
SEKOLAH
Murid C : “Heii.. aku dengar sekolah Negeri Mukti sedang mempersiapkan hari valentine.”
Murid A : “Kau benar.. sepertinya sekolah kita tidak akan berpastisipasi dengan sekolah sampah yang menghina sistem pembelajaran kita.”
Murid E : “Iya kau benar.. mereka itu tidak sebanding dengan kita."
Murid W : “Pahadal mereka itu remaja yang sudah dewasa bukan. Tapi perilaku dan kelakuannya tuh lho tidak mencontohkan baget.”
Murid A : “Iya kau benar, tapi perempuan disana cukup cantik tau.”
Murid W : “Hahha iya kau benar, lebih cantik dari duta sekolah kita.”
Murid C : “Hahha iya betul hahha.”
Murid A,C,E,W tertawa bersama
Kangmin yang berada dibalik tembok aula sekolah untuk membaca buku (menenangkan pikiran), tanpa diketahui murid-murid tersebut, bahwa ia berada disana dan mendengarkan pembicaraan mereka dengan begitu jelas tanpa sensor apa pun.
Namun, yang Kangmin rasakan bahwa yang mereka katakan ada benarnya. Tidak ada alasan bagi kami untuk datang berpartisipasi, jadi undangan yang diberikan Sara adalah mustahil. dan memutuskan untuk segera memberikan jawabannya kepada nona Sara segera.
Pukul 13.00
Bel Pulang Sekolah Berbunyi..
Ruang OSIS
Michael : “Kangmin.. lihatlah banyak sekali undangan dari beberapa sekolah. Sepertinya sekolah kita ini memang sudah terkenal ya bahkan surat yang diberikan bisa sebanyak ini.”
Kangmin : “..uhumm iya sepertinya begitu.” (tidak begitu peduli)
Michael : “Ada apa denganmu Kangmin? Apa terjadi sesuatu? Ahh aku tau pasti karena Ira yang selalu saja cutek denganmu, benar bukaan hehhe.”
Kangmin : “TIDAK.. sebaiknya kita bereskan surat ini semua.”
Michael : “Baik Siap Ketua.”
Surat yang diterima oleh sekolah Kesatria Letna adalah surat undangan untuk mengadiri seminar, perwakilan dari sekolah atau duta. Dan surat undangan tersebut dari sekolah yang terpandang dan begitu terkenal.
Walau pun begitu pikiran Kangmin masih tidak bisa fokus, karena surat undangan yang diberikan Sara dan juga ucapan yang dikatakan Sara ketika beranjak pergi.
Kediaman Keluarga Inti Albert
Pukul 15.00
Kepala pelayan Kenta : “Selamat siang, tuan Kangmin.”
Kangmin : “eeh.. Se-selamat siang, kepala pelayan Kenta. Maafkan saya tidak mengetahui bahwa anda telah kembali, kepala pelayan Kenta? Bagaimana keadaan anda?”
Kepala pelayan Kenta : “tidak masalah tuan kangmin, saya telah kembali kemarin sore dengan keadaan baik-baik saja.”
Kangmin : “Bagus kalau begitu.”
Kepala pelayan Kenta : “apakah tuan kangmin datang untuk mencari nona muda Ira?”
Kangmin : “aah iya benar, nona muda Ira memerintahkan saya untuk membawanya kanvas dan juga cat.”
Kepala pelayan Kenta : “begitu rupanya, nona muda Ira sekarang sedang berada diperpustakan lantai 2 tuan.”
Kangmin : “Baiklah saya akan segera kesana, untuk memberikan ini kepada nona muda Ira sekarang.”
Kepala pelayan Kenta : “Kalau begitu, biar saya antar tuan Kangmin keruang perpustakan.”
Kangmin : “aah.. soal itu tidak perlu. Saya sudah pernah pergi kesana beberapa kali, jadi tidak perlu mengantarku kesana, kepala pelayan kenta.”
Kepala pelayan Kenta : “Begitu rupanya, baik tuan. Silakan lewat sini tuan Kangmin.”
Kangmin : “Baiklah, terima kasih kepala pelayan Kenta.”
Kangmin yang membawa kanva dan juga beberapa cat untuk melukis. Pergi menuju keruang perpustakaan yang berada dilantai 2.
Ruang Perpustakaan..
