
PERPUSTAKAAN
Ira yang pergi keperpustakaan untuk mencari sesuatu. Mencarinya dari setiap sudut rak buku kesudut lainnya, dibawa rak buku atau diatas rak buku. Ira mencari alat tersebut tanpa berhenti.
Ira : “uhum.. dimana aku menyimpannya?? Seingatku ada disekitar sini. Ah... ketemu, syukurlah masih ada disini.”
Alat yang Ira cari adalah media komunikasi miliknya dengan seorang. Ira pun mencoba memberikan kode infromasi untuknya agar segera kembali kediamannya, tanpa ada orang lain mengetahuinya.
Ira : “huff... hanya perlu menunggu kedatangannya. Maka rencanaku tidak ada kesalahan.”
Pencarian alat media komunikasi tersebut membuat Ira lelah dan capek. Dan tanpa ia sadari waktu telah berlalu 20 menit.
Dari luar ruang perpustakaan..
Tok...tokk...tok... (suara ketukan pintu)
Pelayan Icha : “Nona muda Ira. Ini saya pelayan Icha sarapan telah siap, apakah anda akan keluar segera atau saya bawakan kedalam?”
Ira : “ya..” (terkejut)
Ira yang terkejut menjatuhkan benda yang dipegangnya. Dan membuat khawatir pelayan Icha yang berada diluar ruangan.
Pelayan Icha : “no-nona muda Ira? apa telah terjadi sesuatu didalam? Saya akan masuk kedalam untuk membantu anda nona muda.” (merasa khawatir)
Ira : “TIDAK PERLU (nada ditinggikan). Kau pergilah terlebih dahulu, aku akan segera turun kebawah.”
Pelayan Icha : “ta-tapi nona..” (merasa khawatir)
Ira : “Tidak perlu khawatir, aku hanya menjatuhkan buku yang salah kuletakan.”
Pelayan Icha : “Ouw begitu rupanya. Baiklah nona muda Ira, saya akan turun kebawah mempersiapkan bekal untuk anda. ”
Ira : “Ya lakukanlah.”
Ira pun secara cepat menyimpan kembali alat komunikasi tersebut ketempatnnya, dan bergegas turun kebawah untuk sarapan.
Meja Makan..
Ira : “Uhumm!!! Waaa enaknyaa.. Bibi apa nama makanan ini? Sepertinya Ira baru pertama kali mencobanya.”
Bibi : “itu adalah Nasi padang nona muda. Ini untuk pertama kalinya bibi mencoba memasak masakan lain selain masakan barat.”
Ira : “Waaa.. benarkah. Nasi padang ya uhum enaknya hehhe. Ira mau menambah lagi.”
Bibi : “Baik nona muda Ira.”
Kak Indra : “Makanlah perlahan-lahan. Tidak ada yang akan merebutnya darimu Ira.”
Ira : “Hehe baiklah kakak.”
Untuk pertama kalinya bibi memasak masakan selain masakan barat. Dan itu berhasil dalam sekali percobaan, itu adalah salah satu keahlian bibi. Masakan apa pun bisa dibuatnya, melihat resep dan menonton video pembuatan dalam sekali lihat, dan dalam seketika dibuat rasanya penuh dengan kejutan.
Ira pun selesai memakan masakan baru Bibi dan segera berangkat kesekolah.
Ira : “Terima kasih makanannya bibi.” (dengan senyum lebar terpancar diwajahnya)
Bibi : “Saya pun ikut merasa senang jika nona muda Ira menikmati masakan buatan saya dengan lahap."
Ira : “hehhehe.”
Kepala pelayan Kenta : “Nona muda Ira. Sudah waktunya untuk anda berangkat ke sekolah. Saya telah menyiapkan kendaraan untuk mengantar anda kesekolah.”
Ira : “Ah baiklah. Eehhh!!! Kakak mau mengantar Ira? Bukankah ada pekerjaan penting yang harus kakak kerjakan hari ini?”
Ira yang mendengar apa yang kak Indra katakan, merasa tidak percaya dan terkejut dengan apa yang diucapkan kakaknya tersebut.
Kak Indra : “Apakah itu penting dari urusan mengantar adikku kesekolah dari pada urusan pekerjaan.”
Ira : “Hah!!” (terkejut dengan ucapan kakaknya)
Kak Indra : “Lupakan. Segera siapkan mobil untukku. Aku yang akan mengantar Ira kesekolah.”
Kepala pelayan Kenta : “Siap tuan besar Indra.”
Kepala pelayan Kenta pun segera menyiapkan mobil seperti yang diperintahkan kakak.
Dan Ira masih dalam pikirannya yang bingung dengan apa yang terjadi dengan kakaknya tersebut. Biasanya bersikap dingin dan acuh tak acuh tapi sekarang terbalik. Walau begitu pada akhirnya Kak Indralah yang mengantar Ira berangkat kesekolah.
...****************...
Depan Gerbang Sekolah...
Ira pun sampai disekolahnya. Walau ia masih merasa aneh dengan perilaku kakaknya pagi ini. Ira merasa bahwa kakaknya sedang berusaha untuk berkomunikasi kembali seperti dulu. Namun selama perjalan tadi Ira dan kakaknya hanya diam, tanpa berbicara sepata kata.
Kevin : "Selamat pagi Ira."
Ira : "Pagi."
Kevin : "Sepertinya tuan besar Indra benar-benar telah kembali ke kediaman."
Ira : "..." (tatapan tajam dan dingin menatap Kangmin)
Kevin : "ngelek." (menelan ludah)
Ira pun meninggalkan temannya tersebut dan bergegas berjalan masuk ke ruang kelasnya.
Kevin : "Sepertinya memang salah menanyakan hal ini dipagi hari."
Dalam Kelas...
Siswa W : “lihat apa yang aku dapatkan.” (menunjukan gantungan kunci boneka lucu)
Siswa C : “Waa apa itu.. sangat lucu, dari mana kau dapatkan beda itu.”
Siswa A : “Benar sangat imut.. apa itu dari festival kemarin.”
Siswa W : “Yapss.. aku membeli beberapa. Lihat...”
Siswa C : “Astagaa.. tapi memang festival kemarin tidak terlalu buruk dan tidak terlalu baik juga.”
Siswa A : “Benar. Aku juga membeli beberapa aksesoris dan juga beberapa pakaian.”
Siswa W & C : “Benarkah.”
Siswa A : “Ingin melihatnya? Datanglah kerumahku. Aku akan memberikan kalian satu dari barang yangku beli kemarin.”
Siswa W & C : “Apa yang sudah di ucapkan tidak boleh ditarik kawanku.”
Siswa A : “Aku tak berniat untuk menariknya pula kawanku hehhe.”
Ira yang berdiam diri di dalam kelas, hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan tanpa merespon. Walaupun begitu ia merasa senang, bahwa pilihan yang dibuat oleh temannya adalah pilihan yang tepat untuknya (ketua osis) dan untuk sekolahnya (Kesatria Letna).