
Kantin...
Siswa P : “Lihat apa yang aku dapatkan. Keren, bukan?”
Siswa Pl : “Wiii... apa itu dari festival kemarin.”
Siswa Lp : “jika dipamerkan, para wanita tidak akan berpaling darimu temanku.”
Siswa P : “Benarkah?”
Siswa Pl : “Cobalah selagi usiamu masih muda temanku.”
Siswa Lp : “memang usia kita masih muda untuk mencari wanita yang uww hahha..”
Ruang Musik...
Siswa Zor : “benar... permainan mereka begitu megasikan aku belum pernah merasakan ketertarikan game sedalam ini.”
Siswa Orz : “Benarkah? Sayang sekali waktu itu aku jatuh sakit. Jika tidak aku bisa ikut bersama dengan kalian.”
Siswa Roz : “tenanglah, aku dengar kalau kita bakal diundang kepesta hallowinnya.”
Siswa Zor & Orz : “Benarkah?”
Siswa Roz : “itulah rumor yang tersebar.”
Ruang Guru...
Guru Olahra : “tidak sia-sia kemarin menjadi guru pendamping anak-anak kefestival.”
Guru Mate : “ohoo benarkah?”
Guru BI : “apa seasik itu guru Olahra?”
Guru Olahra : “Anda pasti akan merasa biasa saja, tapi ketika anda masuk kedalam dan melihatnya secara langsung ehem begitu seru dan banyak sekali permainan dan makanan yang dibuat sendiri.”
Guru Mate : “Buat sendiri?”
Guru Seni : “Sepertinya rumor anak-anak sekolah Negeri Mukti 1 adalah anak-anak yang kreatif memang benar adanya.”
Guru Olahra : “Anda benar Guru Seni.”
Semua orang membicarakan festival yang mereka hadiri. Dari setiap kelas, ruangan kegiatan siswa, kantin
bahkan ruang guru pun penuh dengan perbincangan festival yang dibuat oleh sekolah Negeri Mukti 1.
Ruang Ketua Osis..
Michael : “Sepertinya rencana anda telah berhasil ketua.”
Kangmin : “Ya sepertinya begitu.”
Michael : “... kalau begitu bagaimana dengan pesta ketua?”
Kangmin : “Pesta?”
Michael : “Ayolah apakah kita hanya menikmati acara kemarin saja? tanpa menikmati keberhasilan dalam pemersatuaan ini ketua?”
Kangmin : “kau benar... baiklah aku akan memikirkannya nanti. Aku sibuk kau bisa beristirahat wakil ketua.”
Michael : “memang tidak bisa diajak kerja sama ... baiklah kalau begitu saya wakil ketua, mohon undur diri untuk beristirahat.”
Kangmin : “uhm..”
Rencana pemersatuan kedua belah pihak berakhir dengan hubungan yang baik. Dan mungkin inilah jalan yang seharusnya diambil sejak lama oleh para ketua terdahulu. Walaupun terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk mencabanya saat ini. Karena akhir dari cerita mungkin saja akan berakhir dengan happy ending. Itulah perasaan Kangmin saat itu.
Kangmin yang masih sibuk dengan dokumen-dokumen yang ia tinggalkan. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk kedalam ruangannya melalui jendela ruangan. Yang membuatnya terkejut.
Kangmin : “Siapa disana...”
Melakang maju kejendela yang berbunyi.
Kangmin : “No-nona muda Ira!!!” (terkejut)
Ira : “... Ya ini aku. Kenapa dengan wajah terkejutmu itu? Seperti melihat hantu saja.”
Kangmin : “ah.. bukan apa-apa.”
Ira : “oh.. lalu... berapa kali aku akan mengatakannya. Jangan panggil aku dengan sebutan nona muda, apa kau tidak mengerti?” (dengan wajah datar dan ekspresi dingin menatap kangmin)
Kangmin : “maafkan saya Ira. Saya hanya terlalu terkejut saja tadi.”
Ira : “...” (tanpa merespon duduk dikursi ketua osis)
Kangmin : “ta-tapi apa yang anda lakukan disini Ira? Apakah terjadi sesuatu?”
santainya)
Kangmin : “Lalu?”
Mata Ira saling bertatap tajam dengan Kangmin. dan itu membuat suasana diruang ketua osis menjadi begitu menegangkan dan begitu dingin.
Kangmin : “... no-nona ah.. maksud saya Ira. Apa ada yang ingin anda sampaikan?”
Ira : “...” (diam tanpa merespon)
..(keheningan beberapa menit lamanya)..
