
Sebelum para reader membaca cerita dibawah ini tolong di sumbang beberapa votenya yah......
Dan jangan lupa untuk like share dan jadikan favorit.....
Kalau para reader ingin kasih koin juga boleh jangan sungkan sungkan......
****Okey let's go to the novell***
Akhirnya mereka semua pun bubar untuk mengerjakan tugas masing masing.
"Do tadi sebenarnya kamu lihat apa sih kok sampai ketakutan dan pingsan gitu?" Zico bertanya kepada Leedo yang yang sedang berbaring di tempat tidurnya.
"Tadi sebenarnya di ruang makan tanpa sengaja aku melihat ke arah cermin yang ada di dekat pajangan yang mengarah ke kita saat Lily bercerita terus tiba tiba aku melihat penampakan kuntilanak yang menyeramkan berdiri di belakang ku terus senyam senyum mengerikan gitu ke arahku karena ketakutan otomatis akunya jadi pingsan." Jawab Leedo sambil membetulkan posisi duduknya.
"Emang bagaimana ciri ciri hantu tersebut coba sebutin." Zico mencoba mencari tahu apa hantu yang Leedo lihat sama dengan hantu yang selalu mengganggu Zico.
"Hhmmm coba aku ingat ingat dulu bagaimana ciri ciri hantu itu." Leedo mencoba berpikir dengan keras sambil mengetuk ngetukan jari telunjuknya di kepalanya.
"Udah kalau nggak ingat juga nggak papa aku kan cuma nanya karena penasaran." Tukas Zico yang lelah menunggu jawaban dari Leedo.
"Ah aku ingat!!!"
"Apa apa yang kau ingat cepat ceritakan."
"Aku ingaaaat" Leedo mencoba menjelaskan.
"Ingaat" Zico yang bersabar menunggu jawaban dari Leedo.
"Aku ingat aku sudah lupa ciri ciri hantu itu." Jawab Leedo dengan wajah tak bersalah.
"Kalau kamu nggak ingat ya tinggal bilang aja ngapain mempermainkan aku." Ucap Zico kesal.
"Aku kan cuma bercanda."
"Saat seperti ini kamu masih sempat bercanda ya."
"Yah biar nggak tegang tegang amar lah bro, tapi wajah hantu itu memang menyeramkan sih karena aku baru pertama kali lihat secara langsung makanya aku pingsan gara gara syok."
"Udah nggak usah banyak bacot lu."
"Dooeeng" Zico memukul kepala Leedo karena kesal.
"Aduuuh, aku nggak bohong kok aku mengingatnya walaupun cuma setengah tapi termasuk ingat juga kan." Ucap Leedo sambil mengelus kepalanya yang kesakitan.
"Makanya lain kali kalau bercanda itu di tempatnya agar nggak bikin orang naik pitam."
"Iya BOS, bekas orang sinting." Teriak Leedo sambil berlari keluar kamar.
Sementara itu Lia dan Lily yang sedang berada di kamar mereka mencari tahu tentang kutukan dan simbol yang ada di dahi mereka di google.
"Gimana kak ketemu nggak."
"Nggak ketemu Lily bagaimana dengan kamu apa ketemu?"
"Aku ketemu tapi disini bilang cuma ada orang yang hilang tiap tahun dan ditemukan setelah meninggalkan itu pun dalam periode yang sangat lama."
"Ini disini dijelaskan tiap tahun ada orang yang hilang terkadang setahun hilang cuma satu orang dan ada juga yang hilang sepuluh orang ketika dulu." Lily menunjukkan artikel berita tersebut.
"Drrr drrrrr, 난 네가 보인다 다가가려다 또 하나의 태양에 발을 멈춘다 누을빛에 변져 나의 마음을 가려 babe i'm down i'm down for love( the boyz reveal)." Sebuah panggilan masuk ke handphone Lia.
"Hallo!!"
"Oo ini mama"
"Ada apa mah kok tiba tiba nelpon?"
" Nggak apa apa cuma eindu sama kalian aja, apa kalian baik baik saja, liburan kalian menyenangkan?" Tanya mama nya Lia.
"Iya kami baik baik saja liburan kami juga menyenangkan, papa mana mah?"
"Oh papa ada kok, rencananya mama dan papa akan pergi kesana juga."
"Kapan mah?"
"Kalau nggak ada hal yang mendesak lusa nanti kami akan kesana."
"Oooo berarti bakal rame nantinya."
"Udah dulu ya mama mau mandi dulu baik baik ya disana."
"Iya mah titip salam yah buat papa."
"Iya nanti mama sampaikan jaga adik kamu baik baik ya jangan berkelahi dan kalau ada apa apa cepat kabarin mama."
"Iya mah"
"Udah kalau begitu." Mereka pun mengakhiri panggilannya.
"Dari mamah ya"
"Iya"
Di rumahnya Lia dan Lily, papa dan mama mereka duduk di sofa dan berdiskusi tentang perjalanan dua anak mereka.
"Pah gimana apa perlu kita susul aja mereka aku merasa gelisah."
"Udah nggak perlu gelisah kita tunggu kabar dari mereka aja dulu, kalau memang mereka udah mengetahuinya baru kita berangkat kesana."
"Tapi bagaimana kalau kita datang terlambat nanti apa yang akan terjadi pada mereka."
"Udah udah nggak usah dipikirin lagi nanti penyakitmu kambuh."
"Pah aku benar benar takut kejadian yang kita alami akan menimpa mereka juga."
"Baiklah kita berangkat kesana besok dan memastikannya sendiri."
Papanya Lia mencoba menenangkan istrinya di pelukannya yang merasa cemas.
[BERSAMBUNG]