The Mystery Behind The Albert

The Mystery Behind The Albert
Jawaban yang Pasti



2 hari Kemudian


Hari Perjanjian yang sudah ditentukan Sara kepada Kangmin..


Pukul 13.00


Ruang Ketua Osis


Michael       : “Ada apa dengan wajahmu yang begitu ceria ketua? Apa telah terjadi sesuatuu?” (merasa bingung)


Kangmin      : “Bukan apa-apa. Kau ikut dengan ku sekarang, kita akan pergi kesekolah Negeri Mukti 1. Gunakan pakaian ini dan tinggalkan kartu identitasmu disini. Megerti.” (ekspersi yang begitu ceria gembira)


Michael       : “Mengerti ketuak ku.” (menjawab dengan spontan)


...(beberapa menit ngebung sesat)...


Michael      : “Haaaaahhh!! Kemana kita Tuan berwajah dingin ketua kami kangmin sekolah Negeri


Muktiiii.. kau sudah gilaa hah..”


Kangmin pun bersiap-siap pergi kesekolah Negeri Mukti, untuk menemui Sara dan memberikan jawaban dan perjanjiannya tersebut. Sedangkan wakilnya sedang ngebung dengan pikirannya yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Sekolah Negeri Mukti 1


Sekolah yang begitu indah dan mewah tersebut dengan desain interiornya yang begitu megah dan cangih. Itu adalah sekolah yang disekolahi Sara dan juga kakak Ira.


Siswa SMA Negeri Mukti    : “Cari siapa dek.”


Michael       : “ehh.. ah kita cari..” (binggung menjelaskan)


Kangmin     : “Kakak Sara.” (to the point)


Siswa SMA Negeri Mukti    : “Ooh Sara. Lurus terus lalu pertigaan belok kekiri ya, nanti ada tulisan kelas Alpa A. Itu kelasnya Sara jadi tinggal dicari disana, oke.”


Kangmin       : “Baik kakak, terima kasih.”


Siswa SMA Negeri Mukti    : “Iya sama-sama dek, tapi wajahmu tidak asing deh..” (merasa curiga)


Michael       : “Iyaa lah diakan adalah an.akk..” (menjawab spontan tanpa dosa)


Kangmin     : “Anak ibu dan ayah hehhe.” (kangmin tiba-tiba memotong pembicaraan Michael)


Siswa SMA Negeri Mukti    : “Ahh.. hahha iya kau benar. Kalau begitu sampai jumpa, jangan sampai tersesat ya.”


Michael & Kangmin             : “Baik kak, terima kasih.” (megatakan secara bersamaan)


Siswa SMA Negeri mukti itu pun pergi meninggalkan Michael dan Kangmin berdua. Namun tatapan tajam seakan akan ingin menerkam seseorang, menatap tajam temannya tersebut.


Michael       : “Maaf-maaf.” (merasa bersalah)


Kangmin     : “Jaga sikap keceplosanmu itu, kau mengerti?”


Michael       : “Baik tuan Kangmin. Maafkan aku, ekspresimu itu cukup seram juga.”


Kelas Apla A...


Banyak kerumunan anak-anak sekolah yang keluar dari rungan kelas untuk pulang kerumah.


Kangmin     : “Apa ia sudah keluar dari kelasnya??”


Michael       : “Haah!!”


Kangmin yang dari tadi memandang kesana dan kemari mencari Sara, karena ia tak kunjung muncul.


Michael       : “Heii kangmin, apa kau sudah menemukan orangnya? Kita sudah terlalu lama disini ... ini sangat menakutkan..”


Michael yang mulai merasa tidak tenang dan perasaannya yang tidak baik. Sedangkan Kangmin masih fokus mencari Sara. Hingga akhirnya ia melihatnya dan...


Kangmin      : “...ah itu NONA SARA!!” (berteriak tiba-tiba)


Kangmin yang secara spontan berteriak setelah melihat Sara. Tanpa sadar memanggil Sara dengan sebutan nona, dan membuat orang-orang disekeliling memandangi mereka.


Adinda (teman sekelas Sara)           : “Nona Sara.” (merasa bingung)


Siswa lain      : “Pelayannya kalik ya.” (bergosip)


Siswa lain      : “Tapi pelayannya cakep juga de wkwk.” (bergosip)


Siswa lain      : “Iyak hahha. Minta nomornya sana, siapa tau jadi calon hehhe.” (bergosip)


Siswa lain      : “hahha.” (bergosip)


Sara yang ikut menengok karena namanya lah yang terpanggil, memandang orang yang memanggil tersebut. Dan ia melihat siapa orang tersebut ternyata temannya dekatnya nona muda Ira, Kangmin.


Sara            : “huuh.. Ikut denganku ...” (sambil menarik lengan Kangmin)


Sara pun menarik lengan Kangmin dan beranja pergi ke halaman belakang sekolah.


Halaman Belakang Sekolah...


