
Hai readers sorry udah dari kemaren nggak bisa update. Karena kemaren aku lupa menyiapkan naskahnya. Di tambah keadaan yang tidak mendukung. Maaf ya kalo membuat para readers menunggu....🙏🙏🙏
Dan jika ada kawan kawan kalian yang suka cerita dengan genre romantis komedi jangan lupa suruh mampir ke The Mystery Of The Valley Of Darkness ya biar jadi rame...😁😁😁
Dan kalo ada yang berkenan untuk vote boleh, vote se ikhlasnya ya kalo mau beri koin juga bisa aku mau hadiah koin juga kayak yang lain...👉👈
Baiklah sampe sini dulu ya ayo kita berjumpa di kolom komentar...😘😘😘
***let's go to the novell***
Sesampainya mereka di rumah, Lia langsung mencari papanya. Dia hendak memberitahukan apa yang terjadi tadi. Dia sudah mencari papanya keseluruhan rumah tapi tidak ada. Kemudian dia bertanya kepada mamanya.
"Mah papa mana aku udah cari kesemua tempat di rumah tapi nggak ketemu, ada yang ingin Lia bicarakan dengan papa soalnya."
"Papa? Tadi ada di perpustakaan coba cari ke sana."
"Tadi udah pergi kok ke sana tapi nggak ada."
"Masasih coba cari lagi kesana, tadi perasaan di sana deh."
"Iya deh" lalu Lia menuju perpustakaan untukmencar papanya.
"Loh pah, papa di sini, perasaan tadi papa nggak ada di sini waktu Lia nyari tadi."
"Oh tadi papa ke belakang sebentar, soalnya tadi listriknya tiba tiba padam, ada apa kok tumben cari papa."
"Itu pah aku mau ngomong sama papa."
"Mau ngomong apa."
"Tadi kan pah kita pergi ke tempat pemancingan di kolam, terus ada anak yang ke cebur ke kolam, setelah anak itu di selamatkan Lia melihat ada hantu kolam di sana yang menatap tajam ke arah Lia, apa dia yang bikin anak itu sampe kecebur ke kolam."
"Papa nggak tau kan papa nggak ada di sana."
"Ah tapi kan kenapa dia tersenyum ke arah Lia."
"Mungkin dia tertarik sama aura kamu."
"Kring kring kring" suara telepon berbunyi.
"Papa mau angkat telpon kamu pergi aja dulu nanti papa panggil lagi kalo papa udah dapet jawabannya."
"Iya Lia pergi" kemudian Lia pun keluar.
Setelah melihat Lia pergi baru papa mengangkat telponnya.
"Halo, dengan siapa ini" ucapnya.
"Ini aku hongman, aku sedang menuju ke villamu di mana alamatnya."
"Senior hongman, kamu mau pergi ke villa ku di mana kamu sekarang biar aku jemput."
"Aku berada di halte bis di dekar persimpangan jalan."
"Baiklah aku akan menjemputmu ke sana sekarang tunggu aku."
"Cepat aku udah muter muter dari tadi."
"Iya iya aku matikan dulu ya."
"Tut tut tut" telpon pun terputus.
Kemudian papa mengganti bajunya dan mengambil kunci mobil lalu pergi menjemput seniornya.
Sesampainya di halte bis dekat persimpangan dia mencari cari keberadaan seniornya. Seniornya yang sudah menunggunya dari tadi lalu melambaikan tangannya ke arah mobil papa. Ketika papa melihat senior yang sudah melambaikan tangan ke arahnya lalu di menepikan mobil dan berhenti. Lalu papa turun dari mobil untuk membantu seniornya memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. Papa sangat senang melihat seniornya yang sudah beberapa tahun terakhir tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan saat melihat seniornya dia hanya tersenyum senyum bahagia. Senior hongman yang melihat tingkah laku papa pun bertanya padanya.
"Kamu ini kenapa senyum senyum sendiri begitu, sangat senangkah melihatku kembali?"
