The Magic Of Love

The Magic Of Love
23



Farel mulai frustasi. Sejak kepergian Valeria, ia menghubungi istrinya tapi sama sekali tak di angkat teleponnya, pesan singkatnya tak di buka dan tak di baca. Farel mengepalkan tangannya dan memukul meja rias di kamarnya.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Rel ... Farel ... Kamu tidur? Ayo makan malam dulu. Ibu sudah siapkan makan malam di meja," ucap Ibu Maryam pelan.


"Ibu tunggu sekarang ya?" imbuh Ibu Maryam lalu bergegas pergi dari depan kamar itu saat mendengar suara pukulan di kamar Farel.


Farel menoelh ke arah pintu kamar dan meletakkan ponselnya lalu mengaca diri dan keluar dari kamar tidurnya untuk amkan malam bersama.


Farel berusaha menutupi wajahnya yang sedang kecewa dan eksal dengan Valeria, istrinya. Bisa -bisanya Vale dengan sengaja melakukan hal ini pada Farel. Mendiamkan dan mengabaikan pesan dan telepon Farel.


Ibu menatap Farel dari kejauhan yang datang menghampiri meja makan. Jelas terlihat mimik kesal dari garis wajah Farel.


"Sekarang makan dulu. Kesalnya di lanjutkan nanti lagi. Nikmati makan malamnya biar terasa berkahnya," ucap Ibu Maryam pada Farel.


Farel tak menjawab dan langsung duduk lalu membuka piring makannya dan mulai menumpahkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring makannya.


"Sepi ya? Biasanya ada Kak Vale yang bisa di ajak curhat, tapi udah pulang. Mas Farel, suruh aja Kak vale tinggal disini," pinta Kia pada Farel.


"Kia ... Makan dulu, habiskan dulu baru bicara. Lagi pula, Kak Vale itu kan masih kuliah. Nanti kalau sudah lulus pasti akan tinggal disini," ucap Ibu Maryam mencoba membuat suasana kembali enak dan nyaman seperti kemarin.


Farel nampak tak banyak bicara. Permintaan Kia pun sama sekali tidak di gubris oleh Farel. Farel masa bodoh soal ini.


"Rel ... Gak sebiknay kamu ke Cirebon dulu? Temani Vale dulu," pinta Ibu Maryam pada farel.


Farel sedang dongkol. Ponselnya hanya di lirik dan tidak ada pergerakan apapun. Lampu kamar di matikan dan Farel cepat tidur agar kepalanya tidak pusing.


***


Valeria sudah berada di lokasi tempat warnet, tempat raisa bekerja. Raisa sedang bicara pada bos pemilik warnet bahwa akan membawa satu temannya bekerja di sini.


Seperti biasa, setiap mahasiswi yang akan bekerja akan di tanya atau di wawancara singkat tentang kesediaannya bekerja di bawah etkanan dan bisa membagi waktu antara bekerja dan kulaih atau tidak. Biasanya juga, pemilik usaha akan meminta identitas pelamar dan transkrip nilai semester akhir.


Raisa dan bos pemilik warnet keluar dari dalam ruangan lalu menemui Valeria.


"Kamu yang mau kerja? Teman Raisa?" tanya bos itu pada Vale.


"Iya," jawab Vale singkat.


"Siapa namanya?" tanya bos itu pada Vale kembali.


"Valeria, semester lima. Ini transkrip niali saya dan ini identitas saya," ucap Vaelria pada bos pemilik warnet itu sebelum di tanya.


"Oke. saya rasa, kamu sudah tahu dan paham. nanti tinggal Raisa yang akan mengajari kamu untuk mengoperasikan beberapa alat yang mungkin masih belum akmu pahami. Jadwal akan saya kasih seminggu lagi. ZSelama seminguu ini, kamu dan Raisa masuk bersama untuk latihan. Gimana? Siap?" tanaa bos pemilik warnet itu.


"Siap Bos," jawab Vale tegas.


Valeria bisa bersyukur karena semuanya di mudahkan. Satu tahun waktu yang di berikan oleh Farel. Valeria kan mengejar semuanya. Semester enam ini, Valeria akan ambil maksimal dan di semester pendek, Vale akan ambil KKN, agar di semester tujuh Vale fokus sama skripsi dan bisa langsung lulus. Itu cita -citanya. Semoga saja, Vale tidak hamil duluan karena kemarin.