
Satu bulan kurang tiga hari telah berlalu. Farel dan ketujuh sahabatnya mendatangi temapt KKN Valeria dnegan membawa satu fuso sembako, alat tulis, alat sekolah, sepatu dan pakaian. Semua itu di jual murah. Hasilnya akan di sumbangkan untuk pembangunan mesjid.
Farel sengaja bersedekah emlalu bazar murah untuk kelancaran persalinan Valeria.
"Gila suami lo emang keren dan the best banget, Val. Royal dan sweet sama istrinya," ucap Erika yang nampak iri sejak awal.
Iri sebatas ingin mencari sosok lelaki yang mirip dengan Farel, bukan untuk merebut yang bukan haknya.
"Alhamdulilalh. Kebetulan aja sih, Rik. Mas Farel itu sahabat SMA. Kita satu geng tuh berdelapan, dan sekarang jodoh kita ada di dalam genk itu. Dulu hanay karena permainan truth and dare, akhirnya Mas Farel berani mengungkapkan rasa sukanya sama aku, yang sudah terpendam dari SMA. api dia langsung ngajak aku nikah, dia datang ke rumah aku dan melamar. Awalnya Bapak dan Ibu juga kurang setuju, tapi akhirnay menyetujui karena anaknya sudah cinta," ucap Vale terkekeh.
"Intinya sih, sudah takdir. Jodoh memang pilihan, tapi sebenarnya pertemuan kita dengan pilihan jodoh itu sudah di takdirkan," imbuh Vale pada Erika.
Semua persiapan bazar murah di depan halaman rumah kepala desa sedang di persiapkan. Farel masuk ke dalam rumah untuk mencari Vale istrinya yang sdeang membuat kopi untuk Farel.
"Sayang ... Masa suami datang gak di depan," ucap Farel mencuri ciuman di bibir Vale yang sedang meracik kopi.
"Mas ... kalau ada yang lihat gimana? Ini lagi bikin kopi biar enak nongkrong di depannya. Mas Farel gak beli susu hamil? Kan Vale pesen kemarin? Vale udah dua hari gak minum, soalnya habis. Mau beli males, mau titip juga lupa terus," ucap Vale jujur.
"Hemmm kan ... Anak Papah gimana nih, udah dua hari gak minum susu, Mamahnya kayaknya senagja nih melakukan pembiaran," ucap Farel mencubit hidung Vale dengan gemas.
"Enak aja pembiaran. Susunya ad di mobil, atpi Mas bawain yang siap saji, biar gak repot. Di kost juga udah ada MAs siapin lima box," ucap Farel pelan.
"Banyak aja." ucap Vale pelan.
"Biar sehat sayang," ucap Farel mesra.
Hari terakhir KKN di tutup denagnbazar murah sebelum besok semua pelaksana KKN akan kembali ke habitatnya masing -masing.
Acara itu sangat sukses dan lancar di bantu juga oleh enam sahabat Farel dan Vale.
"Kami semua mau berpamitan kepada seluruh warga masyarakat desa kwilet. Terima kasih atas perhatian dan pasrtisipasinya mendukung seluruh program ekrkja yang kami lakukan di deas ini," ucap ketua KKN pada semua warga yang hadisr di acara perpisahan.
Farel memebrikan donasi hasil penjualan sembako murah kepada Kepala desa kwilet untuk biaya renovasi Masjid.
Semua warga nampak bersedih. Kehadiran mahasiswa dan mahasiswi yang melakukan KKN di desanya. sanagt membantu seklai untuk ekonomi kehidupan masyarakat terbelakang ini. Mereka banayk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran dari semua ilmu yang di berikan oleh pelaksana KKN.
Di tambah, adanya bazar murah yang sangat membantu para warga tidak mampu untuk membeli sandang, dan pangan yang menjadi kebutuhan primer setiap keluarga.
Terakhir, Farel ternyata memberiakn satu paket parsel untuk di bagikan pada setiap rumah atau setiap kepala keluaga.
KKN semeter pendek ini penuh kenangan yang indah. Menjalani dengan hati yang tulus dan ikhlas ternyata memberikan kebahagiaan tersendiri bagi anggota KKN. Semua menangis, dan tidak bisa menahan tangisan. Semua saling berpelukan. Anak -anak kecil yang biasa berteriak meminta peluk dan gendong bahkan minta di belikan permen karena orang tuanya tidak bisa memberikan uang jajan.
Farel juga menyiapkan bingkisan untuk anak -anak yang jumlahnya tidak mencapai lima ratus orang itu satu desa kwilet.
Valeria memeluk erat Farel, suaminya dan mengucapkan banyak terima kasih karena telah banyak membantu Valeria dan teman- temannya.
"Thanks ya Rel," ucap ketua KKN itu terharu.
"Gue yang terima kasih. Lo semua jaga vale dengan baik. Itu sudah membuat gue lega," ucap Farel merangkul ketua KKN itu dengan erat.