THE MYSTERY OF THE VALLEY OF DARKNESS

THE MYSTERY OF THE VALLEY OF DARKNESS
Ep 24



Sesampainya mereka di tempat pelatihan si puncak gunung. Mereka di sambut oleh para tetua yang udah datang ke sana dari dua hari yang lalu.


"Akhirnya kalian sampai juga, ayo ikut ke ruang rapat, ada sesuatu yang sangat penting untuk di bicarakan." Ucap salah seorang yang menyambut ke datangan mereka.


"Kami baru sampai, apa harus langsung ikut rapat aku capek abis berkendara ke sini dan di tambah jalan pegunungan yang banyak lika likunya ribet." Keluh sang papa sambil memijit mijit pundaknya.


"Kau ini selalu bermalas malasan, makanya tingkatmu tidak pernah naik, udah cepet ikut sini, kalo ada aku kamu harus lebih giat lagi." Kata senior hongman sambil menyeret tangan papa pergi ke ruang rapat para tetua.


Di dalam ruangan para tetua sudah duduk di bangku masing masing. Dengan wajah tegang papa masuk ke ruang rapat. Suasana di dalamnya sangat mencekam karena semua wajah tetua sangat serius.


"Sepertinya kali ini bukan main main liat aja wajah para tetua pasti menyangkut mahluk itu." Bisik sang papa kepada seniornya.


"Udah cepat masuk aja sebelum tetua marah apa kamu tidak melihat ekspresi wajahnya itu apa masih bisa di ajak bercanda." Jawab senior hongman dengan cara berbisik juga.


"Apalagi yang kalian tunggu di sana cepat duduk rapat mau di mulai." Ucap seorang tetua yang paling tua di antara semuanya.


"Ba-ba-baik tetua" jawab mereka serempak.


Kemudian mereka duduk di kursi yang masih kosong. Dan rapat pun dimulai, mereka membicarakan tentang segel yang sudah mulai melemah.


Setelah selesai rapat papa pun permisi pamit pulang ke villa. Sedangkan senior hongman tetap berada di sana. Karena dia harus membantu para tetua untuk melatih semua murid yang sudah di pilih untuk menghadapi pheeca'.


Malam harinya di villa, papa memanggil kedua anaknya ke perpustakaan. Karena ada hal yang ingin di sampaikan nya kepada mereka. Sedangkan mama menemani Leedo dan Zico nonton sambil ngemil beberapa buah.


Di dalam perpustakaan mereka berbicara sambil minum jus buah yang di siapkan oleh mama.


"Mulai besok pelatihan kalian akan dimulai, apa ada di antara kalian yang keberatan."


"Aku nggak pah" jawab Lia dengan yakin dan santai.


"Kalo kamu Lily apa kamu keberatan kalo iya bilang aja karena ini bukan main main lagi dan kalo kalian udah memulai nya tidak ada jalan untuk mundur lagi atau akibat nya akan sangat fatal." Tegas sang papa yang sudah tidak main main lagi.


Lia yang melototin Lily dengan tatapan mata yang sangat tajam memberi sinyal kepada Lily. Lily yang melihat tatapan mata tajam nya Lia terpaksa menyetujuinya karena dia tidak punya jalan lain selain ikut dengan patuh karena dia udah janji sama kakak nya buat ikutan.


"Baiklah jika kalian setuju besok pagi kita bakal berangkat ke kamp pelatihan pukul 5 subuh jangan sampai terlambat."


"Yaaaah pah kok subuh sih berangkat nya kan papa tau sendiri kalo subuh mager kali Lily nya." Keluh Lily tentang apa yang baru saja di katakan papanya.


"Kagak ada tapi tapi kagak ada diskusi lagi beaok kita berangkat subuh biar sempat ikut latihan subuhnya biar kalian terbiasa."


"Yadeh Lily nyerah Lily bakal bangun subuh kalo Lily bisa bangun besok."


"Tapi pah bagaimana dengan Zico dan Leedo, apa mereka kita suruh pulang aja biar kagak membahayakan mereka." Ucap Lia.


"Kagak mereka tetep ikutan tapi kita buat mereka ikutan latihan aja biar kagak ada prajurit kegelapan yang mendekati mereka lagi."


"Kalo mereka ikut latihan berarti mereka juga bakal ikut bertarung dengan pheeca' dong pah."


"Papa juga belum bisa jawab tapi yang pasti mereka harus latihan dulu minimal sampe tingkat tiga biar mereka bisa kembali ke kota dan tidak di buntuti oleh prajurit kegelapan yang menempel pada mereka itu."


"Pah Lily mau nanya dong, apa prajurit kegelapan yang menempel pada mereka berdua adalah prajurit yang sama, soalnya Lily pernah liat kak Zico bertingkah aneh dan makhluk itu ada di dekatnya."


