
Keduanya kini telah berada di dalam sebuah mobil sedan berwarna hitam yang dikendarai oleh seorang pria asing yang Aiden sendiri tidak mengenalnya. Namun saat mereka keluar dari pintu loby rumah sakit, pria asing yang mengaku bernama Rocky itu langsung menghampiri Aiden dan memberikan bukti-bukti yang cukup kuat jika pria itu benar-benar mata-mata presiden Moon yang ditugaskan untuk membantunya.
“Posisi El Diablo saat ini sedang berada di markasnya, jadi kita harus menunggu hingga pria itu pergi mengunjungi kekasihnya di apartemen... ah sial!” Umpat Rocky sambil menekan-nekan layar digitalnya beberapa kali yang berada di samping kemudinya. Sebuah pesan baru saja masuk dan mengirimkan pemberitahuan jika El Diablo hari ini tidak akan bertemu dengan kekasihnya di apartemen Star Light City, namun di sebuah restoran mewah yang letaknya berada di jantung kota. Posisinya yang berada di tengah kota akan menyulitkan Aiden untuk mengeksekusinya karena ia akan berada di tengah-tengah penduduk sipil.
“El Diablo akan bertemu dengan kekasihnya di restoran Buenos Aires, kau akan kesulitan untuk mengeksekusinya.”
“Sulit bukan berarti tidak bisa bung, jadi kita tetap pada rencana. Aku akan mencari titik yang tepat untuk mengintainya dan membunuhnya.”
Aiden berucap dengan penuh percaya diri sambil memandang lurus jalanan di depannya yang cukup padat. Tidak ada pilihan lain selain membunuh El Diablo saat ini juga karena pria itu akan semakin berbahaya jika dibiarkan hidup. Lagipula El Diablo pasti telah mendengar kabar bila umpan yang dikirimkan untuk membunuhnya dan Calistha kemarin malam telah gagal.
“Apakah tidak apa-apa jika membunuh seseorang di tengah keramaian?”
“Tidak ada pilihan lain, kita harus segera membunuhnya dan menyingkirkan banyak hama
lainnya. Ingat, kita masih harus membantu Luca untuk mencari pengkhianat-pengkhianat yang bersembunyi di dalam kartel milik ayahmu.”
“Baiklah, kita memang tidak pernah memiliki pilihan yang menguntungkan.” Jawab Calistha lesu dengan dahi berkerut yang menandakan jika ia sedang dilanda kekhawatiran yang cukup parah.
“Tidak ada yang perlu dicemaskan, aku bersamamu.”
Calistha tersenyum tipis memandangi punggung Aiden yang telah turun dari mobil. Ia kemudian juga ikut beranjak dari dalam mobil dan membantu Aiden untuk mempersiapkan senjata-senjata yang hari ini akan digunakan untuk mengeksekui El Diablo. Ini adalah kedua kalinya ia harus melakukan pembunuhan berencana
bersama Aiden, setelah sebelumnya mereka mengeksekusi Baron yang ternyata adalah anak buah Luca. Yah, mereka hanya membunuh berdasarkan perintah, jadi kebenaran apapun yang bersembunyi di belakangnya, anggap saja jika itu adalah ketidaksengajaan.
“Kurasa titik ini pas untuk mengintai, dan pria keparat itu akan duduk di meja nomor sembilan sesuai dengan permintaan kekasihnya. Hmm.. ini benar-benar sangat memudahkan kita untuk membunuhnya.”
Aiden mengangsurkan binokuler hitam pada Calistha untuk melihat posisi sasaran yang letaknya berada di seberang jalan. Restoran Buenos Aires berdiri tepat di seberang toko mainan yang saat ini gudang penyimpanannya digunakan Aiden untuk mengintai El Diablo. Sebagai seorang sniper, Aiden telah terbiasa menggunakan tempat-tempat yang tidak pernah terduga seperti toko mainan agar semua mangsanya tidak pernah menyadari keberadaanya. Dan tentu saja hal ini dapat terjadi karena ia memiliki banyak rekan yang selalu melicinkan jalannya untuk membunuh setiap target yang telah mengganggu kenyamanan kliennya.
