The Mystery Behind The Albert

The Mystery Behind The Albert
Sekolah



Sekolah..


Pukul 07.30


Kring..kringg..kring (bel sekolah berbunyi)


Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Di sekolah Ira adalah anak yang cantik rupawan dan berbakat dalam bidang olahraga maupun bahasa. Walaupun begitu dibandingkan kakak kakaknya Ira tidak sepintar mereka,  guru-guru disekolahnya pun sering bergosip dan merendakan Ira walaupun itu secara tidak langsung dan sering membandingkannya dengan anak satu sekolahnya.


Guru A    : “Memang ya anak-anak dari keluarga albert sangat berbakat dan jenius, bahkan wajah mereka sangat cantik dan tampan. Sangat berbeda dengan anak sulung mereka, menurutku tidak sebanding dengan kakak-kakaknya. Apa kalian sependapat denganku?”


Guru C    : “Benar benar.. jika dibanding dengannya anak dari kelas L ia lebih pintar darinya, walaupun tidak tampan.”


Guru B    : “Benarr..hanya menang tampang saja. hahhaha”


Guru D    : “Hahha.. iya benar baru bisa lolos naik tingkat diusia mudanya tapi sikap dan perilakunya tidak sopan sama sekali.”


Guru A, B dan C : “Benar.” (mengatakannya bersamaan)


Guru B    : “Sepertinya memang anak adopsi yang haus harta.”


Itulah gosip yang beredar di sekolahnya (Ira), bahkan ada yang mengatakan kalau Ira adalah anak adopsi. Atau gosip tentang kedua orang tuanya yang tidak pernah pulang, karena anak sulung mereka tidak berguna. Ataupun kasih saying terhadap Ira dengan ketiga kakak kakaknya lebih banyak dari pada Ira sendiri. Walaupun begitu itu semua adalah yang dilihat oleh orang luar, akan berbeda jika mereka adalah orang dalam.


AULA KELAS…


Kevin    : “Selamat Pagi Irata.”


Ira        : “Selamat Pagi Kevin?”


..(Ira dan Kevin saling menatap satu sama lain dan keheningan beberapa detikpun terjadi)..


Ira        : “Jadi kau sudah memutuskan untuk sederajat denganku.”


Kevin    : “hehhe tidak juga aku hanya merasa bosan dan ingin mencoba sesuatu yang baru.”


Ira        : “Ohh sesuatu yang baruu rupanya.” (dengan nada bicara acuh dan wajah yang datar menatap Kevin)


Kevin    : “ada apa dengan respon ekspresimu itu Ira?” (tanya kevin dengan nada mencurigakan)


Ira        : “tak ade.”


Kevin dan Ira yang sedang asing berbincang tiba-tiba dari belakang mereka Kangmin datang dengan badan yang hos hosan.


Kangmin    : “Ahh ka..li..an ber..ada.. disini rupanya. ah.. ah..ah.. Aku telah mencari kalian berdua.”


Ira        : “Diluar sangat ramai anak sekolah, jadi aku berjalan mencari tempat sepi tapi malah disini bertemu dengan anak silver yang tak dikenal.”


Kevin    : “eeeh.. silver.. tak dikenal..”


Kangmin : “Sudah sudahh kalau begitu bagaimana kalau kita mengantar Kevin keruang kelasnya.”


Kevin    : “ehh? bukankah aku akan bertemu dengan kepala sekolah?”


Kangmin : “Tidak. Kepala sekolah sedang ada urusan, jadi kepala sekolah memperintahkanku untuk mengantarmu keruang kelasmu langsung dan memperkenalkan sekolah setelah istirahat.”


Kevin    : “Ohohoo jadi ini ya yang namanya anak teladan, yang menjadi topik pembicaraan sempurna yang selalu dibicarakan orang-orang.”


Ira        : “hah?”


Kevin    : “Kau tidak tau ya, tadi ketika aku bertanya-tanya dimana ruang kepala sekolah mereka menunjukan jalannya. Tapi ketika aku bertanya apa kalian mengenal anak bernama Kangmin Centius, mereka malah heboh sendiri dengan mata yang berbinar dan wajah yang merah. Tapi ketika aku bertanya apa kalian mengenal Ira Albert mer..ka mal..ah ...”


Ira        : “Tidak menarik.” (dengan wajah datar menyelah pembicaraan Kevin)


Kevin    : “eiyy... .”


Kangmin : “hahha sudah sudah kalian berdua memang tak bisa akur.


Ira & Kevin    : “Memang tidak.” (secara bersamaan)


Kangmin : “hahhaha baiklah, sebaiknyaku tunjukan ruang kelasmu Kevin. Tapi mengenai hal tersebut kau akan sekelas dengan Ira.”


Kevin    : “Haahh!! sekelas dengan siapaaa... .”


Kangmin pun mengantar Kevin keruang kelasnya dan memberitau beberapa peraturan yang ada disekolah dan larangan apa yang tidak boleh dilakukan anak sekolah dijam pelajaran.


Kevin dan Ira akan berada disatu kelas yang sama. Kevin berhasil melompat satu kelas karena satu alasan yaitu teman-temannya tidak berada disekolah yang disekolahinya sehingga dia bosan. Sebab dari itu kevin mencoba lebih ungul dari kawan-kawan sekolahnya dulu.


**Pelajaran pun dimulai Guru Matematika masuk kedalam ruang kelas**


Guru : “Selamat Pagi anak-anak, bagaimana kabar kalian?”


Murid A    : “Selamat Pagi Bu, kami baik bu jika bu guru tidak memberikan kami kuis. Kami akan begitu baik sekali bu.”


