuan Gouzi menginginkan sertifikat perusahaan itu segera karena semua barang-barang ini tidak bisa dikirim jika CEO utama tidak memegang kendali atas Posco Steel. Barang-barang ini akan terlihat seperti barang ilegal jika tidak ada pihak manapun yang memegang kendali tanggung jawab.”


            “Begitukah? Jadi posisi CEO saat ini benar-benar kosong? Jika aku bertemu dengan dalang dibalik pembunuhan Jacob Im, aku ingin sekali berterimakasih padanya. Bayangkan saja, pria itu meninggalkan banyak sekali aset yang sangat berharga. Kuharap putrinya juga ikut membusuk bersama ayahnya.”


            Suara tawa kemudian terdengar saling bersahut-sahutan di dalam gudang terminal empat puluh yang berada di salah satu pelabuhan terbesar Tiongkok. Di sana telah berkumpul orang-orang yang menentang kepemimpian Im Seulong selama ini dan selalu berusaha untuk menjatuhkannya. Namun, nasib baik selama ini belum berpihak pada mereka hingga tiba-tiba mereka menerima kabar kematian dari Im Seulong yang mengejutkan.


            “Psst... tuan Gouzi menunggumu di luar, ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu.”


            Pria bermata sipit itu mengangguk samar, dan segera berjalan tergesa-gesa untuk menghampiri tuannya.


            “Anda memanggil saya tuan?”


            “Kau sudah mendapatkan informasi mengenai putri Jacob yang menghilang?”


            “Informan saya baru saja bertemu dengannya di sebuah mini market di pinggir kota. Saat ini wanita itu sedang bersama seseorang, dan sepertinya mereka sedang menuju ke suatu tempat. Apa anda ingin wanita itu dilenyapkan?”


            “Tunggu, ikuti saja kemana wanita itu pergi. Mungkin saja ia akan mengantarkanku pada harta berharga Jacob yang selama ini ramai dibicarakan oleh orang-orang. Namun, jika wanita itu tidak berguna, aku mengijinkan kalian untuk membunuhnya. Lagipula perusahaan raksasa Jacob di sini sudah lebih dari cukup untukku. Hanya


tinggal merekayasa sertifikat kepemilikan perusahaan itu, maka semuanya akan berjalan lancar.”


            “Baik tuan, saya mengerti. Selamat malam.”


            Pria itu menunduk dalam pada tuan Gouzi yang mulai berjalan menjauh. Ditatapnya tuannya itu lama sambil bersiul pelan beberapa saat kemudian. Bayangan harta, dan kenaikan jabatan telah berputar-putar di dalam kepalanya jika ia berhasil melenyapkan pewaris sah Jacob Steel yang keberadaanya saat ini belum benar-benar diketahui. Cepat atau lambat, informannya pasti akan memberikan kabar. Dan saat itu tiba, maka ia benar-benar akan berpesta di atas penderitaan orang lain yang malang.


-00-


            Di dalam ruangan yang temaram itu presiden Moon sedang berbincang serius dengan Luca. Pria itu adalah orang asing berkebangsaan Inggris yang telah lama menjalin kerjasama dengan presiden Moon, lalu tentu saja dengan Im Seulong.


            “Semuanya menjadi kacau sejak kematian Jacob, apa kau memiliki rencana tuan presiden?”


            “Aku? Entahlah. Yang bisa kulakukan sekarang adalah memerintahkan Aiden untuk melindungi Calistha sambil mencari harta-harta Seulong yang berharga. Saat ini kita tidak bisa mengambil alih semuanya karena pengacara Seulongpun bahkan tidak memiliki satupun surat-surat berharga dari seluruh hartanya. Jadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan seluruh aset milik Seulong adalah dengan menyuruh putrinya untuk mencari semua harta peninggalan ayahnya sendiri. Lalu bagaimana dengan semua asetnya yang berada di Britania Raya? Apakah aman?”