“Jam berapa target akan datang?”
“Pukul satu, saat jam makan siang. Sebenarnya El Diablo tidak suka keramaian, itu sebabnya ia memesan tempat itu setelah sebagian orang selesai dengan urusan makan siang mereka.”
“Bagus, rupanya ia telah siap untuk menjemput kematiannya hari ini.”
Calistha tanpa sadar meneguk ludahnya takut saat mengamati wajah Aiden yang penuh aura membunuh dan terkesan mengerikan di sebelahnya. Pria itu mendadak berubah menjadi seorang pria sakit jiwa mengerikan dengan sebuah pistol laras panjang berpengintai yang telah siap untuk melenyapkan nyawa siapapun. Inilah jiwa Aiden yang sesungguhnya, kejam dan tanpa belas kasihan.
“Kenapa presiden Moon memberikan tugas ini padamu?”
“Karena kalian adalah orang yang penting. Itu katanya, aku hanya bekerja berdasarkan perintah.”
“Well, kalau begitu kita sama. Apa yang kau lakukan selama ini?”
“Menjadi mata-mata. Aku belajar menjadi mata-mata di Skotlandia.”
“Kalau begitu aku tidak akan meragukanmu lagi. Pukul satu, kau telah melihat keparat itu?” Cukup untuk sebuah basa basi, Aiden mulai serius untuk menjalankan rencananya mengeksekusi El Diablo. Nyawa dibalas nyawa, itu adalah semboyannya. Karena El Diablo telah melukai dua orang sekaligus, maka satu nyawa El Diablo rasanya sepadan untuk menggantikan semua kesakitan yang mereka alami kemarin, dan juga trauma Calistha yang semakin parah.
“Target datang, arah pukul tiga dengan jarak lima meter. Ia datang bersama kekasihnya dan akan segera masuk ke dalam restoran.” Beritahu Rocky serius. Aiden segera merebut binokuler hitam yang digunakan Rocky sambil memikirkan kecepatan peluru yang akan segera menembus jantung El Diablo.
“Apa kalian akan melakukannya sekarang?”
Calistha sebagai satu-satunya wanita yang tidak mengerti apapun mencoba untuk sedikit berguna di sana. Ia ingin membantu Aiden melakukan sesuatu, meskipun dalam hatinya ia merasa tidak yakin.
“Aku ingin membantumu, Aiden..”
“Diam dan duduklah di sana, itu jauh lebih membantu.”
Calistha mendengus gusar kearah Aiden, namun ia segera melakukan apa yang Aiden minta dengan mendudukan dirinya dengan manis di sebuah kursi kayu tua yang berada di sudut ruangan. Terlibat dalam peperangan yang berbahaya seperti ini memang bukanlah gayanya, hanya saja sekarang Calistha mulai berpikir untuk turut bergabung bersama Aiden, menggunakan senjata, dan menghancurkan siapapun yang ingin melenyapkannya. Ia ingin menjadi mandiri, dan tidak dipandang sebelah mata seperti ini.
“Sial, El Diablo membawa babysitternya.”
“Berapa banyak?”
“Kurasa lima. Tapi kau tenang saja, aku bisa mengatasi mereka. Kau fokuslah pada El Diablo, aku akan pergi ke luar untuk membereskan mereka. Semoga beruntung.”
Calistha menatap kepergian Rocky dengan wajah bodoh penuh tanda tanya. Dan setelah pria itu benar-benar menghilang dari gudang penyimpanan mainan, barulah Calistha bertanya pada Aiden untuk memuaskan keingintahuannya.
“Apa maksudnya dengan babysitter?”
“Ternyata kau tidak secerdas yang kubayangkan. Babysitter adalah istilah untuk tikus-tikus peliharaan El Diablo, para bodyguardnya.”
