The Magic Of Love

The Magic Of Love
33



Ternyata penjelasan dokter, Ibu koma. Entah kapan bisa sadar, dan Farel hanya bisa berharap kesembuhan dari Sang Ilahi.


Mendengarkan penjelasan dokter yang telah memeriksa Ibu, Kia langsung menangis kejer dalam pelukan Farel.


Kedua anak itu begitu terpukul dan sedih, hingga Farel melupakan Valeria yang sudah menunggunya untuk menelepon.


Tadi Valeria di minta menunggu oleh Farel karena Farel sedang makan malam. Tapi kini sudah pukul sebelas malam. Valeria masih menunggu farel meneleponnya atau minimal mengirim pesang singkat untuknya. Valeria memang senagja menunggu sambil merevisi sedikit skripsinya dan di print ualng untuk di serahkan kepada dosen pembimbingnya besok. Kalau sudah beres, Valeria akan membuat hard cover skripsi setelah sidang nanti.


"Kamu kemana sih Mas? Kenapa gak telepon Vale? Apa jangan -jangan kamu ketiduran? Tapi kok perasaan Vale gak enak sih," ucap Valeria bicara pada dirinya sendiri sambil menyatukan kertas print out menjadi satu kesatuan.


Sampai pada akhirnya, Valeria malah tertidur saat menunggu print itu berjalan.


***


Pagi -pagi seklai, Valeria terbangun karena mimpi buruk. Mimpi jika ibu mertuanya jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam dan Ibu mertuanya berusaha berpegangan pada tangan Valeria yang sedang berteriak keras mencari pertolongan. Namun naas, Valeria pun ikut terjatuh ke dalam.


"Arghhh ... Mimpi apa aku," ucap Valeria yang terbangun sampai terduduk dan emngelap keringat dingin ayng mulai mengucur di dahinya. Mimpi itu nampak sanagt nyata sekali.


"Apa yang terjadi? Ada apa dengan Ibu? Ini pasti ada sesuatu yang terjadi sama Ibu. Aduhh ... Perutku sakit, arghh ...." teriak Valeria dengan keras dan berusaha menekan nomor telepon Farel untuk memberitahu. Valeria yang jatuh lagi di kasurnya karena kepalanya terasa pening.


Ponsel Farel berbunyi keras hingga kedua matanya terbuka menatap nama istrinya ada di layar ponsel itu. Panaggilan video call itu segera di angkat oleh Farel.


"Valeria? Sayang ... Maaf Mas lupa menelepon kamu kembali tadi malam karena ...." Farel langsung mengangkat telepon itu dan berbicara cepat kepada Valeria untuk meminta maaf. Namun sayang, Farel tak mendengar suara Valeria sedikit pun. Farel menatap langit -langit kamar kos istrinya. Itu tandanya, sesuatu terjadi pada Valeria.


farel langsung mematikan ponselnya dan menelepon tetangga kamar Valeria yang bernama Risma. Sebelum pulang, Farel meminta nomor Risma yang terlihat paling akrab dengan Valeria dan sering bermain ke kamar Valeria.


"Iya Kak Farel? Apa? Kak Vale pingsan? Biar Risma cek ya? Nnati Risma bawa ke klinik," ucap Risma dengan cepat menggedor pintu kamar Valeria dan memanggil penjaga kos untuk mendobrak pintu kamar Valeria.


BRAK!!


Benar saja, Valeria terkulai lemas di kasurnya dan kemudian di bawa ke klinik terdekat. Takut sesuatu terjadi pada Valeria dan kandungannya.


***


Tak berselang lama, Valeria sudah siuman. Lalu menatap Risma yang tersenyum padanya.


"Risma? Kamu kok tahu ...." ucapan Valeria langsung di sela oleh Risma.


"Kak Farel yang telepon Risma tadi pagi. Katanya kamu pingsan, makanya aku dobrak pintunya. Maaf ya," ucap Risma pelan.


"Ini Kak farel teelpon," ucap Risma melihat ponselnya yang berbunyi.


Ponsel itu di berikan pada Valeria dan membiarkan pasangan suami istri itu mengobrol sendiri. Risma menjauh dari mereka.


Farel melakukan panggilan viedo call untuk melihat keadaan istrinya saat ini. Bukan itu saja, Farel juga menanyakan bagaimana kandungan Valeria.