Kangmin : “I.r.a saya tidak bisa membantu anda, jika anda hanya dia.m..” (disela)
Ira : “Kau berhasil satu langkah Kangmin.” (menyela pembicaraan)
Kangmin : “eh.. ya Ira?” (terkejut dengan ucapan Ira yang tidak biasanya)
Ira : “ingatlah ... pilihan yang telah kau ambil ini baru awal, dan langkah selanjutnya mungkin kau akan menghadapi rintangan dari keputusan yang telah kau pilih.”
Kangmin : “Anda benar. Ini adalah awal yang begitu membahagiakan bagi kami dan semua orang. Namun hal selanjutnya pasti hal yang tidak bisa kita kira. Mungkin saja hal tersebut adalah hal yang membuat kita tidak bisa percaya akan apa yang kita lihat dan dengar.”
Ira : “Ya kau benar Kangmin. dan syukurlah kau mengetahui hal tersebut. Tapi ...”
Tok..tok..tok.. creak.. (suara ketukan pintu)
Micahel : “Kangmin (membuka pintu). Kepala sekolah ingin bertemu denganmu sekarang. Ia sudah menunggu kau di ruangannya.”
Ira : “gawat..” (terkejut dan langsung bersembunyi dibawa meja)
Kangmin : “ah.. ba-baiklah, aku akan segera kesana.” (perasaan tidak enak muncul)
Michael : “uhum.. ada apa dengan ekspresimu itu Ketua? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku.”
Kangmin : “Ti-tidak sama sekali.”
Michael : “Benarkah?” (perasaan curiga tingkat tinggi)
Kangmin : “Kepala sekolah ingin bertemu denganku bukan? Ayo kita berdua lekas kesana.” (mengalihkan topik pembicaraan)
Michael : “ehm.. baiklah.”
Ira yang hampir saja ketahuan oleh Michael, karena berada diruangan ketua osis. Namun untung saja Kangmin bisa secepatnya mengatasinya.
Ira : “Memang lain waktu seharusnya aku memangilnya saja. Jadi sia-sia saja aku datang kesini.”
Ira yang datang bukan untuk membahas keberhasil Kangmin dalam membuat keputusan. Namun karena Ira tidak begitu yakin bagaimana ia harus mengatakannya, sehingga yang terlontarkan adalah hal yang tidak seharusnya.
Ruang Kepala Sekolah...
Kepala Sekolah : “Kangmin. memang kinerja anak teladan dan anak berbakat, tidak akan mengecewakan siapa pun.”
Kangmin : “ah.. sudah selayaknya saya sebagai ketua.”
Kepala Sekolah : “hahha benar ... ta-tapi akan bertahan lama Kangmin?” (tiba pembicaraan Serius)
Kangmin : “Ya?”
Kepala Sekolah : “Maksud bapak adalah memang baik kita memperbaikinya, tapi seperti yang kau tau bahwa dulu kakak kelasmu pun sangat berusaha untuk memperbaikinya dan sangat berhati-hati dalam bertindak. Namun pada akhirnya tidak ada yang berjalan lancar. Dan bapak mengkhawatirkan hal tersebut, karena mungkin saja hubungan ini hanya awal untuk mencari muka.”
Kangmin : “...” (terkejut dengan ucapan Kepala Sekolah)
Kepala Sekolah : “Yaa.. itu tidak akan mungkin, bukan? Karena sekolah ini memiliki seorang ketua yang pintar, cerdik dan kompeten.”
Kangmin : “uhm.. Ya. ... ta-tapi menurut saya keputusan ini akan berakhir dengan baik pak, karena saya yang melakukannya maka hasilnya adalah Succeed.”
Kepala Sekolah : “uhm.. hahhaha Ya bapak percaya denganmu Kangmin. karena itu adalah Kangmin sang ketua osis kami.” (terkejut dengan apa yang didengar)
Kangmin : “baik pak, terima kasih atas kepercayaan anda.”
Kepala Sekolah : “Selanjutnya bukanlah hal yang mudah untuk kau hadapi Kangmin, tapi jika kau membutuhkan konseling bapak siap mendengarkan dan siap memberikan nasehat.”
Kangmin : “dan saya dengan senang hati akan selalu datang setiap jam, setiap menit dan setiap hari kemari pak.”
Kepala Sekolah : “hahha sepertinya saya harus menyiapkan kunci untuk sekali-kali mengunci ruangan sendiri.”
Kangmin : “ah.. kalau begitu saya kan menelpon bapak setiap jam, menit, detik dan setiap harinya.”
Kepala Sekolah : “sepertinya bapak tidak bisa menang melawan ketua osis kami, bapak akan mengaku kalah.”
Kangmin : “hahhaha...”