            “Sejauh ini masih terkendali. Tapi, mulai terjadi gejolak di Skotlandia. Kabar mengenai kematian Jacob telah diketahui oleh beberapa orang, sehingga mereka mulai menyusun rencana untuk mengambil harta-harta itu demi kepentingan pribadi mereka. Apa kau yakin Aiden mampu menjaga Calistha hingga semua rumor mengenai


harta tersembunyi Jacob benar-benar ditemukan? Aku ragu wanita itu dapat menemukannya, karena semua itu sejak awal hanya rumor. Harta karun yang dibicarakan selama ini belum tentu benar-benar ada di Kuba.” ucap Luca santai sambil menyesap winenya nikmat. Menjadi teman dan salah satu orang kepercayaan Seulong untuk seluruh asetnya di Britania Raya membuat Luca sangat tahu bagaimana tipikal Seulong selama ini. Luca sadar jika rumor yang berhembus selama ini belum tentu benar karena Seulong sendiri tidak pernah menyinggung-nyinggung mengenai harta karun miliknya yang tersembunyi di Kuba. Namun mungkin saja rumor itu bukan hanya sekedar rumor jika Aiden berhasil menuntun Calistha untuk memecahkan satu persatu teka teki yang ditinggalkan oleh ayahnya.


            “Untuk saat ini kita hanya perlu melihat hasil kinerja Aiden. Ia baru saja melaporkan keberadaanya yang sedang berada di Jeju untuk mencari mantan pelayan keluarga Im yang sepertinya memiliki keterkaitan dengan harta karun yang selama ini dibicarakan. Kau tunggu saja berita selanjutnya, saat ini kau hanya perlu menstabilkan semua aset-aset milik Seulong di Britania Raya agar tidak terjadi pergelokan seperti di Tiongkok. Ah, mungkin sebentar lagi Russia juga akan menyusul karena disana Seulong memiliki banyak bisnis Ilegal.”


            “Ya, rumah bordil, senjata ilegal, rumah perjudian, semua pihak pasti akan saling berebut untuk menguasai seluruh harta-harta Seulong yang tak terhitung itu.”


            “Tapi setidaknya kau lebih beruntung.” sela presiden Moon dengan wajah mengerut. Dari semua orang yang pernah berhubungan dengan Seulong, hanya Luca yang benar-benar mendapatkan kepercayaan dari Seulong. Bahkan ia sendiri tidak pernah mendapatkan kepercayaan itu, meskipun mereka telah menjadi rekan sejak lama.


            “Kenapa? Di bagian mana kau merasa aku lebih beruntung tuan presiden?”


            “Seulong memberikan seluruh sertifikat perusahaanya di Britania Raya padamu. Ia benar-benar meletakan kepercayaannya secara penuh padamu. Sebagai seorang teman, aku merasa iri dengan posisimu. Seharusnya....”


            “Jacob hanya tidak ingin membebanimu presiden Moon.” sela Luca sungguh-sungguh. Sorot matanya tiba-tiba berubah menggelap karena presiden Moon justru menganggapnya lebih beruntung dibandingkan dirinya. Padahal dibalik semua itu, tersembunyi risiko yang sangat besar. Bahkan sewaktu-waktu tanggungjawabnya ini dapat mencelakai Emily.


            “Ada


harga untuk setiap tanggungjawab yang bergelayut di pundakku. Dan aku meletakan


nyawaku, dan nyawa seluruh orang-orang yang kucintai di atas semua aset milik


Jacob Im. Jadi, seharusnya kau bersyukur untuk apa yang tidak kau dapat dari


Jacob. Percayalah, semua hal yang kau kira indah itu, sebenarnya hanyalah


tumpukan bom yang sewaktu-waktu dapat meledak dan meluluhlantahkan seluruh


duniamu hingga hancur berkeping-keping.”


-00-


            Calistha memejamkan matanya damai, menikmati hembusan angin laut yang begitu sejuk menerpa wajahnya. Pukul dua siang waktu Jeju, akhirnya mereka tiba dengan selamat di pulau cantik itu tanpa menemui kendala sedikitpun. Pria misterius yang Calistha kira akan membahayakan nyawanya dan juga Aiden ternyata tidak


mengikuti mereka sama sekali. Ketakutannya telah membawanya pada sebuah pikiran paranoid yang tidak bisa ia kendalikan. Namun sekarang ia benar-benar telah bernapas lega sambil menatap pemandangan laut di siang hari yang cantik.


            “Kita tidak memiliki banyak waktu Calistha, cepatlah masuk.”


            Calistha menghembuskan napasnya berat dan segera melangkah masuk ke dalam mobil. Sekarang ia tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan di Jeju karena ia tidak pernah tahu dimana alamat mantan pelayan neneknya berada. Sang ayah hanya meninggalkan selembar foto tanpa menuliskan petunjuk lain selain Dol Hareubang.