Sara            : “hemm.. apa kau gila, datang kesini tanpa memberitahuku dan berteriak dengan kencang hahh.”


Kangmin       : “maafkan saya nona Sara, saya tidak bermaksud melakukannya.” (merasa bersalah)


Sara             : “heem.. baiklah lupakan tentang itu, dan jangan memanggil namaku dengan sebutan nona, mengerti.”


Kangmin        : “baiklah Sara.” (menjawab tanpa bantahan)


Sara             : “Lalu, sekarang apa tujuanmu datang kemari? Sepertinya aku tidak memiliki urusan denganmu tuan Kangmin?”


Kangmin        : “ini sudah 2 hari dan ini jawaban saya. Kami menerimanya.” (sambil menyodorkan surat undangan dan juga surat yang berisi perjanjian dari belah sekolahnya)


Sara yang menerima surat undangan tersebut dan juga surat perjanjian tersebut. Cukup terkejut dengan apa yang terjadi dengannya. Sedangkan temannya (Michael) hanya memandanginya dengan mulut terbuka, tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan ketuanya tersebut. Dan berpikir bahwa ia sedang kerasukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.


Sara            : “Kau menerimanya? cukup cepat juga. Apa kau yakin dengan ini?


Kau tau bukan, keputusanmu mempengaruhi semua yang akan kau lakukan.”


Kangmin      : “Iya, anda benar, tapi keputusanku adalah iya dan aku yakin akan hal ini. Sebab dari itu mohon kerja samanya.”


Sara             : “baiklah kalau begitu sekar....ang..” (disela)


Michael        : “Kauuu kerasukan yakk.. bagaimana dengan anak-anak lain. Mereka pasti akan memberontak dan protes dengan keputasan kita ini.” (menyela pembicaraan Sara)


Kangmin      : “Sudah 8 tahun berlalu.”


Michael        : “8 tahun??” (bingung dengan ucapan kangmin)


Kangmin        : “Apa kita akan seperti ini terus? Ini sudah 8 tahun berlalu. Mau sampai kapan kita akan keras kepala, dan selalu menolak tanpa tau apa isinya, dan melewatkan momentum yang mungkin itu adalah momentum yang begitu beharga untuk kita semua. Apa kau mau hah??”


Michael       : “eeh..tentu saja tidak ta.pi i.ni..”


Kangmin     : “Tenanglah, aku sudah mengurusnya dengan matang.”


Kangmin        : “huuh aku bilang tenanglah. Soal itu aku sudah mempersiapkannya, dan aku juga sudah membuat surat perjanjian dari pihak kita.”


Sara             : “Benar yang dikatakan kangmin. ia sudah mempersiapkannya dengan matang. Lihat!!”


Sara mengeluarkan surat perjanjian milik sekolah Lentera yang dibuat oleh Kangmin dihadapan Michael teman Kangmin.


Kangmin        : “bagaimana? Kau masih mau mengelu apa lagi? Bahwa aku ini tidak memikirkan keputusan ini dengan baik hah!!”


Michael        : “jadi.. kau sudah memikirkannya dengan matang.”


Kangmin      : “Ya, dengan matang.”


Michael        : “Sangat matang?” (bertanya untuk kedua kalinya)


Kangmin      : “Iya sangat matang dan sangaatt matang.” (menjawab untuk kedua kalinya dengan tatapan serius)


Sara             : “hahhaha kalian berdua sangatlah lucu.” (tertawa)


Kangmin      : “aah maafkan kami no.na.. ah maksudku Sara.”


Sara             : “heem.. baiklah, kalau begitu aku akan menerima ini kangmin. Walau pun sekarang aku bukan ketua osis saat ini. Namun, aku akan mencoba untuk menghubungkan kedua bela pihak dengan baik, oke.”


Kangmin        : “Baiklah Sara, mohon kerja samanya.”


Michael masih memikirkan keputusan ketua osisinya tersebut, dan masih memikirkan apa benar surat perjanjian yang dibuatnya (Kangmin) sudah matang dan akan berhasil. Namun ia merasa akan ada suatu perubahan yang terjadi disekolahnya. Ia yakin temannya tersebut sekaligus ketua osisnya tersebut, pasti tau apa yang akan dilakukannya.


Sedangkan Sara terkejut dengan temannya tersebut. Namun ia merasa senang akhirnya keputusan yang ia tunggu-tunggu terwujud.


Kangmin dan Michael pun selesai dari urusannya dan beranjak pergi dari sekolah Sara. Sedangkan Sara mengatar mereka hingga kepintu gerbang sekolah.


***


Sara            : “suratnya ada dua, surat undangan dan surat perjanjian yang dibuat oleh Kangmin. Aku sudah melihatnya sekilas, sepertinya Kangmin ingin hubungan ini terjalin dengan nyaman dan aman.


Sara yang masih tidak percaya dengan jawaban yang diberikan kangmin selaku ketua osis disekolahnya. Memandang amplop coklat sekali kali.