Tok..tok..tok (suara ketukan pintu)
Ira : “Masuklah..”
Kangmin : “Salam nona muda Ira. Saya membawakan yang anda inginkan.” (memberi salam dengan sopan)
Ira : “ehmm.. tarulah kanvas itu ditempatnya dan letakan catnya dimeja yang ada didekatnya.”
Kangmin : “Baik nona muda.” (menjawab dengan sopan)
Ira : “Laluu.. jangan memanggilku dengan nona muda apa kau lupa dengan apa yang pernah aku katakan.”
Kangmin : “ah.. maafkan saya Ira. Tapi apa yang akan kau lakukan dengan ini? Tidak seperti biasanya kau ingin melukis.” (berbicara seperti biasa)
Ira : "ehem soal itu, aku hanya sedang ingin saja. Memangnya kenapa apa aku tidak boleh melakukannya.” (dengan wajah datar menjawab pertanyaan Kangmin)
Kangmin : “hehhe tentu saja boleh.”
......(kesunyian beberapa menit)......
Ira : “Oya kangmin, tadi aku sempat bertemu dengan Sara.”
Kangmin : “huuh.. benarkah?” (menjawab tapi tidak begitu peduli)
Ira : “Katanya ia memberikanmu sesuatu, tapi kau belum bisa memutuskannya akan bagaimana. Walau begitu ia tidak memberitahuku akan apa sesuatu itu.”
Kangmin : “ahh soal itu bukan hal yang penting.” (menjawab tapi tidak begitu peduli)
Ira
yang hanya diberitaukan sedikit informasi (maksudnya Sara) pun merasa kesal, sebab
sesuatu yang ia tidak sukai. Namun jika itu mencakup sesuatu hal yang begitu
penting untuk masa yang akan datang sekecil apa pun. Ira akan berusaha dengan
hasil terbaik.
Ira : “... huuh kau tau, aku tidak akan peduli dengan apa yang ia (Sara) ucapkan. Tapi jika kau memang tidak bisa memutuskannya. Mengapa kau menjadi KETUA!!” (nada bicara Ira yang begitu ditinggikan karena merasa kesal dengan temannya tersebut)
Kangmin : “ah.. itu bukan hal yang penting.” (jawaban yang sama untuk kedua kali)
......(keheningan beberapa detik)......
Ira : “Apa kau tau, apa yang ia (Sara) katakan kepada kepadaku TU.AN.. KANG..MIN!!” (nada bicara yang ditegaskan)
Kangmin : “ehemm ya? Memang Sara mengatakan apa kepadamu Ira?”
Ira : “unda..gan....” (sela)
Kangmin : “Biar aku tebak.. bukan hal penting, hanya mengoceh seribu kalimat perkata.” (menyela pembicaraan Ira)
Ira : “Mengoceh... bukan hal penting lagi... Apa kau tau, KESABARANKU ADA BATASNYA TUAN KANGMIN CENTIUS ALBERT!!” (nada yang ditegaskan dan ekspresi wajah yang begitu tajam dan dingin)
Kangmin : “gelek..” (merasa takut dan cemas)
Ira : “enough, keluar dari ruanganku sekarang!! Kau lebih dari buruk kangmin. Apa kau berpikir bahwa rumor adalah sebuah kebenaran. Lalu bagaimana dengan kebenaran dari rumor tersebut, apa kau akan mengatakannya sebagai kebohongan belaka.”
Kangmin : “eeh.. bu-bukan itu maks...ud” (disela)
Ira : “Kau lebih buruk dari setumpuk kertas coretan Kangmin, sangat buruk.” (menyela pembicaraan kangmin)
Kangmin yang terkejut dengan yang dikatan Ira. Seakan-akan ia mengetahuinya dan sedang mencoba untuk memberikannya solusi dari permasalahannya. Walau sedikit menyakiti dirinya (Kangmin).
...(keheningan beberapa detik dan suasana berubah menjadi cangung)...
Kangmin : “... maafkan saya nona muda Ira, saya akan keluar untuk menyiapkan makan malamnya, salam.”
Kangmin pun beranjak keluar dari ruang perpustakan tersebut dan menyiapkan makan malam seperti yang diperintahkan oleh nona muda Ira keluarga Albert.
Ira : “huh.. gambarnya jadi jelek rupanya. Mengapa juga aku ingin melukis. Ahh ya itu karena anak bernama Sara. Akukan menghabisinya ketika bertemu dengannya lagii.”