            “Apa kau memiliki kenangan mengenai Jeju?”


            “Tidak, ini adalah yang pertama untukku. Sejak kecil aku tidak pernah pergi kemanapun, hari-hariku juga membosankan.”


            “Aku tidak peduli dengan masa lalumu, aku hanya bertanya apa kau pernah datang ke sini atau tidak. Siapa nama pelayan yang bekerja di rumah nenekmu itu?”


            “Bibi Ahn, tapi aku tidak tahu dimana ia tinggal. Kemana kita akan pergi sekarang?”


           Aiden menepikan mobilnya di lajur kanan, lalu mengecek selembar foto yang ditinggalkan tuan Im untuk Calistha. Dibalik foto itu tertulis Dol Hareubang yang berarti patung kakek tua. Saat ini mereka telah berada di Pulau Jeju, tempat dimana patung itu berasal. Namun mereka masih membutuhkan petunjuk lainnya untuk memecahkan teka teki misterius Im Seulong.


            “Bukchon Dol Hareubang Park, kita harus kesana.”


            “Apa kau tahu seluk beluk tempat ini? Kau pasti telah mengunjungi banyak tempat di dunia.” Ucap Calistha kagum. Sebaliknya, Aiden justru mendecih di sebelahnya, dan pria itu tiba-tiba mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaket denimnya.


            “Kau merokok? Sejak kapan?”


            “Kau tidak perlu tahu.”


            Aiden menyulut ujung rokoknya menggunakan api dari pemantik berwarna emas yang dipegangnya sambil menyetir. Tak berapa lama Calistha merasakan sesak dari asap rokok yang sengaja dihembuskan Aiden di dalam mobil.


            “Aku tidak suka pria perokok.”


            “Itu hakmu untuk tidak suka. Tutup saja hidungmu jika kau tidak suka.” Balas Aiden dingin. Calistha hanya menatap pria itu tajam dari samping sambil membuka kaca mobilnya lebar-lebar agar ia dapat menghirup udara segar Pulau Jeju yang menenangkan. Sejenak ia dapat melupakan seluruh masalahnya saat ia melihat


hamparan bunga matahari yang cantik disepanjang jalan yang mereka lewati menuju Bukchon Dol Hareubang Park. Rasanya menyesal, mengapa dulu ia tidak meminta ayahnya untuk menghabiskan liburan di Pulau Jeju? Semakin ia mengingat masa lalunya, semakin banyak penyesalan yang bercokol di hatinya. Ia telah menyia-nyiakan kehidupannya selama ini untuk hal-hal tidak berguna yang akhirnya hanya membuatnya menjadi wanita manja pengecut seperti ini. Andai ia lebih kritis pada ayahnya, dan berlatih bela diri lebih awal, ia pasti dapat membela dirinya sendiri. Minimal ia tahu apa saja yang harus ia lakukan dan dapat meminta pertolongan pada orang-orang yang selama ini terlibat dengan ayahnya. Penyesalan memang selalu datang di akhir, dan Calistha tidak berhak untuk menyesali semua hal yang terlanjur terjadi di hidupnya.


            Calistha mengangguk samar dalam diamnya dan segera menutup kaca mobil di sampingnya tanpa banyak bantahan.


            “Coba kau perhatikan foto yang ditinggalkan oleh ayahmu, apa kau tahu dimana latar tempat foto itu diambil?”


            Calistha mengerutkan alisnya dalam sambil mencoba memperhatikan potret mantan pelayan di rumah neneknya yang sedang berpose mesra bersama suaminya. Foto itu membuat Calistha berpikir jika hidup itu tidak seindah apa yang terlihat. Pasangan suami isteri itu terlihat sangat bahagia di dalam foto itu, namun kenyataanya mereka melalui hari-hari mereka dengan berat selama ini. Terutama setelah kepergian paman Ahan bertahun-tahun yang lalu.


            “Ini bukan di Jeju, ini seperti di rumah lama nenekku. Entahlah, aku lupa. Semua ingatan itu terlalu lama, dan aku benar-benar sangat kesulitan untuk menggalinya dari dalam memoriku. Kapan kita akan tiba di Bukchon? Apa masih lama?”


