
Kia dan Valeria santai di depan televisi sambil menonton film yang mereka pilih. Suasana romantis dan komedi bercampur menjadi satu membuat Kia dan Vale tidak mengantuk dan malah merasa seru menonton film tersebut.
Kia yang serius menonton televisinya sambil mengedepin toples keripik singkong balado sampai ludes tak bersisa.
"Serius amat? Suka ya sama filmnya," tanya Vale pelan sambil menutup setengah tubuhnya dengan selimut. Vale selalu menutup kakinya dengan selimut, itu adalah ciri khas Vale yang ingin nyaman. Cuaca sepanas apapun, kalau tidur dan bersantai tetap selimut menjadi tujuan utama Vale.
Kia menoleh ke arah Vale, kakak iparnya dan tersenyum manis, lalu mengangguk kecil.
"Filmnya bagus banget, suka banget film yang beginian, romantis, komedi tapi banyak pesan tersirat di dalamnya," ucap Kia pelan.
Perut Kia mulai kenyang. Beberapa toples habis tak bersisa oleh dirinya, belum lagi kue bolu yang di piring juga terbabat semua hingga piring itu bersih dan kosong.
Kia memundurkan tubuhnya dan bersandar pada sofa bagian bawah yang lam kelamaan tubuhnya mulai mendelosor dengan bantal sebagai tumpuan kepalanya.
"Kalau ngantuk tidur saja. Ini filmnya masih lama, masih satu jam lebih," ucap Vale pelan.
"Tapi seru Kak. Nantri Kia gak nonton gimana endingnya?" ucap Kia sedih.
"Ya sudah. Kita skip aja. Kita masuk kamar untuk tidur. Besok kita lanjutkan lagi acara nontonnya. Gimana?" tanya Vale pada Kia.
"Siap Kak Vale. Kia ke kamar dulu ya? Ngantuk banget. Mas Farel belum keluar dari kamar Ibu?" tanya Kia sambil menatap pintu kamar Ibu Maryam yang masih tertutup rapat dan tidak ada tanda -tanda Farel keluar.
"Belum. Biarin aja. Mungkin masih banyak yang harus di bicarakan oleh Ibu dan Mas Farel. kak Vale ke kamar duluan ya. Capek, ngantuk juga," ucap Vale pelan.
"Iya Kak," jawab Kia pelan.
Kedua adik kakak ipar itu pun masuk ke dalam kamar masing -masing.
***
Farel masih memijat kaki dan tangan Ibu Maryam, hingga wanita tua yang telah melahirkannya itu benar -benar tertidur pulas. Sudah lama sekali, Farel tidak pulang ke rumah ini. Ibu Maryam nampak lebih cepat tua dan sudah banyak uban serta keriput di wajahnya. Tidak itu saja, tubuhnya mulai kurus dan terlihat lemah.
Farel mulai mencari alasan kepada Valeria, untuk pindah ke kota kelahirannya ini, untuk menjaga dan merawat Ibu Maryam. Tapi, entah Valeria mau menerima permintaan Farel atau tidak. Keduanya masih kuliah dan masih sama -sama sibuk akan tugas kuliah.
Setelah di rasa Ibu Maryam terlelap pulas, Farel pun menutup tubuh Ibu Maryam dengan selimut hingga ke bagian dada Ibunya, lalu keluar dari kamar itu.
Pandangan kedua mata Farel menatap ke arah ruang tengah yang sudah kosong tak ada satu orang pun. Hanya tertinggal karpet dan boneka besar serta toples -toples kosong yang belum sempat di bereskan.
Kedua mata Valeria terbuka pelan dan memnadangi wajah Farel yang tampan dengan alis tebal dan wajah mulus tanpa jerawat. Valeria pun mencium rahang suaminya hingga lelaki itu membuka matanya dan mencium bibir Vale.
"Kamu belum tidur, Sayang?" tanay Farel pelan.
"Belum, memang sengaja nunggu Mas Farel. Tapi tadi sempat sekrejep aja sih, agak ngantuk. Kok lama Mas? Ada apa? Ibu gak suka sama aku, ya?" cicit Vale sedikit cemas.
Farel hanya tersenyum dan mnegecup kepala Vale lembut.
"Mana ada seorang Ibu tidak suka denagn anaknya. Apalagi anak menantunya idaman banget," ucap FArel tertawa.
"Kamu itu sellau bisa buat aku terbang melayang, Mas. Tapi inget jangan terus di jatuhkan di saat aku lagi senang," ucap Vale sambil mengerucutkan bibirnya dengan gemas.
"Kok ... Tiba -tiba Mas pengen bikin anak ya?" ucap Farel tertawa sambil mengecupi bibir Vale agar istrinya ikut bergairah.
"Hemmm ... Memang Mas farel gak capek?" tanya Vale pelan.
"Gak. Memangnya gak boleh?" tanya Farel menyipitkan keuda matanya.
"Boleh aja," ucap Vale pelan.
Mendengar jawaban Vale, istrinya tanpa berpikir panjang, Farel mulai mencium bibir Vale denagn penuh gairah. Satu tangannya mulai meremas gundukan bukit kembar yang sudah jinak tanpa pagar betis.
"Matiin lampunya, Mas," pinta Valeria pelan.
"Kenapa? Biasanya juga gak di matikan, gak masalah?" tanya Farel pelan.
"Malu Mas," cicit Valeria kembali.
Padahal mereka sudah beberapa kali melakukan itu, tapi baru kali ini Valeria bilang malu.
"Ini bukan pertama kalinya kita melakukan ini, lho. Kenapa harus malu?" tanya Farel pelan sambil membuka kancing daster yang di pakai Valeria.
Malam ini menjadi saksi bisu atas eknikmatan yang mereka rasakan untuk kesekian kalinya. Hidup mereka, jiwa dan raga yang telah menyatu membuat mereka menjalani aktivitas sehari -hari makin terasa lengkap.