"Sehari bukan tapi papa juga kagak yakin karena papa belum melihat yang menempel pada Leedo, tapi biasanya prajurit kegelapan cuma bisa menempel pada satu orang aja sampe orang tersebut mati baru dia bisa menempel pada yang lain, tapi yang menempel pada Zico berbeda dia bisa menempel lebih dari pada satu orang karena tingkat nya lumayan, mungkin bisa saja dia juga menempel pada Leedo juga karena hubungan darah dengan Zico."


"Ohhh Lily baru tau tapi Lily tanya karena Lily pernah lihat kedua penampakan yang menempel pada mereka berdua memang agak mirip makanya Lily jadi penasaran."


"Pah Lia juga mau nanya, nanti pas di pelatihan emang kita harus bawa apa aja buat persiapan nya."


"Udah kalian tinggal bawa baju doang dan yang kalian butuh sehari hari itu aja."


"Lily mau bawa mie instan boleh kagak pah."


"Boleh bawa saja tapi jangan bawa se kardus juga ntar jadi nge ribetin."


"Iya deh, tapi kalo cemilan malem ama candi dan beberapa snack kentang boleh kan buat Lily ngemil kalo Lily laper hehehe."


"Iya iya boleh tapi bawa sendiri semua papa kagak mau bawa."


"Oke pah makasih."


"Iya pokoknya inget besok bangun awal jangan terlambat."


Setelah selesai berbicara mereka pun keluar dari perpustakaan dan duduk bersama dengan mama dan yang lain buat nonton bersama.


"Oh iya mah tadi papa ada search di google kalo deket sini ada pelatihan bela diri di dekat puncak gunung apa mama mau ke sana." Papah berbicara sambil memberikan sinyal kepada mama.


"Beneran pah, mama mau pergi juga kalo gitu udah lama mama kagak latihan lagi mikirnya aja mama udah jadi semangat." Mama yang menerima sinyal dari papa langsung paham apa yang di maksudnya.


"Bagaimana kalo kita kesana besok subuh pukul 5 sekarang kita siapin aja dulu keperluan untuk kesana kalo tempat tinggal ada penginapan juga di sana kagak usah bayar tempatnya gratis tinggal latihan doang."


"Wah bagus banget tuh pah kita juga ikutan dong." Lily dan Lia menambah beberapa bumbu magic kedalam drama nya papa dan mama mereka.


"Pelatihan apa om emang kami boleh ikutan" jawab Leedo dan Zico serempak.


"Baiklah om"


Semua akhirnya pergi berkemas untuk besok. Selesai drama mereka saling mengacungkan jempol satu sama lain ketika Leedo dan Zico tidak ada untuk menunjukkan bahwa mereka sangat puas dengan akting satu sama lain.


[BERSAMBUNG]


Hai readers semua gimana sudah baca sampe sini apakah sangat puas dengan karya ku....


Kalo iya tolong beri rate 5⭐ dan juga vote se ikhlas nya kalo boleh aku mau minta koin juga hehehe....😅😅😅


Dan sorry yah kalo belakangan ini jarang update nya soalnya author lagi sibuk abis jadwalnya padat sorry banget....🙏🙏🙏


Ya udah sampe di sini dulu yah readers kalo ada yang mau share di perbolehkan kalian boleh share sebanyak apapun di izinkan.....😘😘😘


EP 24


Semua akhirnya pergi berkemas untuk besok. Selesai drama mereka saling mengacungkan jempol satu sama lain ketika Leedo dan Zico tidak ada untuk menunjukkan bahwa mereka sangat puas dengan akting satu sama lain.


Keesokan hari nya mereka pun bangun pukul 4:25 dan bersiap untuk berangkat ke kamp pelatihan. Semua pergi mandi nmdan ganti baju dan berangkat kesana dengan menggunakan mobil masing masing.


Sesampai nya mereka di kamp mereka langsung turun dari mobil dan di sambut oleh senior hongman. Senior mengajak mereka ke tempat penginapan di kamp untuk meletakkan barang bawaan mereka. Lalu senior menyuruh mereka untuk bersiap pergi mendaki puncak gunung dan berlatih sebelum matahari terbit. Mereka pun ikut dengan senior tanpa mengeluh.


Mereka pergi bersama rombongan murid lainnya yang di sertai para tetua yang berada di barisan depan dan senior hongman yang berada di samping rombongan papa dan yang lain. Semua nya peegi ke puncak gunung sambil berlari kecil untuk melatih kekuatan kaki mereka. Setelah sampai di puncak gunung mereka mulai pemanasan sambil mengatur nafas mereka yang di arahkan oleh tetua pelatihan. Kemudian mereka berlatih dengan serius dengan bantuan tetua semua murid nampak serius dan semangat dalam berlatih. Kemudian setelah latihan fisik di lanjutkan dengan latihan raga. Mereka lalu duduk dan mulai mengatur nafas kembali kemudian ber meditasi. Merasa kan energi alam yang mengalir ke dalam tubuh mereka dan kemudian di serap mwnjadi energi jiwa yang tidak terbatas.


