
Kangmin : “ahh.. maaf atas kelancangan saya nona muda Ira.” (Kangmin yang terkejut dengan nada bicara Ira yang tinggi, merasa bersalah sambil menundukan kepala untuk meminta maaf)
Kepala Pelayan Kenta : “Nona muda Ira. Maaf sepertinya tuan Kangmin terlalu banyak pekerjaan jadi ia tidak sadar akan ucapannya nona muda.”
Ira : “Kepala Pelayan kau tidak perlu membelanya. Ia merasa kesal atau apapun itu ia seharusnya bisa menyelesaikan hal sepele ini.”
Kangmin : “sepele.” (dengan nada rendah)
Bibi : “Nona muda Ira, saya membuatkan anda kue tar dan juga puding. Apakah anda ingin mencobanya.”
Ira : “Benarkah. Baiklah.”
Bibi yang mencoba mendinginkan suasana mengalihkan pembicaraan dengan menghidangkan makanan penutup yang jarang sekali dihidangkan. Walaupun begitu suasana di meja makan masih terasa canggung.
...(beberapa menit kemudian)...
Ira : “Bagaimana dengan perasaan love antara kawan antara teman antara persahabatan atau kasih sayang tuan Kangmin Centius Albert.”
Kangmin : “...?”
Ira : “Itu yang ingin aku katakan. Pulanglah aku tidak ingin menahanmu disini. Karena kau memiliki tugas yang sepele, TAPI tindakanmu adalah SEBUAH KEPUTUSAN dan akan MEMPENGARUHI SEMUANYA. Kau mengerti.”
Kangmin : “Baiklah I.ra hem maksudku nona muda Ira. Terima kasih, salam.” (Kangmin yang sedikit mendaat pencerahan membuat rencana agar kedua sekolahnya tidak dendam tapi berdendam akan perdamaian)
Perasaan Kangmin yang semula tidak begitu baik menjadi begitu semangat karena jawaban yang ia cari telah ditemukan. Yang tersisa adalah menyusun rencananya.
Makan malam pun berakhir dengan suasana yang tidak begitu mengenakan. Walaupun begitu perasaan yang tidak begitu mengenakan masih terasa dibenak Kangmin. Dengan apa yang diucapkannya membuat pikirannya sedikit terbuka.
PUKUL 21.00
RUANG PERPUSTAKAAN
Tok..tok..tok..
Kepala Pelayan Kenta : “Nona muda Ira, sudah terlalu larut malam untuk melukis. Sebaiknya kita tunda dihari lain nona muda.”
Ira : “uhumm.. tidak, ini hampir selesai.” (sambil melukis)
Kepala pelayan Kenta : “ta-tapi nona muda...” (mencemaskan nona muda Ira)
Ira : “aku akan segera selesai beberapa menit lagi. Katakan saja kepada Pelayan Icha, untuk menyaipakan air mandinya, aku ingin mandi dengan air hangat.”
Kepala Pelayan Kenta : “Baik nona muda Ira. Salam.”
Ira yang sedari sore mencoba melukis sesuatu. Namun sayangnya lukisan yang ia lukis dari sore tadi, tidak begitu sempura. Sehingga ia mencoba untuk memperbaikinya. Dengan keahliannya yang pernah diajarkan oleh ibunya, ketika ia masih berusia 3 tahun.
Lukisan yang dicoba untuk diperbaiki, memang tidak akan sempura seperti awalnya. Namun, jika orang itu bukanlah seorang profesional seni, ia tidak akan berhasil menyempurnakannya. Ira salah satunya yang memiliki bakat melukis yang begitu hebat menuruni ibunya tersebut.
Ira mencoba untuk lukisan yang dibuatnya tidak terlihat sempurna namun sebaliknya. Yang terlihat jelek, namun indah. Terlihat membosankan, namun begitu cantik dan mempesona. Terlihat menyedihkan, namun jika dipandang seseorang ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Ira : “Akhirnya selesai juga... sepertinya aku memperlukan mandi ekstra hari ini, karena aku tidak menggunakan apron.”
KAMAR MANDI
Ira : “huuh segarnya.. sudah lama aku tidak berendam dengan air hangat dimalam hari. Jika ibu ada pasti akan mengomel panjang kali lebar hahaha ... huuff (tarikan nafas panjang)... bagaimana kabar ibu sekarang ya? Apa perjalanan bisnisnya baik-baik saja?”
Disela-sela lamunan nona muda Ira. Dari depan kamar mandi pelayan Icha..
Pelayan Icha : “Nona muda Ira sebaiknya anda berendam selama 15 menit, jika tidak kulit anda tidak akan begitu bagus.”
Ira : “Baiklah aku mengerti.”
Ira yang sejak sore hingga malam membuat lukisan. Berendam dengan air hangat, namun pikiran masih tidak begitu baik, karena masih memikirkan apa yang akan Kangmin lakukan setelah ini. “Semoga ia tidak merencanakan hal yang konyol”. Itulah yang ada dibenak Ira saat ini.
Walau merasa kesal dengan kelakukan temannya tersebut. Ia merasa puas karena yang menangani masalah tersebut adalah orang kepercayaannya.
15 menit kemudian...
Kamar Tidur Ira
Ira : “Iya.. iya aku mengerti, terima kasih. Kau sama saja dengan kepala pelayan saja, mengomel selalu.”
Pelayan Icha : “Tentu saja. Karena kami menyanyangi anda nona muda ira, jadi jangan sakit dan tetap sehat nona muda.”