“Maaf, aku memang bodoh dan kau yang paling jenius di sini tuan sniper.” Cibir Calistha kesal. Keberadaanya di sana seperti tidak berarti sedikitpun untuk Aiden. Ia sejak tadi hanya bisa memandangi Aiden dan Rocky yang saling membahas sesuatu yang sama sekali tidak ia pahami. Ck, rasanya ia ingin pergi menemui
Luca saat ini. Setidaknya pria itu lebih menghargainya daripada Aiden. Ditambah lagi Luca juga selalu memberikan pengertian padanya dengan sabar hingga ia benar-benar mengerti tentang sesuatu yang sama sekali tidak ia pahami sebelumnya.
“Jangan berpikiran macam-macam, keberadaanmu dalam keadaan hidup jauh lebih penting. Satu hal yang kuinginkan darimu, tetaplah hidup dan jangan melakukan hal-hal bodoh yang dapat melukai dirimu sendiri. Di sini, aku berusaha untuk membuatmu tetap baik-baik saja hingga misi ini selesai dan kau mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan.”
Rasanya Calistha ingin menangis saat ini juga mendengar kata-kata bernada dingin milik Aiden yang sialnya justru mengandung banyak makna di dalamnya. Untuk pertama kalinya ia mendengar Aiden mengucapkan sebuah kalimat yang sangat tulus seperti itu. Sejak awal ia memang yakin jika Aiden masih memiliki setitik kebaikan dalam hatinya, meskipun itu telah lama terkubur di dalam jiwa beku seorang Aiden Lee.
“Saatnya pertunjukan, kau harus melihat detik-detik kematian El Diablo Calistha.”
Aiden menyeringai licik ketika targetnya telah lebih dari siap untuk menjemput kematiannya. Tinggal sedikit lagi, maka dendamnya akan segera terbalaskan.
“Tunggu, jangan tembak! Ada seorang anak kecil di seberang sana, dia akan terkejut saat kau menembaknya.”
“Sial, biarkan saja Calistha! Itu hanya jebakan.” Umpat Aiden kesal. Calistha telah menghancurkan kesenangannya untuk membunuh El Diablo dengan mencegahnya untuk menarik pelatuknya saat ini juga. Lagipula siapa yang peduli dengan keadaan gadis kecil itu. Salahkan orangtuanya yang membiarkan anak mereka berkeliaran tanpa pengawasan di sekitar restoran tempat El Diablo menyantap makan siangnya bersama salah satu jalangnya.
“Kau tunggu di sini, aku akan menyingkirkan anak itu.”
“Persetan dengan anak itu, jangan ikut campur. Kembali Cals! Hey, sial!” Umpat Aiden gusar sambil memaki Calistha berkali-kali. Wanita itu benar-benar tidak bisa dinasehati dan selalu bertindak semaunya sendiri. Sekarang konsentrasinya justru terpecah antara Calistha dan juga El Diablo. Dengan adanya Calistha di sana, ia harus sangat berhati-hati sebelum menembakan pelurunya karena salah-salah ia justru akan membahayakan Calistha.
Brak
“Apa yang dilakukan wanita itu di sana?”
Rocky datang dengan langkah berisik dan nafas terengah-engah yang tampak kepayahan. Aiden yang melihat itu hanya menaikan alisnya sedikit sambil memberikan kode pada Rocky untuk melihatnya sendiri karena ia yakin jika pria itu pasti sudah dapat menyimpulkannya sendiri tanpa perlu menanyakan sesuatu yang sangat jelas terlihat di depan matanya.
“Kau harus menembak El Diablo sekarang, sebelum pria itu menyadari keberadaan kita di sini.”
“Kita tunggu hingga Calistha pergi bersama gadis kecil itu.”
“Tidak, kau harus melakukannya sekarang. Kematian El Diablo lebih penting daripada wanita itu.”
“Apa kau bilang?” Desis Aiden tak terima sambil menatap tajam kearah Rocky. Sebentar saja Aiden telah meringsek maju kearah Rocky dan mencengkeram kerah kemeja pria itu kuat hingga Rocky terbatuk-batuk beberapa kali.
“Kkkau ha...rus segera mmem...bunuh El Diablo...”