            “Lima menit lagi kita akan sampai di gerbang Bukchon. Lihatlah, patung-patung kakek tua itu mulai terlihat di sepanjang jalan yang kita lewati.”


            Tak lama kemudian Calistha melihat gerbang desa Bukchon tampak menjulang angkuh di depannya. Setelah memasuki gerbang Bukchon, Aiden mulai mengurangi kecepatan mobilnya untuk bertanya mengenai bibi Ahn pada salah satu penduduk desa Bukchon yang mungkin mereka temui di sepanjang jalan setapak desa Bukchon yang sepi.


            “Kemana perginya semua penduduk di sini?”


            “Mungkin kita datang terlalu sore. Pukul tiga?”


            Aiden sedikit menatap tak percaya jam tangannya yang masih menunjukan pukul tiga sore. Seharusnya mereka belum terlalu sore untuk datang ke desa Bukchon, terlebih lagi desa itu adalah tempat wisata. Namun jalanan lenggang yang mereka lewati benar-benar menunjukan hal yang sebaliknya. Desa itu sangat sepi, dan mereka belum menemukan satupun pendudukan asli yang berjalan di sepanjang jalan setapak yang mereka lalui.


            “Aiden lihat, ada seorang pria tua di sana.”


            Calistha langsung berteriak heboh saat mata bulatnya tak sengaja menemukan seorang pria tua sedang berjalan sendiri di jalan setapak, tak jauh dari posisi mereka. Aiden kemudian menghentikan mobilnya seketika, dan segera keluar dari mobilnya untuk menghampiri pria tua yang berjalan semakin jauh di depan mereka.


            “Tunggu! Kami ingin bertanya.”


            Aiden berlari cepat menyusul pria tua itu dan segera meraih pundaknya untuk menghentikan laju jalannya yang tampak tergesa-gesa.


            “Kau siapa? Apa yang kau lakukan di sini, seharusnya kau berada di kuil untuk berdoa.” Ucap pria itu heran dengan wajah tak suka pada Aiden. Tatapan matanya terlihat sinis, dan ia juga melayangkan tatapan yang sama pada Calistha yang sedang berdiri di sebelah Aiden dengan napas tersenggal-senggal setelah berlari.


            “Kami bukan penduduk desa ini, kami adalah pendatang yang ingin mencari wanita bernama Ahn Jina. Apa kau mengenalnya?”


            “Aku tidak tahu siapa itu Ahn Jina. Lebih baik kalian pergi jika tak memiliki urusan di sini karena kami hari ini tidak menerima wisatawan dari manapun.” Ucap pria itu galak sambil bergegas untuk berjalan pergi. Namun Calistha langsung menghentikan langkah pria itu sambil berdeham sekali untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


            “Sebenarnya apa yang terjadi di desa ini, kemana perginya semua penduduk?”


            “Hari ini kami bersama-sama berdoa di kuil agung untuk mendoakan salah satu orang penting di desa ini. Ia yang telah membuat desa kami tidak diambil alih oleh pemerintah setelah Pulau Jeju mulai dikenal oleh masyarakat luas sebagai pulau yang indah.”


            “Apa kami boleh ikut berdoa di kuil?”


            Aiden langsung memberikan tatapan tajam pada Calistha sambil memberikan kode pada wanita itu agar tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak penting.  Tujuan mereka datang ke Jeju adalah untuk mencari mantan pelayan neneknya, bukan untuk mendoakan orang lain yang jelas-jelas tidak ada kaitannya dengan masalah mereka yang rumit. Namun Calistha tetap kokoh pada pendiriannya dan segera mengikuti langkah pria itu setelah ia mendapatkan ijin untuk berdoa bersama-sama di kuil agung.


            “Kau mengacaukan rencana kita.”


            “Diamlah. Hanya penduduk desa ini yang dapat membantu kita memecahkan teka teki ayahku, jika kita tidak berbaur dengan mereka, kita tidak akan pernah tahu apa-apa tentang rahasia ayahku.” Balas Calistha tegas. Kali ini Calistha berusaha untuk tidak lagi terintimidasi oleh Aiden. Sekali-sekali pria itu juga harus mengikuti rencananya dan sedikit berkompromi dengan orang-orang di sekitarnya.


            “Kita sudah sampai di kuil agung. Carilah tempat dan mulailah berdoa bersama yang lain.”