Ira : “uhum hahha baiklah aku mengerti, kau bisa keluar sekarang Icha.” (terkejut dengan ucapan Icha dan tertawa kecil)
Pelayan Icha : “Baik nona muda Ira, selamat malam, salam.”
Pelayan Icha pun beranjak keluar dari kamar tidur Ira.
... (beberapa menit lamanya kemudian)...
Ira yang tidak bisa tidur, mencoba memenengkan dirinya beberapa kali. Namun itu tidak mempan, dan memutuskan untuk mengambil catatan kasus dari brankas miliknya.
Ira yang masih memikirkan mengenai permasalahan antara sekolahnya dan juga sekolah Kangmin. yang tidak diketahui penyebabnya dengan jelas. Namun Ira teringat bahwa Hanter pernah mengatakannya sedikit tetang kasus yang terjadi 6 tahun yang lalu, yang menggemparkan kedua sekolah tersebut.
Ira : “Jika tidak salah, kasus yang begitu menggemparkan itu adalah perpecahan antara sekolah Negeri Mukti 1 dan Kesatria Lenta.
Ira yang mencari cari dokumen-dokumen dan juga koran-koran lama dibrankasnya. Akhirnya menemukan kasus yang ia cari.
Ira : “Sekolah Negeri Mukti 1 membuat beberapa inventasi dan membatalkan perjanjian dengan sekolah xxx. Dikatakan bahwa sekolah xxx tersebut adalah sekolah yang memiliki hubungan sangat erat dengan sekolah Negeri Mukti 1 namun hubungan mereka entah mengapa tidak baik yaitu sekolah Kesatria Letna. Aneeh padahal mereka beda sekolah dan beda pangkat SMP dan SMA.
Ira yang menemukan koran lama 6 tahun, lalu membalikan halaman dan membalikan halaman dan diakhir halaman ada sebuah kasus.
Ira : “Pembakaran..25 oktober 20xx...”
Ira yang entah mengapa fokusnya terahlikan dengan pembakaran tersebut. Lalu...
Ira : “Tunggu bukankah ini kasus yang juga belum diketahui siapa dalang dari pembakaran tersebut. Tanggal kasus merekaa, dua hari setelah kejadian ... ada yang tidak beress disini.
Ira memperhatikan koran lama tersebut dengan tatapan serius dan begitu teliti dalam setiap perkatanya.
Ira : “disini mengatakan bahwa ia adalah anak emas disekolahnya, dan menjadi anak yang berprestasi disekolahnya, bahkan mendapatkan beasiswa full disekolahnya, namun sayangnya ia tewas. Mayatnya tidak ditemukan, satu temannya menghilang dan satu temannya masih hidup hingga sekarang, tapi tidak ada yang mengetahui dimana ia berada sekarang.”
Ira yang membaca dengan sangat cermat dan sangat fokus. Tidak ingin melewatkan setiap perkata yang di informasikan dikoran lama tersebut. Mulai merasa curiga dengan kabar dari koran tersebut, seakan-akan menutupi kejadian yang sebenarnya.
Ira : “Betran Dave Victorio.” (berpikir keras)
Ira mencoba untuk mengingat kejadian lama dalam pikirannya. Lalu...
Ira : "... aku ingat sekarang anak emas tersebut. Ibu pernah menceritakannya, bahwa ia adalah anak yang miskin, tapi ia sangat begitu hebat dan banyak yang menyanjungnya karena ia begitu jenius. Tapi mengapa mereka berada disana? Bukankah tempat tersebut sudah lama tidak pakai? satu teman hilang satu teman tidak diketahui keberadaannya."
Ira yang berpikir terlalu keras dan mencoba untuk menemukan teka teki dari permasalahan tersebut dengan keras. Kepalanya mulai merasakan sakit.
Ira : “aissh.. menyebalkan kenapa harus sekarang ... sepertinya aku membutuhkan bantuan.”
Dring..dringg.. (suara telepon)
Ira : “Ini aku. Cari tau tentang sekolah Mukti Negeri 6 tahun yang lalu dan kejadian 2 hari setelah kasus tersebut. Lalu selidiki, apakah ada kasus kebakaran yang terjadi kawasan sekolah itu, dan cari penyebabnya.”
Triplex : “Baik nona.”
Ira : “2 hari waktu yangku berikan.”
Triplex : “Baik nona.”
Bip. (suara telepon ditutup)
Ira merasa pusing dan sakit kepala karena terlalu berusaha untuk menemukannya. Melihat keluar jendela, merasakan angin malam yang berhembus dirambutnya. Merasa bahwa itu tidak bukanlah sebuah kebetulan.
Ira : “huufff.. (hembusan nafas yang panjang) sebaiknya aku memperkerjakan orang baru itu disampingku mulai besok. Untuk membantuku memecahkan masalah ini besok.”
*cat : anak baru dibab 4 yang masuk bagian santis E.
Ira yang tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Namun ia memiliki firasat, bahwa ada kasus yang ditimbun dengan tanah dan batu diatasnya. Agar tidak ada orang-orang yang mengetahui isinya seperti apa.
Namun Ira sudah dibatasnya untuk memikirkan semuanya. Dan mencoba untuk menenangkan dirinya dengan vep non alcohol rasa vanila. Itu adalah caranya untuk menengkan dirinya. Dan memikiran solusi love atau apalah yang telah menganggu temannya tersebut.