Karena Lily dan Lia baru pertama kali mengikuti latihan jadi mereka tidak tau harus berbuat apa dan hanya mengikuti arahan tetua saja. Terkadang mereka merasa kesulitan dalam melakukan nya namun mereka hanya berbisik satu sama lain karena tidak berani berbicara dengan tetua. Mereka hanya pura pura paham saja dan terus melanjut kan latihan nya namun terkadang konsentrasi mereka pecah dan mereka juga sering berbisik bisik.


Para tetua tau bahwa mereka tidak mengerti dengan pelatihan nya dan mereka juga tau kalo mereka hanya ber pura pura paham dan hanya mengikuti arahan saja namun mereka menghirau kan mereka karena mereka akan mendapat pelatihan khusus setelah latihan itu.


Hari sudah mulai pagi dan matahari pun sudah mulai terlihat dari arah timur yang memancar kan cahaya nya yang indah. Semua mulai merasa kan energi matahari pagi yang sangat nyaman udara berhembus dengan lembut dan cahaya matahari yang pelahan lahan menjadi lebih terang. Lily dan Lia mulai merasakan rasa nyaman tersebut namun mereka hampir tertidur dari meditasi nya karena udara pagi yang sejuk dan segar itu. Saat sesi meditasi mereka terkantuk kantuk hingga selesai. Murid lain sudah mulai latihan satu lawan satu sedangkan Lily dan Lia masih duduk di atas alas yang di siap kan untuk meditasi.


Tetua yang melihat mereka pun membangun kan mereka. Dia mengguncang guncang kan bahu Lily dan Lia untuk membangun kan nya.


"Ada apa yak, apa latihannya udah selesai." Ucap Lily sambil mengucek ucek mata nya yang di paksa untuk melek tapi kemudian dia tidur lagi.


"Lily jangan ganggu aku, aku masih mau tidur aku masih ngantuk pergi sana jangan ganggu aku." Ucap Lia yang masih merem sambil mendorong tetua hingga terduduk dari jongkok nya.


Kemudian tetua mencoba membangun kan lagi mereka berdua. Sia mengguncang guncang kan bahu mereka samoai mereka berdua bangun dari tidurnya.


"Ada apa sih kamu ini mengganggu saja!!!!" Teriak mereka berdua yang sambil memeksa kedua mata mereka untuk terbuka lebar.


Ketika mereka berdua membuka mata dan melihat siapa yang ada di depan mereka, alangkah terkejutnya mereka dengan apa yang mereka liat. Tetua yang sudah melototi mereka dari tadi berdiri di depan mereka.


"Tetua!!!!" Teriak mereka berdua dengan bersamaan.


"Aduh kok tetua sig ****** kita Lily, ini gara gara kamu nih." Lia memberi tatapan berkode ke Lily.


"Kok jadi aku ini salah kamu kamu yang teriak tadi." Lily membalas tatapan Lia sambil menunduk karena ada tetua di depan mereka yang memerhatikan.


"Sudah ayo cepat bangun dan ikut aku kalian harus mulai latihan kalian dulu aku yang bakal melatih kalian berdua." Ucap tetua lalu pergi ketempat yang lebih lapang untuk mempermudah latihan mereka berdua.


"Mati kita Lily kali ini." Kode dari Lia ke Lily.


Mereka pun mengikuti tetua tersebut dari belakang karena mereka takut di marahi.


"Sudah di sini aja kita latihannya biar kagak ada hambatan dan tidak jauh dari yabg lain juga." Kata tetua tersebut.


"Oh iya nama ku adalah datuk ahmat kalian bisa panggil datuk aja, dan umurku 25 tahun jadi kalian tidak usah terlalu sungkan denganku." Ucapnya.


"Oh ternyata dia masih muda tapi dandanannya udah kayak para tetua aja." Pikir Lia dalam benak nya.


"Maaf bolehkah Lily bertanya." Kata Lily sambil mengangkat tangan nya.


"Iya nanya apa, tanya aja biar aku jawab."


"Apa anda salah satu tetua juga soalnya dandanan nya mirip kayak para tetua tapi umur anda kok masih muda." Ucap Lily yang ceplas ceplos itu.


"Lily!!!" Lia memperingati Lily agar tidak sembarangan berkata dan mencubit perutnya.


"Ah maaf kali Lily lancang dan tidak sopan." Lily menunduk meminta maaf.


"Tidak apa apa, aku memang tetua juga, aku adalah tetua yang paling muda dari semuanya awalnya aku hanya murid biasa lalu di angkat menjadi tetua, baru sekitar dua atau tiga tahun ini."


"Aaaaaahh" seru Lily dan Lia bersamaan.


"Yaudah kalo kagak ada yang lain kita mulai saja latihannya, pasang kuda kuda dulu."


Lalu mereka pun memulai latihan dan di bantu oleh datuk. Setelah selesai latihan mereka semua kembali ke kamp dan bersih bersih diri karena banyak keringat habis latihan tadi. Kemudian oergi ke aula makan untuk makan sarapan mereka.


[BERSAMBUNG]