“Bagiku Calistha saat ini jauh lebih penting daripada bedebah sialan itu, jadi jangan coba-coba untuk mengatakan hal itu lagi di hadapanku jika kau tidak ingin kepalamu pecah saat ini juga.” Ancam Aiden sungguh-sungguh. Kemarahan yang begitu pekat dari kedua mata Aiden membuat Rocky seketika takut dan segera beringsut mundur saat Aiden akhirnya melepaskan cengkeraman di kerah kemajanya. Salah memang jika ia membuat Aiden marah karena kemarahan Aiden bisa saja mendatangkan kematian bagi siapapun.
Dorr
Aiden cepat-cepat menyambar teropong binokulernya untuk melihat kekacauan yang terjadi karena ia baru saja mendengar suara letusan yang cukup keras di sekitar tempat persembunyiannya.
“Gadis kecil itu hanya umpan. Cepat amankan Calistha!” Teriak Aiden keras pada Rocky sebelum ia bersiap dengan pistol laras panjangnya untuk membunuh El Diablo dan juga anak buahnya. Ternyata sejak tadi kemunculannya memang telah ditunggu oleh pria itu, sehingga ia sengaja menggunakan anak kecil untuk memancing Calistha keluar dari tempat persembunyiaanya bersama Aiden.
Sementara itu di seberang jalan utama High West, Calistha sedang meringkuk ketakutan di atas aspal sambil menutup telinganya sendiri dengan kedua tangannya yang terkepal. Baru saja ia hendak menolong seorang anak kecil agar menjauh dari tempat El Diablo menyantap makan siangnya, ia justru dikejutkan dengan suara letusan peluru yang sangat keras di sekitarnya. Dalam sekejap suasana di jalan tenang itu menjadi panik dan Calistha yang ketakutan menjadi semakin takut hingga tak berani beranjak dari tempatnya meringkuk.
“Hey, kemarilah.. lewat sini.”
Calistha samar-sama mendengar suara Rocky yang mengarahkannya agar ia segera pergi menuju jalan yang telah diamankan Rocky. Namun tiga langkah kemudian, ia melihat Rocky tiba-tiba jatuh di atas aspal dengan kepala berlubang yang sangat mengerikan. Secepat kilat Calistha segera berlari dari tempatnya berdiri untuk
menyusul Aiden. Tak lupa ia mengambil pistol milik Rocky dengan tangan bergetar sambil terus mengawasi orang-orang disekitarnya yang tampak panik.
Dorr
“Tangkap wanita itu!”
Calistha memejamkan matanya takut dan langsung berlari tak tentu arah untuk menghindari kejaran anak buah Rocky. Jumlah mereka yang cukup banyak membuat Calistha rasanya ingin menangis dan menyerah saat ini juga karena ia merasa sudah tak mampu lagi untuk berlari. Pistol yang tergenggam di tangannya juga menjadi tak berguna untuk Calistha karena kedua tangannya kini justru bergetar hebat alih-alih seharusnya ia mengarahkan pistolnya pada orang-orang yang mengerjarnya.
Dorr
Dorr
Dorr
“Kyaaaa... kyaaa....”
Calistha menjerit ketakutan saat suara tembakan terdengar bersahut-sahutan di belakangnya. Ia pikir sebentar lagi mungkin ia akan mati karena orang-orang itu telah menembaknya. Namun ketika sebuah lengan kekar tiba-tiba menariknya, dan memeluknya erat dibalik dinding gang yang sempit, barulah Calistha dapat menghentikan suara teriakannya sambil mengatur deru napasnya yang menggila.
“Jangan berisik, kau benar-benar telah mengacaukan segalanya.”
“Mma maafkan aku... aku...”
“Ssshh.. diamlah, atau mereka akan mengetahui posisi kita. Rocky tidak selamat, dia mati.”
“Aaap apa? Rocky? Aku membunuhnya...”
Calistha menangis dalam diam, menyesali kebodohannya yang tidak mendengarkan kata-kata Aiden. Seharusnya ia memang duduk dengan manis di sudut ruangan dan tidak mengacaukan semua rencana Aiden. Sekarang ia tidak bisa memperbaiki semua kesalahannya dan mengembalikan nyawa Rocky. Padahal pria itu sangat baik padanya dan juga Aiden hingga sejauh ini.