Murid C    : “Iya benar Buu..”


Murid W   : “Benar Bu, otak kami butuh yang segarr bu, butuh pencuci otak dulu bu.”


Guru : “Pencuci otakk ..(keheningan 2 detik).. baikk kalau begitu halaman 25 nomor 1 hingga 15 dikerjakan dan dikumpulkan setelah pulang sekolah.”


Para murid pun membuka modul matematika halaman 25.


Murid Y   : “Waahhh Bu.. ini bukan yang kami inginkan buu.. ini bukan kesegaran dipagi hari.”


Ira    : “Hem ... ah iyaa bu betul sekali.. anak SD pasti selesai dalam 1 jam hehehe.” (secara spontan menjawab pertanyaan bu guru tanpa berpikir terlebih dahulu)


Ira yang tiba-tiba diberi pertanyaan merasa cemas dan gugup, sehingga menjawab dengan spontan. Dan para murid lainnya yang mendengar ucapan Ira, memandang Ira dengan tatapan tajam penuh nafsu emosial tingkat tinggi.


Suasana dikelas pun berubah seketika, menjadi pagi hari yang cerah menjadi pagi hari yang penuh dengan pemikiraan akan kehidupan ini.


PUKUL 10.00


Bel Istirahat berbunyi...


Isabel : “uhum eeh.. ada murid baru rupanya.. siapa namamu? Aku Isabel.”


Kevin : “Oya, namaku Kevin Centius.”


Isabel : “Kevin.. anak dari musis itu yaa?”


Kevin : “aah.. ya salam kenal.”


Robert : “waah ada anak top dari musis anak dari anak lain tetap tersingkirkan dipojokan hahha.”


Murid lainnya : “uhahha”


Ira : “....” (hanya mendengarkan tanpa mengucapkan sepata kata)


Isabel : “Heyy kalian hentikan. Jaga sikap kalian mengerti.”


Robert dan murid lain : “Baik.”


Isabel : “Maaf soal mereka ya Kevin. Mau kekantin bersama?”


Ira : “Tidak untuk sekarang bersama bi*cth.”


Isabel : “Ira apa maksud perkataanmu. dia anak baru, kita harus bersikap baik agar Kevin merasa nyaman dengan suasana kelas ini.” (bersikap polos)


Ira : “Iya, jika memang itu adalah tujuanmu atau ada sesuatu hal yang lain.”


Isabel : “IRA!!”


Rara : “Kau ini hanya iri dengan kepintaran dan kecantikan Isabel saja, malah menuduh orang.”


Kevin : “per.mi.sii aku masih berada ditempat.” (mengalihkan topik)


Isabel : “ohh.. maafkan kami Kevin, Ira itu masih terlalu muda dan belum mengerti apa pun. Ja.di...”


Kangmin : “Jadi kau akan mengatakan bahwa Ira masih bocil.” (tiba-tiba muncul dan menyelah pembicaraan isabel)


Isabel dan Rara : “Kangmin?” (terkejut dengan kedatangan kangmin secara tiba-tiba)


Isabel : “Apa maksudmu aku ini hanya mengatakan yang SEBENARNYA.” (ucapan Isabel yang lembut diawal namun mempertegasnya dibagian akhir kalimatnya)


Kevin yang mendengar ucapan teman sekelasnya Isabel dan juga teman teman lainya mulai  merasa kezal dan mengatakan...


Kevin : “Sebenarnya?”


Isabel : “..iya”


Kevin : “Sebenarnya.. kalau kau terlalu genit dan sampah dipingiran jalan. Benarkan hehhe.”


Murid lain : “uhahah.” (menahan tawa)


Rara : “Kau anak sekolah baru, tapi sudah lancang berbicara seperti itu kepada putri sekolah kita ini.”


Kangmin : “Enough!! hentikan pertengkaran kalian sebelum aku membuat perhitungan dengan kalian berdua.


Isabel & Rara : “Ka..ng..min... .” (terkejut dengan respon kangmin)


kangmin    : "Dan kalian berdua ikut dengan aku sekarang.” (dengan wajah yang serius dan dingin munjuk Kevin dan Ira)


Kevin & Ira : “...” (hanya memandang tanpa mengucap sepata kata)


Kevin dan Ira pun ditarik keluar dari ruang kelas tersebut dan menuju keaula sekolah yang berada dilantai satu.


Kangmin : “Kaliann.. Apa kalian tau kalian sudah membuat kegaduan disekolah.”


Kevin : “oei..oei..oei sebelum kau bertanya hal tersebut, apa maksud dari eksperimu barusan? aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Apakah ini caramu untuk menakuti orang hah?”


Ira : “Kau hanya tidak terbiasa dengan sekolah ini.”


Kevin : “heeh.. lalu bagaimana denganmu nona muda Ira ... mengapa mereka berkata seperti itu? Apa mereka tidak tau kau ya, kalau kau itu anak sulung dari keluarga albe.rt...”


Ira : “...” (Ira yang menoleh menatap tajam dan dingin kepada Kevin)


Kevin : “haha a.pa ya.ng a..ku ka.ta..kan tadi ..ah ayo kalian mulai tunjukan seperti apa sekolah ini dan bagaimana bentuknya sekarang.” (dengan suara yang gemetar dan badan yang ikut bergetar melihat ekspresi menakutkan Ira)


Ira pun berjalan didepan lebih dahulu mendahuluhi kedua temannya tersebut.


Kangmin : “Kau sebaiknya jangan menyebut hal tersebut lagi. Jika kau mengatakannya lagi habis sudah riwayatmu.”


Kevin : “ngelek... .” (menelan ludah)