
Keesokan paginya sekitar pukul enam pagi mereka bangun untuk melihat matahari terbit. Lily dan lia pergi mencuci muka sedangkan Leedo dan Zico pergi sikat gigi.
Beberapa saat kemudian matahari pun terbit dengan sangat indah. Mereka mulai mengambil beberapa gambar untuk dijadikan kenangan. Mereka semua bersenang senang dengan selfie mereka. Setelah lelah berswafoto mereka pun mulai membongkar tenda dan turun gunung.
Setelah menuruni gunung mereka pun tiba di villa. Lily dan Lia menuju kamar mereka, sambil berbaring mereka melihat foto foto yang mereka ambil ketika di gunung. Mereka memeriksa satu persatu fotonya dan mulai mengupdatenya ke sosial media.
"Lihat kak yang ini bagus nih."
"Iya ini juga bagus kita upload saja."
"Ehh ini siapa dibelakang Leedo yang pakai baju kemeja putih, perasaan kita nggak pakai baju kemeja kan waktu di puncak."
"Yang mana Lily"
"Yang ini, lihat deh mukanya nggak kelihatan agak hitam tapi bajunya kemeja putih."
"Oh iya siapa ya, aku jadi merinding nih dia kayak mayat yang kita temukan di gunung waktu itu."
"Iiihh kakak jangan nakut nakutin dong Lily takut nanti aku nggak bisa tidur, udah upload cepat lalu kita pergi ke ruang tamu aja."
"Udah nih ayo cepat pergi"
Mereka pun pergi ke ruang tamu untuk menemui Zico dan Leedo. Mereka duduk di sofa dan menonton film sambil memakan beberapa keripik dan cemilan lainnya. Sambil nonton Lia dan Lily menunjukkan foto yang mereka lihat tadi pada Zico dan Leedo.
"Zic coba lihat foto yang kita ambil tadi pagi ketika kita melihat matahari terbit."
"Oh foto foto tadi apa kalian sudah memilih beberapa foto untuk di upload di sosmed."
"Kami sudah memilihnya dan kami sudah meng uploadnya tadi, tapi coba lihat deh foto yang satu ini."
"Ada apa emangnya dengan foto itu."
"Coba lihat yang ini nih di belakangnya Leedo ada orang lain tapi bukan kita."
"Masa sih sini aku liat, ohh yang hitam ini kok agak aneh kayaknyaaa, udah hapus aja fotonya juga menyeramkan nanti takutnya malah kita di ikuti lagi kayak kemaren."
"Iya yah aku juga nggak mau di hantui."
"Permisi nona Lia, apa nona mau jalan jalan ke kebun apel dekat villa, kalau nona mau biar saya anterin ke kebun apel." Tanya pak hafid dengan sopan.
"Oh boleh juga tapi tunggu sebentar ya saya ganti baju dulu."
"Baik non"
"Kalian kalau mau ikut ke kebun apel cepat ganti baju gih biar kita pergi sama sama."
Sepuluh menit kemudian mereka pun pergi ke kebun apel dan ditemani oleh pak hafid.
"Ayo kita pergi pak"
"Baik non lewat sini"
"Emang kebun apel itu punya siapa pak, apa boleh kita pergi kesana."
"Boleh itu punyanya pak badrul temannya ayah nona."
"Ooohh"
"Kita sudah sampai non, disini kebunnya."
"Wah kebunnya luas banget, lihat buah apel segar itu, tunggu apalagi ayo cepat kita masuk."
"Ayo non lewat sini masuknya biar saya anterin ke pak badrul dulu, biar di kasih ijin metik beberapa."
"Baik pak"
"Iya ada perlu apa pak hafid"
"Ini mereka adalah anaknya pak fadi dan buk emi ingin melihat lihat kebun bapak, apa diperbolehkan pak."
"Oh anaknya pak fadi ya, boleh dong masa nggak boleh sih, yang ini siapa namanya?"
"Saya Lia anak yang tertua dan ini Lily adik saya dan yang sebelahnya Zico lalu yang itu Leedo."
"Oh Lia dan Lily ya udah besar ya kalian dulu waktu terakhir dateng kesini masih sd sekarang udah kelas berapa?"
"Sekarang udah kuliah pak"
"Loh kok panggilnya pak sih panggil om saja."
"Baik om, om kami mau lihat kebun sambil petik buah apelnya boleh nggak."
"Oh iya boleh ayo kemari biar om ajarin cara petik buah apelnya, ayo sebelah sini kita ambil gunting dan keranjangnya dulu."
"Oh iya"
Kemudian mereka pergi ke kebun untuk memetik beberapa apel. Mereka pergi dengan di temani oleh pak badrul dan beberapa pekerja di kebun.
Sesampainya mereka pada tempat yang buah apelnya belum di panen, pak badrul mendemonstrasikan bagaimana cara memetik apel yang benar. Setelah pak badrul mendemonstrasikan bagaimana caranya lalu iya pun pergi karena dia harus mengantarkan pesanan apel.
Setelah pak badrul pergi mereka pun melanjutkan memetik apel sendiri. Mereka memetik apel yang sudah matang dan memasukkannya kedalam keranjang.
"Leedo udah ada berapa yang kamu petik."
"Udah hampir penuh keranjang, kamu udah ada berapa."
"Aku udah penuh nih, aku mau bawa ini ke sana dulu, siapa yang udah penuh ayo kita bawa aja dulu."
"Ayo aku udah penuh ayo jalan"
"Oh Zic ayo"
Mereka pun pergi membawa keranjang apelnya. Saat mereka sedang berjalan tak sengaja mereka mendengar pembicaraan para pekerja di kebun.
"Apa kalian dengar tentang mayat yang di temukan pak hafid di gunung?"
"Oh iya dengar dengar itu mayatnya buk mina yang hilang tahun lalu."
"Oh benarkah, kemaren juga ada yang hilang ketika pergi ke gunung dan nggak ketemu juga sama kayak buk mina."
"Iiiih sebaiknya kita jangan pergi ke gunung nanti takutnya kita malah ikutan hilang juga."
"Emang kalau tiap tahun ada aja yang hilang bikin orang was was aja."
"Udah berhenti bicaranya aku jadi merinding nih."
"Lia menurut kamu apa benar emang hampir tiap tahun ada orang yang hilang."
"Aku juga kurang tau tapi dulu waktu terakhir dateng ke sini aku pernah dengar ada yang hilang juga, bahkan beberapa orang yang percaya akan hal itu selalu menyelenggarakan kenduri di gunung, menurut mereka kalau tidak kenduri maka malapetaka akan datang dan lebih banyak lagi yang hilang."
"Emang pernah"
"Mungkin warga disini sudah mengalaminya makanya mereka jadi takut, waktu kita pertama kali tiba juga banyak hal aneh yang terjadi tapi aku tidak akan terlalu percaya kalau tidak nanti aku akan semakin takut."
"Yang kamu bilang ada benarnya juga, mungkin perjalanan kali ini akan sangat panjang dan melelahkan jadi kita harus semangat."
Mereka kemudian pergi ke tempat dimana semua apel di paket dan di distribusikan.
[BERSAMBUNG]