“Air mata tidak akan mengembalikan nyawa Rocky.”
“Dia melindungiku Aiden, dia menolongku. Aku membunuhnya.”
“Memang kau yang telah membunuhnya. Belajarlah untuk mendengarkan kata-kata orang lain lain kali, jangan bertindak bodoh seolah-olah kau adalah malaikat suci yang memiliki seribu nyawa. Karena kecerobohanmu, kau justru membahayakan dirimu sendiri dan orang-orang disekitarmu.”
Calistha mengelus dadanya sendiri lemah saat mendengar kata-kata menusuk Aiden yang menyakitkan. Ia memang salah, dan ia menyesali kebodohannya. Tapi tak bisakah pria itu tidak menyalahkannya seperti ini?
“Hentikan air mata bodohmu itu, semuanya tidak akan berubah sebanyak apapun kau menangis. Aku telah membunuh El Diablo saat kekacauan terjadi, kita harus pergi sekarang dari sini sebelum anak buah El Diablo menemukan kita.”
“Rocky? Bagaimana dengannya? Kita meninggalkan tubuhnya di sana?”
“Polisi akan segera mengurusnya sebentar lagi. Jangan coba-coba untuk memikirkan orang lain yang telah mati karena jelas-kelas nyawamu sendiri sedang terancam saat ini.” Ancam Aiden tegas sebelum Calistha mengeluarkan rengekannya untuk mengurus jasad Rocky. Dan saat semuanya telah aman, Aiden segera menarik tangan Calistha untuk pergi dari High West Stret sebelum anak buah El Diablo menemukan mereka di sana. Setidaknya Aiden telah puas karena berhasil membalaskan dendamnya pada El Diablo. Masalah kematian
Rocky itu bukan urusannya. Sudah menjadi risiko mereka jika ditengah-tengah menjalankan misi, mereka bertemu dengan malaikat maut yang mengerikan.
-00-
Emily menatap gusar kondisinya yang sangat mengenaskan di rumah sakit. Terbaring sendirian di atas blangkar dengan jarum infus yang menancap di atas punggung tangan kanannya, itu sungguh bukan seperti dirinya. Ia terlalu terbiasa berada di luar rumah dengan berbagai kegiatan penuh bahaya yang menantang, sehingga kondisinya saat ini membuatnya hampir saja mati kebosanan. Ditambah lagi ia masih memikirkan dalang dibalik penyerangan yang terjadi di apartemen Luca kemarin malam. Ia yakin jika itu bukan ulah Roy atau anak buahnya yang lain. Meskipun sampai saat ini ia belum mendapatkan kabar apapun dari Roy, tapi ia yakin jika penembakan itu terjadi untuk membunuh Luca, bukan untuk membunuh Aiden, apalagi Calistha. Dan berada
di rumah sakit seperti ini membuat Emily kehilangan banyak kesempatan untuk membunuh Calistha, padahal ia yakin jika ia dapat memanfaatkan situasi ini dengan benar, maka tindakannya akan akan tersamarkan. Ia memiliki alibi yang sangat kuat saat ini, ditambah Luca juga sepertinya tidak menaruh curiga sedikitpun padanya. Pria itu justru lebih mencurigai anak buahnya yang memberontak sebagai dalam dari penyerangan kemarin malam, jadi ia harus memanfaatkan kekacauan ini dengan baik untuk melenyapkan Aiden dan juga Calistha.
Emily turun dari ranjang perawatannya dan segera mencabut jarum infus panjang yang menancap di punggung tangannya dalam satu kali tarikan. Rasa menyengat disertai efek panas yang sangat perih langsung menjalar disekitar punggung tangan Emily sesaat setelah jarum itu terlepas. Namun, ia tak memiliki waktu untuk meratapi rasa sakitnya. Segera setelah jarum itu terlepas, Emily mengusapkan punggung tangannya yang berlumuran darah pada selimut rumah sakit dan segera berlari menuju toilet untuk berganti pakaian. Ia bersyukur karena Luca membawakannya sebuah pakaian ganti yang cukup nyaman karena gaun malamnya yang ia gunakan kemarin telah rusak di beberapa bagian dari serpihan kaca yang menghujaninya.