PERPUSTAKAAN
PUKUL 17.30
Ira yang sedang melukis sedari sore, tanpa sadar ia meluapkan emosi dan kekesalannya dengan melukis sepanjang waktu. Lukisan yang ia gambar adalah aurora yang melintasi galaksi dengan seorang wanita yang begitu cantik rupawan.
Walaupun begitu, lukisan yang digambarkan Ira memiliki sedikit kecacatan. Karena ia sedang mengkhawatirkan temannya (kangmin), yang sedari tadi tidak mengatakan apa yang sedang terjadi. Membuatnya berpikir begitu keras.
Ira : “Sebetulnya mengapa juga aku mau melukis?? Aah.. benar juga, gara-gara anak itu aku harus melukis. Jika aku bertemu dengannya aku akan habisi.” (merasa kesal sediri)
*cat : anak itu adalah Sara teman dekatnya yang lain.
Dari luar rungan perpustakaan..
Tok..tok..tok (suara ketukan pintu)
Kangmin : “Ira, makan malam telah selesai disiapkan. Apakah kau ingin makan dibawah atau ingin aku dibawakan keatas?”
Ira : “Tidak perlu aku akan kebawa sekarang.”
Ira yang keluar dari ruang perpustakaan. Disekunjur badannya terdapat cat dimana-mana.
Kangmin : “Apa kau ingin mandi terlebih dahulu Ira, setelah itu makan malam? Seluruh badanmu banyak cat.”
Ira : “Tidak perlu, aku mengenakan apron jadi tidak akan terkena hingga kebajuku.” (sambil melepas apronnya)
Kangmin : “eeh ta.pi...”
Ira : “Aku akan kebawah sekarang. Kau bawa apron ini dan suru pelayan untuk membersihkannya, jangan ada noda yang tersisa.”
Kangmin : “Begitu rupanya, baiklah aku mengerti.”
Kangmin yang pergi membawa apron milik Ira untuk dibersihkan sedangkan Ira pergi keruang makan.
RUANG MAKAN
Ira yang lelah, karena dari tadi ia melukis diperpustakaan dan tidak ada satu orang pun yang membawakan camilan. Merasa begitu lapar dan makan begitu banyak dan begitu lahap.
Kepala Pelayan Kenta dan juga Bibi yang melihat begitu senang karena nona muda begitu lahap dengan masakan yang dihidangkan Bibi . Dan akan tumbuh dengan sangat baik dan sehat.
Namun ditengah-tengah Ira yang sedang menikmati makan malamnya...
Kangmin : “Nona muda Ira. Makan malam telah saya siapkan, apakah saya diperbolehkan kembali ke kediam saya nona muda?”
Ira : “Ohh soal itu. Kau bisa pergi sekarang, tapi ada yang ingin kukatakan kepadamu.”
Kangmin : “..iya” (merasa bingung)
Ira : “Aku hanya ingin bertanya sesuatu ini bisa berati dan bermakna jika kau mengerti yang dimaksudkan.”
Kangmin : “Baiklah nona muda Ira.” (berbicara sopan)
Ira : “Hubungan antar dua jika sudah pecah berkeping-keping atau benang yang sudah rusak atau putus. Tidak akan bisa diperbaiki, maka ia harus membeli yang baru. Walau kata maaf seseorang terlontarkan, pasti ada perasaan yang masih berbekas. Tapi apa kau tau arti love?”
Kangmin : “Cinta..Sayang..Suka..”
Ira : “Ya itu benar, tapi maksudku apa kau mengerti apa arti sebenarnya dari kata love itu?”
Kangmin : “Arti sebenarnya. Maksud anda love yang mengartikan kata cinta kepada seseorang karena ia sudah berada disisinya atau seseorang yang sudah menemaninya selama sisa hidupnya. Adapun perasaan sayang akan seseorang sehingga tidak ingin kehilangan dirinya. Adapun juga perasaan suka karena menyukainya yang apa adanya dan selalu berusaha dengan kekuataannya. SAYA PAHAM BETUL AKAN HAL ITU NONA MUDA.”
Ira : “..TIDAK kau TIDAK MENGERTI SAMA SEKALI. Bahkan kau sekarang berani MENENTANGKU TUAN KANGMIN CENTIUS ALBERT.”