Sara             : “hampir saja aku mengatakan kepada ketua osis ka*p*rat itu kalau mereka menolak. Tapi sepertinya kata itu tidak akan terjadi hehehe.” (sambil membolak balik surat undangan tersebut lalu beranjak pergi keruang ketua osis)


Ketika Sara hendak membawa surat undangan yang ia pegang keruang ketua osis. Namun, tiba-tiba saja ada penampakan seseorang yang begitu tiba-tiba muncul didepannya tanpa mengabarinya.


Ira             : “Iyalah tidak akan terjadi. Karena aku yang sudah membereskannya.” (Ira yang tiba-tiba muncul didepan Sara)


Sara          : “H’ntuuu..” (terkejut melihat Ira yang muncul tiba-tiba)


Ira             : “Hah!!”


Sara          : “I-Ira astagaa.. apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain mengejukankuu, Nona muda Ira.”


Ira            : “TIDA ADA.” (dengan wajah datar menjawab pertanyaan Sara)


Sara         : “huuh.. percuma aku bertanya kepadamu.”


Ira            : “ehemm.. sepertinya dia sudah membuat keputusannya.” (sambil melihat amplop)


Sara         : “Ya kau benar.”


Ira           : ta.pi ... jadi tidak menarik sama sekali. Padahal aku masih ingin melihatnya mencari dan mencari, itu sangat seru bukan.”


Sara         : “eiyy.. apa kau bisa mengelola katamu itu dengan baik nona muda Ira.”


...(tatapan dingin dan tajam Ira terhadap Sara)...


Sara        : “aah oke.. oke.. sorry. Soal ini, sepertinya iya, dia sudah memutuskan untuk menerima surat undangannya. Tapi ia juga memiliki surat perjanjian yang belum aku lihat dan kuketahui. Tapi sepertinya ia ingin menjalin kerja sama dengan pihak kami begitu lama kelak.”


Ira              : “Sepertinya begitu. Tapi apa kau yakin belum melihatnya? (maksudnya surat perjanjian).”


Sara           : “Yaa.. aku hanya melihatnya sekilas.” (menjawab dengan spontan)


Ira               : “Benarkahh...” (mengoda Sara)


Sara           : “ya hanya seki..las ...??” (mulai merasa curiga)


...(saling memandang beberapa detik)...


Sara            : “apa kau sedang mengodaku ira??” (merasa curiga)


Ira               : “uhemm..?? Hehhe tidaklah, jika kau hanya melihatnya sekilas maka hanya sekilas itulah yang kau ketahui, bukankah begitu?”


Sara             : “ya itu benar, tapi apa maksud dari ucapanmu Ira?” (binggung)


Ira               : “bukan apa-apa, hanya sebuah ucapan yang ingin diucapakan saja hehhe.”


Sara             : “haa??” (pikiran yang bertambah membingungkan)


Sara yang sudah terbiasa dengan sikap dan perilaku temannya yang super duper ini. Karena ia adalah keluarga konglomerat, jadi apa pun yang ia lakukan tidak masalah baginya dan akan jadi masalah jika itu adalah dirinya sendiri.


Sara           : “Lalu apa yang membuatmu kemari Ira?” (Sara yang berjalan menuju keruang ketua osis namun temannya tersebut mengikutinya entah ia mau melakukan apa)


Ira              : “Tidak ada, aku hanya ingin bertemu seorang teman.” (berbicara blakblakan)


Sara           : “Ouww teman ... haah teman? Bukankah temanmu yang bersekolah disini hanya aku saja nona muda Ira?”


Ira              : “TIDAK.” (dengan wajah datar menjawab sara)


Sara           : “Hah!! I.R.A.” (dengan wajah kesal memandangi Ira dengan penuh pertanyaan)


Dring..dringg.. (suara dering ponsel Ira)


Pesan masuk


Saya berada


diperpustakaan sekolah Ngeri Mukti 1, lantai dua nona. Dokumen yang anda minta


telah saya siapkan nona muda Ira.


tripleX


Ira yang melihat pesan tersebut langsung menutupnya dengan cepat. Dan...


Ira              : “aah.. maksudku yaa.. hanya kau saja temanku yang bersekolah disini. Dan karena aku sudah melihatmu berhasil dengan pekerjaanmu. Aku ingin pergi sekarang sampai jumpa difestival.”


Sara           : “Hahh!! Iraa tu.ngg.uu..”


Ira yang meninggalkan temannya tersebut tanpa memperdulikan temannya tersebut.


Sara yang heran dengan perilaku Ira, yang entah kenapa dengan sikapnya tersebut sangat aneh. Namun ia tak begitu memperdulikannya dan beranjak pergi keruang ketua osis, untuk memberitahukan kabar baik dan juga surat perjanjian tersebut.


*cat: Itulah dua hari pencarian jawaban tuan Kangmin Centius Albert. Butuh nasehat dari nona muda Ira, hingga ia mengerti apa yang sebaiknya ia lakukan. Festival pun akan segera dimulai satu minggu lagi.