The Shadow Of Love

The Shadow Of Love
Kesadaran yang kembali



" Apakah aku sudah mati " ucap Avion yang mendapati dirinya di tempat yang sangat sunyi di tengah padang rumput yang tak terlihat ujungnya


" Tidak nak kau tidak mati, kau hanya hampir saja mati, untungnya aku sedikit memberimu kekuatan yang telah ku simpan didalam alat musik yang selama ini ku mainkan " ujar seseorang yang tiba-tiba ada di belakangnya nya


" Sekarang kau hanya perlu sedikit waktu disini " ucapnya dengan membalikkan badannya


" Ankaa..., bagaimana kau bisa di dalam sini bukankah aku tidak memanggilmu " tanyanya kebingungan


" Iya memang kau tidak memanggil ku tapi apakah kau sadar bahwa kau telah mengalahkan Cyclops " jawab Ankaa dengan tersenyum


" Yang aku lihat hanyalah tuan Arthur yang tergeletak di tanah, " celetuk nya dengan pertanyaan beruntun " Iya...bagaimana dengan tuan Arthur , apakah ia di bunuh oleh Cyclops itu"


" Nah itu yang aku maksud kan disaat itu amarahmu berada pada puncaknya dan terpaksa aku mengambil sebagian alih tubuhmu untuk menyelamatkan Arthur dari monster itu " jelas Ankaa " Tapi akibat tubuh mu yang tak kuat menerima kekuatan seperti itu akhirnya kau jatuh pingsan namun beruntung nya kita karena bisa berhasil mengalahkan Cyclops itu "


" Sekali lagi terima kasih banyak " ucapannya memeluk erat dengan meneteskan air mata angin sepoi menyapu pipinya yang penuh air mata


" Ya tidak apa-apa " jawabnya dengan menanggapi pelukannya seperti layaknya seorang ayah dan anak


keadaan begitu hening dengan sinaran bulan sabit , angin kencang mengelus rambut mereka seakan-akan ikut bersimpati pada mereka berdua menambah keheningan tempat itu


...----------------...


" Namun untuk sementara kau akan disini cukup lama dan aku akan melatih mu disini " ucap Ankaa memegang pundak Avion memecahkan suasana


" Ya baiklah aku akan berlatih dengan sungguh-sungguh agar bisa melindungi semua orang yang kusayangi " jawabnya


" Baiklah untuk memulai latihan sekarang aku ingin melihat kemampuan mu berpedang , mari kita bertarung gunakan pedangmu " ujar Ankaa


Avion pun dengan segera menghunus pedangnya dan memasang kuda-kuda


" Lalu dimana pedang mu" tanyanya terheran-heran karena tidak melihat pedang digenggaman nya namun hanya sebilah ranting rapuh


" Sudah , aku bisa mengalahkan mu dengan ranting kayu rapuh , Sekarang seranglah dengan sekuat tenagamu"


Avion pun sontak berlari dan menebas nya "Hiya..." teriaknya " Tebasan Phonix"


Namun dengan cepat ia langsung menghindar " Bagaimana bisa ia menghindar secepat itu..." ucapny dalam hati


tanpa disadari Ankaa dengan cepat melancarkan pukulannya tepat di kepala Avion yang langsung membuat nya terjatuh " Brukk"


" Kau sangat lambat seperti siput ditambah lagi gerakan mu yang sangat mudah di tebak, jika tetap begini kau akan menjadi seperti sampah " gumamnya " Sekarang ulangi lagi sampai kau bisa meskipun itu seribu kali kau mencobanya "


Mereka berdua pun berlatih dengan sangat serius namun pertarungan demi pertarungan Avion terjatuh dan terkalahkan dengan memar di mana-mana


" sudah 100 kali kau gagal dan terjatuh, kau harus bisa lebih cepat lagi juga merubah gaya bertarung mu dan memperhatikan setiap gerakan musuh mu jika terus begitu kau akan tidak akan pernah mengalahkan ku" tegas Ankaa yang melihat nya terjatuh lagi


