The Magic Of Love

The Magic Of Love
7



Anggukan pelan Valeria menunjukkan bahwa istrinya itu telah siap. Tidak perlu di paksa, tapi dengan sendirinya Vale mau memberikan kegadisannya dengan ikhlas.


Farel tersenyum manis dan melanjutkan aksinya menciumi leher mulus istrinya. Karena sedikit kalap dan terbawa nafsu, ada jejak merah tanda kepemilikan Farel di leher Valeria. Valeria menahan erangannya.


Tangan Farel mulai menyikap daster Vale yang ada di bawah selimut berbulu itu. jari jemarinya seolah sudah tahu arah jalan yang benar menuju perbukitan yang selalu membuat candu setiap kaum adam ingin menyentuh dan menikmatinya. Tapi, sayang sekali, lagi -lagi perbukitan itu masih perboden dan di kelilingi pagar yang cukup kuat dan harus di lepas dengan campur tangan pemilik bukit.


Napas Farel makin memburu tubuhnya sudah menindih Vale. Maklum sekuat -kuatnya iman lelaki jika melihat hal yang sudah halal dan SAH untuk dirinya, tidak ada salah jika Farel meminta haknya.


Daster Vale sudah terlepas dari tubuhnya dan kini tinggal menyisakan segitiga pengamannya saja, pagar tinggi yang mengelilingi bukit juga sudah terlepas dan di buang entah kemana. Farel sendiri mulai bergairah melihat apa yang ada di depannya kini. Sambil melafalkan doa sebelum melakukan hubungan suami istri itu dan tetap harus berada di bawah selimut berbulu.


Tubuh Farel sudah polos, dan pusakanya sudah siap untuk menembus lautan yang begitu dalam tanpa ada penghalang.


"Kamu gak perlu khawatir, masalah jadi atau tidak biar menjadi urusan Allah. Jangan pernah takut keamanahan seorang anak. Kamu masih bisa kuliah dan menyelesaikan kuliah kamu, kita bersama menugurus anak," ucap Farel meyakinkan valeria yang sejak tadi hanya terdiam.


Valeria mengangguk pasrah. Ingin di hentikan, tapi Vale juga penasaran dengan rasa malam pertama yang tenyata membuat Valeria ingin dan ingin lagi mencoba hal yang selama ini membuatnya penasaran.


"Iya Mas. Vale paham," ucap Valeria pelan.


"Kita mulai ya. Mas buka ini ya? Gak apa- apa kan?" tanya Farel pelan.


Keduanya sudah sama polosnya dan hanya tertutupi selimut berbulu. Tubuh Farel sudah berada di atas tubuh Vale dan mulai menikmati perbukitan yang mulai ranum dan belum tersentuh oleh siapapun. Bentuknya masih indah dan kencang serta bulat. Sungguh mempesona dan begitu memukau hingga Farel betah berlama -lama disana sambil sesekali mencium bibir Valeria.


Pusaka panjang milik Farel sudah siap menembus lautan yang sudah mulai basah dan bersiap terbang ke awan untuk menikmatinya.


"Ekhemm ... Kata orang sedikit sakit, kamu tahan kalau memang itu rasanya, Mas sendiri tidak tahu bagaimana rasanya," ucap Farel pelan dan mencoba menembus perboden lautan dalam itu.


Sesekali tusukan pusaka itu membuat Valeria meringis dan mengerang kesakitan.


"Sakit Mas," lirih Vale sambil menggigit bibirnya dan memegang kencang pinggang Farel.


"Kita coba sekali lagi ya," pinta Farel dengan nada memohon. Valeria mengangguk pelan.


Kali ini, Farel menusuknya lebih kuat dan langsung dalam satu hentakan membuat Valeria berteriak dan langsung di tutup bibirnya dengan bibir Farel agar tidak merintih dan mengganggu acara tidur anggota keluarga yang lain di dalam rumah ini.


Gerakan Farel mulai teratur dnegan ritme yang sama di mulai perlahan dan agak cepat dengan pusaka yang terus maju mundur. Perlahan rasa sakit itu hilang dan berganti dengan kenikmatan dan ******* yang lolos dari bibir Valeria tanda menikmati. Pergulatan panas yang sungguh spesial, spontan tapi tetap mendapatkan efek luar biasa.