The Magic Of Love

The Magic Of Love
31



Dosen pembimbing Valeria kemudian memeriksa skripsi yang telah di buat oleh Valeria.


"Kamu itu memang hebat. Jenius sekali. Kamu anak beasiswa?" tanya dosen itu lagi dan kedua matanya tetap membaca semua pekerjaan Valeria.


"Iya Pak. Saya memang anak beasiswa." jawab Valeria denagn jujur.


"Pantas sekali. Kamu paham dengan metode ini dnegan baik. tidak banyak anak didik mahasiswi saya yang paham jika saya jelaskan tentang metode ini," ucap dosen pembimbing itu dengan senang.


Dosen pembimbing itu membuka dan membaca dengan serius semua tulisan Valeria.


Beberapa menit kemudian, dosen pembimbing itu mulai membuka bukunya dan mulai menghitung hasil analissi Valeria dan hasilnya begitu tepat sekali. Tidak ada cacat dan sama sekali tidak ada kekurangan.


"Oke ... Minggu depan fix kamu akan sidang pendadaran, silahkan di rapihkan dan lusa kamu berikan kepada saya, untuk saya periksa lagi," ucap dosen itu penuh semangat.


"Serius Pak? Skripsi Vale di terima? Tidak ada revisi?" tanay Valeria penasaran.


"Tidak perlu. HAdiah untuk bayi kamu. Agar kamu cepat lulus," ucap dosen pembimbing itu dengan antusias.


Berulang kali Valeria mengucapkan terima kasih dan begitu abhagia dengan semua kebahagiaan ini.


***


Farel sedang duduk di depan teras. Ia baru saja datang dari rumah sakit karena hari ini, Ibunya harus kemoterapi sesuai dengan anjuran dokter yang memeriksannya.


"Tidak apa -apa sepertinya. Tadi hanya mengeluh pusing saja. Menurut dokter, Ibu harus kuat menjalani kemoterapi ini selama delapan kali. Ini baru dua kali, tapi Ibu terlihat lemah," ucap Farel yang juga bingung.


"Mas ... Kalau kita hentikan saja, kemoterapinya gimana?" tanya Kia bingung.


"Mana bisa gitu, Kia? Itu gak mungkin. Kalau kita hentikan, malah membuat kondisi Ibu semakin lemah," ucap Farel menjelaskan.


"Tadi Kia masuk ke kamar Ibu, dan Ibu diam saja sambil memegang kepalanya yang katanya sakit sekali," ucap Kia tak tega melihat Ibunya yang semakin hari semakin lemah tubuhnya.


"Itu proses Kia. Mau gimana lagi. Tugas kita itu menyemangati Ibu, bukan malah membuat Ibu stres," titah Farel pada Kia.


"Iya Mas. Tapi Ibu itu hanya mau ketemu Mbak Vale dan melihat calon cucunya. Mas Farel paham gak sih," ucap Kia kesal.


"Kia ... Kalau kamu gak tahu dan gak ngerti lebih baik gak usah ikut campur deh. Bikin Mas pusing aja," ucap Farel kesal.


"Mas Farel tuh egois. Mbak Vale juga egois. Kalian berdua itu sama -sama egois!! Gak ngerti perasaan Ibu. Mantu macam apa itu," ucap Kia ketus dan lantang.


Kia langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Farel di teras sendirin. Tangan Farel mengepal erat. Kalau adiknya laki -laki tentu sudah di ajak gelut sekarang juga. Sayang sekali, Kia adalah adik Farel satu -satunya dan perempuan. Mana mungkin Farel berani memukul Kia. Membentak saja, Farel trak berani. Bukan tidak mau, tapi Farel tidak mau menyakiti hati adik semanta wayangnya. Sejak kecil, Kia sudah di tinggal Ayah untuk selamanya. Ibu pun sibuk bekerja di luar rumah. Seacra otomatis kasih sayang yang di terima Kia tentu sangat kurang sekali.


Wajar, jika Kia begitu sayang kepada Ibunya. Ibu sudah Kia anggap pahlawan bagi hidupnya. Ibu tak hanya berperan sebagai Ibu saja tapi juga sebagai Ayah.


"Andaikan kamu tahu, Kia. Mas sudah berualng kali merayu Valeria untuk kembali pulang. Namun, memang cita -citanya terlalu besar untuk di gapai," batin Farel pada dirinya sendiri.