Sepuluh menit kemudian Emily telah berada di depan ruang perawatannya sambil menoleh kesana kemari untuk memastikan jika lorong rumah sakit itu sepi. Meskipun kondisinya tidak terlalu parah, namun Luca telah berpesan pada perawat-perawat di sana untuk tidak mengijinkannya pergi dari rumah sakit, sehingga sekarang ia harus bertingkah seperti seorang pencuri hanya untuk keluar dari rumah sakit yang terkutuk itu.
Brukk
“Ahh sial!”
Emily jatuh terduduk di atas lantai rumah sakit yang dingin sambil mengumpat pelan pada si penabrak yang saat ini justru sedang berdiri di hadapannya. Tak lama kemudian Emily melihat si penabrak itu berjongkok di depannya, lalu mengangkat dagunya agar kepalanya sedikit mendongak.
“Emily...”
“Roy! Akhirnya aku bertemu denganmu, bagaimana kondisi Luca, dan bagaimana dengan rencana kita?”
Emily terlihat sangat bahagia saat ia tahu jika si penbrak itu adalah Roy. Ia lalu segera menyeret Roy untuk keluar dari rumah sakit agar ia dapat melanjutkan percakapan mereka yang tertunda. Sedangkan Roy, pria itu tampak kepayahan di belakang Emily yang terus menerus menyeretnya tanpa arah.
“Bawa aku pergi Roy, kita harus segera menjalankan rencana kita untuk menjauhkan Calistha dari Luca.”
“Sebenarnya aku telah meminta seorang mata-mata untuk mengikuti Aiden dan Calistha hari ini. Mengikuti mereka ternyata sangat kacau karena baru saja sniper itu membunuh El Diablo, dan membuat para pengikut setia El Diablo marah. Mereka sekarang buronan dan sedang dalam perjalanan menuju kartel milik Jacob.”
“Kalau begitu kita harus ke sana. Kau harus mengeksekusi mereka secepatnya karena ini kesempatan bagus. Tidak ada yang akan mencurigaimu bila kau membunuh mereka karena anak buah El Diablo yang akan menjadi kambing hitam dalam rencana kita.” Seringai Emily licik. Bertahun-tahun ia memedam rasa sakit hatinya pada Calistha karena wanita itu telah merenggut kehidupannya. Bahkan wanita itu juga telah mengambil seluruh cinta Luca yang seharusnya diberikan padanya. Jadi kali ini ia benar-benar tidak akan main-main untuk melenyapkan nyawa Calistha agar Luca tidak lagi melihat kearah wanita itu. Luca harus berakhir bersamanya sampai kapanpun.
“Kau tenang saja Em, aku telah menyiapkan seorang eksekutor di dalam kartel, seorang pengkhianat yang serakah dan ingin mendapatkan harta curian milik Jacob di Kuba.”
“Oh bagus, siapa orang itu?”
“Andrew, dan jalangnya bernama Rania.”
Drrtt drtt
“Oh, Andrew menghubungiku, ia pasti telah membunuh dua parasit itu. Ya halo?”
“.....................”
Emily menanti dengan tidak sabar sambil tersenyum lebar pada Roy. Ia yakin jika Aiden dan Calistha telah dibereskan. Namun saat kerutan dalam tiba-tiba tercetak jelas di wajah Roy, barulah Emily menghentikan senyumnya sambil menatap penuh curiga pada Roy. Ia tahu jika sesuatu yang buruk pasti telah terjadi.
“Kenapa itu bisa terjadi? Dasar bodoh! Pergi dari sana, kau tidak akan mendapatkan sepeserpun bayaran dariku.” Umpat Roy keras dengan wajah memerah menahan marah.
“Ada apa? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?”
“Andrew gagal Emily, Luca tertembak saat sedang melindungi Calistha....”