
Setelah aktivitas pagi itu terselesaikan dengan baik. Vale keluar dari kamar dengan sedikit mengendap. Malu juga bila tertangkap basah oleh Ayah dan Ibunya di belakang.
Langkah kaki Vale begitu pelan dan sangat hati -hati dengan kedua mata yang terus celingukan mengawasi keadaan. Walaupun sudah SAH, emlakukan hal yang masih tabu itu tentu membuat Vale kurang nyaman bila di bahas saat berkumpul nanti.
Dengan cepat Vale masuk ke dalam kamar mandi. Sepertinya Ayah dan Ibunya belum bangun, mungkin kedua orang taunya masih kelelahan karena harus mempersiapkan pernikahan kilat dari Vale dan Farel.
Saat Vale keluar kamar mandi, Ibu sudah mulai memasak dan melirik ke arah Vale yang tertunduk malu.
"Ekhemmm ... Lain kali, volume suaranya di perkecil. Ini di kampung bukan di kota," titah Ibu pada Vale.
"Ibu ... Vale ke kamar dulu, setelah ini, vale bantuin masak untuk sarapan pagi," ucap Vale malu langsung berjalan cepat menuju kamar tidurnya.
Dengan cepat, Vale masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar dengan sangat rapat sambil menyandarkan tubuhnya seperti habis di kejar anjing tetangga. Napasnya begitu memburu dan terasa keras berhembus. Farel langsung mentaap Vale yang terlihat gugup dan panik.
"Kamu kenapa? Udah selesai mandinya? Mas gantian mandi," ucap Farel santai.
"Anu itu ada Ibu. Kaget," ucap Vale terbata hingga tak jelas suaranya.
Farel mengulum senyumnya dan kemudian terkekeh membuat Vale melotot kesal.
"Kok malah ketawa sih? Deg -degan tahu, kan malu ketahuan sama Ibu," cicit Vale lirih sambil berjalan ke tempat tidur dan duduk di tepi ranjang dekat Farel, suaminya.
Farel mengakkan duduknya dan mengusap kepala Vale pelan sekali untuk membesarkan hati Vale, istrinya.
"Kenapa mesti malu? Kita SAH, bukan hubungan gelap yang tanpa restu, bukan? Melakukan hubungan suami istri kan hal yang lumrah. Melakukan malam pertama juga hal yang wajar saja," ucap Farel pelan sekali.
"Terus? Itu yang buat kamu malu sama Ibu?" tanay Farel pelan.
Valeria mengangguk pasrah. Rasanya kayak tidak pantassaja, melakukan hal itu di rumah sendiri, berasa tabu dan canggung.
"Iya Mas," jawab Vale pelan.
"Gak perlu malu. Kalau di godain, cukup kasih senyuman aja. Toh, belia lebih paham masalah seperti ini. Terus, kalau memang Ibu kasih masukan seperti itu, ya, kita turuti. Kita berusaha sebaik mungkin untuk tidak merusak suasana rumah dengan keegoisan kita," ucap Farel pelan.
"Bukannya suara itu alami lolos gitu aja. Aku kan gak di buat -buat, Mas," ucap Vale membela diri.
"Nah, maka dari itu. Semua itu alami, jadi gak usah malu. Kalau memang Ibu bilang untuk mengecilkan volumenya, kita yang harus kontrol diri, karena disini ada Dimas, takutnya Dimas denger hal -hal yang belum pantas di dengar," ucap Farel menjelaskan,.
Vale masih terdiam. Pagi ini ia merasa malu pada Ibunya sendiri. Ternyata begini rasanya baru menikah, ada enak dan tidaknya.
"Paham gak? Ya udah, Mas mau mandi dulu. Kamu sholat shubuh dulu sana," titah Farel pada Vale, istrinya.
"Huftt ... Tadi nyentuh kepala Vale, batal dong wudhu Vale, harus ulang lagi. Arghhh ... Mas Farel nih, ngeselin," ucap Vale kesal.
"Lhaa ... Kok jadi Mas yang di salahkan. YA udah kita ke kamar mandi bareng, biar gak malu," ucap Farel mengajak Vale.
Seharusnya yang malu itu adalah Farel, karena Farel yang saat ini menumpang di rumah mertuanya. Tapi ini malah kebalikannya, Vale yang sepertinya lebih canggung dengan kedua orang tuanya sendiri.
Akhirnya pasanagn pengantin baru itu keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Valeria yang ingin mengulang wudhunya, dan Farel yang ingin mandi besar.