
Kia duduk di tepi tempat tidur Ibunya. Berulang kali sang Ibu terlihat emmijat ekpalanya yang terasa sakit. bibirnya pucat dan memutih.
Kia memijat kaki ibunya perlahan. Setiap hari, Ibunya selalu minta di pijat di seluruh tubuhnya karena tubuhnya selalu terasa sakit dan pegal -pegal.
"Sakit semua rasanya Kia. Tolong pijat Ibu," pinta Ibu dengan suara lirih dan bergetar.
"Ibu gak apa- apa? Makan dulu ya Bu? Ada bubur pakai sayur labu tanpa bumbu hanay sedikit garam saja. Kia suapin ya, Bu," pinta Kia yang tak tega melihat kondisi Ibunya yang begitu lemah tak berdaya di atas tempat tidur.
"Ibu tidak lapar Kia. Ibu hanya ingin di pijat biar sakitnya hilang," cicit Ibu melemah.
"Ibu ... Ibu harus makan banyak dan minum yang cukup. Kalau Ibu tidak mau makan dan minum, gimana tubuh Ibu bisa pulih dan bertenaga." pinta Kia pada Ibunya.
Ibu tak mau berdebat denagn putri kesayangannya. Ibu memilih diam dan tak menjawab permintaan Kia. Kedua mata Ibu malah di pejamkan dan merasakan nikmat sakit yang sedang Ibu rasakan.
Kia menarik napas dalam dan di hembuskan perlahan. Kia tahu Ibunya sedang malas bicara, mungkin memang tubuhnya taak karuan sakit setelah kemoterapi.
Kia mulai memijat kaki Ibu dan di beri minyak gosok lalu di tekan dengan lembut. Rasanya tidak tega melihat Ibunya seperti ini. Tergolek lemah dan lemas tak berdaya.
"Ibu sebenarnya ingin apa? Biar Kia carikan atau Kia siapkan," ucap Kia pelan ekpada sang IBu.
Ibu tak menjawab dan tetap diam dengan kedua mata yang masih terpejam. Di sudut kedua matanya terlihat ada air mata yang terkumpul di sana.
Kia mendekatkan duduknya dengan tubuh Ibu lalu mengelap air mata Ibu yang muali menetes.
Ibu tetap diam daan tak bicara. Tak lama napas Ibu mulai tersengal dan terasa sesak membuat Kia bingung dan bnerteriak sangat keras.
"Mas ... Mas Farel!! Ibu, Mas!!" teriak Kia dengan bingung. Kia berdiri segera membuka pintu kamar Ibu lalu berteriak sekeras -kerasnya. Rasanya tegang sekali melihat Ibu speerti itu.
"Ibu kenapa Kia!! Kenapa!!" teriak farel frustasi sambil mendekati Ibu dan segera membopong tubuh Ibu yang terlihat makin kurus dan di rebahkan di jok mobil bagian belakang bersama Kia.
Semua bingung dan panik. Sampai -sampai, Farel menekan pedal gas mobilnya denagn dalam agar Ibu sampai di rumah sakit lalu mendapatkan perawatan intensif.
***
Kia duduk di kursi tunggu yang berbahan besi sambil melamun. Pikirannay melayang dan kembali ke beberapa tahun ke belakang saat itu ia masih sangat kecil sekali. Rumahnya ramai orang yang mendoakan Ayahnya. Ya, Ayahnya meninggal karena tersengat listrik dan terjatuh dari atas rumah saat membenarkan antene sekaligus genteng yang bocor.
FArel sendiri cemas dan khawatir tingkat dewa. Ia tidak bisa duduk tenang speerti adik perempuannya dan berkali -kali berjalan mondar mandir di depan ruang ICU.
Beberapa perawat dan dokter amsih memeriksa kondisi Ibu yang tiba -tiba melemah dan pingsan.
Salah seorang dokter keluar dari ruang ICU. Dokter itu tak lain doketr yang selama ini menangani penyakit kronis Ibu.
"Gimana keadaan Ibu, dok?" tanya farel panik. Kia pun ikut berdiri dan mendekat ke arah dokter tersebut. Air mata yang turun ke pipinya segera di hapus asal dengan punggung tangannya.