            Calistha mengangguk mengerti dan segera melangkahkan kakinya menuju deretan kursi paling kanan yang terlihat masih kosong. Sambil mengamati penduduk desa yang sedang sibuk berdoa, Calistha sedikit melongokan kepalanya ke depan untuk melihat seorang pendeta yang sedang memimpin doa sambil memegang sebuah foto berukuran cukup besar di tangannya.


            “Aiden...”


           Calistha tiba-tiba bergumam pelan dengan suara serak sambil mencengkeram pundak Aiden erat-erat. Sekarang ia tahu mengapa ayahnya meninggalkan sebuah pesan mengenai Bukchon Dol Hareubang Park, ternyata semua penduduk di sini mengenal ayahnya. Dan mereka semua saat ini sedang mendoakan arwah ayahnya.


            “Ii itu foto ayahku.”


            Aiden menyipitkan matanya sejenak sambil menelaah apa yang sebenarnya terjadi di desa Bukchon. Sepertinya Im Seulong adalah orang yang sangat berpengaruh di desa ini, sehingga semua orang juga ikut bersedih atas kematiannya. Bahkan beberapa orang terlihat sedang menangis sambil merapalkan doa-doa yang entah apa isinya. Selama hidupnya ia tidak pernah berdoa, karena menurutnya Tuhan itu tidak ada. Semua kehidupan yang selama ini ia jalani sepenuhnya berada di bawah kendalinya, sehingga jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, maka semua itu adalah murni karena kesalahannya.


            “Ayo kita berdoa seperti mereka.”


            Calistha segera mengambil tempat di sebuah bangku yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kemudian segera mengatupkan kedua tangannya di depan dada, lalu memejamkan matanya damai untuk ikut mendoakan arwah ayahnya. Sedangkan Aiden, ia hanya menjadi penonton diantara puluhan penduduk Bukchon yang sedang khusyuk berdoa di sekitarnya. Bahkan saat ini Calistha juga telah larut dalam doanya bersama dengan seluruh penduduk Bukchon yang tampak khusyuk. Hanya Aiden yang tidak berdoa, dan pria itu berniat untuk pergi keluar dari kuil sebelum Calistha mencekal pergelangan tangannya dan memaksanya untuk duduk kembali. Wanita itu kemudian menangkupkan kedua tangan Aiden di depan dada sambil tetap memejamkan matanya untuk berdoa.


            “Lepaskan, berdoa hanya dilakukan oleh orang yang lemah.”


            “Kau salah, berdoa adalah sebuah cara untuk menenangkan hatimu yang sedang bergejolak. Cobalah untuk berdoa, hatimu pasti akan kembali tenang.” Ucap Calistha bersungguh-sungguh. Namun Aiden tetap pada pendiriannya untuk tidak berdoa, sehingga ia langsung keluar begitu saja dari dalam kuil tanpa menghiraukan tatapan tajam Calistha yang mengiringi kepergiannya keluar dari kuil.


            Saat berada di luar kuil, Aiden tiba-tiba tertawa hambar sambil menyaksikan seluruh penduduk desa Bukchon yang sedang berdoa bersama-sama di dalam kuil. Pikirannya mengatakan jika mereka semua teramat bodoh dan lemah hingga rela menghabiskan waktu mereka untuk mendoakan orang lain yang tidak akan pernah hidup kembali. Seseorang yang telah mati akan tetap mati dan tidak akan membawa perubahan bagi orang-orang yang masih hidup. Itu adalah keyakinan terbesarnya yang selama ini selalu ia yakini. Sebelum ia membunuh targetnya, ia pasti akan memikirkan itu di dalam kepalanya. Mereka, orang-orang yang telah ia eksekusi selama ini tidak akan membawa dampak apapun bagi orang-orang yang ditinggalkan selain kesedihan yang pastinya akan segera hilang seiring dengan berjalannya waktu. Semua hal yang ia dapatkan mengenai pelajarann kehidupan sedikit banyak ia dapatkan dari pelatihnya di champ pelatihan. Lalu sebagian kecil lainnya ia dapatkan dari orang-orang jalanan yang hampir hampir memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan miliknya. Sekalipun selama ia hidup, ia tidak pernah mempercayai Tuhan. Baginya Tuhan adalah omong kosong yang diciptakan oleh orang-orang pengecut yang selalu merasa takut dengan kejamnya kehidupan yang membelenggu jiwa mereka. Namun untuknya, semua hal yang dinamakan ketkutan, kesedihan, dan penyesalan, telah lenyap dari jiwanya dan hanya menyisakan sebuah kebengisan yang begitu kental di dalam hatinya. Ia masih ingat bagaimana pelatihnya berteriak keras di depannya, dan di depan seluruh rekan-rekan satu timnya di champ pelatihan, jika mereka semua harus menghilangan seluruh emosi yang mereka miliki agar dapat bertahan hidup di tengah gempuran kehidupan yang kejam, karena jika tidak, mereka semua akan menjadi gila dengan semua kegilaan hidup


