
Mama melihat semua adegan tersebut dan mulai merasa cemas lalu dia menuju ke perpustakaan untuk memberitahukan kepada suaminya.
"Pah papa coba papa tebak apa yang tadi mama lihat."
"Kenapa sih, kalau mau pergi berbelanja bilang aja nggak usah main tebak tebakan deh ah."
"Tadii mama lihat prajurit ke-ge-la-paaan."
"APA!!!!" Teriak papa terkejut akan apa yang di dengarnya.
"Apa mama bilang tadi coba bilangnya yang jelas biar papa bisa paham."
"Tadi mama lihat prajurit kegelapan pah di rumah kita."
"Yang benar mah, ah masa sih jangan jangan mama halu lagi."
"Nggak pah tadi mama lihat dengan jelas, dia muncul di hadapan Zico bahkan Lia juga lihat kok."
"Bagaimana mungkin Lia lihat kan kekuatan simbolnya belum ditingkatkan."
"Iya juga sih, tapi pah kita udah kudu bertindak mereka udah mulai bergerak nih nanti kalau kita nggak mengambil langkah bisa bisa Zico yang selanjutnya."
"Iya biar papa yang coba urus besok pagi papa bakal ajak Zico jalan jalan papa bakal berusaha ngemastiin dulu apa benar kalau benar berarti kita harus segera melatih Lia dan Lily."
"Tapi malam ini bagaimana pah apa yang harus kita lakukan kalau kita tidur dan nanti dia datang lagi bakal gawat apalagi Zico nggak punya perlindungan."
"Iya juga papa nggak berpikir ke situ baiklah papa buat pagar goib aja biar dia nggak bisa masuk untuk sementara waktu."
"Tapi pah bagaimana dengan luka dalam papa baru sembuh sebagian nanti malah tambah parah kan bahaya."
"Papa nggak apa apa asal mama pinjamin sedikit energi mama papa bisa buat pagar goib yang bisa bertahan selama enam jam."
"Baiklah tapi papa jangan terlalu memaksakan diri yah."
"Baiklah sini tangan mama."
Papa pun memegang tangan mama dan kemudian membaca mantra lalu mama menyalurkan energinya melalui tangannya ke papa. Kemudian pagar goibnya perlahan lahan terbentuk lalu melebar hingga keseluruhan rumah tertutupi oleh pagar tersebut. Setelah selesai papa pun akhirnya melepas tangan mama.
"Pagarnya udah selesai ayo pergi tidur papa udah ngantuk lagian udah lewat jam dua belas." Papa pun menuju ke kamarnya.
"Papa tunggu mama kan mama juga mau tidur capek energi mama terkuras tadi." Berharap di gendong suaminya.
"Kamu ini baru sedikit energinya terpakai udah capek aja sini papa gendong ke kamar."
"Ahh" mama berteriak karena di gendong oleh papa.
"Bluuussshh" otomatis pipi papa memerah dan kemudian menuju ke kamar.
Sesampainya mereka di kamar papa menaruh mama di atas kasur. Kemudian menutupi pintu kamar dan menuju ke tempat tidur. Dia kemudian menindih mama dan mencium bibir seksi mama. Dan mama membalasnya kemudian papa mulai mencium dan meraba area sensitif mama.
"Tok tok tok" tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamar tapi papa tidak menghentikan aksinya dan terus melanjutkannya.
"Tok tok tok"
"Tuan ada pengiriman paket yang baru sampai katanya penting, kalau begitu saya pergi dulu." Ucap pak hafid di balik pintu lalu kemudian pergi.
Kemudian papa menghentikan aksinya dan beranjak keluar kamar untuk mengambil paketnya.
"Dari siapa pah kok malem malem gini nganterin paket."
"Ini dari Farhan mah."
"Iya tunggu bentar papa ambil cutter dulu." Setelah paketnya dibuka alangkah terkejutnya papa dan tersentuh akan isinya.
"Ini"
"Itu apa pah"
"Ini adalah obat untuk luka dalam papa dan juga mampu meningkatkan kekuatan dengan cepat ini sangat langka sekali sekarang. Dan ini obat yang ini sangat bagus untuk pelatihan simbol Lia dan Lily Farhan sangat perhatian aku jadi terharu."
"Pah ada surat juga di dalamnya cobs papa baca."
"Untuk temanku fadi ini khusus ku buatkan untukmu dan anakmu agar kalian mampu melawan prajurit kegelapan dan pheeca'. Aku tidak punya kekuatan apapun kecuali ini jada ini yang bisa kuberikan sebagai dukungan. Aku tidak bisa menulisnya di pesan atau mengatakan langsung jadi terimalah ini agar aku juga bisa membantumu. Dan seminggu lagi mungkin aku juga akan ke sana bersama dengan tetua di keluargaku untuk membantumu jadi gunakan ini dan latihlah anakmu lalu pulihkan lukamu juga. Wassalam Farhan."
"Ini anak tau banget cara agar aku bisa menangis, cepatlah datang aku menunggumu." Ucap papa setelah membaca surat dari temannya yaitu pak Farhan.
"Iya Farhan selalu membantu kita dan dia juga memang sangat tau cara membuat orang tersentuh." Ucap mama kemudian memeluk dan memegang tangan papa.
"Tapi sepertinya kita belum menyelesaikan kegiatan kita jadi mari selesaikan dulu." Lalu papa mulai mengangkat mama kembali ke tempat tidur dan melanjutkan malam erotis mereka.
Setelah beberapa jam mereka pun menghentikan aksi mereka dan mulai tidur. Tak berapa lama hujan pun mulai turun suara hujan membuat mereka tenang dan perlahan lahan tertidur.
Sementara Lia yang masih berusaha membujuk Lily bisa tidur karena adiknya nggak mau ikut pelatihan.
"Ayolah Lily mau ya"
"Nggak kakak kan tau kalau Lily paling benci dengan pelatihan."
"Kali ini aja ya nurut sama kakak nggak bisa apa."
"Pokoknya Lily nggak mau."
"Bagaimana kalau nanti kakak pinjamin vr punya kakak."
"Nggak mau."
"Aku beliin steak kesukaan kamu
"Nggak mau Pokoknya Lily nggak mau titik."
"Terpaksa bagaimana kalau aku beliin apa saja yang kamu mau selama sehari."
"Lily mau tidur selamat malam."
"Bagaimana kalau du-dua hari selebihnya aku nggak bisa tawar lagi kalau kamu mau ambil kalau nggak kamu menghadap ke papa aja bilang nggak mau aku nggak bantu lagi."
"Hmm kalau nggak aku ambil harus berhadapan sama papa dan harus ikut latihan juga san hadiahnya hilang tapi kalau aku ambil hadiah dapet dan nggak harus pergi ke papa dan dua duanya tetap harus ikut pelatihan juga." Pikir Lily dalam benaknya.
"Oke deh aku mau tapi dua hari penuh harus traktir aku apapun yang aku mau deal?"
"Deal"
"Sial banget uang jajan gue melayang tepat di depan mata uang yang aku tabung selama ini." Lirih Lia dalam hatinya yang sedang melihat ke buku atmnya apa saldonya cukup buat Lily habiskan.
"Udah ayo tidur jangan memasang muka kayak baru kecolongan gitu." Ucap Lily yang sudah berbaring sedari tadi.
"Emang aku habis di colong kamu walaupun bukan sekarang tapi masa dua hari yang akan datang." Ucap Lia dalam hatinya yang kesal melihat Lily.
Malam semakin larut mereka semuanya pun pergi tidur dengan tenang berkat pagar goib yang di buat oleh papa dan mama.
[BERSAMBUNG]