"Sangat senang sekali udah berapa lama kita tidak bertemu dan kamu bahkan tidak mengunjungi kami, kami ingin pergi ke tempat tinggalmu pun susah bahkan semua koneksi terputus, kau tau betapa khawatirnya kami waktu itu."
"Begitukah bukan senang karena udah bisa menyusahkanku lagi?"
"Nah kalo itu benar juga, tapi sebaiknya kita pergi dulu ke villa nanti bicara di dalam mobil aja."
"Emang udah dari tadi aku mau masuk ke dalam mobil tapi kamu lama amat memasukin kopernya."
Lalu mereka pun masuk ke mobil dan papa melajukan mobilnya. Di dalam mobil mereka berbincang bincang dan bercanda bersama.
"Ada gerangan apakah kali ini sang master yang paling sulit di cari bisa keluar dan menemui juniornya yang dia anggap menyusahkan."
"Kau ini apa tidak pernah bisa bertanya dengan benar."
"Abisnya aku masih kesal gara gara waktu itu."
"Udah yang lalu biarlah berlalu tapi kau tau betul kenapa aku pulang kali ini."
"Apa menyangkut dengan segel lembah kegelapan."
"Bukan, walau segel lembah udah sangat lama tapi segelnya sangat kuat tetap bertahan selamanya tidak akan pernah hancur, segel itu hanya bisa di buka oleh mereka yang memiliki simbol seperti istri dan kedua anakmu itu, karena segel itu khusus di buat oleh leluhur tertua kita jadi segel tersebut tidak akan pernah bisa hancur dan kalau kita mau menemukan lembah kegelapan pun sangat susah siapa pun tidak bisa melihat keberadaannya bahkan bagi mereka yang memiliki simbol."
"Lalu kepulangan mu kali ini karena apa, apa jangan jangan karena."
"Iya ke pulangan ku kali ini karena makhluk itu, salah satu segelnya sudah hancur dan tinggal dua lapis segel lagi dan itu bukan hal yang sulit baginya di tambah dengan prajurit kegelapan yang makin meningkat jumlahnya mungkin tinggal beberapa bulan lagi untuk dia bebas dari segel tersebut."
"Bang hongman emang bisa tau dari mana akan hal itu."
"Waktu itu ketua memberi ku cincin yang berhubungan langsung dengan segel tersebut dan kalau lapisan pertama segel tersebut hancur aku harus langsung dateng ke sini."
"Dan kita juga harus melatih kemampuan kedua anakku."
"Iya kita harus melatih mereka jadi bawa aku ke tempat pelatihan yang ada di dekat puncak gunung dan besoknya kamu harus membawa kedua putrimu berlatih ke sana, tetua sudah berada di sana sudah dari kemarin bahkan Farhan dan yang lainnya pun sudah berada di sana."
"Farhan bukannya dia bilang dua hari lagi baru dateng kok dia udah disana."
"Aku yang menyuruhnya sebelum kesini sekitar dua atau tiga hari yang lalu aku pergi ke Farhan dan menyuruhnya untuk mengirimkan pil obat untukmu dan aku menyuruh dia pergi ke sana tetapi karena itu terlalu mendadak jadi dia putuskan besoknya baru pergi dan mengirimkan pilnya di hari itu saja agar kekuatanmu bisa cepat sembuh."
"APA!!! Tega sekali dia tidak bilang padaku apa dia pikir aku sudah tidak ada lagi bahkan kau pun begitu tega padaku padahal dulu aku adalah kesayanganmu."
"Udah jangan lebay aku cuma ingin mengejutkan kedua juniorku makanya aku menyuruhnya untuk tidak memberi tahumu."
"Tapi kejutanmu tidak terlalu mengejutkan tapi kalau kamu mau memasak sup daging sapi aku akan sangat terkejut untukmu."
"Kau yang kau tau cuma makan saja."
Sambil bercanda tawa mobil menuju ke tempat pelatihan di dekat puncak gunung.
[BERSAMBUNG]