yang mempermainkan mereka.


            “Kenapa kau pergi?”


            Aiden mendecih malas pada Calistha yang tiba-tiba menjadi sangat sinis padanya setelah ia menolak untuk berdoa bersama di dalam kuil. Padahal ia yakin, Calistha juga tidak akan bersedia untuk ikut berdoa di dalam kuil jika pria yang menjadi objek dari doa mereka bukan ayahnya. Berutunglah Calistha karena wanita itu hidup di tengah-tengah keluarga yang mengenal doa dan Tuhan, tidak sepertinya yang hidup dengan liar di jalanan.


            “Ini adalah kesempatan kita untuk memecahkan teka teki yang ditinggalkan oleh


ayahku. Bukankah kau seorang sniper handal? Seharusnya kau dapat berkamuflase dengan mudah, dan setidaknya berpura-pura berdoa di dalam sana bersama penduduk desa. Cih, aku sekarang menjadi meragukanmu.”


            “Kau


meragukanku gadis cengeng?”


            Calistha beringsut mundur ketika Aiden mulai mencengkeram rahangnya tiba-tiba. Entah mendapatkan kekuatan darimana, ia tiba-tiba dapat berucap sinis pada Aiden. Mungkin itu semua adalah perpaduan dari seluruh rasa sedih, kecewa, marah, dan juga frustrasinya pada masalah pelik yang saat ini menimpanya. Satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini hanyalah segera mengakhiri ini semua dan kembali ke kehidupan normalnya. Namun Aiden justru berulah dan membuatnya geram karena tidak mau mengikuti rencananya.


            “Lepaskan aku Aiden!”


            “Kau tidak berhak menghakimiku dengan mulut besarmu ini jika kau tidak pernah tahu apapun tentang masa laluku.” Desis Aiden marah. Calistha hanya terpaku ketakutan di tempatnya tanpa bisa berkata-kata apapun untuk membalas ucapan Aiden. Ia terlalu sadar dengan kesalahannya dan ia benar-benar menyesal pada Aiden karena telah berkata kasar pada pria itu.


            “Mma maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengejekmu, aku hanya.... frustrasi dengan semua ini. Tolong maafkan aku.”


            Aiden mendorong kasar rahang Calistha sambil mengumpat kasar setelah melihat wajah memelas Calistha di depannya yang memancarkan wajah tulus. Meskipun ia tidak ingin mengakuinya, namun sebenarnya ia memiliki kelemahan pada wajah tulus seorang wanita. Ia tidak pernah bisa menyakiti wanita yang benar-benar tulus dan tidak berdusta di hadapannya. Kecuali Hannah, ia terpaksa melenyapkan nyawa wanita itu karena ia memiliki alasan lain dibalik itu semua.


            “Masuklah, kita gunakan rencanamu.”


            “Kau serius?”


            “Tidak ada cara lain selain berbaur diantara penduduk Bukchon. Cepat masuklah, sebelum aku berubah pikiran.”


            Calistha langsung tersenyum senang di hadapan Aiden sambil membisikan kata terimakasih sebelum pria itu berjalan masuk mendahuluinya. Dalam hati Calistha yakin jika Aiden sebenarnya adalah pria yang baik. Atau setidaknya pria itu masih memiliki tiga puluh persen kebaikan di hatinya yang selama ini selalu tertutupi oleh kabut nafsu dan dendam. Perlahan-lahan kedekatan mereka mungkin saja dapat mengubah Aiden menjadi pria yang lebih baik di masa depan. Atau Calistha yang justru akan terseret kedalam kehidupan Aiden yang suram.