" Baiklah aku akan mengalahkan mu meskipun aku harus tinggal disini selamanya " teriaknya menggertakkan giginya menggemakan ruangan itu memekikkan telinga-telinga burung yang berterbangan


" Baik lah aku akan menyerangnya seperti biasa namun dengan sedikit perubahan " Avion dengan segera berlari sekencang-kencangnya menebaskan pedangnya sekali lagi " "Hiya" "Tebasan Bintang Phonix"


" Bintang ilusi andromeda" ucapnya dengan muncul dari atas


" Apa... sejak kapan " Gumam Ankaa


" Aku sudah memenangkan pertandingan ini" ucapnya yang meletakkan pedang di samping lehernya


" Jangan terburu-buru anak muda " ujar Ankaa " Lihatlah belakang mu"


" Ada apa dibelakang ku"


" Brukk" Ankaa memukulnya dengan tongkat kayu


" Bagaimana bisa... " tanyanya dengan suara parau


" Aku sudah menduganya saat aku melihat bayangan dirimu yang tidak sejak saat itu aku menyadari bahwa itu adalah ilusi dengan cepat aku langsung melakukan membuat ilusi untuk mengelabui mu" jawab Ankaa " Tapi kamu berhasil memojokkan ku aku menghargai itu , sekarang latihan sudah selesai ,kembalilah ke dunia asal mu"


dengan segera tubuh Avion menjadi bercahaya dan sedikit demi sedikit menghilang


...----------------...


" Hey, hey lihat Avion sudah sadar " teriak Wonder histeris melihat nya yang mulai membuka matanya


" Sudah berapa lama aku tak sadar kan diri " tanya nya dengan suara parau


" Sudah tujuh hari kau tak sadarkan diri Ion sejak pertarungan itu " jawab Agro dengan nada datar


" Iya betul itu kami sangat mengkhawatirkan mu "ujar Wonder


" Lalu bagaimana dengan tuan Arthur apa dia terselamatkan " tanyanya


" Aku tidak apa-apa" jawabnya yang sedari tadi ada di samping nya " Aku hanya kehilangan lengan ku saja karena genggaman Cyclops itu"


" Maafkan aku tuan aku tidak cukup kuat dan hanya menambah beban untukmu " ujarnya dengan menatap kebawah mengerutkan kening


" Sudah jangan dipermasalahkan lagi pula aku hanya seorang Ksatria yang sudah tua mungkin ini penebusan dosa ku" jawab Arthur dengan santai tersenyum kepadanya


" Sekarang kalian sudah siap untuk mengambil kain Wol suci, "ucap Merlin dengan memegang pundak mereka bertiga


" Tapi tuan.... kami masih belum cukup kuat " sahut Avion dengan nada khawatir


" Tidak ada tapi, sudah saatnya kalian mengambil kain Wol itu dinding sudah semakin melemah bahkan Cyclops yang berukuran raksasa bisa melewati nya dengan mudah" gumam Merlin dengan tegas " Apa kalian lupa kejadian yang menimpa desa Vragen, jika ini terus dibiarkan maka Dormin akan bangkit dengan mudah, dan yang kudengar batu Agamos dan Zapton sudah berhasil dicuri oleh para monster, jadi kalian harus mengambil kain wol itu dan mengamankan batu orb yang tersisa, Sekarang kalian beristirahatlah dan besok pagi kalian akan berangkat aku akan menyiapkan benda-benda yang kalian butuhkan " . Mereka bertiga pun sontak terdiam dan tak dapat menyangkal perkataannya segera mereka menuju tempat tidurnya dan beristirahat dengan lelap


" Aku sangat khawatir dengan petualangan kita besok, aku takut terjadi sesuatu yang tak pernah kuduga" ujar Avion yang sedang berbaring di ranjangnya


" Sudah kau terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting " gumam Agro menyanggah kepala dengan kedua tangannya,


" Ya benar kata Agro, lagipula kan ada aku sang Ksatria terhebat di negeri ini" sahut Wonder memecahkan suasana Mereka pun akhirnya tertidur lelap setelah sempat berbincang-bincang